
Aku langsung pergi dari restoran itu karena memang tidak bisa berbuat banyak lagi aku sungguh bingung harus mencari pekerjaan kemana lagi untuk menggantikan pekerjaanku yang sekarang, lagi dan lagi semua ini karena Devinka aku sangat membencinya.
"Eughhh...menyebalkan sekali kenapa Devinka lagi Devinka lagi, apa dia tidak bisa membuatku hidup dengan damai sehari saja!" Bentakku dengan kesal.
Tiba tiba bos datang menghampiriku dan dia melemparkan gajihku begitu saja.
"Elisa..tunggu...ini ambil gajihmu jangan berhubungan lagi denganku dan jangan kembali ke sini lagi" ucap bos yang kembali membuatku semakin membenci Devinka.
Aku mengepalkan kedua lenganku dengan kuat dan aku mengambil sebuah amplop hitam yang dilemparkan oleh bos sebelumnya, saat aku buka ternyata uang di dalamnya cukup banyak setidaknya itu bisa untuk membayar uang kosan selama satu bulan ke depan dan masih ada waktu untukku mencari pekerjaan lain.
Aku berjalan dengan lesu menyusuri jalanan yang sepi tak sengaja aku melewati sebuah kantor perusahaan yang begitu besar sebuah nama tersemat dengan indah bernama Prisma News, itu adalah sebuah perusahaan yang berjalan dalam bidang pemberitaan dan entertainment yang sangat terkenal juga merupakan perusahaan cabang terbesar.
Perusahaan itu adalah tempat kerja yang aku cita citakan ketika aku lulus kuliah nantinya, aku sangat memimpikan kelak bisa menjadi salah satu reporter acara di Prisma News dengan begitu aku bisa membangun kembali panti dan hidup bersama anak anak panti lainnya, dulu aku mendengar dari ibu panti bahwa ibuku pernah bekerja sebagai reporter saat dia masih muda sehingga aku juga memiliki cita cita yang sama dengannya.
Aku selalu merasa senang dan penuh semangat ketika melihat perusahaan impianku tersebut, aku duduk sejenak dan melihat perusahaan itu sepuasnya.
"Ahhhh....kapan aku bisa masuk ke dalam perusahaan besar itu, ayo semangat Elisa kamu harus berhasil mengejar mimpimu agar bisa hidup lebih baik di masa depan" ucapku menyemangati diri sendiri.
Selama ini memang impiankulah yang memberika rasa semangat dan terus berjuang untukku karena selain itu tidak ada tujuan lain lagi dalam hidupku, kini aku sudah benar benar sebatang kara tidak memiliki keluarga ataupun orang yang aku kenali di kota ini, memang terdengar menyedihkan namun inilah kisahku.
Saat tengah memandangi perusahaan besar tersebut aku mulai memiliki ide cerdas untuk melamar pekerjaan paruh waktu di sana aku yakin pasti ada lowongan untuk mahasiswa miskin sepertiku.
Karena penasaran aku pergi lebih dekat ke perusahaan tersebut dan mencari tau beberapa informasi pada orang orang yang berlalu lalang di sekitar sana sampai seorang satpam menghampiriku dan bertanya kepadanya.
"Maaf neng, sedang apa sedari tadi terus berdiri di sini?" Tanya satpam itu,
__ADS_1
"Ahh...tidak ada apa apa pak, saya cuman ingin bekerja di sini, apa ada lowongan untuk mahasiswa miskin seperti saya, saya bisa bekerja dari siang hingga sore pak" ucapku memberitahunya.
Satpam itu tertawa padaku dan dia malah mengusirku dari sana.
"Ahaha...Eneng ini kalo bercanda keterlaluan, ini itu perusahaan besar neng, perusahaan TV pberitaan sumber informasi masyarakat luas mana ada mempekerjakan mahasiswa yang belum lulus dengan waktu kerja terbatas seperti itu, sudah....sudah...sana pergi jangan menghalangi jalan para karyawan" ucap satpam tersebut sambil menyeretku keluar dari sana.
Aku berjalan sambil menunduk lesu, jujur saja rasa kesal memang ada saat itu tapi apa yang diucapkan oleh satpam tadi memang ada benarnya.
"Huuh....konyol sekali sudah merobek celana sendiri, dipecat dan sekarang diusir seperti ini, Kana lagi aku harus mencari pekerjaan" gerutuku meratapi nasib diri sendiri.
Aku melanjutkan langkahku yang tak tau akan pergi kemana aku hanya bisa terus membiarkan kakiku berjalan melangkah tak tentu arah sampai akhirnya aku sampai di sebuah taman kota di sana ada beberapa anak jalanan yang tengah mengamen di lampu merah.
Bahkan melihat mereka seperti itu aku berpikir apa aku juga harus bekerja seperti mereka, meminta belas kasihan dari orang lain?, bernyanyi di tengah trotoar saat lampu merah dan meminta minta.
"Aku masih sanggup bekerja tidak mungkin aku mengamen seperti mereka, itu hanya untuk mereka yang tidak mampu bekerja" ucapku berusaha menghapus pikiran tersebut.
"Apa...apaan ini menghalangi pemandangan ku saja" ucapku menegur mereka.
Pria itu menatapku dengan tajam dan membentakku dengan keras.
"Heh...diam kau jangan ikut campur urusanku!" Bentak pria itu,
Aku pun diam karena memang tidak tertarik dengan permasalahan cinta seperti itu, namun saat aku mendiamkannya justru terlihat wanita itu semakin terdesak pria itu sudah menamparnya satu kali dan masih menariknya dengan paksa, beberapa orang yang ada di taman dan jelas mereka melihat kejadian itu.
Tidak ada satupun dari mereka yang berinisiatif membantu perempuan itu sampai akhirnya aku tidak bisa menahan diriku lagi untuk tidak membantunya.
__ADS_1
Aku bangkit berdiri dan menendang pria itu, wanita tadi langsung berlari ke belakangku seakan meminta perlindungan dariku.
"Kakak...kau tenang saja aku akan memberikan pelajaran pada pria kurang ajar sepertinya" ucapku pada perempuan tersebut.
Dia menganggu dan aku mulai menggulung lengan pakaianku karena melihat pria tadi menatapku dengan tajam dan aku tau dia pasti akan balas menyerang ku.
"Dek...hati hati, dia pria yang tempramen" ucap kakak perempuan itu mengingatkanku.
Aku pun mengangguk dan saat aku berbalik ternyata benar saja pria tadi sudah bangkit dan dia siap memukulku dengan penuh emosi, untunglah aku berhasil menghindar, namun dia kembali memukulku lagi tapi aku berhasil menahan lengannya dan memelintirkan lengan dia ke belakang sampai dia meringis kesakitan lalu ku tendang kakinya hingga dia jatuh tersungkur ke lantai.
"Aa...a....lepaskan aku...berhenti...." Teriak pria itu kesakitan,
Aku melepaskan nya dan dia langsung berlari dengan memegangi sebelah lengannya yang terkilir karenaku, dia nampak memendam dendam dan amarah yang besar padaku tai aku sama sekali tidak takut dengan tatapan ancaman darinya.
Aku segera menghampiri kakak perempuan tadi dan mendudukkannya di kursi agar dia lebih tenang, aku lihat wajahnya gemetar ketakutan dan pakaiannya sudah sangat berantakan.
"Kakak...tunggu di sini sebenar yah" ucapku yang dibalas anggukan oleh kakak perempuan itu.
Aku pergi membeli sebotol air mineral dan segera kembali lalu memberikannya pada kakak perempuan tadi agar dia bisa menenangkan dirinya sendiri.
"Kak..ini minum dulu dan tenangkan dirimu, kamu sudah aman sekarang" ucapku sambil memberikan air minum tadi padanya.
Kakak itu langsung meneguk air minum dengan cepat hingga menghabiskan setengah air dari botol tersebut dan dia mulai mengatur nafas dalam dirinya hingga dia bisa sedikit tenang.
Saat melihat dia sudah tenang aku merasa jauh lebih baik dan aku melihat jam di ponselku sudah hampir sore aku harus segera mencari pekerjaan sebelum gelap sehingga terpaksa aku harus buru buru pergi dari sana.
__ADS_1
"Kak...aku masih ada urusan kau sebaiknya pulang saja aku harus pergi" ucapku hendak pergi namun tanganku ditahan olehnya.
"Tunggu, tolong antarkan aku pulang, aku takut dia akan datang lagi padaku, aku mohon padamu" ucapnya memohon dengan wajah yang membuatku tak bisa menolak.