Bos Ternyata Musuhku

Bos Ternyata Musuhku
Satu Kelompok


__ADS_3

"Kau tidak berhak mengetahui apapun mengenai urusanku dan temanku, minggir!" Ucapku dengan sinis dan langsung pergi dari sana meninggalkan kelas pria menyebalkan dan sombong sepertinya.


Dika hanya tersenyum sambil terus menatap kepergian ku, dan sesekali aku juga menoleh ke belakang dan memelototi Dika dengan kesal sambil berjalan dan menggerutu dengan penuh emosi.


"Eughhh...menyebalkan sekali dasar The Boys sialan, mereka selalu saja berkeliaran di hadapanku, kenapa aku harus satu kampus sama mereka sih" ucapku kesal dan terus berjalan menuju ke kelasku,


Saat aku masuk ke dalam kelas aku segera mencari kursi untuk duduk dan aku mendapatkan kursi yang lumayan di belakang karena bagian depan sudah penuh saat itu. Seperti biasa aku duduk dan mulai mengeluarkan alat alat belajarku, aku juga mulai membaca beberapa buku dan mencatat ide ide penting yang terlintas dalam benakku.


Sampai akhirnya dosen masuk dan memulai pelajaran, aku sangat sebal ketika Devinka dan Reksa datang terlambat namun dosen bahkan tidak memberikan hukuman atau menegur apapun kepada mereka, berbeda jika aku atau mahasiswa lain yang terlambat pasti akan mendapatkan kesulitan dari sang dosen, aku sungguh merasa dunia tidak adil dengan orang kecil sepertiku.


Namun mau bagaimana lagi hal seperti itu seakan sudah menjadi sejarah yang melekat dan diyakini banyak orang, itulah kenapa aku terus bekerja keras untuk menghasilkan banyak uang karena hanya dengan uang baru kita akan di pandang dan tidak akan di rendahkan.


Saat itu dosen langsung memberikan tugas kelompok untuk mengumpulkan berita dan informasi penting mengenai beberapa perusahaan ternama di kota ini, sekaligus dosen sudah membagikan kelompok secara acak dan ditugaskan di perusahaan yang sudah di tentukan, aku hanya bisa menunggu sampai dosen mengumumkan pembagian kelompoknya.


"Baiklah anak anak, ini adalah pembagian kelompok yang sudah saya bagi secara acak, dan tidak ada yang bisa merubah keputusannya!" Ucap dosen dan memperlihatkan pembagian kelompok di layar.


Saat aku lihat ternyata aku satu kelompok dengan Devinka dan Reksa, aku benar benar kesal mengapa dari sekian banyaknya mahasiswa harus mereka berdua yang satu kelompok denganku, tapi aku senang karena mendapatkan bagian magang untuk tugas di perusahaan CTN group, karena itu adalah perusahaan impianku.


Saat aku memperhatikan pembagian kelompok di layar aku mulai merasa ada kejanggalan di sana karena hanya kelompokku yang beranggotakan tiga orang padahal kelompok yang lain memiliki empat anggota, aku pun langsung menanyakannya kepada dosen.


"Tunggu pak, kenapa hanya kelompok saya yang beranggotakan tiga orang?" Tanyaku secara gamblang,


"Apa kamu lupa jika di jurusan kita sekarang jumlahnya ganjil karena salah satu anak pindah jurusan secara tiba tiba di tengah semester seperti ini, ahh sudah jangan ada yang protes lagi selesaikan saja semua tugasnya maka kalian akan mendapatkan nilai yang baik" ucap sang dosen sambil menutup pembelajaran hari ini.

__ADS_1


Aku sungguh kesal dan hanya bisa mengucek pakaianku dengan kuat saat aku menoleh ke belakang melihat Devinka yang menatapku dengan tajam sedangkan Reksa yang tersenyum sambil melambaikan tangannya ke arahku.


"Ahhh.... Aku bisa stres kalau harus menyelesaikan tugas bersama dua orang gila itu" gerutuku sambil menunduk lesu dan meletakkan kepalaku di atas meja,


Aku sungguh tidak tau lagi harus berbuat apa dan bagaimana dengan mereka apalagi kegiatan magang akan dilakukan selama sebulan, aku tidak tau apa aku bisa menyelesaikan tugas ini atau mungkin aku bahkan tidak akan lulus tahun ini.


"Arkhh...tidak aku tidak boleh membiarkan dia menghancurkan kelulusanku dan mimpiku, semangat Elisa" ucapku menyemangati diri sendiri.


Aku bangkit dari kursi dan berusaha menahan emosiku dengan menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan, aku berjalan menghampiri Devinka yang tengah duduk dengan menyilangkan kakinya tepat di samping Reksa yang sudah menatap aneh kepadaku sedari tadi.


"Wahhh.... Elisa ini adalah sebuah takdir keberuntungan bisa satu kelompok dengan orang pinter sepertimu, aku yakin bisa lulus kali ini dan bisa menghirup udara segar sebagai bos makanan siap saji di negara ini haha" ucap Reksa yang sibuk membuat sendiri,


"Iya tapi aku yang tidak beruntung satu tim dengan orang konyol sepertimu!" Jawabku dengan tatapan sinis.


"Aishh...baiklah aku minta maaf aku juga senang satu tim denganmu, dan bisakah kau berhenti menatapku dengan tatapan menyebalkan itu" jawabku menyerah da Reksa kembali tersenyum ceria seketika,


"Dasar b*doh!" Gumamku dalam hati.


Reksa begitu senang dan amat antusias menyambut Elisa ke dalam tim nya dia langsung menarik lengan Elisa dan bersalaman dengan paksa sebagai tanda mereka adalah rekan satu tim mulai saat ini.


"Sini...nah sekarang kita baru sudah sah menjadi anggota satu tim, Devinka apa kau tidak mau bergabung?" Ucap Reksa sambil berbicara mengajak Devinka,


"Aku tidak biasa bergaul dengan orang rendah sepertinya" jawab Devinka yang membuatku naik pitam dan tidak bisa menahan emosiku lagi.

__ADS_1


"Apa kau bilang, aku orang rendah sepertinya sikapmu itu jauh lebih rendah dari pada seorang pengemis di jalanan, memalukan!" Bentakku tidak terima dengan perkataannya,


"Aishh....berani beraninya kau mengataiku seperti itu, kemari kau aku akan memberimu pelajaran" ucap Devinka dan berusaha menarikku.


Saat itu Reksa langsung memisahkan pertengkaran antara aku dengan Devinka sehingga akhirnya kami pun berhenti berdebat satu sama lain, aku memalingkan pandanganku ke arah lain begitu juga dengan Devinka.


"Ish...ish...ish....kalian ini selalu saja bertengkar setiap kali bertemu, apa kalian tidak lelah hah?" Bentak Reksa dengan tegas,


"Dia yang memulainya lebih dulu, dia selalu membuatku emosi dan menghinaku seenaknya apa kau pikir aku harus diam saja ketika dihina seperti itu?" Jawabku kepada Reksa,


"Heh, kalau kau tidak mau di bilang rendahan kenapa kau hidup sebagai orang miskin, itu fakta bukan menghina, begitu saja tidak tau" jawab Devinka yang masih tidak merasa salah,


"Kau eughh....dasar b*debah gila!" Bentakku dengan mengerutkan mulutku dan mengepalkan kedua lengan siap memukul mulut sialan Devinka.


Untunglah Reksa menahanku dan dia kembali berusaha menenangkan Devinka juga Elisa agar berhenti bertengkar dan mulai membicarakan mengenai tugas kuliah mereka.


"Heh, sudah...sudah...kalau kalian terus bertengkar kapan kita akan membahas masalah tugas ini, aishh kalian ini kekanak kanakan sekali!" Ucap Reksa dengan perasaan yang kesal.


Aku tetap tidak perduli dengan ucapan Reksa karena Devinka sangat menyebalkan saat itu, dia terus merendahkan ku dan menghinaku bagaimana aku bisa terima dengan semua ucapannya yang membuatku emosi, mungkin itu memang fakta tapi bukan berarti dia bisa mengatakannya begitu saja di depan semua orang dan dalam situasi apapun.


Mulai saat itu aku semakin membencinya dan aku sudah memutuskan bahwa dia sungguh musuh bubuyutanku sampai kapanpun, aku tidak akan pernah mau bekerjasama dengan orang sombong dan egois sepertinya.


Aku sungguh mengeluarkan banyak energi dengan sia sia karena harus bertengkar di pagi hari dengan orang yang keras kepala sepertinya.

__ADS_1


__ADS_2