Bos Ternyata Musuhku

Bos Ternyata Musuhku
Mencari Elisa


__ADS_3

Suasana langsung berubah canggung Dika membelalakkan matanya mendengar pengakuan dariku dan dia langsung melajukan kembali mobilnya lalu segera melakukannya dengan cepat menuju alamat yang aku tunjukkan pada dia sebelumnya.


Entah kenapa saat itu aku tersenyum tipis dan merasa sedikit senang ketika ada orang yang memperhatikan keselamatanku padahal hal itu rasanya wajar saja bagi semua orang.


Tidak ada lagi pembicaraan antara aku dan Dika saat itu, sampai akhirnya kami sampai tepat di depan gerbang kosanku, aku tau Dika tidak seperti Devinka makanya aku berani memberitau alamat tempat tinggalku padanya.


"Elisa kau mau aku bantu?" Ucap Dika menawarkan bantuan,


"Tidak perlu aku bisa sendiri dan aku sudah baik baik saja terimakasih atas tumpangannya. Selamat malam" ucapku begitu formal dan segera keluar dari mobil Dika.


Aku tidak mau berurusan lebih panjang lagi dengannya dan aku juga tidak ingin memiliki hutang budi kepadanya makanya aku menolak bantuan darinya, bisa diantarkan pulang oleh dia saja itu membuatku merasa tidak enak dan harus membalas kebaikannya itu.


Entah kenapa aku selalu berpikiran seperti itu setiap kali ada orang yang menolongku entah dalam hal kecil maupun hal besar sekalipun, mungkin ini karena aku terbiasa mandiri dan melakukan semuanya sendiri sehingga ketika ada orang yang membantuku aku merasa gugup dan aneh ditambah seperti sudah menjadi kewajiban bagiku untuk membalasnya.


Setelah aku keluar dari mobil, Dika langsung melajukan kembali mobilnya dan pergi meninggalkan wilayah itu, aku pun langsung masuk ke dalam kosan dan mengistirahatkan tubuhku.


"Hhhaaah... Semua ini karena Devinka dan Reksa, bagaimana bisa mereka lupa dengan pembuatan laporan pertama kerja, sialan!" Gerutu ku sangat kesal.


Tak lama aku segera tidur dengan nyenyak dan mulai melupakan sejenak semua keluhan dan ke sialan di hari itu.


Sedangkan di sisi lain sebenarnya Devinka dan Reksa sudah pergi dari perusahaan cukup lama sebelum Elisa selesai bekerja, Devinka yang merajuk karena ibunya dan Reksa yang tidak berpihak padanya membuat dia langsung pergi begitu saja dari perusahaan.


Dan sayangnya tidak ada satu karyawan pun yang berani menahan Devinka sebab mereka tau Devinka memiliki hubungan sangat dekat dengan wakil presdir yang tak lain tuan Albert di mana dia adalah pemimpin di perusahaan itu sejak beberapa tahun lalu semenjak menghilangnya tuan Alexander selaku CEO perusahaan CTN group.


Melihat Devinka yang pergi seorang diri dengan emosi yang tidak terkendali akhirnya terpaksa Reksa pun harus mengikutinya dan itulah yang membuat mereka melupakan Elisa juga masalah pembuatan laporan pertamanya.

__ADS_1


Reksa baru ingat mengenai hal itu ketika sudah malam dan saat dia sudah mengantarkan Devinka ke rumahnya, saat itu Reksa merasa bersalah dan dia ingin menghubungi Elisa tapi dia juga tidak memiliki kontak Elisa di dalam ponselnya.


Sehingga mau tidak mau Reksa hanya bisa menunggu esok pagi untuk meminta maaf pada Elisa.


Sedangkan di sisi lain Lili yang tengah bertengkar hebat dengan kedua orang tuanya sebab dia akan di pindahkan ke luar negeri setelah kuliahnya selesai tahun ini, kedua orang tua Lili melakukan itu hanya karena mereka ingin memisahkan Lili dengan Elisa sebab mereka sejak dulu tidak menyukai Elisa yang berasal dari sebuah panti asuhan tanpa asal usul yang jelas.


"Sudah Lili, mau kau berontak seperti apapun ibu tetap akan mengirim mu ke luar negeri nanti!" Bentak ibunya,


"Bu aku tidak mau, kenapa ibu tidak mengerti ucapanku dan kenapa ibu tidak pernah mendengar keinginanku?" Jawab Lili penuh pertanyaan,


"Karena semua keinginanmu berurusan dengan gadis panti itu, dan ibu membencinya!" Jawab ibu Lili lalu menutup pintu kamar Lili dengan keras.


Lili tidak bisa berbuat banyak lagi dia hanya bisa menangis meringkuk di atas ranjangnya seorang diri.


"Hiks...hiks...El...andai kamu ada di sampingku saat ini dan andai kamu tidak menjauhiku mungkin aku akan kabur dan berlari padamu sekarang" gerutu Lili di sela tangisannya.


Mungkin saat ini ibunya sudah menyiapkan semua kebutuhan Lili dan akan segera mengirimnya ke luar negeri, bahkan Lili juga tidak bisa menghubungi Elisa karena ponselnya sudah di situ oleh sang ibu sejak lama.


Sampai ke esokan paginya, Lili berusaha kabur secara diam diam dengan menuruni balkon kamarnya menggunakan tali, dia tahu perbuatannya itu berbahaya dan cukup beresiko untuk keselamatan dirinya.


Namun tidak ada cara lain untuk dia bisa menemui Elisa dan setidaknya mengucapkan perpisahan padanya untuk yang terakhir.


"Maafkan aku Bu, aku harus menemui Elisa" ucap Lili sebelum dia menuruni.


Beberapa saat ketika dia melihat ke bawah nyali Lili sebenarnya menciut namun dia kembali menguatkan hati dan mentalnya sampai dia mulai menarik nafas dalam dan menuruni tali tersebut dengan perlahan.

__ADS_1


"Ahh...akhirnya aku bisa menuruni tali ini dengan selamat, aku harus segera pergi sebelum ibu kembali dari kantor" gerutu Lili sambil segera berlari perlahan dan keluar dari rumahnya lewat pintu belakang.


Lili langsung pergi ke kampus dan mencari keberadaan Elisa namun sayangnya dia tidak menemukan Elisa meski sudah mencarinya ke mana mana, sampai ketika Lili bertemu dengan salah satu mahasiswa yang mengambil jurusan yang sama dengannya dulu dia baru tahu jika semua mahasiswa jurusan itu tengah melakukan magang di perusahaan pilihan dosennya masing masing.


Lili pun menanyakan di mana perusahaan yang didapatkan oleh Elisa namun sayangnya mahasiswa tersebut tidak mengetahui hal itu.


"Di mana Elisa di tempatkan, apa kau tau?" Tanya Lili dengan terburu buru,


"Maaf aku tidak tau karena tidak memperhatikannya tapi jika kamu ingin tau tanyakan saja pada profesor" jawab mahasiswa itu,


"Ahh baiklah terimakasih" jawab Lili sambil langsung bergegas menemui profesor yang dimaksud mahasiswa tadi.


Lili menemui sang profesor di ruangannya dan dia berusaha keras membujuk profesor untuk memberikannya data magang mahasiswa jurusan tersebut, meski pada awalnya profesor bersih kukuh tidak memberitahunya namun Lili berjanji dan dia hanya ingin mengetahui di mana Elisa di tempatkan sampai akhirnya sang profesor memberitahunya.


"Prof saya mohon, tolong beritahu saya, saya hanya ingin bertemu dengan Elisa karena saya akan pergi ke luar negeri untuk selamanya dan saya hanya takut tidak akan bertemu dengan Elisa lagi jika bukan hari ini" ucap Lili dengan mata yang berkaca kaca.


Melihat Lili yang nampak tulus dan bersungguh sungguh profesor tidak tega melihatnya dan mulai memberitau di mana Elisa di tempatkan.


"Dia di perusahaan CTN group kau datang saja ke sana dan jangan mengacaukan tugasnya karena kamu sudah berpindah jurusan" ucap profesor memberitahunya.


Lili sangat senang dan dia sangat berterimakasih pada sang profesor dia pun langsung bergegas pergi menuju CTN group menggunakan taxi, sesampainya di sana Lili tertahan oleh resepsionis yang tidak mengijinkannya untuk masuk.


"Kak...saya mohon setidaknya tolong beri tahu Elisa jika saya datang untuk menemuinya ini sangat penting dan mendesak, saya mohon kak" ucap Lili memohon.


Namun seperti apapun Lili memohon resepsionis itu tetap tidak memberikannya izin, sedangkan saat itu Elisa sudah mulai bekerja di departemen dua dan tidak sama sekali tidak mengetahui keberadaan Lili di kantor tersebut.

__ADS_1


Meski sang resepsionis terus menolak Lili, tapi Lili tidak menyerah dia berusaha menerobos dan hendak masuk ke dalam lift bersama para karyawan lainnya namun sayang seorang penjaga berhasil menarik lengan dia dan menahannya dengan kuat.


__ADS_2