
Setidaknya dengan begitu aku bisa melindungi diriku sendiri dan berkat kejadian itu aku jadi memiliki pekerjaan tetap dengan gajih yang luar biasa, dengan begitu aku tidak perlu khawatir lagi untuk berpuasa ketika kehabisan uang.
Bahkan kak Anna baik hati mau mentraktirku saat selesai pemotretan, itu akan membuatku mengirit jatah makan.
Beberapa saat kemudian akhirnya pemotretan yang sangat menguras waktu dan tenaga itu selesai, kak Anna nampak sudah sangat kelelahan bahkan dia berjalan dengan lesu dan gontai aku tidak tega melihat wajahnya yang sudah begitu muram dan segera aku menghampirinya.
"Kak....apa kakak baik baik saja?" Tanyaku mengkhawatirkan kondisinya,
"Tenang saja aku sudah biasa begini, tinggal mengisi perut sampai kenyang nanti energiku juga akan pulih lagi, ayo sebaiknya kita segera pergi ke cafe favoritku, kamu juga pasti sudah lapar kan, gadis kuat" ucap kak Anna sambil mencubit kecil pipiku.
Aku hanya tersenyum menanggapinya karena aku tau kak Anna baru saja menggodaku kami berjalan sambil bergandengan masuk ke dalam mobil, kak Anna begitu baik padaku aku juga sudah menganggapnya seperti saudaraku sendiri.
Caranya berbicara dan menggodaku tadi membuatku merasa memiliki keluarga baru setelah kehilangan panti asuhan dan teman temanku di sana, setidaknya aku tidak kesepian seperti sebelumnya, aku sudah kehilangan sahabat terbaikku Lili dan untunglah tuhan mengirimkan sosok kak Anna kepadaku.
Aku terus menatapnya sambil tersenyum hingga kak Anna mulai balik menatapku dengan mengerutkan kedua alisnya bersamaan dan tiba tiba saja kembali mencubit kedua pipiku dengan lebih kuat dari biasanya.
Tentu saja aku refleks menjerit dan menahan lengan kak Anna yang mencubit kedua pipiku.
"Aaa.....kak lepaskan, apa apaan sih aku ini bukan anak kecil lagi aishh" ucapku menggerutu kesal dan melepaskan tangan kak Anna.
Aku mengusap pipiku yang rasanya sedikit sakit dan aku rasa sepertinya pipiku merah akibat cubitan dari kak Anna sebelumnya.
"Eishh...kau ini, habisnya kenapa terus menatapku sambil tersenyum seperti itu sedari tadi, wajahmu menyeramkan jika terus seperti itu makanya aku gemas dan mencubit mu" jawab kak Anna membela dirinya,
"Hah, bilang saja kalau aku ini imut dan menggemaskan, begitu saja tidak mau mengaku" balasku dengan penuh percaya diri.
"Kau mau aku cubit lagi sampai kau tidak bisa merasakan memiliki pipi itu lagi!" Ancam kak Anna yang membuatku langsung diam seketika.
__ADS_1
Tak lama kami sampai di tempat tujuan, sebuah cafe yang cukup mewah dan besar nampak banyak sekali pengunjung di sana padahal ini sudah cukup larut untuk menongkrong, aku pergi masuk ke dalam cafe tersebut dan tak sengaja melihat Dika yang nampak duduk di sebuah meja bersama Reksa, Devinka juga Ciko, mereka nampak berbincang dan bermain sesuatu aku tidak terlalu memperhatikannya karena langsung bersembunyi ke balik pintu dan berlari keluar dari sana.
"Hah...bukankah itu Dika dan The Boys?, Aishh...sial, kenapa mereka bisa ada di sini?, ahh gawat aku tidak mungkin bertemu dengan mereka di tempat seperti ini yang ada nantinya mereka akan tau kalau aku bekerja pada kak Anna, aku harus kabur" gerutuku pelan sambil berjalan mengendap meninggalkan kak Anna yang saat itu sudah masuk lebih dulu.
Aku kembali ke mobil dan kak Anna menelponku, aku pun segera mengangkat panggilan telpon darinya.
"Hallo kak, maaf aku tidak bisa ikut makan bersamamu aku ada masalah mendadak dan harus pulang sekarang juga" ucapku langsung memotong ucapan kak Anna,
"Hey...kau ini kenapa sih, tadi saja begitu antusias sekarang kenapa tiba tiba pergi begitu saja tanpa berpamitan padaku, apa kau mau ku potong gajih pertamamu hah?" Bentak kak Anna dengan nada yang tinggi,
"Maaf kak tapi aku sungguh tidak bisa kali ini dan masalahnya ini mendadak tolong beri aku sedikit keringanan lagi pula aku kan sudah menuruti semua perintahmu, kali ini saja tolong maafkan aku" jawabku memohon kepadanya,
"Baiklah tapi awas saja jika sekali lagi kau berani meninggalkanku seperti tadi, aku akan benar benar memotong gajihmu tanpa tawar menawar lagi" ucap kak Anna dengan sebuah keputusan yang membuatku merasa lega.
Akhirnya setelah susah payah memikirkan banyak alasan kak Anna bisa mengijinkanku tanpa harus memotong gajih pertamaku.
Aku sungguh sial malam ini karena harus bertemu dengan The Boys yang sangat menggangu ketenangan hidupku selama ini.
Aku berjalan perlahan menjauhi Devinka dan terus menjaga jarak dari nya namun sialnya aku lihat Devinka justru malah berjalan semakin mendekatiku, dan dia berjalan begitu gontai sambil memegangi kepalanya, aku bahkan sempat berpikir kalau dia tengah mabuk berat.
"Kenapa dengannya, atau jangan jangan dia ma*uk?, Tapi mana mungkin di dalam cafe itu menyediakan minuman seperti itu" gerutuku memikirkan.
Taxi lewat saat itu dan aku baru saja berhasil menghentikannya aku langsung terburu buru membuka pintu taxi namun saat hendak masuk aku mendengar suara keras dari luar saat aku membalikkan badan rupanya itu adalah Devinka yang jatuh tersungkur ke tanah dengan tak sadarkan diri.
"Hah....kenapa dengan orang ini?, aishh aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja" gerutuku kesal.
Aku pun kembali keluar dari taxi dan memapah Devinka dengan sekuat tenaga lalu mulai berpikir untuk mengantarnya kembali masuk ke dalam cafe tersebut dan memberikannya kepada teman temannya yang lain.
__ADS_1
Tapi saat aku baru saja hendak melangkah aku baru ingat jika di dalam cafe itu juga ada kak Anna, aku sudah terlanjur berbohong padanya pasti akan menjadi masalah besar jika dia menemukanku membawa seorang pria ke dalam cafe tersebut, dan pada akhirnya terpaksa aku harus membawanya bersamaku.
"Aish....sial, aku tidak mungkin masuk ke sana, bisa bisa kak Anna tidak akan mempercayaiku lagi dan aku akan kehilangan pekerjaan yang sangat menguntungkan ini, arghhh ini semua gara gara manusia sialan ini" gerutuku merasa frustasi.
Ditambah supir taxi yang bertanya kepadaku apakah aku jadi menaiki mobilnya atau tidak.
"Neng mau naik tidak, dari tadi berdiri aja!" Bentak supir taxi tersebut.
Aku pun segera menjawabnya dan langsung memasukkan Devinka ke dalam taxi begitu pula denganku yang duduk di sampingnya.
"Ahh..iya pak saya mau naik kok sekarang, tenang aja" balasku sambil segera masuk.
Di dalam taxi selama perjalanan aku terus berusaha membangunkan Devinka dengan menggoyangkan tangan juga badannya namun dia sama sekali tidak bergerak sedikitpun, aku bahkan sempat panik karena takut dia meninggal.
"Heh...cowok sialan, bangun Lo!, Aish...Lo mau bangun atau gue tendang Lo ke jalanan, cepet bangun....hey....jangan bikin gua panik, aishh...kenapa ni anak gak bangun juga sih?" Gerutuku dengan bingung bercampur kesal.
Sang supir yang mengetahui kejadian itu dia pun mulai berbicara padaku yang membuatku semakin takut dan menduga yang tidak tidak.
"Neng, bangunin pacarnya yang lembut dong, lihat kan dia gak bangun juga, jangan jangan dia mati loh" ucap supir itu bicara seenaknya.
Entah aku harus marah karena dia mengatakan aku pacarnya, atau aku harus panik karena takut dia benar benar meninggal seperti yang diucapkan oleh supir itu.
"Heh, jangan bicara sembarangan pertama dia itu bukan pacarku aku hanya mengenalnya dan tidak tega jika meninggalkannya di pinggir jalan dalam kondisi tak sadar dan kedua mana mungkin dia meninggal tadi dia masih bisa berjalan kok" jawabku dengan kesal namun juga panik.
Saat itu sebenarnya aku sudah sangat ketakutan ku lihat Devinka masih tidak sadarkan diri dan kepalanya terhantuk ke samping mobil mengenai kaca mobil berkali kali, aku yang tidak tega terpaksa harus memegangi kepalanya dan menyandarkan kepalanya ke pada pundakku.
Meski aku sangat membencinya dan dia sangat merepotkanku tapi aku juga tidak bisa berbuat apapun karena Devinka sungguh tak sadarkan diri, aku mencoba memegangi lengannya dan memeriksa denyut nadi di pergelangan tangannya.
__ADS_1