
Aku yang melihat itu hanya bisa menyaksikannya dengan heran dan aku mencoba menanyakannya pada Devinka karena aku pikir siapa tau dia tau mengenai hal itu.
"Syutt ..Devinka apa yang sedang terjadi?" Tanyaku pelan,
Devinka hanya menatapku sekilas dan mengabaikan pertanyaanku sampai saat aku berbalik kak Eril dan wanita itu sudah menatap ke arahku dengan tatapan dingin yang membuatku sesak.
Aku langsung merasa gugup tidak menentu dan hanya bisa tersenyum canggung menanggapi tatapan keduanya, aku pun membungkuk dan tersenyum singkat sampai akhirnya mereka melepaskan ku dari pandangan yang menyeramkan tadi.
"Ahhh...akhirnya mereka tidak menatapku lagi" gumamku dalam hati sambil mengelus dadaku sendiri.
Aku merasa lega dan mulai saat itu tidak berani lagi mencoba untuk menyapa atau sekedar berbicara dengan siapapun, aku diam sampai pintu lift terbuka dan kak Eril tiba tiba saja menarik lenganku dengan cepat keluar dari lift tersebut.
Aku hanya bisa terperangah saking kagetnya dengan sikap kak Eril yang menarik lenganku tanpa aba aba terlebih dahulu.
"Ahhhh...ya ampun kak kenapa kamu menarik lenganku seperti itu?" Tanyaku saat kami berjalan menuju ke luar gedung.
"Diam saja nanti akan ku jelaskan di mobil" jawab kak Eril membuatku semakin penasaran.
Aku hanya terus mengikutinya dari belakang dan berusaha mengimbangi langkahnya yang begitu cepat dan lebar, sampai akhirnya kami sampai di parkiran dan aku langsung masuk ke dalam mobil dengan nafas menderu karena berlari mengejar kak Eril yang berjalan dengan cepat.
Tubuhnya yang tinggi tentu saja memiliki kaki lenjang sehingga sangat mudah untuknya berjalan dengan cepat sedangkan aku yang hanya memiliki tinggi 155 cm hanya bisaberlari untuk menyeimbangkan langkah bersamanya, jika tidak begitu pasti aku sudah ketinggalan.
"Hah...hah...hah...hah....astaga kak kenapa kau berjalan cepat sekali sih" ucapku dengan nafas ngos ngosan.
Kak Eril hanya tersenyum kepadaku sedangkan aku berusaha mengatur nafas dan menyandarkan tubuhku ke belakang, padahal saat itu aku baru saja masuk kerja tapi rasanya sudah sangat lelah dan berkeringat.
Kak Eril mulai melajukan mobilnya dan dia bertanya kepadaku mengenai hal yang hendak aku tanyakan pada dia sebelumnya.
"Elisa apa kau sungguh ingin tau mengapa aku menarik mu tadi?" Tanya kak Eril mengingatkanku pada hal itu,
"Ahh... Iya aku lupa untuk menanyakannya lagi, memangnya kenapa kak?" Jawabku merasa diingatkan,
"Kau tau wanita yang berada satu lift dengan kita?" Ucap kak Eril padaku dengan wajah yang mulai serius.
Aku langsung menggelengkan kepala dengan perlahan karena memang tidak mengenal wanita seksi tadi.
Saat aku menggelengkan kepala nampak kak Eril sedikit termenung dia menatap ke arah jalanan dan mengemudi sambil menghembuskan nafas yang berat, aku hanya bisa mengerutkan kedua alisku hingga hampir menyatu sebab merasa heran dengan reaksi yang diperlihatkan oleh kak Eril padaku saat itu.
"Kak...kenapa kakak berubah seperti ini, apa dia se menakutkan itu yah?" Tanyaku menduga duga,
"Tidak bukan begitu Elisa, tapi dia adalah Kiki ketua pimpinan departemen satu, dia awalnya adalah rekan kerjaku dan anggota tim di departemen dua namun entah bagaimana tiba tiba saja beberapa bulan ke belakang dia bisa diangkat menjadi ketua departemen satu dan kini aku harus bersaing dengan mantan anggotaku sendiri" jawab kak Eril menjelaskan.
Aku kaget dan menaikkan kedua alisku dengan mata yang terbelalak sempurna tak ku sangka ternyata persaingan antara departemen bisa serumit ini dan aku juga tidak menyangka jika mereka harus bersaing satu sama lain untuk menaikkan jabatan mereka.
"Ouhh...begitu ya, jadi maksudmu aku tidak boleh dekat dengan anak departemen satu yah" ucapku mencari penjelasan,
"Syukurlah jika kamu paham, intinya jangan pernah bekerjasama dengan mereka karena bisa saja mereka berniat mencuri tugas ataupun pekerjaan yang sudah kita selesaikan, kamu harus tau terkadang orang yang paling kita percaya adalah orang yang paling berbahaya" tambah kak Eril dengan wajah yang berubah menjadi murung dalam hitungan detik.
Sebenarnya aku sudah merasa ada yang aneh diantara kak Eril dengan perempuan bernama Kiki tadi, aku rasa ada perseteruan yang cukup besar diantara mereka berdua sampai mereka bisa se sinis itu tadi.
Tapi walau begitu aku tetap belum paham dan mengerti semua yang diucapkan oleh kak Eril apalagi mengenai kak Kiki yang bisa menjadi pimpinan departemen tertinggi melangkahi ketua tim nya sendiri, karena sangat penasaran akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya, meski aku tau kak Eril mungkin tidak akan suka dengan pertanyaanku ini.
"Tapi kak, apa kita harus bersaing sesinis tadi yah?, Dan kelihatannya ini bukan hanya perlombaan mengenai pekerjaan saja, dan apa kakak se benci itu dengan perempuan tadi?" Tanyaku bertubi tubi,
__ADS_1
Cukup lama kak Eril tidak menjawab pertanyaanku sehingga aku berpikir mungkin aku terlalu penasaran dan terlalu banyak bertanya kepadanya.
"Eumm...kak maaf ya jika pertanyaanku tidak sopan, kamu juga tidak perlu menjawabnya jika tidak ingin" tambahku sambil merasa tidak enak,
"Tidak papa aku akan menjawabnya, santai saja kita ini kan partner kerja sekarang dan aku harap kamu tidak tumbuh sepertinya kelak" jawab kak Eril dan aku tanggapi dengan senyuman,
Kak Eril pun mulai melanjutkan ucapannya.
"Elisa dulu dia adalah orang yang paling aku percaya dan aku banggakan di tim kita, namun sayangnya ternyata dia tidak sebaik yang aku kira, dia mengambil file yang sudah kamu kerjakan bersama dan memberikannya pada Presdir dengan mengatasnamakan hasil dirinya sendiri, alhasil saat itu juga dia mendapatkan promosi kenaikan jabatan dan sampailah pada titik saat ini, itulah mengapa aku dan anggota tim lain tidak menyukainya dan sejak saat itu departemen satu dan dua selalu bersaing dengan sengit meski kelihatannya baik baik saja" jawab kak Eril menjelaskan semuanya kepadaku.
Kini aku sudah sangat paham dengan semua perlakuan yang kak Eril lakukan padaku ketika tadi bertemu dengan perempuan itu, aku juga merasa bersalah sudah membuat kak Eril menceritakan hal menyebalkan seperti itu padaku, dan mungkin itu membuatnya teringat kembali akan hal yang paling dia benci.
"Ahh...begitu ya, aku minta maaf aku sungguh tidak bermaksud membuat kakak mengingat hal itu lagi, maafkan aku karena sudah lancang menanyakannya" ucapku sungguh merasa tidak enak,
"Tidak masalah Elisa bahkan memang seharusnya kamu mengetahui semua itu, agar kamu tidak mengikuti jejaknya cukup satu orang yang berkhianat aku tidak ingin ada yang kedua kalinya" jawab kak Eril sambil melemparkan senyum padaku.
Aku sedikit kaget dan terperangah ketika melihat senyum kak Eril yang begitu manis, sejak pertama aku masuk ke departemennya dia adalah pria yang begitu dingin dan kaku namun kini untuk pertama kalinya aku menyadari bahwa dia memiliki sisi yang lembut dan senyum manis yang menggetarkan hati.
"Ahhh....senyumannya terlalu manis untuk dipamerkan seperti itu" gumamku dalam hati,
Walaupun aku sedikit kesal karena ucapan kak Eril seakan menyudutkan dan memperingatiku agar tidak seperti perempuan tadi namun rasa kesal itu terobati dengan senyuman darinya yang begitu manis.
Saking sukanya aku melihat senyuman kak Eril aku sampai tidak sadar jika sedari tadi memandanginya.
"Elisa..kenapa kau menatapku begitu?" Tanya kak Eril,
"Ahhh ..kak senyummu sangat manis kenapa kau jarang tersenyum padahal itu sayang sekali" ucapku keceplosan dan aku langsung menutup mulutku yang tidak bisa dikontrol ini.
Kak Eril hanya tersenyum menanggapi ucapanku dan lagi lagi senyuman dia membuatku meleleh dan aku semakin malu karena ucapanku sendiri.
Tak terasa akhirnya kami sampai di kantor polisi terdekat dan kak Eril langsung mengajakku untuk turun dan masuk ke dalam kantor polisi tersebut.
Aku hanya mengikutinya dari belakang sampai seorang polisi membawa kami menuju sebuah ruangan yang cukup luas dan di depan pintu itu tertuliskan ruangan wartawan.
"Kak apa ini ruangan untuk kita?" Tanyaku pada kak Eril,
"Iya, ayo kita lihat" ucap kak Eril sambil segera membuka pintu tersebut.
Saat pertama kali melihat ruangan itu ku pikir ruangannya akan cukup bagus namun ternyata salah besar ruangan itu memang cukup luas namun ternyata di sana juga banyak wartawan lain yang sudah menempati tempat tersebut dengan semua barang barang mereka yang berserakan di mana mana.
Kasur lipat yang kecil dan berdebu, kaus kaki yang menggantung di kipas angin, dan banyak remehan makanan di lantai, sedangkan beberapa karyawan yang ada di sana bisa dengan santai duduk sambil mengotak ngatik laptot di pangkuan mereka masing masing.
Aku terperangah dan sangat kaget melihat pemandangan mengerikan dan paling jorok selama hidupku.
"Astaga....apa ini tempat beristirahat atau kubangan kotoran?" Gerutuku keceplosan lagi,
Kak Eril langsung menatapku dan dia langsung menutup kembali pintu itu.
"Elisa jangan bicara begitu di depan mereka, nanti kamu tidak akan memiliki tempat di sana" ucap kak Eril menasehati ku,
"Ahh.... Iya maaf kak aku selalu tidak bisa mengontrol mulutku lain kali aku akan diam saja" jawabku sambil mengangguk,
Untunglah saat itu kak Eril tidak marah padaku dan dia hanya tersenyum tipis lalu mengusap kepalaku beberapa saat lalu mengajakku untuk kembali ke ruang depan.
__ADS_1
"Baiklah ayo kita ke depan untuk mencari informasi terkini, siapa tau ada kejadian yang menarik yang bisa kita liput" ajak kak Eril dan aku mengangguk setuju.
Saat itu aku lebih mirip seperti seorang anak yang mengikuti bapaknya atau sebuah ekor yang mengikuti tubuh pemiliknya, sedangkan kak Eril sibuk bertanya pada beberapa petugas dan polisi keamanan di sana untuk menanyakan apa ada kejadian yang terjadi yang bisa dia liput dan dijadikan pemberitaan.
"Pak apakah ada hal yang terjadi di luar sana, seperti kecelakaan lalu lintas, kebakaran atau apapun itu?" Tanya kak Eril bak seperti wartawan yang profesional,
Ya dia memang senior yang sudah pasti terjamin keahliannya berbeda denganku yang hanya bisa mengikutinya tanpa melakukan apapun untuk bisa membantunya.
Ini sudah hampir dua jam kami di sana dan terus bertanya ke sana kemari untuk mencari berita dan aku mulai jenuh, setiap kali ada petugas baru yang datang dari luar aku langsung menanyainya.
"Pak....apa ada kejadian menarik di luar sana, bisakah kau memberitahu ku kejadian apapun itu aku sangat membutuhkan berita untuk tugas kuliahku pak" ucapku menanyai salah satu petugas dengan paksa.
Aku sudah cukup jengkel dan bosan makanya aku bertanya dengan sedikit paksa karena ku pikir dengan begitu dia akan memberitahu ku sedikit informasi atau bocoran mengenai pemberitaan.
Namun meski aku bertanya dengan pertanyaan yang sedikit memaksa tetap saja petugas itu tidak memberitahu ku apapun, dia malah menyuruhku pergi dan tidak mengganggunya lagi,
"Tidak ada berita apapun hari ini semuanya aman kau juga tidak perlu mewawancarai ku terus seperti itu, aishhh.... Aku sangat bosan melihat wajah wartawan sepertimu" ucap petugas itu membuatku kesal.
Aku pun pergi meninggalkannya dan berniat pergi mencari keberadaan kak Eril namun saat di perjalanan aku lihat Devinka dan perempuan tadi baru saja datang ke kantor polisi dan nampak mereka hanya berjalan santai dan tidak terlihat seperti hendak mencari pemberitaan ke kantor itu.
"Ehhh bukankah itu Devinka dan perempuan tadi, bagaimana bisa mereka ditempatkan di wilayah yang sama denganku?, Apa ini tidak salah?" Gerutuku pelan.
Aku hendak mengikuti mereka namun tiba tiba seseorang menepuk pundakku dari belakang sehingga membuatku refleks membalikkan badan dan ternyata itu adalah kak Eril.
"Kak...aku pikir siapa kau hampir membuatku ketakutan" ucapku padanya,
"Sedang apa kau di sini?" Tanya kak Eril sambil melihat ke arah di mana aku melihatnya sebelumnya,
"Ohhh.... Itu tadi aku tidak sengaja melihat kak....itu siapa eumm...Kiki iya wanita itu" jawabku dengan jujur,
"HAH?, Kiki ada di sini juga?" Ucap kak Eril yang langsung berubah drastis,
"I..iya tadi baru saja aku melihatnya, kenapa kakak sekaget itu?" Tanyaku dengan heran.
Lalu kak Eril bukannya menjawab pertanyaanku dia malah langsung berlari dengan cepat dan aku mengikutinya dari belakang meski aku selalu tertinggal jauh olehnya, rupanya kak Eril berlari ke lorong menuju tempat peristirahatan wartawan yang disediakan oleh kantor polisi itu.
Dan sesampainya di depan pintu kak Eril langsung membuka pintu itu dengan kasar lalu dia berdiri terdiam mematung matanya nampak mulai memerah dan tangannya mengepal kuat dari kejauhan aku bisa melihat dan merasakan bahwa kak Eril di selimuti kemarahan.
Aku segera kembali berlari menyusulnya dan saat aku sampai di sampingnya aku langsung bertanya.
"Kak, kenapa kamu ber..." Tanyaku tak selesai karena saat itu aku tak sengaja menoleh ke arah tatapan kak Eril.
Aku terperangah saat melihat di dalam ruangan itu ada Devinka juga perempuan tadi yang tengah menyiapkan tempat tidur di beberapa sisi ruangan itu, aku sedikit merasa aneh dan bingung.
"Aishhh....ternyata itu beneran mereka kenapa mereka menyiapkan tempat tidur di sini?" Gumamku penuh pertanyaan.
Sementara di sisi lain ku lihat kak Eril masih menatap tajam kepada kak Kiki yang ada di dalam ruangan itu sampai beberapa saat kak Kiki bangkit berdiri lalu hendak berjalan ke arahku dan kak Eril namun dengan cepat kak Eril pergi dari sana dengan berjalan cepat dipenuhi kekesalan.
Aku bingung harus bersikap seperti apa karena saat itu seakan akan aku berada diatas tebing tinggi yang kedua sisinya memiliki jurang yang curam, aku tidak tau harus melangkah ke mana namun aku tetap memutuskan untuk mengejar kak Eril karena khawatir kepadanya bagaimanapun dia ketua ku saat ini.
"A...aahhh...silahkan lanjutkan pekerjaan kalian, permisi" ucapku paka kak Kiki dan langsung berlari mengejar kak Eril.
Walau saat itu kaki ku rasanya sangat pegal namun aku harus tetap berlari mengejarnya.
__ADS_1
Aku terus berlari mencari keberadaan kak Eril namun tidak kunjung menemukannya, aku pun hanya bisa menggerutu kesal karena sudah cukup lama aku mencari dan berlari ke sana kemari tapi tetap tidak berhasil menemukan kak Eril.
"Aishhh ..... Hah...hah...hah... Kemana lagi aku harus mencarinya mana ini sudah hampir sore lagi, aku juga harus bekerja pada kak Anna" gerutuku sambil memegangi lutut dengan nafas menderu.