Bos Ternyata Musuhku

Bos Ternyata Musuhku
Menahan Tawa


__ADS_3

Aku sungguh kaget dan tidak percaya seorang Devinka musuh bebuyutan ku kini memintaku mengantarkannya pulang, aku mana bisa bersikap baik sampai harus mengantarnya pulang, jelas dia musuhku aku sangat membencinya, apalagi ini sudah larut malam dan aku sudah tertinggal oleh bus terakhir.


"Ya Tuhan apa aku pantas menerima semua kesialan ini huhu" gerutuku sambil merengek dengan kesal.


Aku menatapnya dengan mulut yang mengerucut dan kedua alis yang aku kerut kan secara bersamaan, aku merengek karena kesal dengan Devinka yang memintaku untuk mengantarnya pulang sedangkan saat ini sudah larut malam.


"Hwa..a..a..a..eughh...heu...heuu" rengek ku karena kesal.


Devinka malah menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan dan dia menaikkan sebelah alisnya lalu mulai berbicara lagi kepadaku.


"Hey...cepat antar aku pulang, apa lagi yang perlu kau tunggu!" Bentak Devinka tanpa tahu malu,


"Heh apa kau sungguh seorang pria?, Harusnya kau yang mengantarku pulang di tengah malam begini, bukannya malah aku yang harus mengantarkan pria bertubuh kekar dan tinggi sepertimu" jawabku dengan kecut,


"Bagaimana jika ada yang menculikku atau merasa merampokku, aku ini kan tampan dan kaya apa kau mau bertanggung jawab jika sesuatu terjadi padaku" balasnya kembali membentak,


"Aish...siapa juga yang akan menculik orang menyebalkan sepertimu" gerutuku pelan.


Sialnya meski gerutuanku itu pelan Devinka tetap bisa mendengarnya dan dia berkacak pinggang menatapku dengan tajam.


"Jangan banyak bicara, ayo sekarang antar saja aku apa susahnya sih" ucap Devinka.


Terpaksa karena tidak ada pilihan lain dan aku juga tidak ingin dia terus mengikutiku seperti orang gila, alhasil aku harus mengantarnya pulang untunglah saat itu masih ada bus yang lewat untuk jurusan menuju pusat kota dan aku langsung menariknya untuk cepat masuk ke dalam bus sebelum kembali tertinggal seperti sebelumnya.


"Ahh...itu bus nya, ayo cepat...." Teriakku sambil refleks langsung menggenggam tangan Devinka dan menariknya.


Dalam jarak yang cukup dekat aku berlari sambil menggandeng lengan Devinka hingga masuk ke dalam bus dan segera memilih tempat duduk yang paling ujung, karena tempat itulah yang terbaik menurutku dari sekian banyaknya kursi di sana.


Berbeda dengan aku yang sudah terbiasa menaiki bus dan bisa duduk dengan tenang, Devinka justru hampir saja jatuh tersungkur ke lantai bus saat dia hendak duduk namun bus melaju tiba tiba sehingga tubuhnya hampir tersungkur ke depan.

__ADS_1


Untunglah saat itu aku masih sempat menahan kerah belakang bajunya, walaupun aku memeganginya seperti tengah mengangkat se ekor kucing.


"Ehh...awas!" Teriakku sambil refleks menarik kerah baju belakang Devinka.


Devinka menatapku dengan tajam dan telinga yang memerah aku pun langsung membantunya kembali duduk dengan benar sampai dia membentakku hingga hampir membuat gendang telingaku rusak.


"AYAMMM!, Aishh...bisa bisanya kau memegangi ku seperti seekor kucing jalanan!, Lepaskan tanganmu dari kerah ku..." Bentak Devinka membuat para penumpang lain langsung menatap ke arahku.


Aku yang baru sadar kalau tanganku masih berada di belakang lehernya, segera aku melepaskan pegangan itu dan langsung memalingkan pandangan ke luar jendela, aku tau saat itu Devinka pasti sangat kesal dan marah besar namun entah kenapa aku sungguh tak kuat menahan tawa saat mengingat bagaimana dia hampir jatuh tersungkur ke depan.


Aku sudah bisa membayangkan bagaimana posisinya saat dia jatuh jika aku tidak sempat menarik kerahnya dengan tepat waktu.


"Bep...bep...bepahahaha...." Suaraku tak kuat menahan tawa ketika membayangkannya.


Devinka langsung menarik pundakku membuatku langsung berhenti tertawa dan menghadap ke arahnya, dia menyipitkan matanya seperti tengah menyelidiki sesuatu kepadaku.


"Apa yang dia lihat, kenapa tiba tiba aku merasa merinding begini yah...gluk...." Gumamku sambil menelan saliva dengan sulit,


Saat aku tengah gugup menatap wajahnya yang aneh tiba tiba dia bertanya kepadaku dengan nada yang datar.


"Heh, apa yang kau tertawakan tadi?, Apa kau menertawakan ku hah?" Ucap Devinka,


"Eh...apa?, Tidak. Siapa yang menertawakan mu memangnya kau pikir kamu semenarik itu yah untuk aku tertawakan ge er sekali" jawabku berbohong.


Aku tidak berani berkata jujur kepadanya jika memang dia lah yang aku tertawakan, aku takut dia mungkin bisa menghajar mu saat itu dan bisa bisa mungkin aku tidak akan bisa pulang jika membuat ya semakin emosi.


"Hah...awas saja kau!" Ancam Devinka sambil melepaskan pegangannya dari pundakku.


Aku pun kembali melihat ke luar jendela dengan perasaan yang masih geli dan sambil terus menahan tawa agar Devinka tidak mengetahuinya.

__ADS_1


"Haha...dasar bodoh, jelas jelas aku menertawakan tingkahnya yang konyol seandainya aku memvideokan kejadian tadi itu pasti akan merusak citranya haha dia konyol sekali" gumamku dalam hati.


Di sisi lain diam diam Devinka terus memperhatikanku lewat kaca jendela yang memantulkan bayanganku tapi sayangnya saat itu aku tidak menyadarinya.


"Apa dia sudah gila?, Ihkk...aku harus cepat cepat menjauh dari cewek ayam ini" gumam Devinka yang melihatku menahan tawa sedari tadi.


Tak lama kami pun sampai di pusat kota yang tak jauh dari kediaman Devinka aku pun mengajaknya segera turun dan sebelum turun aku membayar ongkos kami berdua tapi tiba tiba Devinka menerobos dan langsung memberikan uang seratus ribu lembar kepada sang supir untuk membayar ongkos.


Sontak sang supir bus malah tertawa karena tidak pernah ada orang yang memberikan ongkos padanya dengan pecahan uang yang besar dan aku juga ikut tertawa saat itu.


"Minggir biar aku saja yang bayar, bukankah kau miskin dan tidak ada uang" ucap Devinka sambil menyenggol ku,


"Silahkan saja, syukur syukur aku tidak perlu mengeluarkan uang" jawabku sambil membenarkan tas selempang ku,


Saat itu aku tidak tau kalau Devinka akan memberikan pecahan uang yang sangat besar.


"Ini untuk dia orang" ucap Devinka sambil memberikan uang pecahan seratus ribu kepada sang supir.


Di saat itulah aku tertawa bersama supir bus tersebut bersamaan.


"Ah?, .... Ahahaha... Hey anak muda kau bercanda yah, ongkosnya hanya dua puluh ribu saja, kenapa kamu memberiku uang sebesar itu tidak ada kembalian di bus, kau punya uang receh tidak?" Ucap sang supir bus diiringi tawa.


Devinka langsung diam dan dia tertunduk malu sambil menarik kembali uangnya.


"Haha..kenapa?, Uangmu tidak laku di sini yah?, Sudah biar aku yang miskin ini yang membayar ongkosmu tuan" jawabku sambil tersenyum lebar kepada Devinka.


Dan aku langsung memberikan uang pas kepada supir itu, kami pun turun dari bus dengan selamat meski wajah Devinka semakin mengkerut dan begitu kusam karena sedari tadi emosinya tertahan.


"Eughh.... Sialan cewek ayam ini berani beraninya mempermalukanku di depan banyak orang berkali kali!" Gumam Devinka menyimpan kekesalannya.

__ADS_1


__ADS_2