Bos Ternyata Musuhku

Bos Ternyata Musuhku
Mendapat bahan berita


__ADS_3

Walau saat itu kaki ku rasanya sangat pegal namun aku harus tetap berlari mengejarnya.


Aku terus berlari mencari keberadaan kak Eril namun tidak kunjung menemukannya, aku pun hanya bisa menggerutu kesal karena sudah cukup lama aku mencari dan berlari ke sana kemari tapi tetap tidak berhasil menemukan kak Eril.


"Aishhh ..... Hah...hah...hah... Kemana lagi aku harus mencarinya mana ini sudah hampir sore lagi, aku juga harus bekerja pada kak Anna" gerutuku sambil memegangi lutut dengan nafas menderu.


Saat aku tengah beristirahat sejenak karena tak kunjung menemukan kak Eril eh tiba tiba saja ponselku berdering dan itu berisi panggilan nomor baru, karena takut orang penting aku pun mengangkatnya.


"Hallo....ini siapa?" Tanyaku saat mengangkat panggilan itu,


"Ini aku Eril, Elisa maaf aku tidak bisa menemanimu mencari berita di sana sampai selesai tadi ada beberapa masalah di kantor dan aku harus kembali ke sana, nanti Kris akan menggantikan ku untuk mendampingi mu" ucap kak Eril dari sebrang telpon itu.


Aku baru saja hendak menjawabnya namun panggilan sudah di putus lebih dulu oleh kak Eril, aku pikir aku bisa lebih dekat dengannya namun nyatanya itu hanya dugaanku saja, aku pun kembali ke ruang istirahat wartawan untuk menaruh tas besar yang berat di punggungku.


Saat aku kembali ke ruangan itu Devinka dan perempuan tadi sudah tidak ada, aku merasa sangat lega karena dengan begitu aku tidak perlu bersikap canggung, segera aku taruh rensel besar yang membuat punggungku sakit, lalu ku ambil buku catatan, ponsel juga bolpoin untuk mencari informasi pemberitaan di tempat lain.


"Ahh aku harus mencari berita di tempat lain jika di sini tidak ada apapun juga" gerutuku seorang diri,


Aku pun mulai bersiap untuk pergi dari kantor polisi itu dan berniat berkeliling di sekitar sana mencari hal yang menarik untuk bisa dijadikan berita utama nantinya.


Saat tengah berjalan jalan santai tiba tiba saja aku melihat seorang ibu ibu berpakaian cukup rapih keluar dari sebuah taxi namun anehnya aku melihat ada dua orang pengemudi motor yang mengikuti ibu itu, aku merasa curiga dan akhirnya aku pun juga mengikuti mereka.


Di sisi lain Devinka yang saat itu juga tengah berjalan di sekitar saja dia tak sengaja melihat Elisa mengikuti dua pria berpakaian serba hitam, karena merasa penasaran Devinka mengikuti Elisa tanpa Elisa sadar.


"Sampai kapan dia pria itu akan mengikutinya, seperti mereka akan melakukan kejahatan, aku harus menolong ibu itu" gumamku dengan penuh tekad,


Hingga ketika ibu itu masuk ke dalam sebuah gang kedua pria yang mengikutinya mulai beraksi karena di tempat itu cukup sepi, salah satu dari mereka menyekat mulut ibu tersebut dan satunya lagi menarik tas yang dibawa oleh sang ibu dengan paksa.

__ADS_1


Aku refleks langsung berteriak untuk menghentikan aksi mereka.


"Yahhh....aishhh, beraninya kalian melakukan kejahatan di siang bolong!" Bentakku meneriaki mereka,


Kedua pria yang aku rasa usianya tidak terpaut jauh dariku itu langsung berbalik dan tersenyum kecut ke arahku mereka langsung menghampiriku dan mengancamku.


"Ada apa kau?, Jangan ikut campur urusan kami atau kau juga akan menjadi sarana kami hari ini!" Ancam salah satu pria itu,


"Silahkan, aku tidak takut dengan bocah seperti kalian!" Jawabku dengan penuh percaya diri.


Aku tau saat itu mereka langsung marah dan menyerangku dengan tiba tiba aku yang belum siap langsung terpental ke belakang karena tendangan pria itu tepat mengenai perutku.


Meski begitu aku langsung bangkit dan menyerang mereka dengan lebih ganas, pria yang berduel denganku ambruk tersungkur ke tanah sedangkan pria lainnya yang saat itu menyekat ibu ibu tadi dia langsung membantu temannya berdiri dan mulai menyerangku.


Saat itu energiku sudah agak terkuras dan aku pikir aku harus dengan cepat melumpuhkan mereka berdua sebelum penyakit kurang darah ku menguasai kepala dan membuatku pusing sampai tidak bisa melihat dengan jelas.


Aku sengaja memancing mereka agar melawanku dengan cepat sehingga aku bisa menghabisi mereka secepatnya, mereka yang tersulut emosi langsung menyerangku dengan berkeroyok, aku pun melawan mereka sekuat tenagaku sampai akhirnya mereka berdua berhasil aku lumpuhkan.


Saat mereka terdesak aku langsung menghampiri ibu tadi yang terlihat begitu syok namun sayangnya kedua pria jahat itu berhasil melarikan diri.


"Bu...apa ibu baik baik saja, apa ada yang terluka?" Tanyaku merasa cemas,


"Ibu baik baik saja, terimakasih" jawab ibu tadi,


Saat aku berbalik kedua pria sialan itu sudah berlari terbirit birit dan aku tidak bisa menangkap mereka.


"Hey... Mau lari kemana kalian...., Arghhh aku gagal memenjarakan mereka sial!" Gerutuku kesal.

__ADS_1


Tiba tiba ibu ibu tadi memberikanku sejumlah uang yang cukup besar untuk berterimakasih kepadaku.


"Nak ini ibu ada sedikit rejeki untukmu mohon diterima yah" ucap ibu itu membuatku kaget,


"Astaga, bu ini jumlahnya besar sekali aku tidak bisa menerimanya lagi pula aku menolongmu ikhlas kok, jadi lebih baik ibu simpan saja uangnya atau ibu bisa berikan pada anak anak lain yang lebih membutuhkan" ucapku menolaknya.


Aku tidak bisa menerima uang hasil dari menolong orang lagi pula aku ini mahasiswa yang hampir lulus bukan seorang super Hero, saat itu aku langsung menolak pemberian ibu tadi namun dia tetap menolak untuk memberikannya padaku.


"Tidak papa ambil saja ini itu rejeki buat kamu, kamu tidak boleh menolaknya ibu sangat berterimakasih kamu sudah menolong ibu jika tadi kamu tidak datang mungkin semua harta ibu sudah raib di bawa mereka, tolong diterima yah nak" tambah ibu itu memaksa,


"Ahh.... Tolong jangan begini bu, saya jadi tidak enak jika ibu berkata seperti itu, aku sungguh ikhlas menolong ibu, atau begini saja jika ibu mau menolongku bisakah ibu ikut denganku ke kantor polisi untuk melaporkan kejadian tadi dan saya ingin mewawancarai ibu, soalnya saya sedang butuh berita untuk diliput" ucapku padanya,


Ibu itu langsung menyetujui permintaanku dan kami langsung pergi ke kantor polisi saat itu juga.


Aku sangat merasa senang sepanjang perjalanan menuju kantor polisi aku terus tersenyum lebar karena dengan begitu aku bisa cepat pulang dan tidak perlu menginap di tempat yang kumuh itu, aku juga bisa bekerja pada kak Anna tanpa harus mengesampingkan salah satu pekerjaan.


Sedangkan di sisi lain Devinka yang sedari tadi bersembunyi dan mengikuti Elisa dia sudah melihat semuanya bahkan saat Elisa sempat jatuh Devinka berniat membantunya namun Elisa sudah lebih dulu bangkit dan membalas kedua penjahat itu sehingga membuat Devinka menahan niatnya.


Awalnya Devinka sangat kaget dan tercengang ketika melihat Elisa yang bisa bertarung dengan gesit dan hebat bahkan melawan dua pria sekalipun, awalnya Devinka pikir Elisa sama dengan wanita lainnya yang tidak bisa melakukan apapun dan hanya cerewet juga merepotkan.


Namun setelah melihat kejadian tadi pemikiran Devinka pada Elisa sedikit berubah, meski dia sudah melihat jelas kelihaian Elisa dalam bertarung Devinka tetap enggan mengakui kehebatan Elisa.


"Ahh...apa apaan otak ku ini, dia hanya bisa bertarung saja kan, cewek lain juga banyak yang bisa sepertinya aku masih jauh lebih hebat darinya" gerutu Devinka yang masih tidak mau kalah dengan Elisa.


Setelah melihat Elisa pergi Devinka pun juga ikut pergi mencari pemberitaan lain yang bisa dia laporkan pada ketua tim nya dan dijadikan pemberitaan utaman untuk siaran esok malam, meski sebetulnya Devinka tidak memperdulikan masalah persaingan departemen satu dan dua tapi dia melakukan itu hanya karena tidak ingin kalah dengan Elisa.


Jika saja Devinka tidak melihat Elisa yang mendapatkan pemberitaan bagus dia juga tidak akan mencari pemberitaan untuk tugasnya, bahkan jika dia tidak melakukan apapun tidak ada yang berani menegurnya karena calon penerus pimpinan perusahaan itu sendiri.

__ADS_1


__ADS_2