
Namun nyonya Merisa terus menyembunyikan kebenaran itu dan mengatakan pada publik serta semua orang bahwa suaminya mengurusi perusahaan di luar negeri, padahal kenyataannya tuan Alexander tengah berobat.
Bahkan nyonya Merisa menyembunyikan semua itu dari putranya sendiri selama bertahun tahun lamanya karena dia tidak ingin membuat Devinka merasa sedih dan putus asa.
Kesal karena Reksa yang memintanya untuk sabar dan bersikap baik kepada ibunya Devinka pun keluar dari ruangan itu dan pergi ke dapur tak sengaja di sana dia bertemu denganku yang saat itu aku tengah menyeduh kopi untukku dan rekan kerja yang lainnya.
Aku lihat dengan ujung mataku Devinka datang ke sana mengambil air minum lalu meneguknya sekaligus dan menaruh gelas itu dengan keras.
"Astaga...hey, apa kau tidak bisa bertindak lebih pelan sedikit saja!" Bentak ku saking kagetnya dan ucapan itu keluar begitu saja.
Devinka menatapku dengan tajam lalu dia berjalan perlahan mendekatiku, hingga membuatku sedikit panik dan refleks berjalan mundur menghindarinya.
"E..eh ..Devinka kau mau apa?, Jangan macam macam atau aku akan menghajarmu!" Ucapku memberinya peringatan.
Saat jarak kami sudah begitu dekat tiba tiba saja Devinka berbalik lalu menghembuskan nafas kasar dan pergi begitu saja.
"Aaahhh... Haiss" ucap Devinka sambil mengacak rambutnya kasar dan pergi meninggalkanku segera.
Aku hanya bisa menatapnya dengan perasaan kesal dan aneh tidak menentu, aku bahkan sempat kaget saat dia berjalan terus mendesakku sampai terpentok ke dinding, namun tiba tiba saja di pergi tanpa berkata padaku.
"Ahh..haha..apa maksud dari perlakuannya tadi, apa dia menggertakku saja?, Ahhh benar benar Devinka ini" gerutuku tak habis pikir.
Aku melanjutkan menyeduh kopi dan langsung membawa nampan berisi tiga buah kopi dan satu teh milikku menuju departemen dua.
"Kak...ini kopi kalian" ucapku sambil memberikan dua gelas kopi pada kak Anne dan juga kak Kris satu persatu,
__ADS_1
"Ahh...dan ini untuk ketua kita, selamat menikmati" tambahku sambil memberikan segelas kopi lainnya pada kak Eril.
Kami ber empat pun menikmati minuman masing masing di sana hanya aku sendiri yang tidak meminum kopi dan menggantinya dengan teh manis karena aku memang tidak menyukai semua jenis kopi.
Aku juga tidak tahu kenapa aku tidak menyukai kopi, kopi yang menurut orang lain rasanya manis dan nikmati tapi menurutku rasanya tidak enak dan pahit mungkin karena lidahku yang tidak terbiasa mengonsumsi nya.
Kris yang melihat minuman Elisa berbeda dia pun mulai bertanya karena penasaran.
"Ehh...Elisa kenapa kamu tidak minum kopi juga, ini enak loh" ucap kak Kris sambil mengangkat gelas kopinya,
"Ahh tidak kak, aku tidak menyukai kopi dan bahkan tidak pernah mencicipinya" jawabku dengan jujur,
Semua orang menatapku dengan mata yang terbelalak dan mereka tertawa puas kecuali kak Eril yang hanya tersenyum beberapa saat, jujur saja saat itu aku merasa sangat heran melihat bagaimana tatapan mereka kepadaku apalagi saat melihat mereka langsung tertawa ketika mendengar bahwa aku tidak menyukai kopi dan tidak pernah mencobanya.
"Ahahaha...Elisa kamu ini lucu sekali sih, masih ada aja orang di jaman sekarang yang tidak suka kopi, ahaha..... Kamu bikin aku ngakak aja" ucap kak Anne sambil terus tertawa,
"Aku pernah tidak sengaja meneguk kopi hitam milik anak panti dulu dan itu rasanya tidak enak makanya aku tidak pernah mau meminumnya lagi karena aku tau pasti tidak enak" jawabku dengan polosnya.
Kembali kak Anne dan kak Kris tertawa lebih keras dari sebelumnya dan aku merasa bingung dengan reaksi yang mereka berikan padaku.
"Hah, kenapa kakak malam tertawa seperti itu, apa ucapanku lucu yah aku sungguh tidak suka kopi loh kak ini bukan bercandaan" jawabku mempertegas,
"Iya aku tau, tapi rasanya aneh saja jika masih ada orang yang tidak menyukai kopi padahalkan masih banyak jenis kopi lain dan rasanya lebih enak dan manis, memangnya kamu tidak mau mencoba meminum kopi lagi?" Tanya kak Kris sambil menatapku serius.
Sejujurnya aku juga ingin mencicipinya namun setiap kali aku ingin meminumnya rasanya aku tidak berani untuk memasukkan minuman yang sama sekali tidak ingin aku telan, jadi aku tetap memutuskan untuk tidak memakan semua yang tidak aku suka.
__ADS_1
"Hehe sepertinya aku rasa aku memang sedikit aneh, tapi teh manis ini juga tidak buruk kok" jawabku di iringi senyum pada ketiga rekan kerjaku di sana.
Mereka pun menanggapi ucapanku dengan tawa receh bersamaan, di saat kak Anne dan kak Kris begitu tertawa lepas di sisi lain kak Eril nampak lebih pendiam dan dia hanya fokus Paka pekerjaannya.
Namun walau begitu aku merasa sangat senang dan nyaman bisa berada di departemen ini, mendapatkan rekan kerja yang begitu menerimaku dengan baik dan menyambutku dengan tangan terbuka membuatku lebih mudah bergaul dan berkomunikasi dengan mereka.
Itu membuatku sangat nyaman dan ingin terus bekerja bersama mereka dalam jangka waktu yang lebih lama hingga aku bosan nantinya.
Apalagi ketika melihat kak Anne dan kak Kris yang begitu humoris serta selalu mengajakku berbicara, saat itu saja ketika pekerjaan sudah selesai mereka mengajakku untuk makan bersama untuk merayakan kedatanganku pada departemen mereka.
Tapi sayangnya aku tidak bisa iku dalam acara yang mereka adakan untukku sendiri karena aku harus membuat laporan pertama untuk tugas magangku yang akan dilaporkan pada dosen di akhir nanti, dan sialnya aku harus menunggu Devinka juga Reksa untuk menyelesaikan laporan tertulis tersebut secara bersama sama.
"Elisa bagaimana jika kita merayakan kedatanganku di departemen ini dengan makan bersama?" Ucap kak Anne mengajakku,
"Iya dan kamu tau biasanya acara seperti ini ketua tim yang akan mentraktirnya, itu hebat kan" tambah kak Kris sambil menatap sekilas pada kak Eril.
Saat itu kak Eril hanya tersenyum sekilas menanggapi ucapan kedua rekannya.
"A..ahhh...maaf sekali kak, sebenarnya aku sangat ingin hadir dalam acara seperti itu namun sayangnya masih ada urusan penting yang harus aku lakukan sekarang jadi aku tidak bisa jika hari ini" jawabku merasa tidak enak.
Nampak wajah kak Anne dan kak Kris yang tadinya begitu ceria dan antusias kini langsung berubah drastis dan wajah mereka nampak muram juga tergambar jelas rasa kecewa di dalam tatapan mereka.
Sejujurnya aku benci merasakan hal seperti ini di hari pertama aku masuk kerja, aku juga sangat ingin melakukan pendekatan dengan rekan kerjaku dengan makan malam bersama sepulang kerja tapi sayangnya aku tidak bisa melakukan itu karena Devinka pasti akan menyeretmu dengan kuat.
"Ahhh....begini saja bagaimana jika aku mentraktir kalian lain waktu sebagai gantinya, apa kalian setuju?" Ucapku berusaha menghibur mereka,
__ADS_1
"Wahh...benarkah, tentu saja kamu setuju iya kan Kris" jawab kak Anne dengan cepat.
Kak Kris menanggapinya dengan anggukan lalu kami mulai berpamitan satu sama lain dan meninggalkan tempat itu.