
Aku menatap ke arah Dika dan Reksa yang tertidur dengan posisi acak di ranjang tersebut dan pakaian mereka sangatlah berantakan lalu saat aku sadar aku sudah berada dalam gendongan Devinka dan refleks aku sangat kaget ketika menyadari hal tersebut.
"Astaga ....apa yang kau lakukan padaku, cepat turunkan aku!" Ucapku memperingati dan Devinka langsung menurunkan ku saat itu juga,
Aku langsung merapihkan pakaianku yang saat itu sedikit berantakan, aku benar benar kebingungan sendiri mengapa aku bisa berada di tempat itu sehingga saat aku hendak menanyakannya pada Devinka tiba tiba saja Devinka langsung menarik lenganku dan dia membawaku keluar dari basecamp tersebut.
Hingga saat di luar aku berusaha menghempaskan lengan Devinka yang memegang tanganku cukup erat, aku cukup kesal karena lagi dan lagi harus berusaha dengan orang seperti Devinka ini.
"Eishhh....Devinka lepaskan tanganku!, Kau menyakitiku tahu" ucapku sambil memegangi pergelangan tanganku yang cukup meras.
Devinka yang menarik lenganku sekencang tadi memang sungguh melukai tanganku dan aku benar benar merasakan sakitnya saat itu juga sehingga membuatku sangat kesal dan semakin kesal kepada Devinka dalam waktu ke waktu.
"Heh, kau ini ribut sekali sih, apa kau tidak lihat di dalam Reksa dan Dika sedang tidur dan mereka dalam pengaruh alkohol harusnya kau mengerti jika aku tidak menggendongmu dan membawamu secepatnya keluar dari sana, mereka bisa saja melakukan sesuatu yang akan membahayakanmu" ucap Devinka dengan suara yang membentak dan cukup keras.
Aku langsung diam ketika Devinka mengucapkan dan menjelaskan semua itu, namun aku tetap kesal atas keputusan yang dia lakukan karena menggendongku tanpa izin dariku terlebih dahulu.
"Tetap saja meski niatmu itu baik, seharusnya kau tidak melakukan itu jika tidak ada izin dariku" balasku yang tetap merasa kesal dan tidak terima,
"Hey, dasar bodoh!. Bagaimana aku bisa meminta izin denganmu kau saja tidur seperti b*bi yang sulit sekali untuk dibangunkan jadi menurutmu aku harus bagaimana jika kau seperti itu, sedangkan kedua bocah itu sudah hampir bergerak menuju ranjang tempat kau tertidur, atau ohhh kau mau aku membiarkanmu tidur bersama kedua temanku itu yah?" Ucap Devinka yang tiba tiba malah balik menduga sembarangan dan marah kepadaku,
"Eh....maksudku bukan begitu, hanya saja aku kaget karena saat bangun ada di gendongan mu, jadi wajar saja kalau aku marah kan" balasku menjelaskan,
__ADS_1
"Hah, bilang saja kalau kau tidak mau dekat denganku tapi justru malah senang saja ketika di dekati teman teman ku" balas Devinka yang semakin marah padaku.
Lalu dia memalingkan wajahnya dariku dan pergi meninggalkanku tanpa sepatah katapun, Devinka masuk ke dalam mobilnya dan aku langsung berlari menghampiri dia lalu mengetuk kaca mobilnya hingga Devinka mulai menurunkan kaca mobil tersebut.
"Apa lagi?, Aku sudah mengeluarkanmu dari sana kita tidak ada urusan lagi sama kau pulang" ucap Devinka seperti mengusirku,
"Devinka apa kau tega membiarkanku pulang seorang diri selarut ini?, Bagaimana jika aku bertemu orang jahat di perjalanan, bertemu penculik atau orang cabul saat aku berjalan sendiri menunggu taxi" ucapku memasang wajah memelas.
Aku tahu di jam segini tidak akan ada taxi yang lewat jika pun ada itu pasti akan jarang, aku juga tidak tahu kapan taxi akan melewati tempat itu sehingga meskipun aku sebenarnya kesal dan gengsi aku membuang semua ego ku dan memberanikan diri untuk berkata demikian pada Alvaro agar dia mau mengantarkanku pulang.
Aku sendiri juga mana berani pulang luntang lantung di jalanan selarut ini sendirian itu sama saja dengan aku menggali kuburan ku sendiri, meski aku bisa bela diri namun aku tidak pernah tahu bagaimana orang yang akan berbuat jahat padaku bisa saja orang jahat itu lebih kuat dariku makanya aku tetap takut jika harus pulang seorang diri.
Aku pun segera bergegas masuk ke dalam dengan perasaan yang senang, Devinka mulai melajukan mobil dengan perlahan dan melesat ke jalanan dengan cepat meninggalkan tempat tersebut, selama perjalanan aku mulai kembali terpikirkan mengenai diriku yang bisa tiba tiba saja tertidur di basecamp The Boys, padahal sebelumnya aku sangat sadar dan mengingatnya dengan jelas.
Bahwa aku sudah mau pulang dan terakhir kali aku ingat telah menghentikan sebuah taxi lalu ada seseorang yang menarikku dan aku berada dalam pelukan orang tersebut dengan hangat sampai aku tidak sadar lagi.
Karena penasaran aku memberanikan diri untuk menanyakannya pada Devinka, meski saat itu aku sedikit gugup dan takut karena melihat ekspresi wajah Devinka yang begitu serius dan nampak tengah memiliki banyak beban pikiran di otaknya.
Sebelumnya selama aku mengenal dia dan sedikit dekat dengannya aku belum pernah melihat ekspresi wajahnya seserius ini, makanya aku merasa sedikit ragu ragu untuk menanyakan masalah kebingungan yang aku rasakan padanya.
"Eum....Devinka...boleh aku bertanya sesuatu padamu?" Tanyaku meminta izin dahulu padanya,
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Devinka dengan wajah yang datar,
"Itu aku masih merasa heran dan terus merasa penasaran, bagaimana aku bisa sampai di basecamp milik The Boys dan kenapa aku bisa tertidur di ranjang itu, tidak mungkin kan aku berjalan sendiri hingga sampai ke sana dalam keadaan tidur?, Pasti ada yang memindahkan tapi siapa orangnya apa kau tahu?" Tanyaku padanya.
Tiba tiba saja wajah Devinka seketika berubah gugup dan dia nampak kebingungan aku sendiri mulai merasa aneh dengan perubahan sikap Devinka yang terlalu cepat dan sangat mudah terlihat.
"Ehh, Devinka kenapa kau tiba tiba terlihat gugup?, Atau jangan jangan...." Ucapku tertahan karena dia lebih dulu mengakui perbuatannya itu,
"Iya, aku yang memindahkan mu ke sana karena aku tidak tahu di mana tempat tinggalku, sebelumnya kau hampir tertabrak mobil dan aku menyelamatkanmu tapi kau justru sudah langsung tidur dan bersandar padaku makanya aku terpaksa membawamu ke basecamp karena ku pikir itu adalah tempat paling aman untukmu" ungkap Devinka mengatakan semuanya.
Aku langsung terbelalak membuat mataku dengan sangat lebar, saat itu ingin sekali rasanya aku memukul Devinka sepuasnya namun aku sekuat tenaga berusaha menahan amarahku dengan memegang ujung pakaianku cukup keras, aku sungguh ingin membentak dia dan memarahinya habis habisan karena dia telah membawaku sejauh ini.
"Eughh...andai saja aku tidak membutuhkan tumpangan darinya, dia sudah aku hajar sejak awal. Arghhhhh menyebalkan sekali" gumamku menahan emosi.
Nafasku sudah sulit untuk diatur dan Devinka memperhatikan aku beberapa kali karena dia tidak mendengar jawaban lagi dari ku setelah mendengar ucapan darinya.
"Heh, kenapa kau diam begitu kau mau marah denganku karena aku membawamu ke sana?" Tanya Devinka kepadaku.
Aku sangat kesal sekali dengan dia yang bersikap terlalu santai dengan ekspresi wajah yang tidak merasa bersalah sedikitpun padahal sudah sangat jelas semua yang dia lakukan adalah sebuah kesalahan yang fatal.
Ketika dia bertanya seperti itu kepadaku aku berusaha menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan untuk menormalkan nafasku dan aku menatapnya dengan senyum yang aku paksakan sendiri agar dia tidak melihatku dalam keadaan marah.
__ADS_1