
Aku sangat kesal sehingga tidak bisa mengendalikan emosi di dalam diriku sendiri, aku terus marah kepada Devinka dan mengatakan semuanya dihadapan Reksa, aku berharap Reksa dapat mengerti dengan apa yang aku maksud dari perkataan yang panjang barusan tapi nyatanya dia justru malah terlihat stres seperti itu, sungguh membuat aku muak bahkan Reksa malah menyela ucapanku.
"Aduhh....sudah Elisa kau berisik sekali, kalian berdua itu memang sama saja, kapan sih kalian akan akur?" Bentak Reksa menghentikan ocehanku.
Dan aku langsung diam seketika karena Reksa yang membentak dengan keras dan dosen yang tiba-tiba masuk ke dalam ruang kelas, aku segera kembali duduk dengan tenang meski dengan nafas menderu dan berusaha menetralkan nafasku seperti semula karena aku tidak bisa pergi ke depan mempresentasikan tugas dengan kondisi mood seperti ini.
"Huuhh...sabar Elisa sabar dia bukan lawanmu" gerutu sendiri sambil mengatur nafas beberapa kali untuk menenangkan diriku sendiri.
Akhirnya dosen segera memulai pembelajaran dan dia memanggil satu per satu kelompok untuk maju ke depan dan mempresentasikan hasil kerja mereka selama magang di beberapa perusahaan yang sudah di tugaskan kepada mereka sebelumnya, sembari menunggu giliran aku kembali membaca ulah hasil penelitiannya dan hasil kerjaku selama ini.
Aku rasa semuanya sudah beres dan sesuai dengan yang aku harapkan sehingga ketika kelompok kami di panggil aku sudah begitu siap dan langsung maju ke depan lebih dulu di ikuti oleh Reksa di belakangku lalu Devinka di belakang Reksa.
Kami bertiga berdiri berjajar di depan mimbar dan segera menjelaskan hasil analisis di perusahaan entertainment tersebut, karena aku sangat menyukai perusahaan tersebut dan aku sangat berharap bisa lanjut di pekerjakan di perusahaan itu sebab semuanya berjalan sangat baik disana mulai dari pemberian gajih, asuransi yang di tawarkan dan banyak tanggungan lain yang kebanyakan perusahaan di tangguhkan kepada karyawan namun disana sudah di tanggung oleh perusahaan sendiri.
Sehingga semua gajih yang kita dapatkan dari hasil bekerja itu adalah sepenuhnya gajih pokok tanpa ada potongan apapun, jadwal lembur disana juga begitu efektif mereka tidak memaksakan karyawannya untuk bekerja lembur dan lebih memanusiakan karyawannya dibanding kebanyak perusahaan lain.
Aku terus mengatakan hal hal positif yang aku dapatkan dari analisis perusahaan tersebut, sedangkan Reksa mulai menjelaskan mengenai detail kerja perusahaan itu, aku menatap dan mendengarkan bagaimana cara Reksa menjelaskannya di depan dosen dan mahasiswa lainnya dia terlihat begitu tenang dan enjoy, semua yang dia katakan juga terdengar logis serta mudah dimengerti, aku kagum melihatnya.
Karena aku pikir dia tidak akan bisa menyelesaikan penjelasannya dengan mudah sebab selama proses pembuatan kerja kelompok ini Reksa yang paling tidak ikut campur dalam hal apapun dan dia hanya meminta bagiannya saja lalu mempelajarinya sendiri, namun ketika sudah di depan dosen seperti ini dia terlihat seperti sudah menguasai semuanya cukup lama.
"Reksa tidak buruk juga" gumamku dalam hati.
Hingga tak lama penjelasannya selesai dan kini giliran Devinka yang menjelaskan mengenai aspek penting di perusahaan tersebut juga keseluruhan kesimpulan dan data analisis yang kami dapatkan selama magang disana, dia terlihat sama santainya dengan Reksa namun setelah aku perhatikan kembali dia lebih mirip seperti seorang direktur atau meneger saat menjelaskan data tersebut, dia sama sekali tidak terlihat seperti Devinka yang aku kenal sebelumnya.
Dia sungguh sangat berbeda ketika berdiri di depan sini, dia seperti seseorang yang memiliki perusahaan karena dia sangat mengetahui sampai ke detailnya padahal yang aku tahu selama kita magang di perusahaan tersebut Devinka lah orang yang paling tidak bekerja dengan serius dia justru hanya sibuk dengan game di ruangannya dan dia tidak pernah aku lihat memegangi buku atau melakukan tugasnya di perusahaan sama seperti yang aku lakukan selama magang.
"Ehh, kenapa dia bisa sehebat ini ada apa sih dengan mereka berdua aku curiga?" Gerutuku merasa heran.
Bagaimana aku tidak heran mereka sangat luar biasa bahkan lebih bagus dari carakan menjelaskan, aku seperti bukan melihat Reksa dan Devinka yang biasa saat mereka menjelaskan materi di depan barusan, tapi walau mereka bagus dan dosen memuji mereka juga, aku tetap tidak bisa mengakui kehebatan mereka dan aku segera memalingkan pandangan ke arah lain.
Hingga semua presentasi kelompok selesai dan dosen mengumumkan siapa saja yang lulus dalam tugas ini dan selesai dengan skripsi mereka, aku sangat tegang sekali menunggu pengumuman yang selama ini aku tunggu-tunggu.
Sebelumnya aku memang sudah mengirimkan skripsiku dari jauh-jauh hari dan aku sangat percaya diri dengan semua hal yang aku tulis hingga akhirnya pengumuman ini tiba, saat dosen memanggilku ke depan aku sangat senang karena aku bisa lulus sebagai mahasiswa terbaik tahun ini, aku sungguh ingin menangis ketika mendengarnya.
Ternyata semua pengorbanan yang aku lakukan tidak sia-sia aku sungguh bisa menjadi lulusan terbaik di universitas terbaik juga sehingga aku bisa sedikit percaya diri untuk di terima bekerja di perusahaan entertainment terbaik juga, aku mengucapkan banyak terimakasih kepada dosen atas semua yang dia ajarkan kepadaku, terutama kepada dosen pembimbingku yang sudah membantuku dalam membuat skripsi yang baik dan benar.
Sepulang dari kampus aku sungguh merasa sangat bahagia dan semua kekesalanku terhadap Devinka sudah hilang seketika karena aku sudah mendapatkan kabar baik yang sudah aku tunggu-tunggu selama ini.
"Huaaa...andai Lili ada di sampingku dia pasti akan turut senang atas keberhasilanku ini, Lili aku persembahkan semua ini untukmu hahaha" ucapku berteriak keras sambil berjalan dengan gembira.
Aku tidak perduli meski banyak mahasiswa disana yang menatap dengan tatapan aneh kepadaku yang terpenting aku sangat bahagia saat ini dan tidak ada yang bisa menghancurkan kebahagiaanku yang sangat luar biasa seperti ini.
__ADS_1
Aku berniat untuk segera menyiapkan resume dan lamaran pekerjaan di perusahaan CTN Group dimana itu adalah perusahaan entertainment nomor satu di negara dalam cerita ini, aku sudah bercita-cita sejak dulu bahwa aku ingin menjadi seorang reporter muda yang sukses sama seperti seseorang yang sangat aku idolakan reporter terkenal sekaligus istri pemilik perusahaan CTN Group yang tak lain dan tidak bukan adalah nyonya Merisa Bramasta.
Wajahnya selalu terpampang di setiap poster besar yang tertempel di dinding gedung-gedung tinggi serta di bus besar dan di samping halte bus, dia adalah reporter yang paling berkarisma dan jujur, itulah yang terkenal tentang dirinya dimata banyak orang, sehingga semua orang sangat menyukai sosoknya.
Yang aku tahu dari channel pemberitaan bahwa nyonya Merisa adalah sosok yang tegas, berkarisma dan dia ramah sehingga aku sangat senang setiap kali melihat wajahnya, meskipun aku hanya bisa melihat wajah idolaku di televisi ataupun di poster saja tapi aku sudah bertekad saat ini bahwa aku pasti akan bisa melihat sosoknya di kenyataan sebab aku akan masuk ke perusahaan tempatnya tinggal.
Aku tidak akan menyia nyiakan kesempatan bagus ini, sebelumnya karena aku sudah pernah magang disana aku juga menuliskan pengalaman itu di dalam resume ku dan aku berharap nyonya Merisa sendiri yang akan mewawancarai aku nanti, aku sungguh tidak sabar menunggu hari luar biasa seperti itu.
Membayangkannya saja sudah sangat membuatku senang apalagi jika nanti aku yang mengalaminya sendiri tidak tahu lagi akan seberapa senangnya aku nanti.
"Aaa....nyonya Merisa kapan sih aku bisa melihatmu secara langsung huaa aku tidak sabar" ucapku sambil mengusap poster nyonya Merisa yang terpampang nyata di dinding kampus.
Saat aku tengah berkhayal dengan nikmatnya tiba-tiba saja dari belakang muncul Devinka sialan dan Reksa juga kedua temannya itu.
"Ckk...apa kau sudah gila memeluk poster ibuku?" Ucap Devinka keceplosan.
"Ah?, Apa ibumu?, Kau bilang dia ibumu?, Ahahaha....Devinka kau boleh bermimpi tapi jangan memimpikan idolaku, mana mungkin nyonya Merisa yang luar biasa bisa memili putra konyol dan menjengkelkan sepertimu, muka kalian juga sangat tidak mirip apa yang bisa kau banggakan dari dirimu sampai mengaku sebagai putranya huh" bentakku kesal.
Saat itu aku pikir Devinka juga mengidolakan nyonya Merisa makanya dia mengaku sebagai putranya aku memang mengidolakan nyonya Merisa tapi tidak pernah mencari tahu tentang kehidupan pribadinya sebab nyonya Merisa juga terbilang tertutup jika masalah pribadinya sehingga jelas aku tidak mengetahui semua tentang dia.
Sedangkan Devinka yang keceplosan dia sudah kaget dan membelalakkan matanya namun ketika melihat Elisa yang ternyata tidak menganggap serius ucapannya dia pun merasa lega.
"CK...apa salahnya jika aku bermimpi dia menjadi ibuku, seandainya dia ibuku aku tidak ingin memiliki ibu sepertinya" balas Devinka membuatku semakin yakin bahwa yang dia katakan sebelumnya hanyalah perkataan candaan biasa.
Dia benar-benar sangat menyebalkan setiap kali bertemu dengannya dia selalu membuatku emosi dan ingin melayangkan tanganku untuk memberinya pelajaran berharga tapi karena dia orang kaya aku tidak bisa melakukannya, sehingga sia-sia saja aku memiliki kemampuan bela diri karena tidak pernah bisa aku lakukan.
Setiap kali aku mau melawan selalu saja aku harus melihat layar belakang orang tersebut dahulu, jika dia orang kaya maka aku tidak akan bisa melakukan apapun selain mengalah, rasanya di dunia ini sungguh tidak adil untuk orang miskin sepertiku bahkan menjadi pintar dan nomor satu di sekolah tidak cukup, kepintaran akan tetap kalah dengan uang dan pengaruh.
Disisi lain saat Elisa pergi Dika menghampiri Devinka dan dia merangkul Devinka cukup keras.
"Kenapa kau berbohong kepada dia, dan kenapa kau tidak mengakui ibumu sendiri?" Tanya Dika dengan serius,
"Sudahlah Dik, kau tidak perlu ikut campur dengan urusan keluargaku jika ingin keluargamu tetap berada di posisi yang aman, Reksa ayo kita pergi" ucap Devinka dengan sinis dan langsung pergi juga dari sana diikuti oleh Reksa dari belakangnya.
"Maafkan aku kawan-kawan Devinka sedang sensitif dia tidak bisa menerima nasehat dari kalian saat ini, aku harus menemaninya sampai bertemu di basecamp guys." Ucap Reksa dan segera berlari menyusul Devinka yang sudah pergi lebih dulu menuju mobilnya.
"Heyy ...Devinka tunggu aku!" Teriak Reksa sambil melambaikan tangannya.
Dia langsung masuk ke dalam mobil Devinka dengan terburu-buru dan mereka segera pergi meninggalkan tempat itu.
Kali ini karena Devinka yang menyetir dia bukannya pergi pulang ke rumah ataupun ke basecamp tempat empat orang itu berkumpul Devinka justru malah pergi mengikuti taxi yang ditumpangi oleh Elisa.
__ADS_1
"Eh....Devinka kau mau kemana sebenarnya, kau mengikuti taxi di depan yah?" Ucap Reksa merasa heran,
"Sudah diam kau, aku harus mengikutinya agar aku tahu kemana dia akan pergi" ucap Devinka menyuruh Reksa agar diam.
Reksa pun hanya bisa duduk diam dan berusaha tenang meski dia dibawa kemanapun oleh Devinka, diantara tiga teman yang lain memang Reksa lah yang paling mengerti serta menurut dengan Devinka dia tidak banyak protes meski terkadang menyebalkan tapi dia selalu mendukung apapun yang dilakukan oleh Devinka, cara dia menjelaskan sesuatu kepada Devinka juga berbeda dengan Ciko ataupun Dika.
Mereka tidak terlalu dekat karena berteman hanya untuk bisnis kedua orang tuanya, tapi walau begitu memang pada kenyataannya mereka selalu bersama sejak kecil jadi mereka seperti saudara hingga mereka besar, walaupun terkadang keluarga mereka bersaing dalam bisnis tetapi mereka tidak pernah ingin ikut campur dalam masalah seperti itu.
Sedangkan semua orang tahu diantara empat keluarga yang berpengaruh Devinka lah yang paling kuat karena keluarganya memiliki banyak perusahaan bukan hanya berjalan di dunia industri hiburan dan pemberitaan namun di dunia bisnis lainnya juga ada sehingga keluarga dia menempati posisi pertama sepanjang masa dan itu sudah berlaku turun temurun selama ini.
Sedangkan karena ibunya hanya memiliki satu anak yaitu Devinka sehingga semua tanggung jawab akan di limpahkan kepada Devinka seorang, sedangkan Devinka tidak ingin hidup di kekang hanya untuk bisnis seperti ini, Devinka tidak pernah mengikuti semua keinginan ibunya jika itu mengenai bisnis dia tidak suka urusan bisnis harus di satukan dengan urusan kehidupan pribadinya seperti yang ibunya harapkan agar dia bersekolah di luar negeri namun Devinka terus menolak.
Bahkan ibunya sudah menyiapkan seorang wanita yang dia kenal dari kalangan selebritis terkenal untuk menjadi pendamping Devinka dan itu juga untuk memperluas bisnis mereka diantara dua keluarga berpengaruh di dua negara berbeda.
Ibu Merisa selalu haus akan kekuasaan semenjak dia menjabat sebagai CEO di perusahaan suaminya dia berubah total hanya karena ingin mempertahankan bisnis keluarga suaminya tersebut, padahal dulu dia juga wanita kaya raya seperti saat ini, dia dulu hanya seorang reporter biasa yang bekerja dengan jujur dan kerja kerasnya sendiri hingga dia bertemu dengan ayah Devinka dan mereka menikah hingga mendapatkan semua kekayaan yang begitu menakjubkan.
Sedangkan kini dia mengekang putranya sendiri untuk menikah dengan wanita pilihannya bukan wanita yang anaknya pilih, dia seperti seseorang yang tidak memiliki hati ketika sudah berkecamuk dengan dunia bisnis.
Saat itu ketika Devinka tengah mengikuti Elisa tiba-tiba saja ponselnya berbunyi dan itu panggilan dari ibunya Devinka menyuruh Reksa untuk mengangkatnya. Dan ternyata sebuah kabar buruk yang dia dapatkan.
"APA...sssttt" bentak Devinka kaget dan dia langsung menghentikan mobilnya sekaligus hingga hampir membuat Reksa terpentok ke depan.
"Astaga, Devinka kau mau membuatku mati konyol yah" gerutu Reksa sambil memegangi kepalanya yang terasa sedikit sakit.
"Bu....aku akan terbang ke sana sekarang juga" balas Devinka kepada ibunya lalu mematikan panggilan itu segera.
Reksa masih tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan Devinka dan nyonya Merisa sebab dia hanya menempelkan telpon itu ke dekat kuping Devinka dan hanya melakukan apa yang diminta oleh Devinka saja sehingga dia tidak bisa mendengar apa yang sebenarnya terjadi.
Hanya saja setelah mendapatkan telpon dari ibunya Devinka langsung membalikkan mobilnya dan mengemudi dengan kecepatan yang sangat tinggi menuju kediamannya, Reksa sangat ketakutan karena Devinka melajukan mobil seperti ingin membawanya pada kematian.
"Ya ampun Devinka apa yang terjadi denganmu apa kau baru saja kesurupan karena nenek lampir itu memarahiku lagi?" Tanya Reksa sambil berpegangan dengan erat,
"Ayahku kritis dan dia ingin bertemu denganku, aku tidak tahu harus bagaimana Reksa, aku harus pergi ke sana dan tidak tahu apa aku akan kembali dalam waktu dekat atau tidak" ucap Devinka dengan wajah yang begitu cemas.
Devinka memang paling dekat dengan ayahnya, dia sudah lama sekali tidak pernah melihat ayahnya karena lebih memilih untuk menentang kehendak ibunya sehingga dulu nyonya Merisa sengaja menjauhkan Devinka dengan suaminya sendiri yang tengah sakit bahkan tidak memberitahu Devinka tentang kondisi suaminya yang semakin parah dari waktu ke waktu.
Hingga tiba saatnya hari ini dimana tuan Bramasta berada di titik paling rendah dalam kesehatannya dan dia memohon kepadanya nyonya Merisa agar tidak keras kepala melawan putra kesayangannya lagi, sehingga akhirnya nyonya Merisa menuruti keinginan suaminya itu dan memberitahu Devinka mengenai keadaannya.
Devinka sangat panik dan dia segera menyuruh orang-orang nya agar menyiapkan penerbangan untuknya saat itu juga bagaimanapun caranya, Devinka langsung berkemas dibantu oleh Reksa yang masih kebingungan.
"Devinka apa kau tidak bisa bersikap sedikit lebih tenang, kau tidak boleh pergi dalam keadaan panik seperti ini" ucap Reksa memberitahu,
__ADS_1
"Reksa bagaimana aku bisa tenang jika ayahku hampir mati dan aku berada jauh darinya" ucap Devinka dengan mata yang sudah berkaca-kaca,
Reksa tetap berusaha menepuk pundak Devinka beberapa kali dan dia bahkan memeluk Devinka untuk memberikan ketenangan kepadanya.