Bos Ternyata Musuhku

Bos Ternyata Musuhku
Keluar dari rumah sakit


__ADS_3

Aku langsung mematung dan tak bisa berkata kata apapun lagi sampai Reksa menarik lengan Ciko dari kepalaku.


"Heh, Ciko kau benar benar kurang ajar sekarang, kenapa kau mengusap kepala Elisa jangan bilang menyukainya sekarang" bentak Reksa dengan tatapan tajam pada Ciko,


"Haha....kau bisa menyimpulkannya sendiri" jawab Ciko seperti mempermainkan Reksa,


"Ciko aku menentangmu untuk itu, lebih baik kau membenci Elisa seperti sebelumnya saja dan jangan coba coba bersikap manis padanya" ancam Reksa memberikan peringatan,


"Baiklah aku akan pergi sekarang jaga dia baik baik jangan sampai aku mengambil nya darimu" ucap Ciko yang kembali menggoda Reksa.


Reksa langsung mendorong Ciko keluar dari ruang rawat ku dan menutup pintu dengan kencang, aku masih bisa melihat wajah kesalnya itu dan aku masih diam mematung berusaha menyerap apa yang mereka bicarakan di hadapanku tadi.


Sampai tak lama setelah Ciko sudah benar benar pergi dari sana Reksa kembali menghampiriku dan aku masih merasa bingung dengan perubahan sikap Ciko yang bisa tiba tiba bersikap lembut kepadaku padahal sangat jelas sebelumnya dia sangat membenciku melebihi Devinka yang membenciku sejak lama.


Reksa yang melihatku terdiam dia langsung menyapaku dan mengajakku berbicara dengannya.


"Elisa kenapa kau diam termenung begitu, sudah jangan dengarkan ucapan Ciko tadi dia hanya bercanda saja" ujar Reksa berkata padaku,


"Ahh iya lagi pula tidak mungkin dia berubah hanya dalam satu hari, iya kan" balasku padanya.


Reksa hanya mengangguk menanggapi ucapanku dan kami pun memutuskan untuk beristirahat kembali karena hari sudah semakin larut, aku juga sudah cukup lelah dan membutuhkan banyak istirahat kali ini.


Di sisi lain Devinka yang baru pulang ke kediamannya di sus oleh Ciko yang saat itu tidak bisa kembali ke rumahnya sendiri sebab kedua orang tuanya yang sudah mengunci pintu rumahnya lebih awal sehingga Ciko pergi ke kediaman Devinka dan hendak menginap di sana untuk malam ini.


"Tok...tok...tok" suara ketukan pintu yang diketuk oleh Ciko,


Devinka baru saja hendak berisitirahat dan pergi ke kamarnya namun suara bel dan ketukan pintu membuatnya kesal dan geram.

__ADS_1


"Aishh siapa sih yang bertamu selarut ini, benar benar tak tahu sopan santun!" Gerutu Devinka sambil kembali turun dari tangga dan membuka pintunya.


Saat membuka pintu Ciko langsung menerobos masuk ke dalam rumah meski Devinka sang pemilik rumah tidak mempersilahkannya untuk masuk, karena melihat Ciko yang menerobos masuk begitu saja, Devinka pun menyusulnya dan menahan Ciko untuk pergi ke kamarnya.


"Eh..eh..eh...Ciko mau kemana kau seenaknya masuk ke dalam rumah orang!" Bentak Devinka sambil menahan Ciko,


"Heh, kau itu sahabatku sejak kecil, tega sekali kau begitu perhitungan denganku. Sudahlah aku hanya akan menginap di sini malam ini" ujar Ciko sambil terus menerobos masuk ke dalam kamar Devinka dan tidur di ranjang Devinka dengan leluasa.


Devinka sangat kesal dan dia terus berusaha menarik Ciko agar bangkit dari ranjangnya.


"Aishh...Ciko sana kau pergi di rumah ini masih tersedia banyak kamar kemana kau malah tidur di ranjang kesayanganku, pergi kau dasar bayi besar!" Bentak Devinka terus menarik kaki Ciko sekuat tenaganya,


"Devinka sudahlah kita sudah sering tidur bersama tidak bisakah kau membiarkanku kali ini" ucap Ciko yang masih enggan untuk pergi,


"Tidak bisa aku tidak bisa tidur denganmu aishh kau itu merepotkan sekali" tambah Devinka semakin kesal.


"Ckkk...dasar anak ini masih saja belum belum berubah" gerutu Ciko kesal.


Akhirnya Ciko pergi ke kamar tamu dan dia baru bisa beristirahat dengan tenang dan nyaman di sana.


Sejak kecil Devinka adalah orang yang sangat mementingkan kebersihan dia selalu benci barangnya digunakan dengan orang lain sekalipun itu ketiga temannya yang sudah bersama dengan dia sejak mereka kecil, jangankan berbagi barang atau tempat dengan ketiga temannya bersama kedua orangtuanya pun Devinka selalu enggan.


Dia seperti terobsesi oleh kebersihan karena sejak kecil di didik harus menjadi anak yang sempurna sebagai pewaris keluarganya yang memiliki perusahaan paling berpengaruh di negara tersebut, sehingga semua yang dilakukannya selalu menjadi penilaian juga sorotan penting baik untuk media ataupun dunia bisnis keluarganya.


Karena didikan keras tersebut Devinka menjadi terbiasa bahkan hingga dia dewasa sulit baginya menghentikan kebiasaan tersebut, bahkan saat ini setelah Ciko pergi Devinka langsung mengganti seprai ranjangnya karena dia pikir itu sudah tidak bersih lagi sebab Ciko sudah menidurinya tanpa mandi dan membersihkan diri dulu setelah dari luar rumah.


"Aaahhh karena dia aku jadi kembali berkeringat dan harus pergi mandi lagi, dasar Ciko sialan!" Gerutu Devinka lagi dengan kesal.

__ADS_1


Ada beberapa hal yang tidak bisa Devinka lakukan seperti berda di tempat sempit atau pun kotor dia sangat benci hal tersebut termasuk keringat yang ada di tubuhnya maupun tubuh orang lain, setiap kali melihat keringat yang terlalu banyak Devinka selalu merasa jijik dan dia harus pergi untuk membersihkannya.


******


Ke esokan paginya aku sudah merasa jauh lebih baik dan dokter juga sudah memperbolehkan ku untuk pulang, saat itu Reksa berniat mengantarku namun aku menolaknya karena aku masih tidak ingin ada orang lain yang mengetahui kosan tempat tinggalku.


Jujur saja aku cukup malu untuk memperlihatkan tempatku tinggal kepada orang lain, sebab selama ini aku selalu dikelilingi orang orang yang kaya raya sedangkan aku hanyalah orang miskin yang hidup sebatang kara dan hanya memiliki keberuntungan bisa menempuh pendidikan di tempat favorit yang di gunakan orang kaya pada umumnya.


Namun meski aku menolak tawaran dari Reksa dia terus saja mendesak ku.


"Elisa ayolah, kau kan baru keluar dari rumah sakit, dan aku hanya mengantarmu pulang kenapa kau menolak ku" ucap Reksa,


"Bukan begitu Reksa tapi aku sudah terbiasa sendiri dan tidak ingin merepotkan siapapun, ditambah aku sudah sangat merepotkanmu dan aku tahu kau juga yang membayar biaya rumah sakitku, aku tidak mau berhutang terlalu banyak kepadaku, bagaimana jika nanti aku tak bisa membalas kebaikanmu itu" ungkap ku menjelaskan,


"Tapi Elisa aku membantumu tulus dan kau tidak perlu membalas apapun untukku" balas Reksa,


"Tetap saja aku tidak bisa menerima itu dengan cuma cuma aku akan membalas semua kebaikanmu nanti" jawabku kukuh dengan prinsip diriku sendiri.


Karena aku juga tak mau kalah akhirnya Reksa pun mau mengalah dan dia bisa berhenti untuk memaksa mengantarkanku pulang.


"Ya sudah jika kau masih bersih keras tak mau aku antar tapi berhati hatilah di jalan, kabari aku jika sudah sampai, ini aku sudah memasukkan nomorku di ponselmu" ucap Reksa sambil memberikan ponselku padaku,


"Iya. Nanti aku akan langsung mengabarimu jika sudah sampai, sekali lagi terimakasih ya Reksa aku pergi dulu" ucapku berpamitan,


Reksa tersenyum lebar membalasku dan aku segera menghentikan taxi lalu masuk ke dalam dan pergi meninggalkan area rumah sakit menuju kediamanku yang tak jauh dari universitas tempatku menuntut ilmu.


Sesampainya di kosan, aku sudah disuguhkan dengan pekerjaan di mana kosanku cukup berantakan dan banyak debu di depan terasnya karena sudah aku tinggalkan selama sehari semalam.

__ADS_1


"Wah ..wah ...Elisa kau sudah disajikan dengan pekerjaan di saat kau baru sembuh, benar benar menyedihkan" gerutuku merasa kasihan pada diri sendiri,


__ADS_2