
Saat itu juga aku mulai sadar dan rasa kepercayaan aku terhadap Devinka perlahan mengurang.
"Dika kau benar, aku memang tidak tahu apapun tentangnya dan aku memang bodoh karena mempercayainya" ucapku sambil tersenyum murung,
Dika memberikan aku sebuah minuman dan dia memintaku untuk meminumnya untuk menenangkan diri.
"Minum itu, kau akan jauh lebih tenang setelah meminumnya" ucapnya dan segera aku lakukan.
Saat meminum minuman tersebut rasanya memang sangat enak dan menyegarkan namun itu tetap tidak akan merubah apapun tentang nasibku dengan Devinka saat ini, tapi walau begitu aku tetap menghargai kebaikan Dika.
"Aaahh....minuman buatanmu memang selalu enak dan luar biasa Dika, terimakasih sudah mengijinkan aku mencobanya" ucapku sambil tersenyum menyembunyikan luka.
Padahal disisi lain Dika sendiri tahu bahwa Elisa sebenarnya masih menyimpan rasa sakit di hatinya, Dika terus mengajakku mengobrol dan sesekali dia menggodaku hingga aku terus tertawa karena ulahnya dia juga memberikan aku kue yang sangat enak dan aku baru tahu jika di cafe itu juga menyediakan menu kue seenak itu.
Berkat Dika aku bisa melupakan sejenak permasalahan mengenai Devinka dan tanpa sadar ketika perutku sudah kenyang aku benar-benar merasa mengantuk dan memilih untuk tidur dengan posisi duduk di depan meja begitu saja, sedangkan saat itu Dika tengah pergi ke kamar mandi dahulu.
"Aaahhh...aku mengantuk sekali" ucapku sambil menguap.
Aku sungguh tidak bisa menahannya hingga aku langsung tertidur dengan cepat meski dalam posisi duduk seperti itu.
Aku juga tidak terlalu perduli dengan pengunjung yang ada disana karena ini sudah cukup malam dan mereka pergi satu per satu meninggalkan cafe tersebut, hingga tidak lama ketika Dika kembali.
Dika tersenyum melihat Elisa yang bisa tidur dimanapun sembarang seperti itu, dia juga kembali duduk di kursinya menghadap pada Elisa dan terus memperhatikan wajah Elisa yang tengah tertidur dengan lelap.
"Dasar ceroboh, bisa-bisa dia tidur di tempat umum seperti ini, bagaimana jika ada pria kurang ajar yang menciumnya tiba-tiba, aaahhh wajahnya juga sangat cantik bahkan ketika dia tidur" ucap Dika pelan sambil mengelus rambut Elisa pelan.
__ADS_1
Visual Elisa dan Dika
Beberapa saat berlalu dan cafe juga sudah tutup tapi Elisa belum juga bangun, akhirnya terpaksa Dika menggendongnya dan membawa dia masuk ke dalam mobil, Dika berniat mengantarkan Elisa pulang namun dia seperti tidak rela dengan kepergian Elisa, akhirnya dia pun justru malah membawa Elisa pulang ke rumahnya.
Kebetulan kedua orangtuanya juga tengah tidak ada di rumah dan memang kedua orangtuanya tersebut tidak pernah mempermasalahkan apapun yang Dika lakukan, selama itu tidak melewati batas. Saat Dika menggendong Elisa untuk masuk ke rumahnya dia sangat kaget ketika melihat ibunya yang membukakan pintu untuk dia.
"DIKA? Kau......" Ucap ibunya dengan mata yang terbelalak lebar.
Dika juga kaget dan panik dia segera menyuruh ibunya untuk segera diam, karena dia takut Elisa akan bangun.
"Syutt....diamlah ibu aku akan menjelaskannya nanti" ucap Dika sambil segera membawa Elisa masuk dan menidurkan dia di kamar tamu.
"Duduk!" Ucap ibunya dengan tegas.
Dika segera duduk di hadapan ibunya dengan perasaan takut, cemas dan gugup dia segera menjelaskan semuanya kepada sang ibu namun ibunya sudah lebih dulu memotong ucapannya itu.
"Ibu tolong jangan salah paham dulu ini tidak seperti yang kau..." Ucap Dika tertahan,
"Apa....tentu ibu akan salah paham, bagaimana kau bisa membuat gadis itu tertidur dan kau menggendongnya, lalu kenapa kau membawanya pulang apa yang akan kau lakukan pada gadis cantik itu jika ibumu ini tidak ada di rumah? Apa kau akan...." Ucap itunya menyelidiki,
"Aish....ibu ini apa-apaan sih, jangan berpikiran terlalu jauh aku tidak mungkin melakukan hal seperti itu" ucap Dika menjelaskan,
"Ayolah Dika kau ini sudah dewasa jika kau melakukannya ibu juga tidak akan keberatan, dan gadis yang kau bawa pulang untuk pertama kalinya dia sangat cantik ibu menyukainya, katakan siapa namanya, dimana rumahnya dan siapa orangtuanya, cepat katakan Dika ibu akan segera menemui mereka dan menikahkan kamu dengannya" ucap ibu Dika begitu antusias,
__ADS_1
"Ibu! Sudah cukup kau ini apa-apaan sih, jangan terlalu berpikiran jauh dia hanya temanku meski aku menyukainya dia menyukai pria lain dan dia hanya hidup seorang diri, keluarganya sudah tidak ada dia di besarkan di panti asuhan, makanya aku membawa dia pulang aku hanya kasihan padanya" ungkap Dika yang tanpa sadar justru malah memberitahu semuanya pada sang ibu.
Ibu Dika juga sangat di luar dugaan dia langsung terlihat sedih ketika mendengar tentang Elisa dari putranya itu, dia bahkan sampai menangis terisak ketika mengetahuinya.
"Hiks....hiks...dia sama persis ketika ibu masih remaja, dia sangat kasihan kau harus menjaganya dan jangan coba-coba menyakitinya" ucap ibu Dika yang tiba-tiba saja malah membela Elisa.
Dika sangat kaget ketika mendengar ibunya menyukai Elisa padahal sebelumnya dia kira ibunya itu akan marah kepadanya karena dia membawa pulang seorang gadis di tengah malam tanpa sepengetahuannya namun ternyata ibunya justru malah merasa senang seperti itu.
"Bu apa kau waras, anakmu membawa gadis pulang di tengah malam kenapa kau malah terlihat senang seperti itu, dan mengkhawatirkan gadis asing tersebut?" Ucap Dika merasa keheranan dengan sikap ibunya sendiri,
"CK....dasar anak bodoh! Tentu saja ibu sangat senang gadis itu sangat cantik dan ini juga pertama kalinya ibu melihat kamu dekat dengan wanita, kau tahu ibu sudah menyiapkan berapa puluh kencan buta untukmu tapi kau selalu tidak datang dan menolak mereka semua dengan kasar, kau bahkan tidak sudi tanganmu disentuh oleh ibumu sendiri apalagi wanita lain, ibu sempat takut kau tidak menyukai wanita karena selalu dengan teman-teman The Boys mu itu, tapi setelah melihat ini ibu tahu bahwa kau pria normal dan kau sangat mirip dengan ayahmu, kau pasti hanya menyukai gadis itu kan? Ayo mengaku lah ibu akan dengan senang hati membantumu" ucap ibu Dika mendukungnya penuh.
Sebenarnya Dika sangat senang karena ibunya sudah memberikan restu kepadanya bahkan disaat dia sendiri tidak tahu apakah dia bisa bersama Elisa atau tidak.
"Bu jangan terlalu senang, gadis itu menyukai pria lain" ucap Dika lalu pergi masuk ke dalam kamar meninggalkan ibunya,
"Heh, bocah keras kepala, tidak tahu siapa yang gadis itu sukai ibu akan tetap membuatnya bersamamu, camkan itu!" Teriak ibu Dika yang sangat bersemangat.
Dia lagi-lagi mengintip Elisa yang tidur di kamar tamu dan terus tersenyum senang melihat wajah Elisa yang sangat cantik dan terlihat manis, dia sudah jatuh hati pada Elisa hanya dengan sekali melihatnya bahkan itu ketika Elisa bangun.
"Ya ampun gadis ini sempurna, tinggi badannya dan wajahnya yang cantik itu aaahh dia mirip sepertiku saat muda, tidak disangka putra bodohku bisa memilih calon istri yang sempurna, dia cantik bahkan saat tidur" ucap ibu Dika kesenangan sendiri.
Bahkan saking senangnya ibu Dika itu langsung menghubungi suaminya yang tidak lain adalah ayah Dika, ibunya itu langsung mengoceh dan memberikan kabar bahagia itu kepada suaminya sepanjang malam.
Bahkan di keesokan paginya ibu Dika segera menyiapkan sarapan dengan berbagai menu yang banyak dia sengaja menyuruh pelayan di rumahnya untuk menyiapkan makanan terbaik bagi tamu pentingnya.
__ADS_1