
"Aishh....dasar kau, sekarang kau dan mobil sialan ini pergi kau ke neraka sana...duk..." Ucapku merutukinya dan menendang mobilnya dengan sangat keras.
Walaupun kakiku terasa sedikit sakit karena menendang ban mobilnya yang keras itu tapi setidaknya emosiku bisa terlampiaskan kepadanya.
Devinka yang mendapatkan uang recehan dari Elisa dia sangat muak dan melemparkan uang itu ke jok belakang mobilnya begitu saja, rasanya dia sangat kesal karena Elisa malah mengembalikan kembali semua pemberiannya padahal dia sengaja melakukan itu agar Elisa bisa berhutang kepadanya dan dia bisa membuat Elisa untuk tetap berada di sampingnya.
Namun rupanya semua rencananya gagal total dan Devinka memukul stir mobilnya dengan keras beberapa kali sebelum dia melajukan kembali mobilnya meninggalkan jalanan tersebut.
"Sial....dia memang bukan gadis biasa yang bisa aku sogok dengan uang, menyebalkan!" Gerutu Devinka dengan wajahnya yang dikerutkan dan bibir yang gemas dengan kelakuan Elisa.
Sedangkan disisi lain aku masuk ke dalam kamar kosanku dengan membanting pintu kosan sangat keras sebab masih kesal dengan kelakuan Devinka yang bisa bisanya dia menjebakku seperti tadi, aku sungguh tidak menyangka dia akan melakukan trik licik seperti itu kepadaku.
Meskipun dia sudah membantuku dari pria tua dan mesum di toko swalayan sebelumnya tetap saja dia seperti mengambil kesempatan dalam kesempitan dan itu membuatku sangat jengkel ketika mengingatnya.
Rasanya aku ingin memukuli Devinka dengan sekuat tenagaku dan aku ingin memukuli dia sampai dia tidak sadarkan diri, karena dia aku telah semakin bangkrut di saat aku memang sudah jatuh miskin seperti ini, uang tabungan yang selama ini aku kumpulkan dengan susah payah dan aku tabung bertahun-tahun lamanya sirna begitu saja hanya digunakan untuk makan satu kali dan pergi ke kebun binatang sialan bersamanya.
"Huaaa....Devinka kau sialan, huhuuu....menyebalkan aku akan membencimu selamanya kau pria sialan!" Teriakku sangat keras sambil menggerakkan kakiku beberapa kali ke lantai.
Aku sungguh tidak bisa berpikir lebih jernih dan aku tidak bisa bersikap tenang di saat dia tabunganku sudah aku pecahkan dan kini hanya tinggal ada satu celengan ayam lagi yang aku miliki itupun akan aku gunakan untuk membayar biaya wisudaku di kampus, aku sungguh menjadi sangat miskin sekarang dan mungkin hanya akan memakan roti dan nasi goreng saja setiap hari.
Aku kehilangan pekerjaan dan uang tabunganku sekaligus, padahal jika dihitung-hitung lagi tabunganku tadi bisa aku gunakan untuk biaya hidupku selama aku belum bisa mendapatkan pekerjaan, ditambah ketika aku sudah wisuda nanti belum tentu juga aku bisa langsung mendapatkan pekerjaan yang pantas dan sesuai dengan apa yang aku harapkan.
Aku hanya bisa menangis di pojokan dan meratapi kemiskinan ku seorang diri, mengingat selama ini aku hanya bisa memperjuangkan hidupku sendiri dan tidak ada yang memperdulikan aku di dunia ini, aku sungguh hidup sebatang kara dan begitu menyedihkan, rasanya aku sangat pantas untuk mengasihani diriku sendiri saat ini.
"Haaaa....tuhan kapan kau akan mengirimkan seorang malaikat penyelamat kehidupanku agar aku tidak menderita seperti ini lagi?" Ucapku sambil merebahkan tubuhku di karpet tipis tempatku biasa beristirahat.
Jangankan membeli sebuah kasur aku saja hanya bisa tidur diatas tikar tipis dan selimut bawaan dari panti asuhan, rasanya aku lebih mirip anak jalanan dari pada seorang mahasiswa teladan, saking kesalnya aku bahkan tidak sadar ketiduran dalam posisi terlentang dan tas yang masih aku selempangkan di pundakku.
__ADS_1
Hingga ke esokan paginya aku sudah bangun lebih pagi dan memulai semangat baru walaupun kemarin aku mendapatkan kesialan yang sangat buruk dalam hidupnya dan mendapatkan kerugian yang cukup besar namun setidaknya aku masih harus berangkat kuliah hari ini untuk mengumpulkan tugas kelompok dari dosen yang memberikan tugas magang di perusahaan entertainment sebelumnya.
Aku sudah memperlajari semua yang aku bisa untuk memulai persentase di depan dosen killer tersebut dan saat aku masuk ke dalam ruang kelas, aku lihat Devinka dan Reksa juga baru tiba, seperti biasa Reksa langsung datang menghampiriku dan duduk tepat di sampingku, sedangkan aku sangat benci dengan Devinka sehingga ketika Devinka ikut duduk di samping Reksa aku langsung memalingkan pandanganku ke arah lain.
Meski tempat dudukku dengannya terhalang oleh Reksa tapi itu masih terlalu dekat untukku, aku sangat membencinya mulai sekarang dan seterusnya.
"Ckk....dia memalingkan pandangannya tepat saat aku duduk disini apa maksudnya itu?" Gerutu Devinka pelan namun masih bisa terdengar oleh Reksa dan olehku.
"Dasar tidak tahu diri, mengajak orang lain pergi tapi tetap harus aku yang membayar, katanya kaya tapi masih memoroti orang miskin sepertiku menyedihkan" balasku menggerutu dan sengaja sedikit menaikkan nada suaraku.
"Dasar...cewek ayam tidak bisa diajak pergi ke tempat mewah, kampungan!" Balas Devinka yang membuatku kesal dan aku Refleks menatap ke arahnya begitu juga dengan dia.
Kami saling tatap dengan tatapan mata yang tajam dan dalam waktu beberapa detik langsung kembali memalingkan pandangan kami berdua ke arah yang berlawanan satu sama lain.
Sedangkan Reksa yang berada di tengah-tengah dia mulai merasa heran dan merasakan bahwa sesuatu yang janggal diantara Elisa dan Devinka tengah terjadi saat itu, sehingga Reksa langsung bertanya kepada mereka.
"TIDAK ADA" Balas Devinka dan Elisa bersamaan dan nampak begitu kompak bahkan disaat mereka tengah bertengkar sekalipun.
Reksa semakin kaget dan dia hanya bisa terperangah dengan kebingungan sendiri melihat kelakuan dua orang yang berada di sampingnya saat ini.
"Aishh...kalian ini sebenarnya sedang bertengkar atau sedang mengadu kekompakan kenapa harus menjawab dengan kalimat sama seperti itu sih?" Ucap Reksa dengan kesal.
Tiba-tiba saja Devinka bangkit dan dia hendak pergi dari sana namun Reksa segera menghentikannya dengan cepat.
"Ehh?, Devinka kau mau kemana? Kelas bahkan belum mulai apa kau mau cari mati yah dengan dosen killer" ucap Reksa menahannya,
"Lepaskan, aku tidak sudi duduk di satu bangku yang dekat dengan cewek ayam jorok sepertinya" ucap Devinka menyindirku dan menghinaku sambil menatap sinis ke arahku.
__ADS_1
Dia benar-benar menguji kesabaran dalam diriku dan aku berusaha untuk mengabaikannya namun dia seakan-akan terus saja membuat emosi.
"Devinka ayolah jangan seperti itu sudah duduk saja disini, bukankah dosen sudah bilang kita akan mempersentasikan tugas kelompok kita kedepan dan tentu saja kita harus duduk berdampingan dengan anggota kelompok kita, apa kau tidak lihat teman-teman yang lain juga duduk sesuai anggota kelompoknya" tambah Reksa membuat Devinka kembali duduk,
"Ckk... kekanak-kanakan!" Celetukku kepada Devinka.
Devinka yang mendengar celetukkan itu dari Elisa tentu saja dia emosi dan sangat marah karena hanya Elisa satu satunya dan orang pertama yang berani mengatainya kekanak-kanakan selama ini.
Bahkan disaat dia mau berkehendak semaunya dan menetapkan semua hal sesuai keinginannya tidak ada yang berani mengatakan kalimat itu dihadapan dirinya secara langsung seperti tadi yang dilakukan oleh Elisa.
Ditambah Elisa mengatakannya dengan tatapan sinis, membuat Devinka semakin kesal dan tidak bisa menerima ejekan seperti itu dari Elisa, dia yang tadinya sudah mau kembali duduk dengan tenang kini kembali bangkit berdiri dan menepuk meja cukup keras hingga membuat Reksa kaget bukan main.
"Brukk... chicken apa yang kau katakan barusan apa kau mengataiku kekanak-kanakan?" Bentak Devinka bertanya untuk memastikan,
"Tentu saja kau memang kekanak-kanakan memangnya kau tidak sadar dengan karakter di dalam dirimu sendiri?" Balasku tak kalah keras melawannya.
Aku hampir saja bertengkar hebat dengan Devinka saat itu namun untungnya masih ada Reksa ditengah-tengah aku dan Devinka sehingga masih ada yang bisa memisahkannya.
Saat melihat aku dan Devinka saling membentak dan bangkit dari kursi satu sama lain, Reksa juga ikut bangkit dan dia menyuruh Devinka juga Elisa untuk sedikit tenang dan mengesampingkan pertengkaran diantara mereka saat itu.
"Adududuh..sudah...sudah kalian berdua ini benar-benar seperti kucing dan tikus setiap kali bertemu selalu saja tidak bisa akur, kapan sih kalian akan dewasa kalian jika terus bertengkar seperti ini lalu siapa yang dewasa, kalian berdua sama saja kekanak-kanakan!" Ucap Reksa saking sudah kesalnya kepada Devinka dan Elisa yang hanya membuatnya pusing setiap saat.
"Heh, Reksa seandainya kau tahu bagaimana kelakuan dia di belakangmu, dia itu sangat menjengkelkan dia telah menguras habis uang tabunganku, apa kau pikir aku harus tetap bersikap baik kepadanya, setelah apa yang sudah dia lakukan kepadaku dia memanfaatkan keadaan kemarin, aku sangat membencinya" ucapku memberitahu Reksa.
Tapi meski aku mengatakan masalah kemari tetap saja aku tidak membeberkan semua kejadiannya dengan jelas sehingga Reksa nampak linglung sendiri dan kebingungan sambil memegangi belakang kepalanya dan menepuk jidatnya beberapa kali karena dia merasa frustasi dalam menghadapi kedua orang di sampingnya kali ini.
Visual Elisa berangkat ke kampus
__ADS_1