
Aku tahu itu cukup memalukan tapi apalah dayaku yang memang terlahir sebagai gadis miskin dan tinggal sebatang kara, aku berusaha menghindari tatapan orang orang yang merendahkan ku dan masuk dengan penuh percaya diri ke dalam lift, di dalam lift juga ada kak Eril dan seperti biasa dia tidak menyapaku aku juga tidak mood menyapanya lama lama dan hanya tersenyum sekilas padanya.
Hari ini tidak ada kendala apapun selama bekerja dan semua berjalan dengan lancar, namun hari ini aku harus lembur bersama kak Eril karena kak Kris tidak masuk kerja dan kak Anne yang telah izin setengah hari sehingga semua pekerjaan harus aku selesaikan berdua bersama kak Eril.
Berbeda dengan kak Anne dan kak Kris selama bekerja tidak ada sedikitpun suara yang terdengar kecuali suara ketika laptop masing masing, aku sudah sangat mengantuk saat itu namun pekerjaanku masih cukup banyak.
Aku berniat pergi ke dapur untuk menyeduh kopi dahulu agar bisa bertahan tetap bekerja dan terjaga dengan fokus malam ini, aku pun meminta izin dahulu terhadap kak Eril.
"Kak aku mau ke dapur dulu apa kamu mau menitipkan sesuatu padaku?" Ucapku meminta izin dan menawarkan jasa padanya,
"Oh aku hanya ingin air putih hangat saja" balas kak Eril dan aku segera pergi ke dapur untuk mengambilkannya.
Aku menyeduh kopi dan sudah mengambil segelas air hangat untuk kak Eril saat aku hendak keluar dari dapur aku berpapasan dengan Devinka dan dia nampak masuk ke dapur seorang diri, dia juga sepertinya hendak menyapaku namun aku segera memalingkan pandangan dan mengabaikannya berpura pura tidak melihatnya.
"Ehh...." Ucap Devinka tak sampai,
"Kenapa dia mengabaikanku apa dia masih marah padaku karena kejadian kemarin?" Gerutu Devinka sambil menggaruk belakang kepalanya pelan dan merasa heran.
Aku sangat kesal karena bertemu dengan Devinka sampai sampai kekesalan itu terbawa ke dalam ruangan dan tidak sengaja aku menaruh air hangat milik kak Eril dengan cukup keras ke mejanya.
"Brakk ..." Suara aku yang menaruh gelas berisi air hangat di meja kak Eril tanpa berkata kata.
"Huuhh... Menyebalkan sekali, kenapa juga aku harus melihat wajahnya seharusnya tadi itu aku menyenggol dia sampai terjatuh atau kalau tidak seharusnya aku menendang kakinya sampai dia meringis kesakitan, arghhh....dasar Devinka sialan!" Gerutuku tanpa sadar bahwa di sana ada kak Eril yang memperhatikanku.
Kak Eril menghampiriku dan menyapaku setelah aku menggerutu keras sambil mengacak rambutku sendiri penuh dengan emosi.
"Ekhmmm...Elisa ada apa denganmu apa kamu baik baik saja?" Tanya kak Eril menyapa,
Aku seketika kaget dan terperangah membelalakkan mataku saat melihat kak Eril sudah berdiri tegak di depan mejaku dan melontarkan pertanyaan kepadaku dengan wajahnyanyang dingin, suasana di sana seakan akan langsung berubah menjadi dingin dan aku tidak bisa berkata apapun lagi saking gugupnya melihat kak Eril bertanya kepadaku.
__ADS_1
"Eu..eu...eumm...aku ..aku baik baik saja kok kak, haha tidak perlu khawatir" ucapku dengan gelagapan tak menentu,
"Oh... Syukurlah kalau kau baik baik saja, tapi jika pekerjaan ini terlalu memberatkan mu dan membuatmu stres biar aku saja yang menyelesaikannya kau bisa pulang untuk beristirahat" ucap kak Eril padaku,
"Hah?, Apa yang dia pikirkan mana mungkin aku stres apa aku terlihat seburuk itu saat marah?" Gumamku merasa kesal.
Meski aku kesal dan penuh emosi namun aku tidak bisa melupakannya di depan kak Eril ataupun memperlihatkan emosiku ke padanya bagaimana pun nilaiku bergantung padanya dan dia adalah atasanku aku masih sangat membutuhkan pekerjaan ini apalagi setelah kehilangan pekerjaan dengan kak Anna.
Jika sampai aku benar benar kehilangan pekerjaan ini tidak tahu lagi aku harus mencari gantinya ke mana, mungkin aku akan sangat kesulitan dalam hal ekonomi.
Alhasil aku hanya bisa terus berpura pura memasang wajah tersenyum untuk menyembunyikan emosi dan kekesalanku di hadapan kak Eril.
"Ehehe... Aku baik baik saja kok kak, aku bisa menyelesaikan pekerjaan ini kau tidak perlu khawatir aku hanya sedikit mengantuk saja" balasku sambil segera meminum kopi yang sudah aku bawa sebelumnya.
Kak Eril hanya mengangguk beberapa kali lalu dia berjalan kembali ke meja kerjanya dan dia kembali melanjutkan pekerjaannya sedangkan aku yang merasa gugup hanya terus meminum kopi yang aku buat sendiri secepat yang aku bisa sambil tak terasa tiba tiba aku tersedak karena meminum kopi dengan terburu buru.
"Ohok...ohok....ohok..." Suaraku yang terbatuk batuk sambil bingung mencari air untuk menetralkan batukku.
"Aaahh ...panas...panas ..aahhh panas..." Teriakku sambil mengipasi mulutku dan menjulurkan lidahku keluar karena air itu sangat panas.
Karena sangat panik dan tidak ada minuman lagi di sekitar sana sedangkan aku sudah sangat panik tak karuan karena lidahku sangat panas setelah meminum air milik kak Eril memang jika di minum sedikit air itu terasa hangat tapi karena aku meminumnya sekaligus rasanya menjadi panas di lidahku.
Saat aku tengah kepanasa tiba tiba saja kak Eril memasukkan sebuah permen ke dalam mulutku dan aku langsung diam menutup mulutku dan me ngemut permen asem tersebut.
"Ahhh...akhirnya lidahku terselamatkan" ucapku merasa lebih baik setelah memakan permen asem itu.
Nafasku tak terkendali dan aku tidak tahu ke mana kak Eril pergi sampai tak lama dia kembali sambil memberikanku segelas air putih.
"Ini minumlah" ucap kak Eril memberikan aku air minum.
__ADS_1
Aku terperangah dan segera mengambil air itu lalu meminumnya, lalu kak Eril menatapku dengan lekat dan wajahnya nampak terlihat mengkhawatirkanku namun aku tidak bisa memastikan itu benar atau tidak karena aku takut itu hanya perasaanku saja.
"Ehh... Apa yang dilakukan kak Eril, apa dia mengkhawatirkan aku?" Gumamku dalam hati kecilku,
"Elisa bagaimana?, Apa sekarang jauh lebih baik, jika masih merasa tidak enak aku akan mengantarmu ke rumah sakit untuk memeriksa" ucap kak Eril dengan tatapannya yang nampak begitu cemas,
"Eh..tidak perlu kak aku baik baik saja lagian hanya tersedak dan kepanasan aku sudah biasa seperti itu nanti juga sembuh sendiri kok hehe" balasku merasa tidak enak.
Aku sedikit merasa heran dengan menaikan kedua alisku dengan apa yang diberika kak Eril padaku, entah kenapa aku merasa dia seperti orang yang berbeda ketika menatapku terakhir kali apalagi saat wajahnya terlihat seperti mencemaskan keadaanku.
Saat aku mau melanjutkan pekerjaanku kak Eril justru mengajakku untuk makan malam dahulu, dan ini sangat jarang sekali terjadi bahkan mungkin ini adalah pertama kalinya untukku.
"E....Elisa....apa kau mau makan malam dahulu, mungkin jika sudah makan kamu bisa kembali fokus bekerja" ucap kak Eril mengajakku,
"Boleh, aku juga sudah lapar kak tapi makanan apa yang bisa kita makan di kantor di dapur hanya ada mie instan dan aku hampir setiap hari memakannya saat makan siang, aku tidak bisa memakannya lagi saat makan malam iya kan" ucapku pada kak Eril,
"Tenang saja kita pesan makanan saja, aku akan memesankannya untukmu, apa yang mau kau makan?" Tanya kak Eril padaku.
Mendapatkan tawaran seperti itu tentu saja aku sangat senang, kapan lagi kan bisa mendapatkan traktiran dari kak Eril, aku langsung saja meminta makanan yang selalu ingin aku makan.
"Kak kalau aku ingin pizza apa boleh?" Tanyaku dahulu,
"Tentu saja, aku akan segera memesannya untukmu" balas kak Eril begitu saja.
Padahal aku hanya menanyakannya dulu tapi dia malah langsung setuju dan memesankannya saat itu juga, aku benar benar terpukau dan sangat senang, setelah itu aku tidak bisa berhenti tersenyum karena sudah tidak sabar untuk menikmati pizza gratis yang sudah pasti rasanya akan lebih enak dari pada kita membelinya dengan uang sendiri.
"Ehehe.... termakasih ya kak, kamu baik sekali" ucapku berterimakasih padanya,
"Tidak masalah anggap saja ini sebagai perkenalan kita, maaf aku tidak terlalu memperhatikan kamu sebelumnya" ucap kak Eril yang malah meminta maaf padaku sehingga membuat suasana jadi canggung lagi.
__ADS_1
Padahal sebelumnya aku sudah susah payah mencairkan suasana antara aku dan dia, eh Sekar malah jadi canggung lagi karenanya, lagi pula aku tidak mengerti dengan kak Eril mengapa dia harus meminta maaf kepadaku karena dia tidak memperhatikan aku sebelumnya, padahal jika dia tidak melakukannya sampai kapanpun aku juga tidak perduli.