Bos Ternyata Musuhku

Bos Ternyata Musuhku
Hutang


__ADS_3

Antara kaget dan takut aku bahkan tidak berani mengatakan apapun lagi kepadanya aku tahu semua yang aku bicarakan kepadanya barusan terlalu lantang aku juga tidak seharusnya berbicara sekeras itu kepadanya terlebih dia juga sudah menghabiskan banyak uang untuk pakaian yang tengah aku pakai ini dan juga semua perawatan yang aku dapatkan.


Devinka terus diam dan dia menatapku begitu, lekat hingga aku memberanikan diri mengangkat kepalaku dan berniat untuk meminta maaf kepadanya karena aku tahu mungkin aku terlalu keras padanya, tetapi tiba-tiba saja dia memelukku dengan erat hingga membuatku sedikit terkejut.


"Devinka...aku..min" ucapku tertahan sebab dia yang langsung memelukku sangat erat,


"Tidak apa, aku tidak akan memecat mereka ataupun memarahi mereka walau kau tidak menyukai hasilnya aku tidak akan melakukan itu kau tidak perlu khawatir" ucap Devinka membuatku merasa tenang saat mendengarnya.


Dia pun melepaskan pelukannya dan bertanya kepadaku apa yang aku inginkan.


Dan itu adalah pertama kalinya dia bertanya demikian kepadaku aku sendiri bingung harus menjawab apa karena sebelumnya tidak ada yang pernah menanyakan kepadaku apa yang ingin aku lakukan.


"Oke, sekarang apa yang kau inginkan?, Mari kita bersenang-senang" ucap Devinka bertanya kepadaku,


"Ehh...kau serius bertanya apa yang aku inginkan?" Tanyaku balik karena merasa heran dan tidak percaya,


Bukannya menjawab ucapanku dengan cepat dia justru malah tertawa kecil saat melihat wajahku yang terperangah karena masih merasa kaget dan tidak menyangka dengan apa yang dia ucapkan terhadapku.


"Chicken aku bertanya serius kepadamu kenapa kau terlihat seperti itu, apa kau tidak mempercayaiku?" Balas Devinka setelah berhenti tertawa,


"Bukan begitu hanya saja kau tidak seperti ini sebelumnya jadi aku merasa heran" balasku dengan jujur,


"Ya sudah sekarang katakan apa yang ingin kau lakukan selanjutnya mungkin ini adalah hari libur kapan lagi kita bisa bersenang-senang seharian" balas Devinka,


"Eummm...aku ingin pergi ke tempat yang belum pernah aku datangi, aku ingin ....yah aku ingin ke kebun binatang bagaimana?" Ucapku begitu saja.


Entah kenapa saat itu yang ada di dalam pikiranku hanyalah kebun binatang, bukan tanpa alasan aku memikirkannya dan sangat ingin pergi kesana, sebab dulu ibu panti berjanji padaku bahwa dia akan membawa seluruh anak panti ke kebun binatang namun sayangnya semua itu tidak dapat terlaksana sebab panti saja sudah tidak ada sekarang, sejak dulu saat masih kecil aku selalu iri dengan teman-teman yang lain karena mereka bisa pergi ke sana.


Berbeda denganku yang hanya bisa melihatnya di layar televisi itupun aku harus menumpang di rumah Lili apabila kedua orangtuanya tengah berada diluar kota, aku mengalami masa kecil yang sulit sehingga wajar saja jika ketika aku sudah dewasa seperti ini aku selalu ingin mengulangi masa kecilku yang dulu sempat aku lewatkan karena tidak memiliki cukup uang.


Mendengar aku ingin pergi ke kebun binatang Devinka justru malah kembali tertawa sangat kencang dan terbahak-bahak dia seperti memang menertawakan aku dengan sangat puas.


"Ahaha...apa?, Kebun binatang kau mau ngapain ke sana chicken haha mau menyamakan wajahmu dengan monyet yah haha" balas Devinka malah menghina aku,


Aku sangat tidak terima dengan perbuatannya yang meledekku seperti itu, dia sungguh menjengkelkan dan membuat aku sangat emosi.


"Ya sudah jika kau tidak mau membawaku ke sana itu tidak masalah bagiku nanti juga jika aku punya uang aku bisa pergi kesana sendiri" balasku dengan wajah yang ditekuk,


"Ahaha...oke oke aku minta maaf karena menertawakan kau, tapi keinginanmu itu terdengar sangat konyol di telingaku, kau tahu wanita lain mungkin akan memintaku menemaninya pergi berbelanja, shopping, atau pun ke tempat-tempat mewah lainnya yang akan menghamburkan banyak uang, tapi kau malah menginginkan pergi ke kebun binatang yang bahkan membawa makanan ke dalam pun kita tidak bisa, kau aneh" ungkap Devinka menjelaskan,


"Bukan aku yang aneh tapi memang level mereka denganku berbeda, aishh kau ini menjengkelkan sudahlah aku sudah tidak ingin pergi ke sana kau antar aku kembali ke rumah saja" balasku kepadanya.


Aku sudah terlanjur kesal dan jengkel dengan Devinka, moodku juga sudah rusak apalagi dengan gaun yang aku kenakan ini sangatlah pendek, bahkan kurasa aku tidak akan bisa duduk sembarangan dan berjalan dengan bebas jika mengenakan gaun mini seperti ini sangat tidak nyaman untukku.


Devinka yang melihat Elisa kesal dia pun segera membujuknya dan menahan Elisa agar tidak membatalkan rencana dan keinginan dia sebelumnya.


"Ayolah chicken aku tadi kan hanya bercanda kenapa kau memasukkannya ke dalam hati, jika kau memang ingin pergi ke sana aku akan mewujudkan keinginanmu itu, lagi pula itu sangat mudah untukku" balas Devinka membujukku.

__ADS_1


Aku pun merasa luluh karena rasanya sayang sekali jika aku menolaknya lagi.


"Jika aku menolaknya lagi mungkin dia tidak akan menawarkannya lain kali, sudahlah lebih baik aku terima saja lagian ini dia yang mengajaknya kan hehe" gumamku memikirkan dalam hati.


"Huuh baiklah jika kau memaksa, tapi awas saja jika kau sampai meledekku lagi aku akan menghajarmu!" Ucapku sambil memperlihatkan kepalan tangan kepadanya,


"Iya iya aku tahu, bawel" ucap Devinka sambil menginjak pedal mobilnya.


Dia menambah kecepatan dan kami mulai pergi menuju kebun binatang paling besar di kota tersebut, bahkan saat aku melihat harga tiketnya saja itu sudah seperti tiket menonton yang mahal, aku sempat menarik lengan Devinka karena melihat harga tiketnya yang terlalu mahal.


"Syuuutt Devinka, ayo kita kembali saja harga tiketnya terlalu mahal aku tidak punya uang sebanyak itu" ucapku berbisik kepadanya,


"Astaga chicken kau membuatku malu saja, apa kau lupa sekarang kau sedang bersama siapa sudah ayo ikut denganku dan jangan banyak berpikir tentang uang, kau nikmati saja wisatanya oke" ucap Devinka sambil menarik tanganku dan dia terus menggandengku masuk ke dalam kebun binatang besar tersebut.


Saat pertama kali masuk suasana memang terasa beda, udara di dalam kebun binatang begitu sejuk dan asri banyak sekali habitat yang hidup dan dikembangkan di dalam sana sepanjang jalan aku terus melihat ke kanan dan kiri melihat beberapa jenis hewan yang aku lewati lalu kami mulai masuk ke bagian hutan yang paling dalam disana juga banyak pengunjung lain yang berlalu lalang melihat lihat beberapa hewan langka yang terlindungi, aku sangat senang dan takjub saat melihat semua pemandangan disana.


"Waahh...Devinka ini sangat hebat, kebun binatang ini sungguh luar biasa, lihat...lihat...Devinka itu jerapah waahh lehernya panjang sekali" ucapku sambil menunjuk ke arah jerapah yang tengah diberi makan oleh beberapa pengunjung di luar pagar,


Aku segera menarik Devinka untuk berada lebih dekat dengan jerapah itu, badannya sangat tinggi begitu pula dengan lehernya yang panjang aku ingin menyentuh jerapah itu seperti yang pengunjung lain lakukan tapi aku tidak membawa makanan untuk diberikan kepada mereka dan jika aku ingin memberi mereka makan makan kami juga harus membeli makanannya di tempat yang sudah di sediakan.


Aku mengurungkan niatku karena ku pikir pasti harganya akan sangat mahal jika aku harus membeli makanan untuk hewan di sana juga.


Bagiku memang tidak masalah yang penting sudah bisa melihatnya secara langsung dan berada sedekat ini itu sudah sangat luar biasa dan aku begitu senang, tapi sepertinya Devinka mengetahui apa yang aku inginkan, dia tiba-tiba saja menghilang dan kembali lagi dengan membawa beberapa sayuran di tangannya.


"Waahh...Devinka apa yang kau bawa itu?, Kapan kau mengambilnya?" Tanyaku keheranan,


Aku sangat senang dan langsung mengambilnya aku akhirnya bisa merasakan melihat hewan-hewan langka yang sebelumnya hanya bisa aku lihat di layar televisi, kini aku bisa melihatnya secara langsung bahkan memberi mereka makan dengan tanganku sendiri.


Devinka bahkan memotretku beberapa kali dan memintaku untuk berpose di dekat hewan-hewan yang aku datangi, hingga setelah puas kami segera keluar dari sana, aku sangat senang sekali bisa mewujudkan satu impianku di masa kecil yang tidak dapat aku lakukan dahulu, dan kini Devinka mengajakku untuk pergi mencari makanan karena ini sudah tengah hari.


Aku tidak tahu Devinka ternyata malah membawaku ke sebuah restoran mewah yang dimana hanya orang-orang berpenampilan glamor yang memasuki restoran tersebut.


"Devinka kau yakin mau membawaku makan di restoran mewah seperti ini?" Tanyaku kepadanya untuk memastikan,


"Tentu saja ayo kita masuk" ajak Devinka membawaku masuk ke dalam,


Aku dan dia sudah memesan dan tidak lama makanan disajikan dengan begitu indah, Devinka mengambil makanan di piringku lalu dia membantuku untuk memotong-motong daging tersebut lalu kembali memberikannya kepadaku.


"Terimakasih..." Ucapku karena dia membantuku memotong nya.


Entah kenapa aku merasa saat ini Devinka bukan sekedar mengajakku bersenang-senang tapi ini justru lebih mirip seperti kencan hingga aku memikirkannya aku terus berusaha menghempaskan pikiranku yang terlalu berlebihan itu.


"Tidak...tidak...mungkin bagaimana bisa orang sekaya Devinka mau kencan dengan orang sepertimu terlebih mau bagaimanapun dia tetap musuhku, dia mungkin dia mau berkencan denganku, ini pasti hanya makan dan jalan biasa saja" gerutuku memikirkan.


Kepalaku hampir saja terganggu karena terus memikirkan hal itu, sampai aku tidak sadar jika aku sudah menghabiskan makanan dengan cepat begitu pula dengan Devinka dan dia segera membayar bill di restoran tersebut, aku tidak sengaja melihat bill nya dan itu sampai menembus angka jutaan, padahal kami hanya makan satu porsi makanan saja.


Devinka membawaku kembali ke mobil dan dia segera melakukannya ke tempat yang aku tidak tahu dia akan membawaku kemana, namun saat di perjalanan aku mulai bertanya mengenai kegundahan hatiku sedari tadi.

__ADS_1


"Devinka...kau tidak akan menagih semua uang yang sudah kau keluarkan padaku hari ini kan?" Tanyaku kepadanya.


Dia tiba-tiba saja terlihat tersenyum sinis hingga membuatku cemas dan berusaha menelan salivaku susah payah.


"Tentu saja semua itu aku anggap hutang, mana mungkin aku mentraktirmu sebesar itu memangnya kau pacarku?" Ucap Devinka membuatku kaget dan aku membuka mataku dengan lebar.


Aku kaget bukan main dan rasanya tubuhku langsung terasa lemas dan kehilangan seluruh energiku.


"Devinka...tolong jangan bercanda padaku, kau bohong kan, huaaa bagaimana aku bisa membayarnya uang makan tadi saja sampai jutaan, bahkan aku tidak punya pekerjaan sekarang, Devinka kau mau membuatku mati karena banyak hutang yah huaa" ucapku dengan lemas,


Aku sungguh tidak habis pikir dia bisa melakukan ini kepadaku, dia menjebakku untuk melakukan semuanya dan seakan-akan aku kira dia mentraktirku namun nyatanya dia menghitung miliknya saja dan menjadikan semua uang yang aku habiskan sebagai hutang padanya.


Aku kembali melihat ke bawah, sepatu yang aku kenakan dan pakaian yang aku pakai ini harganya jauh lebih mahal dari pada uang makan dan harga masuk ke kebun binatang bagaimana jika semuanya digabungkan itu hanya akan membuatku sekaligus jatuh miskin.


"Devinka kau bercanda kan?" Tanyaku kepadanya untuk memastikan lagi,


"Memangnya aku terlihat seperti bercanda yah, bahkan aku sudah mengingat total jumlah yang kau habiskan hari ini, tapi tenang saja pakaian, sepatu dan biaya perawatan tubuhmu tidak termasuk aku memberikan potongan padamu" balas Devinka dengan wajahnya yang menyebalkan.


Ingin rasanya aku menjambak rambutnya itu dan memukul perutnya dengan kencang sekuat tenagaku tapi aku sekarang malah terlilit hutang dengannya.


Aku benar-benar salah sempat berpikir dia berubah menjadi pria yang baik, dan aku hanya bisa duduk dengan lemas aku sudah tidak perduli lagi semuanya memang akan dia jadikan hutang padaku dan aku harus membayarnya.


"Devinka sudah jangan bawa aku kemanapun lagi aku tidak ingin melakukan apapun bersamaan mulai saat ini dan seterusnya, aku ingin pulang saja aku harus segera memecahkan celenganku hiks...hiks..." Ucapku dengan wajah yang muram.


Devinka sudah tidak tahan menahan diri agar tidak tertawa saat melihat wajah Elisa yang sudah begitu murung dan ditekuk sejak pertama kali dia mengatakan bahwa semua yang dia berikan adalah hutang untuk Elisa kepadanya.


Sepanjang perjalanan tidak ada lagi percakapan diantara mereka dan Elisa terus terlihat murung sambil memegangi tas yang dia bawa sebelumnya dengan erat, sedangkan Devinka juga hanya diam.dan sesekali mencuri-curi pandang kepada Elisa.


Dia sebenarnya tidak tega melakukan ini namun dia harus melakukannya agar Elisa tidak bisa lepas darinya hanya dengan hal ini dia bisa menjadi sedikit lebih Devinka dan menekan Elisa agar menuruti dirinya dan tidak mencoba melanggar ucapan darinya seperti biasa.


"Hhaha...wajahnya semakin menggemaskan ketika dia terlihat stres karena uang yang tidak seberapa itu" gumam Devinka di dalam hatinya saat diam-diam memperhatikan Elisa lewat sudut matanya.


Hingga sesampainya di jalanan dekat kosanku aku langsung turun dan menyuruh Devinka untuk menungguku sebentar disana.


Aku berjalan terburu-buru pergi ke kamar kosanku dan memecahkan dua celengan ayam yang sudah aku biarkan dan aku berikan selama ini, aku harap isi di dalamnya bisa mencapai jumlah uang yang aku habiskan hari ini dengan Devinka, sebenarnya aku sangat sayang sekali dengan dua celenganku itu mereka sudah sangat penuh dan berat tapi harus aku hancurkan sekarang dengan cuma-cuma padahal sebelumnya aku mengumpulkan uang itu dengan banyak kerja keras.


"Maafkan aku celengan ayam, bukan aku tidak menyayangi kalian tapi aku harus melunasinya aku tidak bisa berhutang kepada orang lain, maafkan aku yah kesayanganku" ucapku sambil mengusap lembut celengan ayam itu untuk terakhir kalinya.


Aku pun memecahkan celengan ayam itu perlahan.


"Prakk...." Suara celengan ayam yang aku pecahkan untuk pertama kalinya,


Aku langsung mengumpulkan uang di dalamnya dan menghitung semuanya dengan baik hingga ternyata uang di dalam satu celengan itu mencapai satu juta lebih, aku merasa senang karena setidaknya itu sudah bisa menutupi setengah dari hutangku kepada Devinka, aku masih harus memecahkan celenganku yang ke dua, aku pecahkan dengan hati yang terasa hancur dan sakit.


Dan akhirnya aku mendapatkan uang celenganku yang bisa dipakai untuk melunasi hutangku kepada Devinka aku memasukkan semua uang itu ke dalam sebuah kantong plastik dan mengganti pakaianku, aku membawa pakaian itu juga dan menghampiri Devinka dengan perasaan yang kesal dan emosi.


"Devinka ini aku kembalikan semua uangmu dan pakaian yang kau berikan kepadaku sebelumnya, aku tidak ingin semua kemewahan itu, dan aku juga tidak pernah memintanya agar kau meminjamkan uang sebanyak ini kepadaku, aku sudah menghitung semua uang di dalam kantong itu dan jika aku ingat-ingat semuanya sudah pas termasuk biaya perawatan di tubuhku, kau tidak perlu memberiku diskon apapun sekarang semuanya sudah selesai dan aku sudah mengembalikan apa yang sempat kamu pinjamkan padaku, aku tidak mau berhubungan dengan orang licik sepertimu lagi, sekarang pergi kau dari hadapanku!" Bentakku dengan kesal mengusirnya dari sana.

__ADS_1


Aku juga sempat menendang ban mobil depan Devinka lalu segera pergi ke kosanku.


__ADS_2