Bos Ternyata Musuhku

Bos Ternyata Musuhku
Ke Perusahaan


__ADS_3

Aku merasa kakiku terasa tidak menapak ke tanah, aku masih tidak mengerti apa alasan dan maksud sebenarnya dari Ciko, sehingga dia harus memberikan peringatan seperti itu kepadaku bahkan dia mengatakannya dengan begitu tegas dan mendominasi, aku merasakan rasa sakit yang tidak biasanya aku rasakan dan ini adalah pertama kalinya aku mendapatkan peringatan sekeras itu dari seorang Ciko yang bahkan selama ini dia tidak pernah ikut campur menganai urusanku dengan Devinka, bahkan dia selalu bersikap acuh tak acuh kepadaku maupun kepada Devinka.


"Kenapa Ciko mengatakan itu padaku, tanpa dia mengatakan hal semacam itu aku bahkan tidak akan berani mendekati Devinka dan aku tahu dia juga tidak mungkin mencintai wanita biasa sepertiku, bahkan tidak ada sesuatu apapun yang istimewa dalam diriku" ucapku sambil memegangi dadaku yang terasa sakit di dalamnya.


Aku berusaha menguatkan diriku sendiri, ku tarik nafas dengan dalam dan menghembuskan nafas tersebut beberapa kali, setelah ku rasa sudah jauh lebih baik aku pun menguatkan diriku dan kembali masuk ke dalam lalu langsung bergabung lagi dengan Devinka serta anak-anak lainnya.


Disana mereka juga sudah bersiap-siap untuk pulang sebab acara makan bersama sudah selesai tapi Devinka terlihat begitu kelimpungan aku pun menanyakan apa yang tengah dia pikirkan saat itu.


"Devinka ada apa denganmu, ku lihat sejak kita keluar dari restoran kamu seperti tengah berpikir keras apa yang kamu pikirkan?" Tanyaku sedikit mencemaskannya,


"Tidak ada aku hanya mengkhawatirkan keadaan ayahku saat aku menemuinya dia tengah koma dan tidak tahu kapan akan bangun, aku juga harus kembali ke sana setelah beberapa urusanku selesai di sini" balasnya dengan senyum yang lesu.


Aku hanya mengangguk dan aku memahami bagaimana rasanya dalam posisi Devinka saat ini, bahkan jika aku ada diposisinya mungkin aku akan sama merasa bingung dan sedih seperti Devinka saat ini.


Aku pun berhenti untuk tidak mengajaknya bicara dan membiarkan dia mendapatkan ruang sendiri dengan pikirannya, sebab aku tidak ingin mengganggu dia dalam keadaan seperti ini, kini kami tengah menuju perjalanan ke rumahku dan saat ini yang mengemudi adalah Reksa sebab Dika dan Ciko mereka selalu disibukkan dengan pekerjaan kantornya semenjak mereka lulus kuliah satu tahun yang lalu lebih dulu dari pada aku dan Devinka juga Reksa.


Maka dari itulah Dika bertukar tempat dengan Reksa, dan kini Reksa berada di satu mobil yang sama bersama aku juga Devinka, selama perjalanan tidak ada lagi percakapan diantara kami bertiga, hingga tidak lama akhirnya kami sampai di depan gang menuju kosanku mobil segera berhenti dan aku langsung keluar dari mobil tersebut lalu berpamitan dengan melambaikan tangan kepada mereka hingga mobil yang dikemudikan oleh Reksa kembali melaju meninggalkan tempat itu sampai aku tidak dapat melihatnya.


Aku langsung kembali ke kosan dan segera berganti pakaian lalu langsung menyiapkan surat lamaran pekerjaan untuk ke perusahaan CTN group, Yap itu adalah perusahaan impianku selama ini, meski sejujurnya aku masih terpikirkan dengan Devinka yang murung ketika kami pulang dari Restoran tepatnya saat Devinka menerima sebuah pesan dari ibunya.


"Kasian sekali dia, meskipun kaya raya dia nampak tidak sebahagia aku, padahal seharusnya orang sekaya dia bisa mengobati penyakit ayahnya karena mereka bisa menemukan dokter terbaik dimana saja, dengan uang yang mereka punya" ucapku memikirkan sambil membereskan beberapa berkas yang sudah aku siapkan.


Aku segera berganti pakaian dan langsung pergi saat itu juga menuju perusahaan CTN Group dengan membawa semua surat lamaranku, sesampainya di sana aku langsung masuk ke dalam dan memberikan surat itu kepada resepsionis disana sebab aku sudah mendaftar sebagai staf departemen dua untuk hubungan informasi dan pemberitaan utama, sebelumnya aku juga sudah mendapatkan surat rekomendasi khusus dari kampus kepada perusahaan tersebut.

__ADS_1


Aku sangat senang setelah menyelesaikan tugas utamaku dan kini aku hanya tinggal menunggu keberuntungan dan waktu untuk menjawabnya.


Karena aku sudah berusaha sekuat tenaga aku tidak ingin mencemaskan apapun yang akan terjadi ke depannya jadi setelah memberikan berkas itu aku hendak langsung kembali ke rumah namun tiba-tiba saja aku bertemu dengan kak Eril dan dia menyapaku tepat saat dia baru saja keluar dari dalam lift.


"Elisa..." Teriaknya menyapaku.


Aku membalikkan badan dan menoleh ke arahnya lalu segera tersenyum menatapnya dan melambaikan tangan padanya sebagai tanda menjawab ucapannya.


"Hai kak, tidak disangka kita sudah bertemu lagi secepat ini hehe" balasku kepadanya,


"Cepat bagaimana aku sudah menunggumu cukup lama, bagaimana apa kamu sudah mengisi formulir pendaftaran nya?" Tanya dia kepadaku,


"Tentu saja, bahkan sebelum lowongan itu di umumkan aku sudah tahu bahwa aku akan memiliki kesempatan masuk ke perusahaan ini hehe" balasku dengan penuh percaya diri.


Kak Eril mengusap pucuk kepalaku membuatku tertegun dan jantungku terasa berdetak lebih kencang dari biasanya, aku merasa sangat gugup dan segera menggeser sedikit agar menjadi lebih tenang.


"Ahaha....kak kau seperti tidak tahu aku saja, sudah ya kalau begitu aku mau pergi pulang sekarang, ini sudah hampir petang" ucapku beralasan sambil memegangi tas slempang yang aku pakai cukup erat,


Aku berniat untuk pergi saat itu juga namun kak Eril menahan tanganku dan dia menawarkan tumpangan kepadaku membuat aku tidak bisa menolaknya.


"Eh....tunggu Elisa, ayo kita pulang bersama, biar aku mengantarmu" ucapnya kepadaku begitu saja.


Aku sempat tersentak sejenak dan merasa sedikit canggung dengan ajakannya tersebut namun setelah aku pikir-pikir lagi, lumayan sekali untuk menghemat uang jajanku dengan aku menumpang dan menerima tumpangan dari kak Eril setidaknya aku tidak perlu mengeluarkan uang untuk ongkos pulang dan uangnya bisa aku pakai untuk makan enak malam ini.

__ADS_1


"Wahh...benarkah?, Apa itu tidak merepotkanku kak?" Tanyaku masih berpura-pura tidak enak.


Walaupun sebenarnya aku sangat senang namun tetap saja aku harus menjaga gengsiku sendiri sebagai seorang wanita, mana mungkin aku akan menunjukkan rasa senang ku begitu saja, itu hanya aku merusak citra dalam diriku sendiri sebagai seorang wanita, setidaknya masih harus tahan harga.


"Tentu saja tidak, ayo mobilku ada di parkiran depan" ajak kak Eril sambil berjalan lebih dahulu.


Aku mengikuti langkahnya dari belakang hingga di depan mobil miliknya kak Eril langsung membukakan pintu untukku dan aku hanya mengangguk lalu segera masuk ke dalam, kak Eril juga mengikutinya dan dia segera melajukan mobil dengan perlahan.


Tapi setelah di perjalanan beberapa saat aku mulai merasa heran karena kak Eril melewati jalanan menuju kediamanku padahal aku sudah memberitahu alamat rumahku lebih dulu kepadanya.


"Ehh..kak alamat rumahku ke sana kenapa kau tidak belok?" Tanyaku dengan heran,


"Sengaja aku lapar dan mau mengajakmu makan bersama lagi pula tidak enak rasanya jika makan sendirian, kamu juga tidak keberatan kan?" Balasnya membuatku semakin kesenangan,


"Ahaha...tentu saja tidak, ku pikir tadi kau mau membawaku ke rumahmu" balasku begitu polos,


"Memangnya kamu mau datang ke rumahku yah?" Balasnya lagi membuatku langsung terbelalak,


"Ohhhh...tidak tidak aku tadi hanya takut kamu lupa saja dengan alamat yang aku sebutkan sebelumnya" pungkas ku langsung menggelengkan mata dan menggoyangkan tanganku dengan cepat.


Aku sangat kaget saat dia mengira aku mau datang ke rumahnya, memang aku saja yang salah dalam berbicara hampir saja dia berpikir yang aneh mengenai ucapanku sebelumnya.


Elisa dan kak Eril

__ADS_1



__ADS_2