
Ketika mengingat kembali mengenai panti asuhan hanya ada dua orang yang selalu membuatku sedih dan sangat rindu kepada sosoknya dia adalah Cici gadis kecil yang manis dan selalu memberiku semangat ketika aku sering mengeluh dan berontak sebab tidak bisa pergi dengan bebas saat berada di panti.
Dan yang kedua adalah ibu Maya dia kepala panti yang sangat menyayangiku dia memberikan seluruh kasih sayangnya kepadaku dan telah merawatku sejak aku kecil hingga aku dewasa namun karena orang kaya telah menggusur tempat itu ibu Maya pergi kembali ke desa tempat dia tinggal sebelumnya namun aku sama sekali tidak tahu di mana tepatnya desa tersebut.
Sehingga sampai sekarang aku belum bisa menemuinya atau mencarinya dengan pasti, sebab tidak ada sedikitpun petunjuk yang bisa aku temukan tentangnya, dulu di saat aku kesepian seperti ini mungkin akan ada mereka berdua yang selalu berdiri di sampingku dan memberikan semangat baru untukku.
Jika tidak, selalu ada Lili yang menghiburku namun sekarang aku bahkan telah kehilangan kontak dengannya aku lupa belum sempat memasukkan kontak yang dia tuliskan dari secarik kertas yang pernah dia berikan untukku dan aku juga menghilangkan kertas tempat satu satunya petunjuk itu untuk aku bisa berkomunikasi dengan Lili.
Di pinggir jalan yang sepi dan semua karyawan hampir seluruhnya telah pergi aku menangis sambil tertunduk lesu karena aku telah kehilangan semua orang yang aku cintai.
"Hiks...hiks...sejak dulu aku tahu aku memang anak yang tidak beruntung tapi mengapa alam memisahkan aku dengan mereka yang mencintaiku dengan tulus, hiks...hiks" ucapku dengan suara yang kecil.
Kali ini alam benar benar tengah mengujiku, tiba tiba cuacanya berubah menjadi mending dan hujan perlahan turun membasahi bumi begitu juga denganku, karena itu aku semakin terhanyut dalam kesedihan, aku benar benar kesal karena hujan turun dengan tiba-tiba disaat yang tidak tepat.
"Huaaa....kenapa malah turun hujan?, alam memang tengah menghukum ku yah, hiks...hiks...hiks... Tuhan aku tahu aku anak yang nakal sejak aku kecil, aku tahu aku sering membuat ibu panti marah besar dan sering melanggar peraturan tapi apa hukuman ini adil untukku huaaa...aku tidak perduli tidak akan ada orang yang menyadari aku menangis karena hujan sudah menyamarkan air mata di wajahku...hiks..hiks..." Teriakku terus menangis dengan keras sambil menengadahkan kepalaku menatap langit.
Aku dengan sengaja membiarkan air hujan jatuh secara langsung menerpa wajahku agar bisa menghapus air mataku dengan sendirinya, aku saat itu tidak perduli dengan lingkungan sekitarku disana karena saat itu aku pikir sudah tidak ada siapapun lagi di sekitar sana jadi tidak akan ada yang bisa melihatku dalam keadaan terlemah seperti ini.
__ADS_1
Sampai akhirnya sebuah taxi terlihat melaju ke arahku dan aku segera menghentikannya, aku langsung menghapus air mataku dengan secepat kilat dan masuk ke dalam taxi tersebut sampai meninggalkan tempat tersebut.
Sementara disisi lain tepat ketika sebelumnya Elisa berdiri di tengah hujan saat itu Devinka juga sudah masuk ke dalam mobilnya dan dia berniat mengajak Elisa masuk ke dalam mobilnya juga dia sudah mempersiapkan sebuah payung yang sudah dia pegang, namun ketika dia melihat seberapa sedihnya Elisa dengan berteriak sangat keras di tengah derasnya hujan seperti itu.
Devinka pun langsung mengurungkan niatnya untuk menawarkan tumpangan dan dia tetap diam diposisi awalnya sambil terus memperhatikan Elisa dari kejauhan secara diam diam, dia bisa melihat dan mendengar dengan jelas semua keluhan yang diucapkan oleh Elisa sebelumnya, dia merasa sangat sedih ketika melihat Elisa yang selalu terlihat ceria juga sudah diatur ketika bersamanya kini justru terlihat begitu lemah layaknya perempuan pada umumnya.
Devinka tidak bisa menghampiri dia dalam keadaan seperti itu karena dia paham pasti Elisa tidak ingin jika ada orang lain yang mengetahui titik kelemahannya apalagi melihat dia dalam keadaan lemah seperti itu, sehingga Devinka hanya menemaninya dari kejauhan dan menjaganya secara diam diam hingga akhirnya Elisa pergi menggunakan taxi yang sebenarnya itu dipesan dengan sengaja oleh Devinka.
Devinka tidak mungkin membiarkan Elisa terus berdiri di tengah derasnya hujan yang mengguyur wilayah itu dan tidak terlihat pertanda bahwa hujan akan reda sehingga diam diam dia memesan sebuah taxi lewat ponselnya hingga tak berselang lama taxi itu tiba dan Elisa langsung menghentikannya seakan taxi itu tidak sengaja lewat ke jalanan sana.
"Syukurlah jika dia sudah masuk ke dalam taxi, aku harus memastikan dia pulang dengan selamat" ucap Devinka sambil mengikuti taxi itu dari belakang.
"E...eh...tunggu pak kau melupakan uangnya hey tunggu" teriakku sambil melambaikan tangan.
Aku kebingungan mengapa supir taxi itu justru malah pergi begitu saja tanpa menunggu uang ongkos dariku dahulu, padahal perasaan aku juga akan mengambil uangnya dan akan memberikan uang itu segera kepadanya tapi dia justru malah pergi begitu saja.
Aku linglung sendiri dan hanya bisa menatap kepergian mobil taxi tersebut dengan menggaruk kepalaku pelan dan mengerutkan kedua alisku bersamaan aku pun langsung masuk kedalam gang menuju kos kosan milikku.
__ADS_1
Sedangkan disisi lain Devinka ikut pergi meninggalkan tempat tersebut karena dia sudah memastikan bahwa Elisa sudah pulang dengan aman dan selamat sehingga dia juga tidak perlu khawatir lagi mengenai keselamatan Elisa, meski awalnya Devinka berniat untuk menemui Elisa tapi dia mengurungkan semua niatnya.
Karena melihat suasana yang tidak tepat sebab nampaknya Elisa tengah dalam suasana hati yang buruk, dan Elisa tidak ingin mengganggunya sedikitpun dia hanya ingin melindunginya meski pun secara diam diam.
Hingga ke esokan paginya aku kembali memulai hari seperti biasanya dan seakan telah melupakan semua kejadian menyedihkan yang aku alami ketika malam hari, aku sudah kembali pulih dan pergi menuju kantor seperti biasa, ini adalah hari terakhir aku bekerja di kantor tersebut, dan setelah ini mungkin aku harus mencari pekerjaan baru supaya bisa melanjutkan hidupku sendiri.
Meski aku masih merasa sangat sedih tapi ini adalah kali terakhir aku berada di perusahaan impianku dan ini adalah kali terakhir juga aku untuk bisa bekerja bersama rekan rekan tercintaku di perusahaan ini.
Aku berusaha menyembunyikan semua kesedihan di dalam diriku dan berusaha tetap bersikap ceria seperti biasanya, aku pergi dengan penuh semangat masuk ke dalam kantor dengan wajah yang terus tersenyum bersemi lalu aku mulai masuk kedalam ruang departemen dua dimana disana sudah ada ketua tim dan kak Kris juga kak Anne yang sudah berdiri seperti tengah menyambut kedatanganku.
Aku masuk dengan wajah yang bingung dan heran karena mereka berdiri di sana begitu saja, terlebih ini terlalu dini untuk mereka berada disana, karena biasanya setiap kali aku sampai di kantor pagi hari aku selalu menjadi karyawan paling awal yang sampai disana dan aku selalu menjadi yang paling teladan sejak awal bekerja disana.
"Ehh....ada apa?, Kenapa kalian berdiri disini apa yang sedang kalian tunggu?, Apa akan ada rafat atau pertemuan penting kali ini?" Tanyaku dengan wajah yang kebingungan dan mata yang terbuka lebar,
Wajah kak Kris dan kak Anne tiba-tiba saja berubah drastis mereka berdua terlihat begitu sedih dan langsung memelukku tanpa aba-aba sama sekali, sehingga aku justru hampir terjatuh kebelakang, untunglah kak Eril dengan cepat menyanggah belakang tubuhku hingga aku bisa menahan kedua rekan lainnya yang memelukku secara tiba-tiba seperti itu.
Mereka langsung menangis di pelukanku yang membuat aku semakin kebingungan dan tidak tahu harus bersikap seperti apa kepada mereka, karena aku sendiri saja bingung mereka sebenarnya kenapa.
__ADS_1
"Huaa....Elisa aku tidak ingin kehilanganmu sayangku, hiks...hiks...hiks... Kau gadis kecilku yang manis dan menggemaskan, aku tidak mau kehilangan kecantikan sepertimu" teriak kak Anne dengan keras dan membuat telingaku hampir kehilangan pendengaran.