
Aku pun berlari lebih cepat dan menghampirinya hingga setelah lebih dekat aku langsung melambaikan tangan tinggi-tinggi dan berteriak menyapanya dengan wajah ceria.
"Kak ...hey...disini...." Teriakku sambil mendekatinya.
"Ehh.....Elisa sedang apa kamu disini?" Tanyanya membuatku heran,
"AHA....tadi baru saja aku mau menanyakan hal tersebut kepadamu, malah keduluan hehe" balasku sambil menggaruk rambut belakangku,
"Ahhh, aku sedang berolahraga karena suntuk juga terus bergulat dengan pekerjaan kantor sekaligus mencari pemberitaan, siapa tau ada hal menarik di sekitar sini dan ternyata aku memang menemukannya" ucap kak Eril memberitahuku.
Aku membuka mataku lebar dengan senyum tipis menatap sedikit heran dengan dirinya.
"Memangnya apa hal menarik yang kamu dapatkan kak?" Tanyaku penasaran,
"Itu kamu Elisa, jika aku tidak datang ke tempat ini mungkin aku tidak akan bertemu denganmu" balasnya membuatku baper parah.
Aku hanya bisa tersenyum malu mendengar penuturannya, lalu kak Eril mengajakku untuk jogig bersama, dan aku langsung menyetujuinya, rasanya senang sekali bisa joging bersama orang yang kita kenal terlebih orangnya itu kak Eril dia begitu baik terhadapku dan aku juga merasa nyaman saat berbicara ataupun mengobrol dengannya.
Selama jogig aku terus saja mengobrol dan sesekali bercanda dengan kak Eril hingga kita beristirahat sejenak dan duduk di salah satu bangku taman yang ada disana.
Gambaran kak Eril dan Elisa
"Aaahhh....lelah sekali, sepertinya jogingnya sudah cukup kak hehe" ucapku memulai pembicaraan dengannya,
"Aaahhh...iya ini juga sudah mau siang, eh Elisa aku lupa masih ada pekerjaan yang harus aku kerjakan, maaf ya aku harus pergi sekarang sampai jumpa Elisa" ucap kak Eril yang pergi dengan terburu-buru.
Aku hanya menanggapinya dengan lambaian tangan dan aku tetap terduduk di taman itu sambil merebahkan tubuhku ke sandaran kursi dan ku tengadah kan kepalaku ke atas langit dengan menutup mata serta menikmati segarnya pagi menjelas siang ini.
__ADS_1
Awalnya jelas sekali terasa panas di wajahku ditambah keringat yang bercucuran di dahi sangat terasa menyegarkan tubuhku, ini pertama kalinya aku kembali berolahraga setelah aku menginjak di usia 22 tahun ini, aku lulus kuliah hanya dengan waktu tiga tahun, ya tentu saja karena semua orang tahu bahwa aku anak yang berprestasi dan pandai bahkan tidak sedikit para dosen yang memanggilku gadis jenius.
Setelah joging dan beristirahat di taman aku merasakan ketenangan yang belum bisa aku dapatkan akhir-akhir ini, rasanya sungguh menyenangkan bisa duduk seorang diri di taman dengan menyandarkan tubuh ke belakang sandaran kursi serta menengadahkan wajah kita ke langit, membiarkan cahaya matahari menerpa wajahku begitu saja.
"Aaahhh....ini menenangkan sekali" ucapku sambil terus menikmatinya.
Saat tengah menikmati ketenangan yang sangat aku dambakan tiba-tiba saja aku merasa matahari sudah tidak menerpa wajahku lagi sehingga aku mulai merasa aneh dan segera membuka mataku dengan cepat.
"Ehh...kenapa redup?, Atau mau hujan yah?" Tanyaku keheranan sendiri.
Saat aku membuka mata rupanya ada sepasang tangan yang menutupi cahaya tersebut untuk sampai ke wajahku dan setelah aku lihat ternyata pemilik tangan tersebut adalah Dika, dia tersenyum kepadaku dan aku segera bangkit duduk dengan tegak.
"Dika, sejak kapan kau ada disini?" Tanyaku kaget dan heran,
"Kau tidak mau mempersilahkan aku untuk duduk?" Ucapnya membuatku langsung teringat dan segera menggeser memberikan ruang untuknya duduk di sebelahku.
Dika langsung duduk di sampingku dan aku kembali menanyakan lagi niatnya datang menemuiku sampai kesini.
"Btw, Dika kau sedang apa disini tidak mungkin kan, kau berniat mencariku hingga kemari?" Tanyaku lagi,
"Tentu saja aku mencarimu kenapa juga itu tidak mungkin?" Balasnya membuatku terperangah.
Aku kaget dan merasa sangat heran, pasalnya untuk apa juga Dika menemuiku hingga mencariku sampai kesini karena biasanya dia juga tidak terlalu dekat denganku sebelumnya dan kami hanya bicara jika bertemu sebentar saja.
"Eishh...tapi untuk apa kau mencariku?" Tanyaku dengan menaikkan kedua alisku bersamaan,
"Aku mau mengajakmu pergi ke suatu tempat, dan aku rasa mungkin kamu akan menyukainya" ucap Dika tiba-tiba,
"Tapi aku...." Ucapku tertahan karena Dika langsung menarik tanganku begitu saja.
__ADS_1
Dia membawaku masuk ke dalam mobilnya dan terus saja melakukan mobilnya entah akan pergi membawaku kemana, aku berusaha protes dan berontak karena saat itu aku masih mengenakan pakaian olahraga dan keringat masih bercucuran di dahiku, aku juga merasa diriku bau masam karena keringat di sekujur tubuhku itu.
"Ehh....Dika kau mau membawaku kemana, heyy aku bahkan belum mandi" ucapku merasa resah sendiri,
"Sudah tenang saja kau tidak mandi pun tetap cantik Elisa" balasnya yang membuatku seketika terdiam dan merasa senang.
Dika tidak memberitahuku kemana tujuan yang akan dia tempuh sebenarnya hingga tidak lama akhirnya kami sampai di depan sebuah cafe yang cukup besar dan aku lihat cafe itu seperti baru saja dibuka karena terlihat dari bangunannya yang belum selesai sepenuhnya juga terlihat tidak ada pengunjung sama sekali, pintunya juga masih di beri segel.
"Eh, Dika ini cafe siapa kenapa kau membawaku kemari?" Tanyaku dengan heran,
"Sudah ayo ikut aku masuk ke dalam, kau itu cerewet sekali jangan banyak bertanya" ucapnya sambil langsung kembali menarik tangannya dengan kuat hingga membawaku masuk ke dalam cafe tersebut.
Saat masuk ke dalam aku sangat terpukau sebab semua dekorasi ruangannya sangatlah indah dan terlihat klasik, aku tidak menyangka cafe yang terlihat sederhana di luar ternyata menyimpan keindahan yang luar biasa di dalamnya, semua benda tertata rapih begitu pula dengan bangku pengunjungnya, Dika menuntunku ke depan meja dan dia mempersilahkan aku untuk duduk, lalu dia menawarkan beberapa minuman untukku, dan aku memilihnya.
Dia pergi untuk menyajikan minuman itu dan aku berjalan-jalan sebentar melihat bangunan cafe itu yang sungguh sangat luar biasa untukku.
"Dika apa ini cafe barumu?" Tanyaku mencoba untuk menebak,
"Yap....dan ini aku persembahkan untukmu" balasnya sambil berjalan menaruh minuman yang aku minta sebelumnya.
Aku kaget dan langsung berjalan cepat menghampirinya.
"Dika apa yang kamu katakan, tolong jangan bercanda kau ini ada-ada saja mana mungkin kau membuat sebuah cafe seindah ini hanya untukku" ucapku sambil tersenyum karena ku kira itu hanya candaan biasa.
Tapi tiba-tiba saja Dika meraih kedua tanganku dan menggenggamnya dengan erat, matanya menatapku dengan lekat dan jantungku mulai berdetak tidak menentu, aku menatapnya dengan kebingungan tidak menentu dan rasanya aku tidak ingin berada disana saat itu.
"Elisa jika kamu mau menjadi pacarku aku akan memberikan apapun yang kamu mau bahkan cafe ini sekalipun" ucapnya membuatku terbelalak kaget dan refleks langsung menarik tanganku dari genggamannya.
"AA..ahh...Dika hentikan kau ini kenapa sih tiba-tiba saja seperti ini" ucapku dengan sedikit gugup dan langsung memalingkan pandangan darinya.
__ADS_1