
Reksa berdiri di samping Ciko dan dia juga sama khawatirnya dengan Dika karena Reksa tahu Elisa adalah gadis yang baik dan ceria, meski mereka hanya dekat dalam beberapa saat namun Reksa sudah bisa melihat kebaikan dalam jiwa Elisa.
"Hiks..hiks...kasihan sekali Elisa aku merasa sangat bersalah karena ide konyolku dia jadi harus di rawat seperti ini" kata Reksa sambil menangis di depan ketiga temannya.
Diantara ke empat pemuda itu Reksa yang paling banyak menangisi Elisa dia bahkan sampai terisak dan menangis tak henti di samping Dika sampai membuat Devinka kesal karena melihat Reksa yang menjengkelkan.
"Huaaa....kenapa dokter lama sekali memeriksanya, Ciko ini semua salahmu kau harus bertanggung jawab pada Elisa hiks hiks" ucap Reksa sambil meraung,
"Heh, berhentikan menangisinya apa kau menyukainya atau mau ini saudaranya kenapa kau berlebihan sekali, bahkan saat aku alergi karena ulahnya kau tidak menangisi ku seperti ini!" Bentak Devinka mulai kesal,
"Elisa itu orang baik kau tidak tahu dia sebatang kara dan menghidupi dirinya sendiri aku sangat kasihan padanya dan aku menyayanginya seperti adikku sendiri huaaa dia kasihan sekali ini semua karena aku" teriak Reksa yang semakin menjadi dengan tangisannya.
Devinka dan Dika hanya bisa menggelengkan kepala karena mereka sudah biasa dengan kelakuan Reksa yang selalu bersikap berlebihan terhadap sesuatu.
Melihat Reksa yang tidak berhenti menangis meraung akhirnya Ciko pun menghampirinya dan berusaha menenangkan Reksa.
"Reksa berhentilah menangis kau hanya akan mengganggu proses pemeriksaan Elisa apa kau mau Elisa semakin lama di periksanya" ujar Ciko sambil menepuk pundak Reksa.
"Tapi Ciko semua ini karenaku, dan Elisa aku sangat mengkhawatirkannya bagaimana jika nanti dia tidak mau bertemu denganku lagi?" Ujar Reksa dengan perasaan cemas,
"Tenang saja aku akan meminta maaf kepadanya ketika dia bangun aku akan menjelaskan semuanya dan ini bukan kesalahanmu ini salahku, kau bisa tenang sekarang" ungkap Ciko sambil menepuk pundak Reksa.
Setelah mendengar ucapan dari Ciko akhirnya Reksa langsung tenang dan dia berhenti menangis sampai tak lama dokter keluar dan Ciko langsung menghampiri dokter itu.
"Dok, bagaimana keadaannya apa dia baik baik saja?" Tanya Reksa dengan wajah yang tak sabar,
__ADS_1
"Tenang anak muda, tubuhnya sedang dalam kondisi lemah mungkin dia terlalu kelelahan dan obat bius yang dia hirup itu terlalu berbahaya untuk tubuhnya yang rentan, untunglah kalian membawanya tepat waktu, saya sudah memberikan detoks yang tepat dan kemungkinan dia akan siuman setelah beberapa jam" ujar dokter menjelaskan.
Mereka pun akhirnya bisa menghembus nafas lega dan bisa sedikit tenang tanpa mengkhawatirkan hal hal lain mengenai Elisa.
Dokter pun meminta untuk menyelesaikan administrasi dan Reksa pergi untuk membayarnya sendiri.
Sedangkan Dika langsung masuk ke dalam bersama Ciko untuk memeriksa keadaan Elisa, di sisi lain Devinka hanya diam dan dia seperti enggan untuk masuk ke dalam ruang rawat.
"Devinka apa kau tidak ingin melihatnya?" Tanya Dika padanya,
"Untuk apa semua ini juga bukan salahku, sudahlah lagi pula dokter bilang dia baik baik saja aku akan pulang dan beristirahat sekarang kalian urus saja dia" ucap Devinka acuk tak acuh dan dia pergi dari rumah sakit saat itu juga.
"Sudahlah lah lagian dia juga benarnya" gerutu Dika.
Saat Dika dan Ciko masuk ke dalam Elisa masih belum siuman dan mereka duduk di sofa yang sudah di sediakan karena itu ruang rawat VIP jadi tentu saja terdapat meja dan dia buah sofa yang cukup besar di sana.
Setelah aku membuka mata sempurna ku lihat sekelilingku dan aku berusaha bangkit terduduk namun tanganku masih sulit untuk menopang tubuhku sendiri agar bisa bangkit.
"Arkhh....di mana aku, kenapa tubuhku lemas begini?" Gerutuku sambil memegangi kepalaku dan merasakan tubuhku yang tak berenergi.
Saat aku melihat ke samping sudah ada Reksa yang tertidur dengan kepala yang menyentuh lenganku, jujur saja saat aku aku sangat kaget dan langsung berteriak hingga membangunkan ketiga pemuda itu.
"Arkhhhh....siapa kalian!" Teriakku sangat kencang.
Reksa terperanjat begitu juga dengan Dika dan Ciko mereka menghampiriku sedangkan Reksa tiba tiba saja memelukku sangat erat.
__ADS_1
"Elisa akhirnya kau bangun, aaa aku sangat mengkhawatirkanmu" ucap Reksa sambil terus memelukku dengan erat.
Aku kesal dan merasa sangat sulit bernafas sebab Reksa memelukku tanpa aba aba dan begitu erat namun aku tak memiliki kekuatan untuk bisa berontak melepaskan pelukannya dariku sehingga aku hanya bisa memukul mukul kecil punggungnya.
Sayangnya Reksa tidak menyadari itu bahwa aku hampir kehabisan nafas sebab pelukannya, Dika yang melihat aku hampir kehabisan nafas dia langsung mendorong Reksa dan melepaskan pelukannya dariku.
"Reksa apa yang lakukan lepaskan dia akan benar benar mati jika kau terus memeluknya seperti itu!" Bentak Dika sambil melepaskan pelukan Reksa dariku.
"Ohok...ohok...ohok...Reksa kau aishhh aku hampir kehabisan nafas karenamu apa kau sengaja ingin membunuhku yah" ujarku sangat kesal sambil memegangi tenggorokanku yang kering.
"Ehh tidak tidak, Elisa mana mungkin aku melakukan itu padamu kau kan tahu aku yang paling baik padamu diantara ketiga temanku yang lain jadi mana mungkin aku melakukannya" jawab Reksa menjelaskan.
Dika pergi mengambil segelas air dan memberikannya padaku saat itu dia adalah pria paling dewasa yang pernah aku temui dan dia memperlakukanku dengan baik sejauh ini meski kadang aku merasa jengkel dengan kelakuannya.
"Ini minum dulu, kau pasti sangat haus" ucap Dika sambil membantuku minum.
Setelah aku sedikit tenang aku mulai mengingat apa yang terjadi sebelumnya dan mataku langsung tertuju pada seorang pria berpakaian serba hitam yang berdiri cukup jauh dari ranjangku, matanya begitu dingin tanpa ekspresi di wajahnya aku sangat ingin mencakar wajah itu.
"Hah, bagaimana bisa ada orang yang tidak tahu malu di ruangan ini" celetuk ku menyindir Ciko dan Dika karena saat itu yang aku tahu Ciko dan Dika lah yang menyebabkan semua ini terjadi padaku.
"Ahh...Elisa masalah itu aku minta maaf karena semua ini rencanaku aku yang meminta Dika juga Ciko agar menjemputmu dan membawamu ke kediaman Devinka karena aku ingin kalian berbaikan dan kita bisa menyelesaikan tugas bersama namun aku tidak tahu jika Ciko akan berbuat sekasar ini padamu, maafkan aku Elisa" ungkap Reksa sambil menunduk merasa bersalah,
Elisa tak tahan dengan wajah Reksa dia tahu Reksa tidak bermaksud berbuat jahat padanya dan ini hanya sebuah ke salah pahaman namun cara Ciko yang membiusnya benar benar tak bisa dia maklumi begitu saja.
"Reksa aku memaafkan mu dan aku minta jangan pernah melakukan hal konyol seperti ini lagi, kita juga tidak se dekat itu kau seharusnya mengerti" jawabku memperingati Reksa.
__ADS_1
Aku memaafkan Reksa karena selama ini hanya dia yang berada di pihak ku dia yang banyak membantu dan membelaku ketika aku selalu bertengkar dengan Devinka dia juga tidak pernah merendahkan ku makanya aku menghargai kebaikan dia dengan tidak mempermasalahkan urusan ini lebih jauh.