
Hingga ke esokan paginya aku bangun lebih dulu dan saat sadar tentu saja aku kaget karena ini kedua kalinya aku bangun tidur berada di ranjang tersebut, aku langsung terperanjat dan turun dari ranjang namun sayangnya aku tidak sengaja menyentuh perut Devinka dengan kakiku hingga aku hampir menginjaknya.
"Aaaakhhh..." Teriakku kaget dan seketika langsung mengangkat kakiku agar tidak benar-benar menginjaknya.
Devinka langsung terbangun begitu pula dengan Reksa mereka mulai tersadar dan Devinka malah memarahi aku dengan keras.
"Aishhh... chicken kenapa kau berteriak pagi-pagi sekali membuat kupingku kebas saja!" Ucap Devinka sambil menggosok telinganya.
Aku masih menatapnya dengan kaget dan mata yang terbelalak karena masih cukup syok saat aku hampir menginjak Devinka.
"Jika tadi aku menginjaknya?, Huaaa.... tidak tahu lagi apa yang akan terjadi kepadaku dan dia" gumamku dalam hati memikirkan kejadian sebelumnya.
Devinka bangkit dan dia menarikku untuk keluar dari kamar dengan paksa.
"Hei...ini hari Minggu, sebaiknya sekarang kau cepat pergi dari sini aku akan melanjutkan tidurku, cepat sana kau pergi!" ucap Devinka sambil menyeretku dengan paksa,
"Eh....eh...lepaskan aku, aku bisa berjalan sendiri tidak perlu kau harus menyeretku seperti kucing begini!" Bentakku sambil berontak keras kepadanya.
Aku pun segera pergi dari sana meski aku sempat melihat Reksa yang baru bangun dan masih mengucek matanya.
Sebenarnya saat itu bukan tanpa alasan mengapa Devinka cepat-cepat mengusir Elisa dari sana karena dia tidak ingin Reksa tahu jika malam itu Elisa menginap dan tidur di basecamp bersamanya terlebih mereka tidur dalam satu kamar, meskipun mereka tidak tidur di tempat yang sama, namun Devinka takut Reksa akan menghujatnya dan mengolok-olok dia karena bersikap baik pada Elisa padahal mereka adalah musuh dimana Reksa dan temannya yang lain.
Karena rasa malu tersebut Devinka berusaha terus menyembunyikan keperduliannya terhadap Elisa, dia bahkan terkadang dengan sengaja membentak Elisa atau menghinanya agar bisa bertengkar, selain Devinka memang selalu senang dan bahagia ketika melihat Elisa menderita dia juga harus melakukannya agar teman-teman tidak mengira dia peduli pada Elisa lagi.
__ADS_1
Di sisi lain aku langsung kembali ke kosanku setelah sempat diseret keluar dari basecamp dengan paksa oleh Devinka, pakaian dan rambutku masih berantakan dan aku segera merapihkannya sambil berjalan mencari taxi yang lewat dan segera kembali ke kosan dengan selamat.
Saat sudah membersihkan diri dan kembali segar juga penuh semangat lagi, aku pun mulai pergi untuk memasukkan lamaran ke tempat lain yah walaupun aku masih harus bekerja di toko swalayan dan semacamnya yang penting aku masih bisa bekerja sambil kuliah.
Untungnya aku mendapatkan keberuntungan kali ini karena kak Eril memberitahuku ada lowongan di salah satu toko swalayan yang dekat dengan lingkungannya sehingga saat aku melamar pekerjaan disana aku langsung bisa diterima bekerja hari itu juga dan dengan senang hati aku langsung menerima pekerjaan itu penuh semangat.
"Benarkah?, Apa aku sudah diterima bekerja disini sekarang?" Tanyaku lagi dengan heran,
"Iya, tapi ingat kau aku terima juga berkat Eril, jadi jangan membuat kegaduhan di tokoku jika kau membuat kekacauan sedikit saja, maka aku akan memecat kau!" Ucap pria tua menyebalkan itu.
Sebenarnya aku sedikit tidak nyaman bekerja di toko swalayan tersebut karena pemilik toko adalah seorang pria tua yang mudah marah dan dia terus saja membentakku disaat mengajarkanku cara bekerja di toko tersebut, dia juga mengancamku di hari pertama aku bekerja, sungguh menyedihkan sekali hidupku ini.
Dan lebih parahnya aku masih harus tetap bertahan bekerja disana karena aku sangat membutuhkan uang saat ini, untungnya juga bekerja disana dibayar perhari untuk setiap karyawan part time sepertiku, sehingga uang dari sana bisa langsung aku dapatkan dan aku gunakan untuk makan serta kebutuhan sehari hari.
"Kak Eril aku akan menemuimu setelah pekerjaanku selesai, tunggu aku di depan kantor yah aku akan mentraktirmu sebagai tanda terimakasih dariku, dan satu lagi kau tidak bisa menolak" isi pesan singkat dariku padanya.
Aku pun menaruh ponsel ke dalam saku celemek yang aku pakai lalu segera menata semua barang-barang di rak dan membersihkan toko itu dengan penuh semangat, aku juga melayani pelayan dengan sangat ramah, untunglah semua berjalan lancar dan pria tua pemilik toko memberiku bayaran sesuai dengan yang dia sebutkan sebelumnya.
Gajihku bekerja disana sehari hanya 50 ribu rupiah karena aku hanya bekerja dari jam sepuluh hingga jam empat sore jadi menurutku bayaran sebesar itu sudah cukup makanya aku menyetujuinya dengan cepat.
"Ambil, ini bayaranmu hari ini kerjamu cukup bagus dan aku puas dengan pekerjaanmu" ucap pria judes itu memuji pekerjaanku.
Aku hanya tersenyum dan berterimakasih atas pujian yang dia berikan padaku, lalu aku segera pergi dari sana dengan cepat, aku berlari lari kecil menuju halte bus untuk menuju tempat kak Eril bekerja dengan penuh kebahagiaan sambil membawa uang lima puluh ribu hasil jerih payahku itu, sesampainya disana rupanya kak Eril masih bekerja karena ini hari Minggu sehingga dia terlihat begitu sibuk dengan pekerjaan lemburnya.
__ADS_1
Aku memahaminya dan menunggu dia di depan, sampai akhirnya kak Eril mengambil izin sebentar lalu menemuiku, awalnya aku kaget karena aku tahu itu belum waktunya dia selesai bekerja tapi dia keluar dengan cepat setelah aku mengatakan bahwa aku sudah menunggunya di luar.
"Ehh...kak Eril, kenapa kakak keluar sekarang?" Tanyaku dengan heran,
"Memangnya kenapa?, Bukankah kamu menungguku, jadi tentu saja aku harus segera menghampirimu bukan" balas kak Eril membuatku senang,
"Tapi kan kak, pekerjaanmu...." Ucapku tertahan,
"Tenang saja, aku ini ketua tim, lagi pula ini kan juga harus libur kita bebas mau bekerja atau tidak jadi tidak akan ada masalah untukku, dan aku tidak akan dipecat hanya karena tidak bekerja di hari Minggu bukan?" balas kak Eril membuatku tertawa kecil.
Aku tertawa mendengar ucapan kak Eril dan segera mengajaknya menuju tempat yang aku maksud, karena saat itu aku hanya memegang uang 200 ribu rupiah saja di dompetku sehingga aku hanya bisa mentraktir kak Eril di pedagang kaki lima yang ada dipinggir jalan, saat itu memang sudah gelap dan banyak sekali pedangan pinggir jalan yang berada di sekitar jalanan sana.
Dengan beraninya aku mengajak kak Eril yang seorang ketua tim dan bekerja di dalam sebuah perusahaan terkemuka juga merupakan perusahaan paling besar di negeri ini untuk makan sate di malam hari hanya berdua dan itu di pinggir jalan yang berdebu juga tempat yang seadanya, aku tahu dia bukan orang miskin sepertiku bisa dilihat dari barang-barang yang selalu dia kenakan semuanya bermerk dan itu kualitas terbaik bukan sepertiku yang selalu asal-asalan.
"Eumm....kak apa kamu tidak papa makan di pinggir jalan seperti ini?" Tanyaku sambil menunggu sate pesanan kita datang,
"Memangnya kenapa, bukannya enak ya makan di sini bisa sambil menikmati alam di sekitar, tempatnya juga sejuk dan tidak buruk" balas kak Eril membuatku lega.
Aku pikir dia akan merasa jijik atau pun tidak betah duduk di sana namun ternyat dia memang pria yang berbeda dia sama sekali tidak keberatan meski aku mengajaknya makan di tempat kotor seperti itu dan memakan makanan murahan seperti sate ini.
Aku sangat senang sekali hingga tak lama sate pesanan kami tiba dan aku menikmatinya dengan penuh kebahagiaan bersama kak Eril, rasanya senang sekali bisa duduk dan menikmati makanan sederhana dengan orang yang sefrekuensi dengan kita, terlebih kak Eril juga tidak melihat orang lain dari kedudukannya jadi aku bisa berbicara dengan leluasa dan bisa menjadi bebas saat dihadapannya meskipun aku tetap jaim dan terus berusaha menahan diri agar makan dengan elegan.
Aku tidak mau membuatnya jijik dan ilfil terhadapku, hanya karena melihat bagaimana caraku makan, aku juga mengerti bahwa aku harus menjaga image ku sebagai seorang perempuan.
__ADS_1