
Aku sempat kaget dan terperangah karena tiba-tiba saja Devinka menunjuk ke arah kakiku yang memang lecet, lebam dan terluka sebab tergores selama aku berlari untuk sampai lebih cepat di bandara tersebut.
"Devinka jangan hiraukan kakiku aku tidak masalah, aku senang kau belum pergi, tapi aku tidak membawa apapun untuk diberikan kepadamu karena aku datang terburu-buru, maaf" ucapku merasa tidak enak hati.
Entah kenapa saat itu aku merasa Devinka akan pergi jauh dan sangat lama dariku itulah mengapa aku ingin memberikan sesuatu sebagai kenang-kenangan kepadanya namun aku tidak memiliki apapun untuk diberikan kepada dia.
"Tidak masalah Elisa, lagi pula aku ke sana hanya untuk menjenguk ayahku, aku pasti akan kembali ke sini" ucap Devinka sambil mengusap pucuk kepalaku.
Dia berjongkok di hadapanku begitu saja membuat aku kaget melihatnya, ku pikir dia akan melakukan apa ternyata dia membersihkan kakiku yang lecet, aku langsung menyuruhnya berdiri karena malu dan aku tidak ingin membuat dia menjadi pusat perhatian karena mengurusi kakiku yang terluka padahal dia sudah mau pergi dan waktunya sudah mendesak.
"Ehh...eh...Devinka apa yang kamu lakukan ayo cepat berdiri kakiku baik-baik saja, cepat berdiri Devinka" ucapku sambil menariknya.
Akhirnya Devinka pun berdiri dan lagi-lagi suara peringatan untuk penerbangan mulai terdengar, ini sudah waktunya Devinka untuk pergi dan dia kembali berpamitan kepada aku dan teman-temannya yang lain, dia mulai berjalan menjauhi aku dengan melambaikan tangannya.
"Chicken jaga dirimu baik-baik, aku harus pergi sekarang dan kau Reksa jaga dia aku hanya percaya padamu bukan pada mereka" ucap Devinka yang membuat kami semua tersenyum dengan candaannya itu.
Aku hanya mengangguk dan Devinka berjalan pergi, aku tidak bisa melihat dia pergi begitu saja dan langsung berlari menghampirinya lagi dengan cepat.
"Devinka tunggu!" Ucapku berteriak sambil berlari mengejarnya.
Aku langsung memeluk Devinka, entah kenapa aku merasa sangat sakit dan sedih ketika dia hendak pergi, aku tidak ingin kehilangan sosok dia meskipun dia lebih banyak membuatku kesal selama ini.
"Devinka ambil ini, aku tidak ingin kau melupakanku" ucapku sambil memberikan ikat rambutku kepadanya,
"Haha...untuk apa aku sudah punya, ini milikmu kan?" Ucap Devinka sambil menunjukkan sebuah ikat rambut yang dia pakai di pergelangan tangannya.
Aku kaget dan tidak menyangka ternyata ikat rambut peninggalan kedua orangtuaku ada di tangan Devinka padahal sebelumnya aku kira aku sudah kehilangannya.
"Ikat rambut itu, ternyata ada padamu aku kira sudah hilang" ucapku dengan heran.
Aku senang ternyata ikat rambut itu tidak hilang, dan Devinka mengambil ikat rambut yang tadi aku berikan lalu memakaikannya ke rambutku lagi, dia membantuku mengikat rambutku lalu dia memegangi kedua lenganku.
"Elisa...dengarkan aku baik-baik kau harus menungguku, dan kita akan tetap menjadi musuh ingat itu, cepat kembali" ucap Devinka yang aku balas dengan anggukan.
Aku pun membiarkan Devinka pergi hingga dia benar-benar tidak bisa aku pandang dengan mataku lagi, dia seperti menghilang diantara banyak orang yang berlalu-lalang di bandara sedangkan aku segera kembali menghampiri Reksa, Ciko dan Dika dengan lesu, aku sungguh merasa kehilangan atas kepergian Devinka.
Meski dia yang selalu membuat aku jengkel tapi dia juga yang sudah membantuku beberapa kali bahkan mungkin jika bukan karenanya aku tidak akan pernah bisa magang di perusahaan impianku sebelumnya, dia juga tidak seburuk sebelumnya dia jauh lebih baik akhir-akhir ini terhadapku.
Reksa segera membawaku kembali ke mobilnya dan kami berada di mobil yang sama, sedangkan Dika dan Ciko mereka pergi dengan mobil yang berbeda karena mereka juga harus melakukan pekerjaan lain yang lebih penting pada perusahaan mereka sendiri.
Hanya Reksa yang menemaniku dan mengantarku untuk pulang, dan semuanyang dikatakan oleh Devinka memang benar hanya Reksa yang bisa dia percayakan.
"Reksa terimakasih mau mengantarku" ucapku kepadanya,
"Tidak masalah, kau juga temanku jadi itu hal biasa yang harus dilakukan seorang teman iya kan?" Ucap Reksa dengan senyumnya yang ramah seperti biasa.
Aku senang mendengarnya karena dia begitu baik terhadapku aku segera turun dari mobilnya dan kembali ke kamar kosku, Reksa juga segera pergi dari sana.
__ADS_1
Dan setelah mengistirahatkan diri sendiri aku baru teringat dengan keanehan di dalam diriku hari ini yang baru aku sadari ketika aku sudah duduk dengan tenang.
"Ehh...tunggu, kenapa aku tadi terburu-buru sampai melukai kakiku dan aku menangis begitu lama hanya karena si Devinka sialan itu?, Padahal dia kan hanya pergi untuk menjenguk ayahnya, aishhh....aku pasti sudah gila" gerutuku merasa keheranan sendiri.
Tapi apa yang aku rasakan tadi memang nyata dan tulus dari lubuk hatiku yang paling dalam, hanya saja aku sedikit heran sebab sebelumnya aku tidak pernah seperduli ini kepada orang lain selain Lili, terlebih lagi ini kepada seorang Devinka yang baru saja mengambil banyak uang tabunganku, tapi aku bahkan hampir memberikan ikat rambutku padanya.
"Astaga....ikat rambut almarhum ayah dan ibu, aishh...itu masih ada ditangannya, kenapa aku tidak mengambilnya tadi?" Gerutuku lagi yang baru sadar.
Aku benar-benar seperti telah di hipnotis dengan keadaan, hingga aku lupa pada diriku sendiri dan siapa Devinka dimanataku sebenarnya, aku bahkan memeluknya beberapa kali saat di bandara dan itu di lihat oleh teman-temannya yang lain, aku sungguh benar-benar sudah gila sekarang.
Saat mengingat kembali semua yang aku lakukan di bandara kepada Devinka rasanya aku merasa malu dan aneh terhadap diriku sendiri aku baru sadar sekarang dengan apa yang aku lakukan, tetapi ketika di hadapan Devinka aku sama sekali tidak sadar dan hanya bertindak sesuai dengan apa yang aku inginkan saat itu juga.
Aku bahkan tidak berpikir panjang saat melakukannya dan langsung berbuat baik kepada Devinka.
"Aaaahhh....ada apa denganku sebenarnya, mana mungkin aku menyukainya kan?, Tidak...tidak....aku tidak bisa menyukainya dia itu musuhku mana mungkin aku menyukai orang seperti dia, apalagi dia juga sudah merampas harta celenganku sebelumnya aaa sial...sial" gerutuku merasa kesal dengan diriku sendiri.
Sebenarnya saat itu aku sudah sedikit mengetahui bahwa aku mulai berubah sejak berteman dekat dengan Devinka, dan aku tahu mungkin hatiku sudah dicuri olehnya tapi aku terus berusaha menolak perasaan tersebut, sebab aku yakin aku dan dia tidak mungkin di takdirkan bersama, perbedaan diantara aku dan Devinka terlampau jauh dan aku yakin Devinka mungkin hanya menganggap ku sebagai salah satu dari fans nya.
Dia tidak mungkin bisa membalas perasaanku, aku saja yang terlalu berlebihan hingga bisa melibatkan perasaan saat dekat dengannya baru-baru ini.
Aku terus menerus berusaha menyadarkan diriku karena itu semua tidak mungkin aku tidak boleh sampai menyukai Devinka, tantangannya akan sangat sulit jika sampai aku menyukai orang seperti Devinka.
Bukan hanya memiliki banyak fans wanita di luar sana namun asal usul keluargaku begitu tidak jelas, sedangkan Devinka terlahir dari keluarga kaya raya yang berpengaruh di negara ini, meski aku tidak tahu siapa kedua orangtuanya tapi aku tahu dia kaya raya dan aku miskin, aku sungguh tidak cocok untuk pria dengan latar belakang gemilang sepertinya.
"Elisa...kamu harus sadar diri, aaahh....aku harus segera membunuh perasaan ini sebelum semuanya terlalu besar" ucapku menguatkan diriku sendiri.
Aku harus tetap melakukannya dan menghilangkan perasaanku kepada Devinka sendiri, sebelum semuanya terlambat, aku tahu ini mungkin akan sulit tapi aku akan berusaha lagi pula aku tahu Devinka tidak ada disini lagi sehingga mungkin akan mudah bagiku melupakan dia.
Aku sudah kembali mendapatkan pekerjaan baru di salam satu perpustakaan umum dimana aku bekerja di sana sebagai penjaga perpustakaan dan perkejaanku hanya menata buku, memeriksa buku dan memberi tanda kepada buku-buku yang dipinjam oleh orang-orang dan memastikan mereka harus mengembalikan kembali bukunya sesuai dengan waktu pinjaman yang mereka setujui.
Bekerja di perpustakaan memang yang paling menyenangkan, disana terasa jauh lebih damai dan jauh dari permasalahan, beberapa hari ini Dika juga sering datang ke perpustakaan ku dan dia sering meminjam beberapa buku ke sana.
Hari ini Dika datang kembali untuk mengembalikan buku yang pernah dia pinjam satu Minggu yang lalu.
"Hallo Elisa lama tidak bertemu yah" sapa Dika kepadaku dengan ramah seperti biasanya,
"Hay...Dik, iya kemana saja kamu, tumben sudah seminggu tidak ke sini, atau kamu menyiapkan diri untuk acara wisuda besok yah" ucapku bertanya kepadanya,
"Tentu saja aku harus melakukan perawatan dan harus tampil luar biasa di acara wisuda besok, setelah itu aku akan meneruskan perusahaan kuliner milik keluargaku dan mungkin tidak akan ada cukup waktu untuk aku mampir ke sini lagi" ucap Dika terlihat tertekan.
Aku tahu tidak ada anak yang mau melakukan pekerjaan yang dikekang oleh kedua orangtuanya dan orang-orang kaya seperti mereka sudah di tentukan takdirnya dengan kedua orangtua mereka sehingga apapun yang mau mereka lakukan tidak bisa benar-benar mereka tekuni, mereka harus tetap bekerja dan berjalan menjalani hidup mengikuti jejak kedua orangtuanya dan harus selalu meneruskan bisnis orang tua mereka.
Terdengar sedikit menyebalkan dan menekan namun itulah kenyataannya di dunia bisnis dan keluarga kaya raya saat ini.
Karena melihat Dika yang murung aku pun mengajaknya untuk melihat-lihat beberapa buku baru yang datang ke perusahaan kemarin untuk menghiburku.
"Sudahlah Dika daripada kamu murung begitu, mending ikut aku memeriksa buruk komik terbaru yuk, ada banyak yang menarik baru datang kemarin, kau akan menjadi yang pertama yang aku beri rekomendasi" ucapku sambil menarik lengannya.
__ADS_1
Dia hanya diam dan mengikuti perkataan dariku saja, hingga kami sampai di rak khusus buku komik, aku mengambil salah satu komik paling menarik menurutku yang baru-baru ini tengah aku baca.
"Nah...komik ini yang bagus, silahkan kamu baca tuan Dika hehe" ucapku sambil memberikan komik itu kepadanya dengan senang hati,
"Baiklah, ayo kita baca bersama" ajak Dika menarikku dan mendudukkan aku di depan meja baca.
Aku tidak bisa menolaknya dan lagi pula karena hari ini tidak banyak pengunjung yang datang sehingga aku memiliki waktu untuk membaca berasa Dika, dia duduk bersampingan denganku dan mulai membaca komik bergenre komedi tersebut.
Selama membaca buku chapter demi chapter selalu membuat gelak tawa diantara aku dan Dika yang membacanya, komik itu sungguh luar biasa hanya dengan membacanya kami bisa melupakan masalah yang menumpuk di kepala, walaupun itu bersifat sementara namun setidaknya kami bisa sedikit melupakannya dan mendapatkan hiburan berkat komik tersebut.
Hingga tiba-tiba Reksa datang disaat aku tengah asik membaca bersama Dika.
"Hey ...kau ini bekerja atau hanya bermain-main, ada pelanggan yang datang kau malah mengabaikannya" ucap Reksa sambil menarik komik yang tengah aku baca dengan Dika,
"Aishh...Reksa kau selalu saja datang tiba-tiba, mau apa kau kemari?" Tanyaku kepadanya.
Reksa memang jarang datang menemuiku dia hanya datang sesekali dan itu pun hanya menumpang tidur di perpustakaan dia hanya membuatku sering dimarahi oleh pemilik perpustakaan ini karena mengijinkan orang asing menumpang tidur secara gratis di dalam sini, padahal sudah jelas di perpustakaan tempat untuk membaca bukan untuk tidur dan aktivitas lainnya yang tidak bermanfaat.
Tapi kali ini dia datang sepertinya bukan untuk tidur sebab dia membawa sebuah kotak di tangannya.
"Ini aku mau memberikan sepatu ini untukmu, ini dari Devinka dia akan hadir ke acara wisuda besok dan dia bilang ingin memberikan ini kepadamu sebagai hadiah" ucap Reksa membuatku terperangah.
Sudah lama sekali sejak dia pergi ke luar negeri dan aku hanya mendengar kabarnya dari Dika dan Reksa atau dari Ciko, dia juga tidak pernah menanyakan kabarku sehingga aku tidak menanyakan kabarnya aku hanya berusaha mencari informasi tentang dia secara diam-diam lewat teman-temannya tapi kini tiba-tiba saja dia memberikan hadiah untukku tentu saja aku kaget dan heran.
Dan bukan hanya aku saja yang kaget tapi Dika juga, dia langsung mengambil kotak hadiah itu dari tangan Reksa dengan cepat, dan dia langsung membukanya dihadapan kami berdua.
Saat di buka ternyata memang benar isi di dalamnya adalah sepasang sepatu hak tinggi yang tidak terlalu tinggi dan tidak pendek, sepatu itu sangat cantik dan berwarna silver, aku yakin itu pasti sangat mahal.
"Waahhh ....Elisa sepertinya Devinka memiliki sesuatu terhadapmu" ucap Reksa dengan menatap takjub,
"Apa maksudmu Reksa?" Tanya Dika dengan wajah yang kesal,
"Dika kau buta?, Kapan kau pernah melihat Devinka perduli pada seorang wanita, dia selama ini selalu mengabaikan fans wanitanya yang sangat banyak dan cantik-cantik, dia bahkan mau memberikan semua wanita itu kepadaku dan diam saja saat aku mempermainkan banyak wanita yang mengejarnya, tapi pada Elisa dia memintaku untuk menjaganya dia juga sering menanyakan Elisa kepadaku hingga aku harus selalu datang mengunjungi dia hanya untuk sekedar memastikan keadaannya, lalu sekarang dia memberikan hadiah untuk di acara wisuda besok, bayangkan dia seperti buka Devinka kan" ucap Reksa menjelaskan dengan panjang.
Aku hanya mendengarkan ucapan Reksa dan jujur saja aku merasa sedikit senang ketika mendengar perkataan Reksa sebab aku juga memiliki perasaan lebih dengan Devinka aku tidak mau membohongi diriku lagi tapi aku juga belum bisa mengungkapkannya.
Aku harus tahu dulu apakah itu benar atau tidak sebab bisa saja itu hanya sebuah perkiraan dari Reksa.
Aku juga hanya diam mematung karena melihat sepatu itu yang sangat bagus dan mengkilap.
"Reksa aku tidak bisa menerima hadiah ini, aku tahu ini pasti sangat mahal sebelumnya Devinka juga pernah membelikan aku sebuah gaun tapi kau tahu apa?, Dia ternyata hanya memberikan aku pinjaman dan alhasil aku harus membayarnya sampai membobol dua selengan ayamku" ucapku menolak hadiah itu karena aku ingat kejadian saat itu,
Mendengar ucapanku Dika dan Reksa langsung tertawa terbahak-bahak, aku yakin mereka menertawakan kebodohan ku dan terus saja tidak berhenti tertawa hingga membuatku kesal dan sedikit emosi.
"Ahaha.... benarkah itu, hahaha Devinka ternya begitu yah aku pikir dia memiliki sesuatu yang spesial kepadamu, ahaha ....itu konyol" ucap Reksa menertawakan aku dengan puas, begitu juga dengan Dika.
"Aishh...sudah cukup, kalian berdua hanya bisa menertawakan aku saja!" Bentak ku sangat kesal hingga mereka akhirnya berhenti tertawa.
__ADS_1
"Haha...oke oke kita akan berhenti tapi Elisa apa yang kau katakan tadi sungguhan?" Tanya Dika masih tidak mempercayai aku,
"Mana mungkin aku berbohong, jadi sudahlah aku tidak butuh barang-barang darinya, aishh dia menjengkelkan sekali, aku menyesal dulu pernah menangisi kepergiannya" ucapku merasa muak dan memberikan lagi hadiah itu kepada Reksa.