Bos Ternyata Musuhku

Bos Ternyata Musuhku
Menangis


__ADS_3

"Ahaha....iya baiklah tenang saja kak Kris aku akan kembali ke sini dan memenuhi ucapanku" balasku diiringi tawa bersama kak Anne.


Kami pun melanjutkan pekerjaan kami dan setelah selesai mereka juga langsung pulang kecuali kak Eril yang saat itu masih berada di dalam ruangan bersamaku saat aku sudah selesai dengan pekerjaan aku berniat pamitan dengannya.


"Aaahhh...akhirnya selesai juga, selamat tinggal kursi kerja jangan lupakan aku yah" ucapku mengusap kursi yang biasa aku duduki.


Aku berjalan menghampiri kak Eril dan tersenyum padanya sebelum mengatakan kalimat pamitan untuk waktu yang lama.


"Hai kak, terimakasih atas semuanya aku pamit yah" ucapku berniat pergi namun kak Eril menahanku dan dia berlari kecil menghampiri aku lalu memberikan sebuah hadiah padaku.


"Elisa tunggu!" Teriak kak Eril,


"Ada apa?" Tanyaku dengan heran.


Dia memberikan sebuah bingkisan berukuran kecil kepadaku dan memintaku untuk menerimanya.


"Ini anggap saja hadiah perpisahan aku harap kau menyukainya" ucap kak Eril tersenyum manis padaku,


Aku langsung membukanya saat itu juga dan kulihat hadiahnya itu adalah sebuah gelang magnet yang cantik dan setelah aku perhatikan lagi gelang itu seperti memiliki pasangan lain.


"Ehh...ini gelang magnet?" Tanyaku padanya memastikan,


"Iya, apa kau suka?" Balas kak Eril baru bertanya,


"Ya jelas aku suka lah kak, aku tahu gelang ini pasti mahal padahal kau tidak harus menghamburkan uangmu hanya untuk memberi hadiah pada karyawan magang sepertiku" ucapku merasa tidak enak terhadapnya.


"Tidak masalah kau sudah seperti anggota keluarga di departemen ini jadi tolong jangan sungkan padaku dan aku mau mau memakai gelang itu selalu" ucap kak Eril kepadaku.


Aku sama sekali tidak menaruh kecurigaan apapun terhadapnya dan aku hanya mengangguk patuh begitu saja karena saat itu aku sangat senang bisa menerima hadiah dari seseorang karena sebelumnya aku tidak pernah menerima hadiah dari siapapun bahkan ketika aku ulang tahun tidak ada yang mengingat hari itu, Lili sekalipun tidak mengingatnya dia sering lupa tapi tetap mengucapkan selamat kepadaku dan memberiku kue.


Aku sangat senang sampai tidak bisa menahan air mata haru dalam diriku.


"Ehh, Elisa kenapa apa gelangnya buruk yah?" Tanya kak Eril padaku.


Aku tahu dia mungkin cemas dan kebingungan karena melihat aku yang tiba tiba saja menangis tanpa sebab, padahal dia memberiku hadiah.


"Ehehe...tidak kak aku hanya terharu, dan merasa sangat senang kau memberiku hadiah sebagus ini, bahkan aku merasa ini terlalu berharga untuk di pakai pada tanganku" balasku dengan jujur.


Kak Eril mengusap pucuk kepalaku dan dia mengambil gelang itu lalu memasangkannya pada lengan kiriku.


"Elisa tidak ada yang tidak pantas untuk siapapun, semua orang berhak bahagia dan kamu juga, aku memberimu hadiah ini agar kau bahagia bukan sedih seperti ini, jadi berhenti menangis, aku tidak ingin melihatnya lagi" ucap kak Eril sambil mengusap air mata yang jatuh di pipiku.


Aku semakin terharu karena dia begitu baik dan sangat lembut dalam memperlakukan aku, sepertinya aku akan jatuh hati padanya jika dia terus bersikap selembut itu kepadaku.


Aku mengangguk patuh terhadapnya dan dia memelukku dengan erat, kehangatan dan kelembutan yang dia berikan padaku sungguh membuatku terasa aman dan nyaman rasanya aku berharap waktu akan berhenti saat itu juga agar aku bisa memiliki banyak kesempatan bersama dengan kak Eril.


Setelah dia melepaskan pelukan aku mulai bertanya kepada dia karena gelang itu terlihat seperti gelang pasangan aku pikir mungkin dia menyimpan yang satunya dan aku berharap dia memakainya juga.


"Kak setelah aku perhatikan gelang ini untuk pasangan yah?, Kalau aku boleh tahu dimana yang satunya?" Tanyaku begitu saja,


"Ohh yang satunya ada di dalam tas itu, kau bisa memberikan yang satunya untuk orang yang kau cintai, dengan begitu kalian akan terikat satu sama lain itulah yang aku dengar dari penjualnya tadi" balas kak Eril yang membuatku kecewa.

__ADS_1


Aku langsung tertunduk lesu dan segera menganggu lalu pergi dari sana secepatnya, ku pikir dia akan memakai yang satunya ternyata dia menyimpanya di dalam sini juga, dan aku merasa aku sangat konyol karena berani menanyakan hal itu terhadap dia.


Padahal sudah pasti dia tidak mungkin memakainya, kami hanya saling mengenal beberapa saat itupun hanya karena pekerjaan, jadi bagaimana mungkin kak Eril akan memiliki perasaan terhadapku sebegitu cepatnya.


Dia hanya pria yang baik dan memperlakukan setiap wanita dengan hormat dan aku terlalu berharap lebih kepadanya, aku menyesal dengan perasaanku sendiri. Lagi lagi aku harus pulang dengan hati yang sedih seperti ini dan itu sangat menyebalkan untukku.


Aku berjalan keluar dari kantor dan berdiri di samping jalan seperti biasanya sambil menunggu taxi yang lewat, sebelumnya aku sudah menerima pesan dari Reksa bahwa mereka berdua sudah berkumpul di basecamp The Boys menungguku untuk segera ke sana dan menyelesaikan tugas kelompok yang mengikat kami selama satu bulan ini.


Aku segera pergi kesana dengan rasa malas dan membawa paper bag mini ditanganku yang aku goyang-goyangkan selama perjalanan, hingga ketika sampai di basecamp aku sangat tidak berenergi, bahkan di saat Reksa menyambut aku lalu merangkulku begitu saja aku tetap diam tidak melakukan perlawanan apapun sebab aku sangat lesu.


"Hey....Elisa akhirnya kau datang juga ayo cepat duduk duduk" ucap Reksa sambil merangku aku dan mempersilahkan duduk.


Aku duduk di sofa dengan tatapan kosong kedepan sehingga membuat Reksa terus memperhatikanku.


"Hey, Elisa ada apa denganmu hari ini? Apa kau baik baik saja?" Tanya Reksa padaku dengan heran,


Aku memalingkan pandangan padanya dan aku tidak bisa menahan kesedihan di dalam diriku lagi aku bahkan menangis sejadi jadinya dihadapan Reksa dan Devinka yang berada di ruangan tersebut, aku sudah tidak memperdulikan tentang image lagi dan aku menangis sekeras yang aku mau.


"Huaaaaa... Reksa dia keterlaluan dia membuatku melayang lalu menjatuhkan aku dengan keras, huaaa aku juga kehilangan pekerjaanku aku akan menjadi pengangguran lagi dan kelaparan Hua...wa....wa....wa" ucapku sambil memukuli Reksa beberapa kali.


"Aduh....aduh....Elisa berhenti kenapa kau menangis sambil memukuli aku begini?, Yang ada aku juga akan ikut menangis tahu!" Bentak Reksa sambil menahan tanganku.


Aku berhenti sejenak lalu duduk dengan tegak dan kembali menangis kencang lagi karena Reksa mengatakan sebuah kalimat yang mengingatkan aku dengan kak Eril lagi.


"Apa kau baru saja dicampakkan seorang pria?" Tanya Reksa membuat luka ku terbuka lagi.


"Huaaaa....Reksa kau membuatku sakit hati hiks...hiks..aku sebatang kara aku seorang diri Reksa tidak ada yang menginginkanku semuanya bersikap baik karena mereka mengasihani aku...hiks...hiks...aku menyedihkan aku tidak punya teman...hiks...hiks...tidak ada rumah...hiks..hiks..dan tidak ada pacar huaaaaaa" ucapku sambil terus menangis dengan kaki yang menendang nendang kedepan.


"Aishh....kau berisik sekali" ucap Devinka sambil langsung membekap aku begitu saja,


"Eumm...eumm...umm" ucapku berontak sambil memukuli lengan Devinka yang membekap mulutku.


"Reksa pergi keluar dari belilah makanan sebanyak banyaknya agar dia bisa senang dan berhenti menangis di sini!" Teriak Devinka sangat keras dan Reksa langsung menurutinya.


Karena itu kesempatan untuk kabur Reksa tentu saja dengan secepat kilat pergi dari sana dan melaksanakan apa yang di minta oleh Devinka sedangkan Devinka sendiri dengan sengaja melakukan itu agar membuat Reksa pergi dari sana dan meninggalkan dia berdua dengan Elisa.


Aku kesal karena Devinka terus membekap mulutku dan aku sulit bernafas jadi aku memutuskan untuk menggigit tangannya sampai dia langsung melepaskan bekapannya dari mulutku.


"Aw...aishh apa kau itu siyo anj*Ng yah!" Bentak Devinka dengan mata yang melotot padaku,


"Siapa suruh kau membekap mulutku!" Balasku tak kalah membentak,


Sisa tangisanku masih ada dan aku tidak ingin berdebat dengan Devinka dalam suasana hati yang buruk seperti itu sehingga aku memutuskan untuk diam sambil melihat gelang yang sebelumnya dipasangkan oleh kak Eril di pergelangan tanganku.


"Hiks...hiks... Dia sialan!" Ucapku merutuki kak Eril sambil melihat gelang pemberiannya.


Devinka menarik lenganku dengan kuat dan dia mulai bertanya tentang gelang yang aku pakai.


"Siapa yang memberikan kau gelang ini?" Tanya Devinka seperti tengah marah denganku,


"Untuk apa kau menanyakannya ini tidak ada urusannya denganmu, lepaskan tanganku!" Bentakku sambil menarik lagi lenganku secepatnya.

__ADS_1


Devinka tetap menarik lagi lenganku dan dia berusaha melepaskan gelang yang aku pakai secara paksa.


"Ehh...Devinka apa yang kau lakukan lepaskan aku, jika kau menginginkan gelang yang sama aku memiliki satu lagi untukmu" ucapku berteriak sambil berusaha menghentikan dia menarik gelangku.


Gelang itu adalah satu-satunya kenang kenangan pemberian dari kak Eril aku juga sudah berjanji untuk memakainya selalu dan tidak akan membiarkan siapapun merusaknya, untunglah Devinka langsung berhenti saat aku mengatakan bahwa aku memiliki satu lagi untuknya.


Aku pun memberikan paper bag mini yang tadi aku bawa kepadanya dimana di dalam sana ada gelang yang sama sepertiku namun memiliki liontin sepotong love berpasangan dengan yang aku kenakan.


"Ini lihatlah kau bisa memakai pasangannya karena gelang ini memiliki dua bagian" ucapku sambil memberikan itu kepada Devinka.


"Dia benar-benar membeli gelang pasangan namun memberikan pasangannya untukku?, Apa aku tidak sedang bermimpi?" Gumam Devinka dalam hati kecilnya.


Devinka sangat senang bisa mendapatkan gelang itu namun karena dia memiliki gengsi yang sangat tinggi sehingga dia tetap menutupi rasa senangnya itu dengan perkataan yang menyebalkan sehingga membuat aku ingin menghajarnya setiap waktu.


"CK... hanya gelang jelek seperti ini kau berikan padaku" katanya mengejek gelang pemberian dariku.


Aku sangat kesal karena dia tidak merasa bersyukur sama sekali dan aku langsung berusaha merampas gelang itu dari pegangannya sebab dia sudah mengejek pemberian dariku.


"Sini kembalikan saja padaku jika kau tidak menginginkannya, biar aku berikan itu pada Reksa" ucapku dengan kesal.


Tapi dia tidak memberikan kembali gelang tersebut kepadaku dan dia malah memakai gelang itu saat itu juga dengan terburu buru lalu menunjukannya kepadaku.


"Ini lihat, aku sudah memakainya apa kau puas!" Balasku masih dengan nada suara yang menyebalkan.


Meski aku juga tahu dia sebenarnya menginginkan gelang itu tapi cara dia memintanya sangatlah buruk sehingga aku tidak menyukai caranya tersebut dan dia hanya membuat aku semakin kesal saja, lalu kita pun mulai membicarakan masalah tugas kuliah sambil menunggu Reksa yang tidak kunjung kembali juga padahal seharusnya dia turut andil dalam menyelesaikan tugas kelompok ini.


"Kemanaa Reksa pergi, kenapa dia lama sekali sih" gerutuku kesal,


"Biarkan saja dia ada disini juga tidak akan membantu apapun untuk tugas sudah kita cepat selesaikan saja sebelum larut malam, aku tidak ingin mengantarmu ke tempat sampah itu lagi" ujar Devinka membuatku semakin jengkel dengannya.


"CK...iya iya ini juga sedang dikerjakan" balasku kesal.


Aku mengerjakannya dengan sungguh-sungguh meski sesekali mengusap dan hampir ketiduran saking mengantuknya, aku sudah tidak tahan kepalaku rasanya sangat berat dan mataku sulit untuk terbuka, aku sudah sangat mengantuk sampai akhirnya menjatuhkan kepalaku keatas meja yang di sana masih terdapat laptop milik Devinka.


Ku pikir saat itu kepalaku jatuh mengenai laptop Devinka makanya tidak terasa sakit namun ternyata saat tak lama aku kembali mendapatkan kesadaran rupanya itu tangan Devinka yang berhasil menyanggah kepalaku.


Bahkan dia membiarkan aku tidur dalam posisi itu beberapa saat, sampai ketika aku sadar, aku langsung duduk tegak lagi dan Devinka menarik lengannya kembali, aku sangat gugup dan tidak tahu harus berkata seperti apa, Devinka juga tidak mengatakan apapun dan hanya sibuk kembali dengan catatannya.


Untunglah disaat canggung seperti itu Reksa tiba dengan membawa banyak makanan di tangannya dan aku langsung bangkit menghampiri dia membantunya membawa dua kantong kresek besar itu untuk membongkar camilan di dalamnya.


"Hallo guys ahaha kalia sudah akur kembali yah, baguslah ini aku bawakan banyak makanan mati kita festa!" Ucap Reksa penuh semangat.


"Ayo ahaha" balasku tak kalah senang.


Urusan tugas kampus baru saja diselesaikan oleh Devinka dan kami bisa menikmati makanan dengan sepuasnya hingga perutku kenyang dan terasa sangat penuh sekali, kami bertiga sudah sangat lelah dan mengantu saat itu aku tidur di sofa kecil dengan posisi tidur sambil duduk dan kepala yang bersandar pada bahu Reksa yang saat itu juga sudah mengantuk di sampingku.


Ya kami saling bersandar satu sama lain sedangkan Devinka masih sadar secara penuh karena dia satu satunya orang yang bertahan untuk menyelesaikan tugas dan kuat dalam perihal begadang.


Devinka yang melihat Elisa tidur sambil bersandar pada Reksa dan Reksa juga bersandar pada Elisa dia langsung terbakar amarah dan bangkit berdiri begitu saja lalu menghempaskan Reksa ke sisi lain sampai dia hampir terjatuh ke lantai, untunglah Reksa itu tertidur dengan nyenyak sehingga dia tidak sadar kalau Devinka membantingnya barusan.


"Cik...dihadapanku dia berani tidur bersandar pada pria lain bagaimana jika dia tidur sembarangan di belakangku benar benar chicken ceroboh!" Gerutu Devinka lalu langsung mengangkat Elisa dan memindahkannya ke dalam kamar.

__ADS_1


Devinka pun menggelar karpet tepat di bawah samping ranjang yang di pakai tidur oleh Elisa, dia memilih tempat itu untuk berjaga jaga agar Reksa tidak datang ke sana dan malah tidur diatas ranjang, karena di sana adalah tempat untuk Elisa.


__ADS_2