
Aku benar benar merasa canggung dan tidak enak dengan kak Eril karena harus meninggalkan dia, di saat itu juga aku tidak bisa menahan rasa maluku sendiri sehingga aku hanya bisa menjauhkan Devinka dari kak Eril sebelum Devinka semakin membuat ulah yang akan membuatku justru semakin malu.
Saat sudah berada di luar ruangan aku langsung melepaskan dan menghempaskan lengan Devinka cukup kuat sambil langsung berkacak pinggang dan menatapnya dengan kesal.
"Heh, apa maksud dari tatapanmu itu?, Kau berani melawanku ha?" Bentak Devinka yang malah marah denganku.
Melihatnya membentakku seperti itu aku justru sangat kesal dan ingin rasanya aku memukul dia saat itu juga dan membuatnya kapok namun sayangnya aku juga tidak bisa berbuat kasar dengannya karena aku tahu dia selama ini seperti dilindungi oleh seseorang yang sangat berpengaruh bahkan di perusahaan sebesar inipun tidak ada yang berani bermain main dengannya apalagi mengganggunya.
Alhasil aku hanya bisa menahan semua kekesalanku dan berdecak kesal sendiri dengan menggerutu kesal.
"Eughhh ....Devinka kau ini sangat menyebalkan.... aishhh" ucapku dengan geram dan aku langsung pergi meninggalkan dia begitu saja.
"Huh, dia benar benar telah menguji kesabaranku, aku tidak bisa melawannya di kantor, arghhh kenapa aku harus satu tim dengan orang seperti dia sih sangat sial!" Gerutuku sangat kesal dengan nafas menderu.
Aku terus berjalan dengan kesal dan melangkah cukup lebar namun saat aku baru saja hendak meraih gagang pintu tiba tiba saja Alvaro menarik lenganku dengan kuat hingga membuat aku langsung membalikkan badan ke arahnya secara refleks.
"Ehhh, Devinka lepaskan tanganku, apa lagi yang mau kau lakukan padaku apa tidak cukup untukmu setelah membuatku jatuh dan hampir terluka kemarin, lalu mempermalukan aku di depan kak Eril, sekarang mau apa lagi?, Apa semua itu tidak cukup bagimu ha!" Bentak ku dengan keras dan mengeluarkan semua unek unek di dalam hatiku yang sudah aku coba untuk tahan sedari tadi.
Devinka perlahan melepaskan genggaman tangannya dari lenganku dan dia nampak menatapku datar tanpa ekspresi dengan sedikit lesu, aku sangat marah saat itu sehingga langsung masuk ke dalam ruangan dan meninggalkan Devinka begitu saja.
Saat masuk aku lihat kak Eril masih duduk di depan mejaku dan tengah menikmati pizza miliknya aku pun segera duduk di hadapannya dan mulai kembali menyantap pizza di hadapanku dengan penuh emosi dan memakannya dalam sekali suapan yang membuat mulutku penuh serta saus dari pizza itu belepotan di bibirku lagi.
Kak Eril tiba tiba saja mengusap ujung bibirku dengan lembut menggunakan sebuah tisyu di tangannya, aku langsung membelalakkan mataku dengan lebar karena sangat kaget mengetahui kak Eril membersihkan mulutku dengan sangat teliti dan begitu lembut.
__ADS_1
Mendapatkan perlakuan seperti itu darinya membuatku langsung menjauh dan aku langsung mengambil tisyu dari tangan kak Eril lalu mengusap bibirku sendiri yang belepotan.
"Ahh...aku bisa membersihkannya sendiri kak, terimakasih" ucapku sambil segera mengusap bibirku dengan cepat.
Kak Eril hanya membalas ucapanku dengan senyuman saja dan dia nampak melanjutkan makannya dengan anggun dan berwibawa, aku sungguh dibuat insecure habis habisan oleh caranya makan yang sudah seperti putra bangsawan dengan penuh etika di dalam setiap suapannya dan tingkah lakunya yang begitu cantik dan elegan.
Sedangkan aku yang makan dengan terburu buru dan diiringi dengan emosi justru malah makan dengan sangat kasar dan lebih mirip anak jalanan yang kelaparan, aku sungguh malu saat itu dan segera memperlambat makanku lalu berusaha keras untuk bersikap anggun layaknya wanita pada umumnya.
Meskipun sebelumnya kak Eril sudah memberitahu aku agar aku bersikap percaya diri dan apa adanya di depan dia namun tetap saja aku merasa malu karena perbedaan antara aku dan dia terlalu signifikan dan terlihat sangat jelas, sehingga membuat aku sedikit canggung.
Setelah berhasil menghabiskan semua pizza itu aku merasa sangat kenyang dan kini energi dalam diriku sudah kembali terisi penuh sehingga aku bisa jauh lebih semangat lagi untuk melanjutkan pekerjaan yang hampir selesai ini.
"Ahhh...aku sudah kenyang dan sekarang sangat bersemangat, aku akan melanjutkan kembali pekerjaanku kak hehe" ucapku sambil memperbaiki kursiku dan kembali menghadap ke depan laptop kerjaku,
"Ya sudah aku juga akan membereskan tempat ini dulu" balas kak Eril sambil membereskannya.
"Eh ..eh...tidak usah kau kembali ke mejamu saja, biar aku yang membereskannya, sini ...sini biar aku saja, kau kembali saja kak, aku akan menyelesaikannya dengan cepat kau tidak perlu khawatir" ucapku sambil terus mengambil semuanya lalu membuangnya ke tempat sampah dan segera membersihkan meja tersebut menggunakan tisyu yang tersedia di sana hingga meja itu terlihat bersih lagi seperti semula.
Kak Eril hanya memperhatikan aku sesekali, di saat aku tengah membereskan bekas makanan di atas meja sebelumnya dan aku juga hanya membalas tatapannya dengan senyuman tipis karena aku sadar kak Eril telah memperhatikan aku selama aku membersihkannya sejak lama.
Sejujurnya aku juga merasa sedikit gugup karena kak Eril yang beberapa kali melihat ke arahku sambil melemparkan senyum manisnya yang bisa membuat semua hati wanita bergetar ketika melihatnya tidak terkecuali aku.
"Ya ampun senyum kak Eril cantik sekali, pantas saja dia selalu memasang wajah datar karena jika tersenyum sedikit saja mungkin semua wanita akan pingsan, aaahh aku tidak boleh melihat senyumannya lagi, aku harus fokus pada tujuan awalku bekerja di sini hanya untuk uang tidak lebih" gumamku memikirkan sambil menggelengkan kepala sedikit berusaha untuk menghilangkan pikiranku yang kemana mana.
__ADS_1
Aku pergi ke luar untuk membuang sampah lain yang cukup besar karena tong sampah di dalam sudah penuh, namun saat aku selesai membuangnya dan hendak kembali lagi masuk ke dalam rupanya Devinka masih berada di tempat semula dengan berdiri tegak menatapku cukup tajam dan kedua tangan yang dia lipat di dadanya.
"Astaga...Devinka apa yang kau lakukan di sini, jangan bilang kau sedari tadi menguping yah?" Ucapku sedikit kaget dan menaikkan nada suara,
"Dasar cewek ganj*n!" Ucap Devinka dengan sinis dan mengataiku lalu pergi meninggalkan tempat itu dengan menyenggol samping bahuku cukup keras.
Aku benar benar tidak mengerti apa yang di maksud dengan ucapan Devinka yang menghinaku seperti itu di tambah dia menyenggol bahu kananku dengan cukup kuat sehingga membuatku hampir kehilangan keseimbangan diriku sendiri.
Aku hanya bisa mengerutkan kedua alisku bersamaan saking merasa herannya dengan tingkah Devinka yang malah balik merajuk kepadaku padahal seharusnya yang kesal dan marah itu adalah aku, di sini akulah yang lebih banyak di rugikan oleh dia, dan aku juga yang selalu di hina olehnya, tapi kenapa malah dia juga yang merajuk.
"Dasar cowok aneh, terserahlah aku tidak peduli bahkan jika dia pergi dari dunia ini aku tidak akan mencarinya" gerutuku kesal sambil merapihkan pakaian dan melanjutkan langkahku masuk ke dalam ruang departemen dua.
Aku kembali melanjutkan pekerjaanku dengan serius namun sekuat apapun aku mencoba untuk fokus pikiran ku tetap saja tidak bisa fokus sepenuhnya karena aku masih memikirkan mengenai ucapan Devinka kepadaku yang terakhir kali.
"Aishh....sial, kenapa juga sih aku malah memikirkan orang itu, sudah jelas jelas dialah yang salah kenapa malah aku yang memikirkan dia begini, Elisa sadar dong sadar...." Gerutuku pelan sambil menepuk nepuk pipiku beberapa kali.
Setelah menyadarkan diriku sendiri dan aku sekuat tenaga menghempaskan semua pemikiran tentang Devinka aku hanya tinggal menyelesaikan sedikit tugasku saja tapi jam di dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam saat itu dan kak Eril sudah menyelesaikan tugasnya sehingga dia bisa pulang lebih dulu.
Sebelum pergi kak Eril juga menawarkan jasa untuk membantuku menyelesaikan pekerjaanku namun aku menolaknya sebab aku rasa aku juga bisa menyelesaikannya sendiri dalam beberapa menit lagi karena memang hanya tinggal sedikit lagi saja.
"Elisa aku sudah menyelesaikan tugasku, apa kamu mau aku bantu agar bisa selesai lebih cepat?" Ucap kak Eril menawarkan,
"Tidak perlu kak aku juga hampir selesai paling hanya perlu waktu beberapa menit saja, kau pulanglah lebih dulu aku juga akan segera selesai" balasku sambil terus fokus menatap laptop,
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu aku pulang dulu yah, semangat Elisa" ucap kak Eril sambil mengepalkan lengannya dan menunjukkannya padaku seakan dia sungguh tengah menyemangati aku.
Aku hanya membalasnya dengan senyuman sekilas karena saat itu benar benar sedang fokus menyelesaikan pekerjaan, aku juga ingin cepat cepat pulang apalagi waktu terus berjalan dengan cepat dan sepertinya aku harus berlomba dengan waktu untuk menyelesaikan pekerjaanku lebih cepat.