
Hari itu meski hatiku hancur dan terluka namun setidaknya aku masih melihat sebuah cahaya kecil yang bisa aku genggam di tanganku, setidaknya di saat orang yang paling aku cintai berkhianat padaku dan meninggalkan aku, masih ada Dika yang di kirim tuhan untuk menemaniku.
Hari itu juga Dika membawa aku pulang ke kediamannya dan dia meminta aku untuk tinggal bersama dengannya mulai saat itu dan dia bahkan sudah memberikan kabar kepada ibunya bahwa dia akan melamar aku, mendengar itu tentu saja nyonya Michael sangat senang dan dia mengatakan akan segera pulang dua hari lagi setelah menyelesaikan semua urusannya disana.
Dan ke esokan paginya Dika membawaku untuk pergi mempersiapkan segalanya untuk acara pertunangan kita, dia membawa aku ke sebuah butik ternama yang terkenal di kota itu dan dia menyuruh pelayan disana untuk memberikan dia gaun terbaiknya untukku namun sayangnya pelayan itu mengatakan bahwa gaun yang terbaru dan terbaik di sana sudah di ambil oleh nona Keysa yang tidak lain adalah tunangan dari Devinka.
"Maaf tuan, tapi gaun kami yang ini sudah di pesan oleh nona Keysa dia datang kemari lebih awal beberapa menit dengan anda dan dia sudah mencobanya tadi, saya akan menyiapkan gaun lain yang sama bagusnya" ucap pelayan itu.
Kami pun mengalah meski aku tahu Dika terlihat sedikit kesal, aku pun menggandeng tangannya karena aku tidak ingin dia marah atau melakukan keributan di tempat umum seperti itu, hingga ketika kami tengah melihat lihat gaun lain yang berjejer rapih di butik itu tiba-tiba saja Devinka dan Keysa datang menghampiri aku dan Dika.
Mereka juga memamerkan kemesraan kepadaku, tapi itu tidak membuat aku sakit karena rasa sakit dikhianati dan di bohongi sudah jauh lebih sakit dari ini dan aku mampu melewatinya dalam satu malam.
"Eh.... Sayang lihat ternyata pasangan ini juga berbelanja disini yah, ngomong-ngomong gaun mana yang kalian pilih aku bisa membayarnya untuk kalian dan anggap saja itu sebagai hadiah untuk pertunangan kalian nanti" ucap Keysa yang terkesan seperti memandang rendah aku dan Dika,
"Tidak perlu nona Keysa, aku masih sanggup membayarnya" Balas Dika dengan tegas,
"Iya nona Keysa terimakasih sebelumnya atas kemurahan hatimu, tetapi aku juga ingin merasakan dan memakai pakaian yang dibelikan oleh kekasihku, dan merasakan kasih sayangnya selalu, akan tidak enak jika kau yang membelikannya" ucapku menolak dengan lembut,
"Baiklah, semoga acara kalian lancar, ayo sayang kita pergi dari sini, gaunku juga sudah di bayar kan" ucap Keysa sambil terus memeluk tangan Devinka.
Namun disaat Keysa mengajak Devinka untuk pergi dia malah diam saja dan terus menatap ke arahku yang saat itu aku justru tidak menyadarinya karena sibuk melihat lihat gaun yang ada disana bersama Dika.
Sampai tiba-tiba saja Devinka malah menghempaskan tanga Keysa dan berjalan ke arahku lalu dia memegang tanganku dengan kuat dan berkata yang tidak pantas dihadapan calon istrinya.
"Elisa... Apa kau sama sekali tidak menyesal, apa kau tidak merasakan sakit sama sekali ketika hubungan kita berakhir? Elisa lihat aku, aku tidak pernah mencintainya aku hanya mencintaimu Elisa bahkan jika aku harus mati karenamu aku lebih rela seperti itu dari pada menikah dengan wanita seperti dia dan aku benci melihatmu berdekatan dengan Dika!" Ucap Devinka dengan wajah penuh emosi.
Devinka menatapku sangat tajam dan aku bisa melihat emosi juga rasa cinta yang begitu besar dimatanya aku tahu dia sangat mencintaiku dan aku tahu hanya dia yang menempati sisi gelap di dalam hatiku, Devinka memiliki tempat khusus dalam hatiku meski Dika mencoba menempati tempat itu.
Aku melihat ke arah Keysa yang terlihat sangat marah dan dia segera menarik tangan Devinka dan berusaha melepaskan tangannya dari genggaman diriku.
"Devinka apa yang kau lakukan lepaskan tangan wanita itu, dia adalah tunangan Dika, ada apa denganmu?" Bentak Keysa sangat keras kepada Devinka dan terus berusaha menarik tangan Devinka yang memegangi tanganku.
Tapi Devinka justru malah menghempaskan tangan Keysa bukan malah melepaskan tanganku, dan itu membuat aku sangat kaget karena melihat Keysa jatuh ke tanah cukup keras, aku tidak bisa diam saja melihat Devinka bersikap kasar kepada calon istrinya sendiri.
Aku segera menghempaskan tangan Devinka dan menamparnya di hadapan Dika juga Keysa agar mereka tahu bahwa aku tidak mencoba menggoda Devinka sedikitpun.
"Plakk.... Devinka kau keterlaluan, kenapa kau melakukan itu pada tuananganmu sendiri? Apa kau bukan seorang pria, aku semakin membencimu!" Ucapku sambil segera membantu Keysa berdiri.
Ku pikir Keysa tidak akan marah padaku namun ternyata dia justru malah bersikap kasar dan malah menamparku ketika aku hendak membantunya berdiri.
"Plak.... Dasar wanita j*Lang, beraninya kau menampar calon suamiku, rasakan itu anggap saja itu balasan dari rasa sakit yang Devinka rasakan karena tamparanmu tadi" ucapnya dengan sinis dan berdiri sendiri.
Lalu dia segera menarik Devinka untuk pergi dari sana secepatnya.
__ADS_1
"Sayang apa kau baik-baik saja, ayo kita pergi dari sini mereka memang manusia rendahan" ucap Keysa menyinggungku dan Dika segera membantu aku berdiri.
"Elisa apa kau baik-baik saja, tunggu disini aku tidak akan membiarkan mereka pergi dengan mudah" ucap Dika yang langsung menahan tangan tangan Keysa dan dia hampir menampar wajah Keysa namun Devinka segera menahannya.
"Keysa rasakan ini" ucap Dika dan melayangkan tangannya.
Aku berlari berusaha untuk menahan Dika agar tidak membalas mereka lagi namun saat aku lihat tangan Dika yang hampir menampar Keysa tengah di tahan oleh Devinka dengan kuat dan hatiku merasa sakit ketika melihat Devinka membela wanita itu, padahal aku juga terkena tamparan dan dia tidak berusaha menahan tangan wanita itu saat dia menamparku sebelumnya.
Justru malah Dika yang emosi dan tidak terima, bahkan Dika mau membalas wanita itu karena telah menamparku.
"Devinka kenapa kau menahanku? Tidakkah seharunya kau memberi dia pelajaran, dia sudah menampar Elisa!" Bentak Dika kepada Devinka sambil menghempaskan tangannya,
"Untuk apa aku memarahi Keysa, dia memang pantas untuk mendapatkan tamparan karena dia juga menamparku, dan kau... Aku peringatkan padamu tidak akan ada yang bisa menyentuh pengantinku kecuali aku!" Bentak Devinka dengan sorot mata yang tajam.
Hatiku lagi-lagi hancur ketika mendengar kalimat tersebut keluar dari mulut Devinka aku langsung berjalan lesu ke arah mereka.
"Devinka aku senang kau akhirnya sadar, dan atas semua yang sudah kau katakan barusan aku sudah sangat mengerti bahwa memang bukan aku yang di takdirkan untukmu, ayo Dika kita pergi saja" ucapku sambil menggandeng tangan Dika dan segera pergi meninggalkannya.
Rasa sakit di pipi akibat tamparan dari Keysa tidak ada apa apanya di bandingkan rasa sakit di dalam hatiku yang sudah di cabik cantik oleh Devinka berkali kali, dia seakan tidak pernah bisa melihat aku tenang dan bahagia sebentar saja, dia selalu menghantui aku dan kepalaku, aku sangat mencintai dia tapi dia selalu membuat aku membencinya.
Di dalam mobil aku hanya diam menatap ke depan dengan lesu dan Dika membawa aku ke cafenya dia menyajikan minuman padaku sama seperti yang sering dia lakukan untuk menghiburku dan membuat aku menjadi lebih tenang.
"Sudah lupakan Devinka, aku akan membuatmu bahagia Elisa aku tidak akan pernah membuatmu menangis" ucap Dika sambil mengusap sisa air mata di wajahku.
Aku sungguh terharus mendengar ucapan Dika dan dia sangat baik kepadaku dalam setiap saat.
"Dika apa mungkin selama ini aku buta yah? Kenapa aku malah memilih Devinka di bandingkan dirimu?" Ucapku sambil menatap Dika lekat dan meminum minuman yang dia berikan padaku.
Dika hanya tersenyum dan dia sedikit tersipu dengan ucapanku barusan lalu dia meraih tanganku dan menggenggamnya dengan erat lalu dia mengeluarkan sesuatu dari saku pakaiannya dan itu adalah sebuah gelang merah.
"Elisa kamu tidak buta, hanya saja aku yang tidak cukup berani untuk merebutnya dari Devinka, mulai sekarang aku akan mengikatmu denganku menggunakan gelang takdir ini, ketika kamu memakainya dan aku juga memakai gelang yang sama takdir lah yang akan selalu mempertemukan kita" ucapnya sambil memasangkan gelang itu di tanganku.
Aku tersenyum senang dan melihat gelang itu yang cukup cantik meskipun namanya terdengar sangat aneh.
Kami pun berbincang bersama dan menikmati makanan yang ada disana untuk beberapa saat hingga kami akhirnya memutuskan untuk pulang dan beristirahat.
Rasanya memang cukup melelahkan dan menghabiskan banyak sekali energi dari pagi hingga malam, melewati hari yang sangat berat bagiku dan Dika, melihat Devinka yang tidak terkendali seperti tadi membuat aku memikirkannya lagi.
Aku heran kenapa dia melindungi Keysa padahal dia mengatakan padaku bahwa dia tidak ingin menikah dengan Keysa, dia benar-benar terlihat aneh karena berubah-ubah dan tidak memiliki pendirian sedikitpun.
"CK... Dasar Devinka plin-plan dia menginginkan aku kembali padanya tapi dia tidak akan melepaskan Keysa, apa-apaan manusia sialan itu, apa dia menganggap aku sebagai simpanannya saja sedangkan dia menikahi Keysa dan semua orang mengetahuinya. Menyebalkan!" Gerutuku terus merasa kesal.
Mungkin aku dan Devinka memang di takdirkan hanya menjadi musuh bukan pasangan apalagi pasangan hidup, aku saja yang terlalu melewati batas dengannya dan malah menggunakan perasaan padanya hingga mencintai dia dan malah berteman dekat dengannya hingga kami memutuskan menjadi pasangan.
__ADS_1
Padahal sejak dulu sudah jelas bahwa aku dan dia adalah musuh bebuyutan yang tidak bisa di pisahkan, seharusnya aku bisa menjaga jarak darinya dan tidak membawa perasaan padanya, dia memang brengsek sialan dan tidak pernah berubah dengan temperamennya.
"Aaahh... Sudahlah Elisa untuk apa kamu memikirkan pria bodoh itu, lebih baik aku fokus untuk bersama Dika dan aku sudah seharunya memilih Dika karena sudah memberikan ciuman pertamaku padanya" ucapku lagi menimpali pikiranku yang terus saja merambah.
Aku segera tidur malam itu dan melupakan semua masalah yang menimpaku hari ini, hingga ke esokan paginya Reksa datang ke rumah Dika dan dia mengatakan bahwa nyonya Merisa telah tiba, aku yang saat itu tengah duduk di depan meja makan dan menikmati sarapan bersama Dika tidak mengerti dan hanya bisa menatap dengan linglung saat melihat Reksa menerobos masuk dengan nafas terengah-engah dan mengatakan bahwa nyonya Merisa sudah kembali.
"Hah... Hah... Hah, gawat ini gawat Dika, nyonya Merisa sudah kembali!" Ucap Reksa dan membuat Dika langsung menghentikan makannya dia juga terlihat sama kagetnya dengan Reksa.
Matanya terbelalak lebar dan dia langsung bangkit berdiri dan pergi mengambil jas nya lalu segera pergi dengan Reksa.
"Elisa kau diam lah disini ingat jangan pergi menemui Devinka apalagi pergi ke kantor ya aku akan segera kembali" ucap Dika terlihat panik dan terburu-buru.
Mereka langsung pergi begitu saja meninggalkan aku yang masih menatap heran dan kebingungan.
"Mau kemana mereka sebenarnya? Dasar aneh, memangnya siapa sih nyonya Merisa itu?" Gerutuku sambil melanjutkan sarapan.
Karena aku bosan di rumah sendirian dan tidak melakukan apapun juga nyonya Michael yang belum kembali, akhirnya aku pun memutuskan untuk menyalakan televisi dan melihat semua channel di dalam siaran itu adalah pemberitaan yang sama.
Dan ketika melihatnya di dalam berita itu juga sibuk membicarakan mengenai kembalinya nyonya Merisa pemilik perusahaan CTN Group dimana dia juga seorang reporter terkenal pada masanya yang menikahi pendiri perusahaan besar itu hingga saat ini.
Dan aku melihat juga mendengarnya dengan jelas bahwa ternyata nyonya Merisa adalah ibu dari Devinka mereka terlihat berpelukan di gerbang depan perusahaan itu, aku kaget tidak menyangka bahwa wanita idolaku selama ini adalah ibu dari pria yang aku cintai sekaligus ibu dari pria yang menghancurkan hatiku.
Aku langsung mematikan siaran itu dan kini aku mengerti kenapa Dia dan Reksa terlihat begitu panik dan terburu-buru ketika mengetahui nyonya Merisa kembali, rupanya nyonya Merisa yang mereka maksud adalah ibunya Devinka.
"Ternyata dia... Kenapa Devinka tidak pernah memberitahuku, kenapa aku tidak pernah mengetahui apapun tentangnya, aku memang seperti simpanan baginya" ucapku sambil tertunduk dengan lesu dan kembali meratapi nasibku yang buruk ini.
Baru saja aku berniat memulai awal yang baru dan kehidupan yang lebih baik namun justru malah terlihat semakin kacau dan tidak ada titik terang untukku lagi.
Aku seperti tersesat di tengah hutan belantara yang sangat rimbun sehingga sulit keluar dari sana atau sekedar menemukan jalan untuk kembali, rasanya dadaku sangat sesak ketika mengetahui semua kebenarannya, selama ini aku hanya tahu Devinka adalah orang kaya raya yang berpengaruh di kota ini.
Aku tidak pernah mencari tahu apapun tentangnya karena dia juga tidak menyukai hal itu setiap kali aku menanyakan mengenai keluarga dia dan semua hal tentangnya, padahal aku hanya ingin mengetahui lebih dalam mengenai orang yang aku cintai, tapi memang sejak dulu Devinka ternyata menyembunyikan semuanya dariku.
Tentang siapa ibunya dan mengapa dia bisa mendapatkan semuanya dengan mudah, sekarang aku tahu kenapa dulu saat magang Devinka dan Reksa di berikan ruangan khusus untuk mereka yang sangat bagus dan luas juga memiliki banyak fasilitas di dalamnya.
Bahkan mereka tidak pernah melakukan tugasnya dan hanya duduk bersantai bahkanalah bermain game di dalam sana dengan puas, sedangkan aku harus berusaha mati-matian untuk melakukan pekerjaanku di dalam sebuah ruangan minimalis yang di huni oleh empat orang, dia juga selalu terlihat bebas masuk kapan saja dan melakukan semua dengan sesuka hatinya.
Ternyata memang itu perusahaan miliknya dan nyonya Merisa seorang mantan reporter legendaris itu adalah ibunya.
"Pastas saja jika dia menjadikan aku simpanannya, orang sepertiku memang tidak pantas untuk bersanding dengan keluarga terkenal dan kaya raya sepertinya" ucapku sambil menghembuskan nafas yang berat.
Aku kini telah sadar sepenuhnya dan aku segera pergi untuk membakar semua fotoku bersama, semua foto di ponselku yang memperlihatkan wajah Devinka aku hapus seluruhnya begitu juga dengan foto yang sudah aku cetak.
Aku mengambil semuanya dan membakar foto itu di samping rumah Dika dimana disana ada sebuah tong sampah cukup besar dari besi sehingga aku bisa membuang semua barang-barang pemberian darinya, mulai dari gaun cantik yang ku pakai saat wisuda juga sepatu hak tinggi dan beberapa foto dia yang aku miliki.
__ADS_1
Senyuman Devinka yang sangat aku sukai sudah hilang di telan api, aku sudah harus melupakan dia sepenuhnya dan tidak bisa menyisakan kenangan apapun tentang dia sedikitpun.
"Maafkan aku Devinka, aku bukan membencimu tapi aku hanya tidak ingin terus berlarut-larut dalam kesedihan, kau juga tidak memikirkan aku bukan? Jadi untuk aku aku memikirkannya dan menyimpan semua kenangan yang manis ini" ucapku berbicara sendiri sambil terus memasukan foto itu satu persatu.