Bos Ternyata Musuhku

Bos Ternyata Musuhku
Pergi Lusa


__ADS_3

Mendengar perkataan Reksa yang begitu tentu saja Devinka langsung merasa kesal dan dia mengerutkan dahinya sebab Reksa yang datang tiba-tiba dan langsung menemuinya seperti tadi.


"Heh...apa apaan kau ini, apa kau berharap terjadi sesuatu kepadaku, kenapa kau terlihat kecewa disaat aku baik-baik saja?" Balas Devinka dengan tatapan tajamnya,


Reksa berjalan pelan dan duduk di samping Devinka dia mulai menetralkan emosi di dalam dirinya dan dia segera mengatur nafasnya karena sudah berlari terburu-buru hingga keringat membasahi sekujur tubuhnya.


"Haaaahhh....kenapa kau menelponku dan bicara ingin pergi ke bar, apa kau gila yah?" Ucap Reksa mulai bertanya,


"Aku hanya main-main, mana mungkin seorang pewaris sepertiku pergi ke tempat kotor seperti itu, tadi aku hanya marah saja" balas Devinka dengan santai.


Reksa baru menyadari sesuatu yang berbeda di sekitar rumah karena hampir seluruh bagian di rumah itu sudah di tutupi oleh kain putih dan tinggal sofa yang dia duduki yang masih belum tertutupi kain putih, sehingga ketika menyadarinya Reksa langsung bangkit duduk dengan tegak dan menatap serius kepada Devinka.


"Heh, tunggu. Devinka apa kau akan pergi pindah dalam waktu dekat, kenapa semua barangnya di tutupi seperti ini, apa kau akan pergi selamanya?" Tanya Reksa sudah mulai panik tidak menentu,


Devinka hanya tersenyum dan dia memalingkan pandangannya dari Reksa, Devinka hanya bisa menghembuskan nafas lesu sambil mencengkram tangannya dengan kuat, Reksa sudah memperhatikan gerak gerik Devinka sejak lama, dan ketika melihat reaksi tersebut, Reksa mengerti semuanya dia sudah yakin bahwa apa yang dia katakan adalah sebuah kebenaran dan diam adalah jawaban yang paling pasih.


Itu menandakan bahwa semua yang dia sebutkan adalah kebenaran sehingga Reksa juga langsung ikut merasa lesu, dia tidak memiliki saran atau solusi apapun untuk membantu sahabatnya tersebut, karena dia juga hanya terlahir dari keluarga yang ada dibawah kekuasaan Devinka, sehingga sulit untuknya berontak melawan ibu Devinka.


"Maafkan aku Devinka karena tidak bisa membantumu" ujar Reksa sambil merangkul pundak Devinka dan memeluknya pelan.


"Tidak masalah, kemungkinan besok adalah hari terakhir aku disini dan aku ingin menghabiskan sepanjang hari bersama kalian, kau beritahu yang lain untuk mengosongkan jadwal, aku takut ini akan menjadi yang terakhir" balas Devinka dengan senyum di wajahnya,


"CK.....berhenti tersenyum dalam keadaan menyedihkan seperti itu, aku membenci senyummu" ucap Reksa dan langsung bangkit dari sana.

__ADS_1


Reksa segera pergi untuk memberitahu Dika dan Ciko dia juga tidak bisa tetap berada disana dengan Devinka, sebab itu hanya akan membuatnya semakin sedih dan terpuruk, buktinya kali ini saja ketika di perjalanan menuju kediaman Dika, Reksa mengemudi sambil menangis dia terlihat begitu sedih dan kacau. Ini adalah pertama kalinya bagi seorang Reksa merasakan kesedihan untuk kepergian seseorang dalam hidupnya.


"Dasar Devinka sialan, tega sekali dia meninggalkanku setelah semua yang kita lalui" ucap Reksa sambil memukul stir mobilnya.


Hingga sesampainya di rumah Dika dia langsung menerobos masuk ke dalam dan memeluk Dika yang saat itu tengah menyeduh kopi di dapurnya.


"Huaaa...Dika....hiks...hiks" teriak Reksa sambil memeluk Dika dari belakang,


"Aishh....apa yang terjadi, hey lepaskan aku! Kau ini sialan!" Bentak Dika yang langsung mendorong tubuh Reksa dengan kuat.


Reksa tetap memasang wajah menyedihkannya dan dia malah merengek semakin besar hingga membuat Dika jengkel dengan tingkahnya yang seperti anak kecil, Dika pun segera membawa Reksa untuk duduk di depan meja makan dan menyedihkan kopi untuknya.


"Sudah diam kau, aku sudah memberimu kopi terbaru racikanku, ayo coba dulu" ucap Dika dan langsung di lakukan oleh Reksa.


Sayangnya rasa pahit di lidahnya tetap tidak hilang sehingga dia langsung menghadapi Dika yang sedari tadi menahan tawa melihatnya merasakan rasa pahit yang amat sangat di dalam mulutnya.


"Hei... Dika, apa yang kau masukkan ke dalam kopi itu, kenapa pahit sekali dan tidak bisa hilang?, Hey.... Kau mengerjai aku yah?" Bentak Reksa yang mulai curiga karena melihat Dika yang terus tertawa cekikikan sendiri.


"Haha....lagi pula kau main menurut saja, itu lebih baik daripada melihatmu merengek seperti bocah, membuat telingaku sakit mendengarnya" balas Dika dengan santai,


"Keterlaluan kau, sekarang bagaimana menghilangkan rasa pahitnya?" Tanya Reksa yang sudah tidak kuat menahan rasa pahit di lidahnya tersebut.


"Ada dua cara, pertama kau harus meminum susu untuk menetralkan dan yang kedua kau harus menahannya sampai hilang dengan sendiri" ungkap Dika memberitahu.

__ADS_1


Reksa pun menatapnya dengan kesal dan dia segera mengambil segelas susu milik Dika lalu meneguknya sekaligus sampai akhirnya apa yang dikatakan oleh Dika benar, rasa pahit di lidahnya langsung hilang dan dia baru bisa merasa tenang dan santai sekarang.


"Hhhaaah... akhirnya aku bisa merasa tenang sekarang, Dika awas saja ya aku akan membuat perhitungan atas ulahmu barusan!" Ancam Reksa dengan wajah yang serius.


Dika tetap tidak memperdulikannya dan dia hanya asik tertawa mengingat apa yang baru saja terjadi pada Reksa, Dika sendiri tidak menyangka bahwa Reksa akan langsung meminum kopi yang dia buat tanpa bertanya terlebih dahulu, mungkin itu karena Reksa tengah sedih sehingga dia sedikit lengah.


"Hei, cepat katakan ada apa kau menemuiku kemari?" Tanya Dika,


"Aaahh....iya aku hampir saja lupa, aku kesini mau memberitahumu bahwa Devinka akan pergi lusa, dia di desak oleh nyonya Merisa dan kita tidak bisa melakukan apa-apa" ucap Reksa yang kembali langsung tertunduk lesu,


Mata Dika langsung terbelalak lebar dan dia sangat kaget ketika mendengar kabar tersebut dari Reksa, dia tidak mengerti di dalam hatinya terselip perasaan marah, kesal dan sedih yang bercampur menjadi satu dan dia tidak tahu bagaimana cara mengekspresikan semua perasaan itu.


"Dika ...Dik...kau kenapa Dika" ucap Reksa berusaha menyadarkan Dika,


"Diam, aku baik-baik saja. Kita harus melakukan sesuatu untuk Devinka jika dia benar akan pergi ke negara A lusa" balas Dika langsung berusaha serius.


Mereka saling menatap satu sama lain dan menganggukkan kepalanya, lalu mereka segera menghubungi Ciko dan memberitahu sebuah rencana yang sudah mereka buat, meski awalnya Ciko tidak setuju tetapi karena Reksa dan Dika mendesaknya dia pun tidak bisa berkutik lagi dan hanya bisa menuruti rencana yang sudah mereka buat.


"Hah, APA?, kau mau mengajak dia juga, aishhh untuk apa kita melakukan hal kekanakan seperti itu?" Bentak Ciko yang awalnya menentang,


"Ayolah Ciko terkadang apa yang menurutmu kekanak-kanakan itu justru akan terasa menyenangkan dan bisa menjadi sebuah kenangan indah bagi kita semua" ucap Dika berusaha membujuknya,


"Iya Ciko jangan terlalu serius, kau semakin terlihat lebih tua dari usiamu jika pemikiran mu kolot seperti itu" tambah Reksa menimpali.

__ADS_1


Ciko menggeram menahan emosinya sampai akhirnya dia pun menghembuskan nafas kesal dan menyetujui rencana yang mereka buat.


__ADS_2