
Setelah Reksa pergi Dika segera menghubungi Ciko dan menyuruhnya untuk datang ke kediamannya saat itu juga, dan Ciko segera menurutinya.
Setelah menghubungi Ciko, barulah dia masuk ke dalam rumah dan mendapati aku yang tengah tertidur di sofa dan menengadahkan kepalaku ke atas.
Dika menghampiri Arisha dan berdiri di belakang sofa itu sambil menatap wajah Arisha dari atas secara terbalik, tersenyum kecil terus memperhatikan wajah Arisha yang terlihat lucu dan menggemaskan jika di lihat dari jarak sedekat itu sampai aku mulai merasakan sesuatu yang aneh dan mulai sadar dari tidurku ketika aku membuka mata aku sangat kaget melihat wajah Dika yang sudah berada diatas wajahku secara tiba-tiba dan itu sangat dekat.
Aku yang kaget tentu saja refleks terperanjat dan hendak bangkit namun karena wajah kami terlalu dekat dan Dika yang tidak sempat menghindar alhasil malah malah bibir kami yang saling bertemu dan menempel secara tidak sengaja saat itu, aku kaget dan membelalakkan mataku begitu juga dengan Dika hingga dia langsung kembali berdiri tegak dengan cepat begitu pula denganku.
"A..ahhh... Maaf tadi itu aku... Aku tidak sengaja, ahh... Ke kamar dulu" ucapku yang entah kenapa bersikap gugup dan kebingungan seperti itu lalu segera masuk ke dalam kamar dengan cepat.
Aku merasa sangat malu dan menatap ke cermin melihat pipiku yang sudah merah merona di buatnya, aku memegangi pipiku itu dan berusaha menahannya agar tidak merona seperti itu karena tadi sangatlah memalukan bagiku.
Dan disisi lain Dika juga masih berdiri mematung di tempatnya dan dia memegangi bibirnya sendiri dengan pelan juga tangannya yang bergetar, dia merasa kaget dan senang sekaligus karena bibirnya menyentuh bibi Arisha itu menandakan sebuah ciuman yang singkat diantara mereka dan itu sudah yang ke dua kalinya.
"YES!" Teriak Dika kegirangan.
Dia langsung berjalan sambil bersenandung ria dan memegangi bibirnya terus menerus sambil tersenyum senang tidak karuan bahkan disaat dia sudah berada di dalam kamarnya dia terus menatap ke cermin begitu lama dan terus memperhatikan bibirnya itu dia juga tidak bosan-bosan mencoba mengingat kejadian sebelumnya dan dia terus tersenyum sendiri bahkan sampai berguling di ranjang dan mengigit bantal tidurnya sendiri.
"Aaaaahhh... Itu sangat menggemaskan aku ingin menciumnya lebih lama, aishhh ada apa dengan otakku ini" ucap Dika sambil memegangi kepalanya sendiri.
Dia memang sudah sangat lama menahan perasaannya pada Elisa dan kini ketika dia berhasil mendapatkan ciuman pertama dan keduanya milik Elisa tentu saja dia merasa sangat senang dan dia merasa begitu bangga dengan dirinya sendiri karena Devinka saja pria yang Elisa sukai tidak pernah mendapatkan hal sebagus ini dari Elisa.
"Aku akan pastikan ciuman ketigaku dan ketiganya akan kami lakukan bersama lagi dan itu akan berlangsung lama bukan sekilas saja atau sebuah kesalahan" ucap Dika sangat bertekad dengan dirinya.
Dia pun segera pergi membersihkan diri dan bersiap untuk mengontrol cafenya malam itu, dia juga mengajakku untuk pergi dengannya, meski aku awalnya menolak tapi dia terus memaksaku sehingga tidak ada pilihan lagi bagiku, bahkan ketika aku menolak dan mengunci pintu kamar dia tetap bisa membukanya dengan kunci cadangan karena dia pemilik rumahnya.
"Aishh... Kenapa kau bisa membuka kamarku?" Tanyaku dengan heran,
"Kau lupa aku ini kan tuan rumahnya tentu ada banyak kunci cadangan yang aku pegang termasuk milik kamarmu ini, sudah ayo kita pergi ke cafe" balas dia sambil menarik tanganku dan membawa aku masuk ke dalam mobilnya.
Aku berontak dan segera menghempaskan tangannya yang memegangi tanganku sedari tadi karena dia tidak kunjung melepaskannya juga.
"Aishh.... Apa kau akan terus memegang tanganku, bahkan saat menyetir?" Ucapku cukup kesal karena dia menarikku dengan paksa,
"Tidak....tidak aku hanya takut kau akan kabur saja, sudah jangan marah dan sensi begitu aku kan hanya menarik tanganmu pelan" balas dia sambil segera melajukan mobilnya.
Aku hanya bisa memalingkan pandangan dan sejujurnya aku masih merasa canggung untuk berhadapan dengannya karena kejadian yang tidak disengaja dengannya pada sore hari tadi sehingga membuat aku semakin gugup dan tidak tahu bagaimana cara bersikap kepadanya apalagi aku tahu dia menyukaiku dan kini kita justru menjadi pasangan yang akan bertunangan ini sungguh menyulitkan aku dan membuatku merasa canggung dengannya.
Hingga sesampainya di cafe dia juga kembali menyajikan makanan kesukaanku dan dia menyuruhku untuk mencicipi menu terbarunya yang ada disana.
"TADA... Ini adalah menu baru yang aku ciptakan sendiri, ayo kau coba" ucap dia sambil menyajikannya di hadapanku,
"Aishh... Kenapa sih kau selalu saja menyuruhku untuk mencoba makananmu, memangnya tidak ada orang lain yang bisa membantumu untuk mencobanya yah, aku sudah sangat lelah mencicipi semua makanmundari sejak kuliah hingga sekarang dan sudah berpa banyak yang kau buat aku sudah mencicipi seluruhnya" balasku kepada dia sambil segera menarik piring kecil itu,
"Aku kan sudah pernah bilang padamu sejak lama, jika aku hanya ingin orang yang paling aku cintailah yang mencicipi semua milikku pertama kali, biasanya sebelum aku mengenalmu aku selalu meminta ibuku yang mencicipinya dan tidak pernah memasarkan menu baru jika ibuku belum mencicipinya namun setelah ada kau aku tidak perlu menunggu kedatangan ibuku lagi, karena ada kau yang bisa mencicipinya karena kalian berdua sama-sama orang yang paling berharga untukku" balas Dika membuat aku langsung terdiam disaat hendak memasukan sendok ke dalam mulutku.
__ADS_1
Perkataannya dan semua kalimat yang keluar dari mulutnya itu sungguh luar biasa dan dia membuat aku kagum dengannya, aku kini bahkan merasa ragu dengan perasaanku sendiri apa aku akan goyah dengan Dika atau tidak.
Aku menatapnya dengan lekat tanpa berkata-kata dan sekakan sudah terhipnotis dengan perkataannya barusan hingga Dika sendiri yang menyadarkan aku dan menyuapi aku makanan yang sudah hampir aku siapkan ke mulutku sendiri saat itu.
"Kalau mau makan cepat makanlah kenapa kau seperti tv yang di pause, berhenti bergerak secara tiba-tiba" ucap Dika sambil mendorong tanganku.
Aku pun dengan cepat memakan makanan itu dan rasanyanya sangatlah enak, ini makanan terenak lagi yang aku rasakan rasanya sangat lembut dan halus juga tidak terlalu manis di mulut.
"Wahh.... Ini enak sekali, bagaimana bisa kau membuat makanan penutup seenak ini" ucapku mencicipinya lagi,
Rasa gugupkunsebelumnya langsung hilang ketika memakan makanan penutup itu, ini benar-benar luar biasa rasa enak itu membuat aku melupakan segala hal dan hanya hanya berfokus pada tanya yang sangat enak untuk aku nikmati, aku pun segera menyuruh Dika untuk ikut mencobanya juga karena dia selalu menyuruh aku untuk mencicipi makanannya terus sedangkan dia sendiri tidak pernah aku lihat memakan makanan buatannya sendiri dihadapanku.
"Ini sungguh enak, ayo coba kau rasakan aaaa" ucapku menyuapinya.
Dia malah terdiam dan menaikkan kedua alisnya menatap heran denganku sedangkan aku segera menyodorkan sendok itu ke dekat mulutnya.
"Ayo bukan mulutmu kenapa kau diam saja? Aaaaa" ucapku menyuruh dia membuka mulutnya.
Akhirnya dia mau membuka mulutnya juga dan aku berhasil membuat dia menikmati makanan dia sendiri, awalnya aku pikir Dika juga akan membuat reaksi Yanga sama denganku ketika memakannya namun dugaanku salah besar dia sama sekali tidak memperlihatkan reaksi apapun dan hanya mengangguk angguk sedikit saja.
"Heh apa arti anggukanmu itu dan bagaimana rasanya menurutmu?" Tanyaku kepada dia dengan penasaran.
"Rasanya biasa saja bagiku" balas dia dengan santai dan begitu mudah mengatakannya,
"Hah.... Dasar ku ini, apa kau tidak bisa sedikit memuji makanan buatanmu hah? Ini itu buatau loh karyamu hasil dari ciptaanmu dan kepandaianmu. Kenapa kau hanya bilang biasa saja, padahal ini sangat enak dan luar biasa aku belum pernah mencicipi kue selembut ini" ucapku kepadanya dengan bicara jujur sesuai dengan apa yang aku rasakan.
"Ya memang bagiku itu biasa saja karena aku lah yang membuatnya, mungkin itu akan menjadi luar biasa jika kau yang membuatkannya untukku" balas dia malah membawa pada hal lain,
"CK.... Aku tidak ingin melakukan hal itu aku tidak bisa membuat hal-hal manis semacam ini, karena keahlianku adalah banyak berbicara bukan membuat makanan penutup" balasku kepadanya.
Aku tahu dia hanya ingin aku untuk membuat kue dengannya tapi aku tidakau karena itu membosankan dan sangat melelahkan bagiku sebelumnya aku sudah pernah membuat kue bersama dengan ibu panti ketika aku masih tinggal di panti asuhan dulu, dan aku bisa merasakan betapa menderitanya tanganku yang merasa sangat pegal karena harus terus memegangi alat pengocok telur dan menyatukan bahan-bahan lainnya lalu kembali harus menyatukan banyak bahan itu membuat aku bingung dan geram.
Apalagi ketika memanggangnya kita harus mengetahui waktu untuk memanggangnya dengan tepat agar menghasilkan hasil yang sempurna.
Ke esokan harinya setelah membuat banyak kue untuk seluruh anak panti aku jadi tidak bisa menulis dan tertinggal pelajaran juga harus mencatat banyak sekali catatan Karena harus menyusul ke tertinggalan sebelumnya.
Hal itulah yang membuat aku kapok dan tidak ingin melakukan hal semacam itu lagi karena aku sudah pernah merasakannya sendiri dan mengetahui betapa sulitnya pekerjaan semacam itu, namun melihat bagaimana Dika bekerja aku sangat kagum dan salut denganya di samping memimpin perusahaan entertainment yang dia garap dia juga masih bisa berbisnis dalam bidang kuliner dan miliki banyak cabang cafe yang terkenal di kota ini.
Menurutku dia sangat luar biasa dan sosok seorang pria yang bekerja keras walau dia hanya hidup berdua dengan ibunya, ibunya itu juga sangat baik padaku dan memperlakukan aku bahkan lebih baik dari cara dia memperlakukan putranya sendiri.
Saat melihat Dika dan Devinka aku seperti melihat sosok yang sama mereka berdua sama-sama terlahir dari keluarga yang kaya raya dan sangat berpengaruh di kota ini, mereka berdua juga hanya terpaut usia dua tahun saja, terlebih mereka berdua juga hanya hidup dengan seorang ibu yang merangkap menjadi seorang ayah bagi mereka.
Mungkin bedanya Dika sudah di tinggalkan oleh ayahnya sejak dia masih sekolah dasar sedangkan Devinka di tinggalkan oleh ayahnya beberapa hari yang lalu, jadi mungkin dia masih berkabu saat ini, ibu Dika juga sangat menyayangi Dika dan tidak mengekang dia sedangkan ibu Devinka selalu mengekangnya dan membuat semua jalan yang di lalui putranya harus sesuai dengan apa yang dia rencanakan.
__ADS_1
Ibu Devinka adalah seseorang yang begitu berambisi untuk menjadi orang yang berpengaruh nomor satu di negara ini dia selalu membuat Devinka tertekan dan tidak bisa menjalani hidup sesuai dengan apa yang Devinka ingin kan sendiri.
Cara dia berpakaian, tepat dia sekolah dan dengan siapa dia bergaul harus selalu sesydengan apanyang di katakan ibunya dan ibunya hanyalah mementingkan kedudukan dan pengaruh, dia tidak pernah menyukai orang-orang yang lemah atau miskin sepertiku sedangkan ibunya Dika dia justru sangat baik dan ramah.
Tidak pernah memandang siapapun dari jabatan atau hartanya dia juga di sanjung dan memiliki banyak pengikut yang sangat mendukungnya karena sikap ramah yang dia miliki sehingga banyak orang yang menghormatinya sedangkan ibu Devinka banyak di hormati semua orang karena mereka takut dengannya.
Mereka berdua terlihat memiliki nasib yang sama namun berada dalam lingkup kehidupan yang sangat berbeda, Devinka yang di besarkan dalam banyak tekanan dari ibunya karena sang ayah sakit dan dia tidak memiliki banyak waktu atau mendapatkan kasih sayang yang tulus dari ibunya dia tumbuh menjadi pria yang kasar dan emosional, dia selalu ingin menang sendiri dan selalu harus mendapatkan semua yang dia inginkan dengan cara apapun.
Sedangkan Dika tumbuh menjadi pria yang berkarisma dan dia tidak banyak bicara hanya tersenyum sesekali kepada orang yang menyapanya, dia dewasa dan bijaksana dia tidak pernah memaksakan apapun dalam hidupnya dan membiarkan semua orang untuk memperlihatkan dirinya sendiri di hadapan dia tanpa harus berpura-pura menjadi orang lain.
Itulah kenapa Ciko yang pendiam dan judes sekalipun merasa betah berada di samping Dika karena sebegitu hebatnya ibu Dika yang berhasil mendidik putranya hingga tumbuh menjadi pria yang bertanggung jawab dan memiliki karakter yang sangat bagus.
"Dika kenapa yah aku malah menyukai Devinka padahal dari segi apapun kau lebih baik darinya" ucapku tidak sengaja,
"Karena itulah cinta Elisa, kamu tidak bisa menentukan dengan akal sehatmu sendiri kemana perasaanmu akan tertuju sama seperti aku yang mencintai kamu tanpa membutuhkan sebuah alasan" balas Dika sambil mengusap pucuk kepalaku.
Aku tersenyum menanggapinya dan aku masih tidak menyangka bisa berakhir dengan Dika dalam hubungan seperti ini, aku tidak bisa membuka hati dengan mudah untuk Dika disaat masih ada bayangan Devinka di ruang khusus hatiku.
Meski Dika sangat baik dan aku sudah merasakan semua kebaikannya namun aku tetap tidak ingin memberikan harapan semu padanya karena aku sendiri tidak tahu apakah aku dapat mewujudkan harapannya atau tidak.
Kami menikmati malam itu berdua di cafe dan aku membantu dia untuk menutup cafenya lalu segera kembali ke rumah.
Sampai ke esokan paginya aku bersiap untuk mencari pekerjaan baru, aku sudah siap mengenakan pakaian yang rapih dan membawa sebuah tas yang selalu aku pakaian kemanapun aku pergi.
Saat keluar dari kamar aku berpapasan dengan Dika dan dia menatapku dengan tatapan yang membuat aku risih dengannya.
"Eh, kenapa kau melihatku selekat itu memangnya ada yang salah dengan pakaianku ini?" Tanyaku kepadanya,
"Tidak ada hanya saja kau terlihat lebih cantik hari ini, memangnya kau mau kemana memakai pakaian serapi itu?" Tanya Dika kepadaku,
"Tentu saja melamar pekerjaan aku ada wawancara kerja di salah satu perusahaan webtoon hari ini, aku dengar mereka sedang mencari seorang editor ahli untuk para penulis pemula yang akan mereka rekrut, dan aku lolos tahap awal jadi akan di wawancarai hari ini" balasku dengan penuh semangat,
"Memangnya kau bisa bekerja dalam bidang itu, kau kan sama sekali tidak mengerti dengan hal-hal seperti itu" balas dia meremehkan aku,
"Heh, kau saja yang tidak tahu, aku hobi membaca komik sejak sekolah dasar tentu aku bisa menghadapi masalah seperti ini, aku akan berusaha sekuat tenagaku dan melakukannyang terbaik untuk mendapatkan lowongan ini, meskipun aku sangat ini menjadi pembawa berita" balasku sambil menunduk lesu ketika mengingat impianku yang sudah tenggelam,
Dika juga malah menatap tawa melihat nasib sialku ini dan aku sangat kesal ketika melihat dia malah menertawakan aku dengan cara seperti itu.
"CK... Jika kau mau menertawakan aku tertawalah yang keras jangan menahannya seperti itu, kau sangat menyinggungku!" Ucapku dengan kesal.
"Ahaha... Maaf maaf habisnya kau sangat lucu sekali, yang tadinya seorang pencari dan perancang berita kenapa malah mau melamar pekerjaan sebagai editor webtoon memangnya kau ini apaan, belajar tentang kepenulisanpun tidak pernah, kau ini ada ada saja" balas dia yang terlihat puas menertawakan aku,
"Aaahh sudahlah lihat saja nanti jika aku bisa keterima kau tidak akan menertawakan aku lagi, huh" balasku sambil segera pergi dari sana dengan cepat.
Melihatnya lebih lama hanya membuat moodku menjadi rusak dan kehilangan semangat, maka dari itu meninggalkan dia adalah keputusan terbaik.
__ADS_1