
Padahal sebelumnya aku sudah susah payah mencairkan suasana antara aku dan dia, eh sekarang malah jadi canggung lagi karenanya, lagi pula aku tidak mengerti dengan kak Eril mengapa dia harus meminta maaf kepadaku karena dia tidak memperhatikan aku sebelumnya, padahal jika dia tidak melakukannya sampai kapanpun aku juga tidak perduli.
Lagi pula di dalam pikiranku untuk apa juga dia memperhatikanku sudah jelas aku hanyalah mahasiswa magang yang hanya akan bekerja sesuai kontrak yang aku tanda tangani aku juga sudah pasrah jika memang tidak bisa menjadi karyawan tetap di sana setelah aku lulus kuliah meskipun cita citaku untuk bisa bekerja sebagai reporter dari perusahaan besar tersebut, tapi aku juga sadar diri sejak lama bahwa akan sulit untukku menggapai cita citaku sekalipun aku terlahir sebagai anak yang pandai.
Di dunia ini hanya ada dua pilihan untuk menggapai kesuksesan di zaman sekarang, pertama banyak uang dan kedua orang dalam, yah semua itu tidak jauh dari penyalah gunaab wewenang dan orang kaya akan semakin kaya sedangkan orang miskin sepertiku akan semakin menderita.
Rasanya semua itu sudah sangat wajar dan biasa saja saat terjadi di depan mata karena memang semuanya melakukan hal yang sama, sedikit sekali orang yang jujur dan menilai hanya dari skill kebanyakan hanya menilai dari penampilan dan seberapa besar pengaruh keluarga, aku selalu merasa muak dan benci ketika mendengar semua itu namun aku juga tidak bisa menolak semuanya.
Aku yang hanya mengandalkan kemampuanku sendiri jelas harus berusaha jauh lebih keras dari yang lainnya dan ujung ujungnya selalu saja terhambat karena uang yang tidak cukup, maka dari itulah aku terus bekerja banting tulang mengumpulkan uang untuk masa depanku yang lebih baik, karena aku yakin jika aku sukses di masa depan aku akan merubah pola pikir kebanyakan orang.
Aku tidak akan membiarkan orang orang seperti aku merasakan penderitaan yang sama, aku tidak akan memihak siapapun dan menilai bersih semua orang tanpa membeda bedakannya sedikitpun, sudah cukup aku saja yang selalu terhina dan diperlakukan tidak adil, aku selalu berharap orang lain tidak merasakannya.
Aku lama terdiam mematung dan pikiranku berkecamuk ke segala arah hingga tak lama kak Eril pergi mengangkat telpon dan dia pergi ke luar untuk mengambil pesanan makanan yang ternyata sudah tiba.
Karena di perusahaan tersebut ada aturan bahwa selain karyawan tidak bisa masuk ke ruangan departemen sehingga kurir pengantar makanan hanya bisa mengantarkannya hingga di depan ruangan saja dan kita sendiri yang harus mengambilnya.
Saat itu aku hanya duduk menunggu kak Eril kembali membawa pizza yang sudah aku tunggu tunggu, sedangkan di sisi lain saat kak Eril tengah keluar dan membawar sang kurir rupanya di sana juga ada Devinka dan secara diam diam Devinka memperhatikan kak Eril sampai mengikutinya hingga kak Eril masuk ke dalam ruangan menemuiku.
Devinka mengintip di sela sela pintu yang sedikit terbuka dan aku tidak menyadarinya sama sekali, aku hanya merasa tidak sabar saat melihat kak Eril berjalan menghampiriku sambil menenteng satu box pizza berukuran besar menuju mejaku, dia juga membawa kursinya agar bisa makan bersama denganku.
"Ini ayo kita makan" ucap kak Eril sambil membuka bungkusan pizza tersebut.
Saat pertama kali di buka harum semerbak bisa langsung tercium dan itu sangat menggugah seleraku, aku hampir ngiler di buatnya dan mataku terus bersinar melihat betapa menggodanya pizza di hadapanku itu.
"Elisa ayo makan kamu pasti sudah tidak sabar untuk memakannya" ucap kak Eril mempersilahkan,
Aku pun langsung mengangguk dan segera mengambil satu potong pizza berukuran agak besar dan langsung menyantapnya dengan lahap, ternyata memang rasa pizza itu luar biasa sama seperti apa yang aku bayangkan sebelumnya, aku sangat puas dan terus menikmati pizza itu sepuasnya.
__ADS_1
"Eummm...ini enak sekali, aaa aku akan menghabiskannya hehe" ucapku di sela sela makanku.
Kak Eril hanya tersenyum sesaat kepadaku dan dia juga ikut makan di hadapanku dengan perlahan, saat melihat kak Eril makan dengan begitu rapih dan penuh karisma aku sangat malu mengingat diriku sendiri yang makan seperti orang kelaparan walaupun memang kenyataannya aku sudah sangat lapar.
Aku pun langsung memperbaiki cara makanku dan mengikuti cara makan kak Eril dengan perlahan dan menggigitnya sedikit demi sedikit.
Kak Eril sepertinya juga mulai sadar bahwa aku mengikuti cara makannya dan dia langsung menegurku.
"Elisa apa kau mengikuti cara makanku?" Tanya kak Eril melontarkan teguran,
"I..iya kak habisnya mana mungkin kan aku makan amburadul sedangkan kau terlihat begitu sopan, makanya aku mencoba memperbaikinya" balasku sambil tersenyum canggung,
"Elisa tidak perlu mengikutiku kamu menjadi dirimu sendiri pun aku jauh lebih menyukainya" ucap kak Eril yang ambigu.
Aku langsung membelalakkan mataku kaget dan tidak mengerti dengan maksud ucapan kak Eril kepadaku barusan namun saat aku hendak bertanya untuk memastikan maksudnya kak Eril justru malah tertawa dan menyuruhku untuk kembali makan saja.
"Ahaha...sudahlah jangan dipikirkan, ayo habiskan saja makanan di mulutmu itu" balas kak Eril.
Aku pun mengangguk patuh dan kembali membalas kak Eril dengan senyuman lalu melahap lagi pizza dengan senang hati.
Malam itu untuk pertama kalinya aku bisa melihat seorang kak Eril terlihat berbeda dan dia bisa tertawa beberapa kali saat mengobrol sambil menikmati pizza denganku.
Dan tanpa aku sadari ternyata Devinka sudah memperhatikan aku sejak lama dan di saat kak Eril hendak mengusap sisa makanan di mulutku dengan tangannya tiba tiba saja Devinka muncul dan menerobos masuk ke dalam ruang kerjaku begitu saja.
"Waahh.... seperti ada pesta boleh aku ikut, aaahhh pizza nya enak tapi sepertinya ini murahan deh" ucap Devinka yang tiba tiba datang sambil mengambil pizza di tanganku lalu memakannya.
"Eh ..Devinka pizza itu bekas gigitanku apa kamu tidak merasa risih?" Bentakku padanya.
__ADS_1
Bukan apa apa tetapi aku tahu betul Devinka itu manusia paling sensitif mengenai kebersihan tapi dia tiba tiba menggigit pizza yang sudah ada bekas gigitanku di tambah dia memakannya sampai habis aku pikir dia terlihat aneh karena melakukan itu.
"Ohh... Bekas gigitanmu yah, tidak masalah asal jangan bekas gigitannya" balas Devinka sambil menatap ke arah kak Eril dengan tajam,
"Devinka apa maksudmu?, Jangan melemparkan tatapan sinis mu pada ketua tim ku!" Bentakku memperingatinya.
"Hah, dia hanya seorang ketua tim tapi kau sepertinya sangat menghormati dia bagaimana dengan pemilik perusahaan ini kenapa kau tidak menghormatinya?" Ucap Devinka yang aku tidak paham,
"Apa maksudmu, memangnya siapa yang kau maksud sebagai pemilik perusahaan ini, CEO kan tidak ada di perusahaan aku juga tidak mungkin bertemu dengan orang penting sepertinya" balasku merasa kebingungan.
Aku sangat kesal saat itu dan emosiku seakan langsung memuncak pada Devinka karena dia sudah merusak suasana yang sudah aku bangun dengan susah payah.
"Aishh....kalau kau tahu harusnya kau merasa beruntung karena bisa dekat denganku sebagai calon pem..." Ucap Devinka langsung tertahan karena dia hampir keceplosan.
Aku mengerutkan kedua alisku dan merasa keheranan bersama kak Eril kita berdua menatap dengan penuh tanda tanya kepada Devinka yang tiba tiba saja tidak melanjutkan ucapannya dan berhenti di tengah tengah.
"Heh, kenapa kau tiba tiba diam?, Calon apa maksudmu?" Tanyaku dengan nada suara sedikit tinggi karena masih sangat kesal,
"Ahhh...tidak jadi lagi pula kau tidak akan paham yang pasti kau harus menghormati aku juga, sama seperti kau menghormati pria ini" balas Devinka yang lagi lagi menatap tajam pada kak Eril.
Bahkan kali ini dia sangat berani sekali menunjuk kak Eril dengan tangannya yang kotor karena memegang pizza sebelumnya.
Aku sangat geram dengan tingkah Devinka yang sangat ceroboh dan aku pun langsung bangkit berdiri lalu menarik Devinka membawanya keluar dari ruangan itu dan menjauh dari kak Eril.
"Aishh....dasar Devinka membuatku malu saja" gumamku dalam hati,
"Aahaha...kak aku permisi keluar sebentar yah, Devinka ayo ikut aku" ucapku berpamitan pada kak Eril dan langsung menarik Devinka ke luar dengan paksa.
__ADS_1