
Aku sangat senang dan senyum lebar langsung terpancar dari wajahku.
"Aahhh...benarkah, haaa terimakasih banyak kak Eril kau memang yang terbaik, dan tenang saja semua pekerjaanku sudah benar benar aku selesaikan, terimakasih kak kalo begitu aku pergi dulu, permisi kak hehe" ucapku kegirangan sambil segera pergi dengan terburu buru dari sana.
Kak Anne dan kak Kris yang melihat aku pergi dengan terburu buru dan wajah yang happy merasa hanya menatapku keheranan sambil mengerutkan kedua alisnya bersamaan.
"Ketua tim apa yang sudah kalian bicarakan sampai anak itu kelihatan bahagia sekali?" Tanya kak Kris penasaran,
Kak Eril yang malah membahasnya dia hanya menaikkan kedua alisnya berpura pura tidak tahu apapun dan malah menyuruh kak Kris untuk kembali fokus menyelesaikan tugasnya.
".....Cepat selesaikan saja tugasmu itu" ujar kak Eril yang membuat kak Kris sedikit kesal.karena dia tidak di beri tahu alasan mengapa Elisa pergi dengan sebahagia barusan,
"Huuh, kau ini benar benar manusia berhati es batu kali yah, nanya begitu saja kau tidak mau menjawabku menyebalkan" jawab kak Kris kesal dan kembali pada laptopnya.
Kak Kris yang merasa kesal dia hanya terus menggerutu sendiri karena pertanyaan nya kepada kak Eril terasa di abaikan dan selalu tidak mendapatkan jawaban setiap kali bertanya, sehingga kini dia merasa sangat kesal dan hany bisa menuruti perintah dari kak Eril juga, dia melanjutkan pekerjaannya dengan mulut yang mengerucut dan wajah yang nampak kusut saking kesalnya.
Sedangkan di sisi lain aku justru fokus mencari ponselku di dapur, semua barang yang ada di dapur aku keluarkan dan aku singkirkan satu persatu lalu kembali aku rapihkan lagi, semuanya sudah aku lakukan dan mencari ke semua tempat yang aku rasa pernah aku lewati namun sayangnya sudah hampir jam pulang kerja aku masih belum bisa menemukan ponselku juga.
"Hmmm...ke mana lagi aku harus mencari ponsel itu, tidak mungkin kan jika ada yang mengambilnya itu kan ponsel usang dan tidak berharga di jaman sekarang, siapa juga yang akan mengambil ponsel jelek seperti itu" gerutuku memikirkan.
Sudah sangat lama sekali aku terus bolak balik dari ruangan departemen dua menuju dapur sampai bertemu dengan Devinka di depan lift yang baru terbuka.
"Heh, Elisa kenapa kau terus berjalan mondar mandir seperti setrika seperti itu?" Bentak Devinka bertanya,
"Apaan sih, jangan nanya kamu kan udah tahu dari tadi aku belum nemuin ponselku gimana sih malah nanya lagi" ujar Elisa kesal sambil terus menunduk ke bawah mencari ponselnya.
Devinka sedikit terperangah dia tidak menyangka kalau ponsel jelek itu sebegitu penting dan sebegitu berharganya bagi Elisa sampai dia rela mencarinya terus menerus seperti itu.
__ADS_1
"Elisa sejak kapan kau mencari terus ponsel itu, apa kau tidak ada kerjaan?" Tanya Devinka lagi yang membuat Elisa jengkel dan geram,
"Eughhh....Devinka sudah deh jangan banyak tanya, ada baiknya kau bantu aku untuk mencarinya saja, semakin banyak yang mencari siapa tahu ponselku akan cepat ketemu" balas Elisa dengan mengerutkan kedua alisnya serempak.
Devinka merotasikan matanya dan dia segera membantu Elisa ikut berpura pura mencari ponsel milik Elisa di dapur.
"Iya iya ini aku bantu carikan di dapur yah, mah cari di sekitar sini oke" ucap Devinka yang di balas anggukan oleh Elisa.
Devinka pun masuk ke dapur dan dia segera menaruh ponsel Elisa di bawah meja dengan posisi terbelakang dan dia berteriak memanggil Elisa berpura pura seakan dia baru menemukan ponsel tersebut.
"Eh...Elisa...Elisa cepat kemari....ELISAA..." Teriak Devinka begitu keras.
Elisa sangat kesal karena dia merasa Devinka sangat mengganggu dirinya dan dia berjalan penuh emosi menghampiri Devinka.
"Ada apa ha?" Tanya Elisa sambil berkacak pinggang dan menatap tajam ke arah Devinka.
Elisa langsung membuka matanya lebar dan begitu antusias mendengar ucapan tersebut, dia langsung membungkuk dan masuk ke dalam bawah meja untuk mengambil ponselnya tersebut, tidak begitu sulit untuk Elisa mengambilnya karena badannya yang kecil dan memudahkan dia untuk masuk ke sela sela meja tersebut.
Saat berhasil meraihnya dan membawa keluar ponsel itu lalu memeriksanya dengan segera, ternyata itu memang ponsel miliknya dan Elisa sangat bahagia ketika dia berhasil menemukan ponsel itu, sampai saking bahagianya dia tidak sadar refleks memeluk Devinka dan berterimakasih kepadanya karena telah menemukan ponselnya tersebut.
"Aaa...ini benar ponselku, Devinka terimakasih, sungguh terimakasih banyak sudah menemukan ponselku huhu....ponselku sudah kembali..." Teriak Elisa sambil tersenyum lebar dan wajahnya mendadak sangat berseri.
Devinka diam mematung dan jantungnya terasa berdetak sangat kencang saat Elisa memeluknya secara tiba tiba seperti itu, Devinka yang merasa mulai ada yang tidak beres dengan dirinya dia pun segera menyuruh Elisa untuk menyingkir darinya dan melepaskan pelukan tersebut.
"Heh, sudah sudah. Kalau mau senang ya senang saja sendiri jangan memelukku begini!" Kata Devinka dengan wajah yang datar dan sedikit kaku.
Elisa langsung melepaskan pelukannya pada Devinka dan dia juga kaget karena baru saja sadar dengan apa yang sudah dia lakukan pada Devinka.
__ADS_1
"Astaga...maafkan aku Devinka aku tidak bermaksud mencari kesempatan atau apapun itu terhadapmu, aku terlalu senang makanya..." Ucap Elisa terpotong karena Devinka langsung menimpali ucapannya,
"Aishh sudahlah aku juga tidak perduli, karena ponselmu sudah ketemu ayo cepat kita harus mengerjakan tugas kelompok yang sudah tertunda sejak lama, jangan harap kau bisa mengundurnya lagi!" Kata Devinka dengan memperingatkan Elisa.
Devinka memperingatkan Elisa karena setiap kali mereka hendak mengerjakan tugas itu, selalu saja gagal dan kebanyakan itu di sebabkan oleh Elisa sendiri makanya Devinka sudah memperingatinya sejak awal untuk saat ini.
"Ahaha...iya iya ayo kita temui Reksa, mungkin dia sudah ada di bawah sekarang semua orang kayanya juga udah pada ke bawah nih" balasku sambil menatap ke arah karyawan yang mulai bergegas pergi dari tempat kerjanya masing masing.
Aku dan Devinka pun masuk ke dalam lift yang sama dan selama itu aku terus memegang erat ponselku dengan sangat baik sambil terus tersenyum senang dan sangat bahagia karena ponsel itu bisa aku temukan lagi.
"Syukurlah aku masih berjodoh dengan ponsel ini, ahhh aku merasa sangat lega" ucap Elisa sambil memeluk ponsel tersebut di dadanya.
Devinka yang masih merasa heran dan aneh melihat tingkah Elisa yang begitu menyayangi ponsel usang dan jelek tersebut dia pun akhirnya tidak bisa menahan ucapan nyinyir nya tersebut.
"Heh, itu hanya ponsel jadul yang jelek dan usang untuk apa kau memeluknya seperti itu, lagi pula tidak akan ada yang mau mengambil ponsel jelek seperti itu" ucap Devinka dengan sinis.
Elisa menatap tajam pada Devinka dan dia merotasikan matanya sekilas pada Devinka lalu mulai membalas ucapan nyinyir Devinka.
"Huuh, kau tidak tahu saja ponsel ini sangat berharga untukku bukan dilihat dari nilai dan fisiknya tapi kenangannya yang tidak akan mampu dibeli siapapun termasuk oleh kau tuan muda Devinka yang kaya raya" balas Elisa membalasnya yang tak kalah sinis,
"Hah.....memangnya cewek ayam sepertimu punya kenangan apa selain dari kenangan menyedihkan itu" tambah Devinka lagi,
"Eughhh kau sangat menyebalkan Devinka" balas Elisa yang sudah malas berdebat dengan Devinka.
Elisa melangkahkan kakinya ke pinggir dua langkah untuk menjauhkan jaraknya dari tempat Devinka berdiri lalu dia memalingkan pandangannya ke depan dengan lurus, dia sudah cukup kesal karena Devinka terus saja meremehkan kenangan dan ponsel bersejarah nya itu.
Meski ponsel tersebut tidak bernilai sedikitpun bagi orang lain apalagi bagi seorang Devinka namun bagi Elisa jelas ponsel itu sangat berarti sekali bahkan tidak akan ada yang bisa membelinya dengan uang.
__ADS_1
Elisa tetap akan menjaga ponsel tersebut karena semua kenangan di dalamnya sangat disayangkan jika hilang begitu saja tanpa dia pernah mengabadikannya.