
Dengan perasaan yang malu dan tidak menentu aku segera menarik sabuk pengaman yang ada di samping badanku namun saat aku mencoba menariknya itu sulit sekali hingga aku sudah berusaha menggunakan tenagaku namun tetap saja itu tidak berhasil, sampai akhirnya tiba-tiba kak Eril menghentikan sejenak mobilnya ke pinggir dan dia langsung mendekati tubuhku yang membuat aku refleks terpejam dengan wajah yang sedikit takut.
Saat itu aku pikir kak Eril akan melakukan sesuatu kepadaku sampai dia mulai berkata bahwa dia telah membantuku memakaikan sabuk pengamannya dan saat itu juga wajahku langsung merah padam seperti udang rebus yang tidak bisa aku sembunyikan lagi meski aku menutupinya dengan kedua tangan.
"Sudah, sampai kapan kau akan terpejam begitu, sabuk pengamannya sudah di pasangkan" ucap kak Eril yang membuatku langsung kembali terjaga,
"Astaga, ternyata dia hanya memasangkan sabuk pengaman, ku pikir? Arghhh Elisa kenapa pikiranmu kotor sekali sih, membuat diri sendiri semakin malu saja" gumamku dalam hati yang sangat kesal pada diri sendiri.
Aku sangat malu dan hanya bisa tersenyum kecil sampai kak Eril kembali membawaku ke kantor setelah beberapa saat kami berkeliling, dan sesampainya di kantor aku langsung berlari keluar dari mobilnya dan pergi lebih dulu meninggalkan dirinya, aku tidak bisa jika harus terus berhadapan dengan kak Eril setelah serangkaian kejadian yang memalukan sudah terjadi diantara aku dan dia.
Aku juga tidak berani kembali ke ruang departemen dua karena aku yakin di sana masih ada kak Kris juga kak Anne aku hanya takut untuk menghadapi mereka saat ini makanya aku lebih memilih untuk pergi ke dapur tapi saat aku hendak berjalan memasuki dapur perutku tiba tiba saja terasa sangat sakit bahkan sakitnya itu tidak tertahankan.
"Aduhhh.....kenapa perutku sesakit ini, aku tidak makan makanan aneh kenapa bisa begini?, Ehh tunggu tanggal berapa sekarang?" Ucapku mulai panik sambil memeriksa tanggal di ponselku.
Dan betapa kagetnya aku saat mengetahui bahwa itu adalah tanggal 20 Februari di mana itu adalah jadwal datang bulanku bulan ini, aku langsung berlari ke kamar mandi untuk memeriksa dan ternyata benar saja semuanya terjadi dan bahkan sudah menembus celana dalamku.
Aku tidak bisa keluar dengan keadaan seperti itu, aku juga takut itu akan menembus rok yang aku gunakan, tapi tidak ada yang bisa menolongku saat ini, hanya kebingungan yang menyelimutiku ketika berada di dalam kamar mandi dapur, hingga tiba tiba saja seseorang mengetuk pintu kamar mandi dengan keras dan memintaku untuk segera keluar.
"Tuk...tuk...tuk hey...keluar kau! Siapa yang di dalam?, Aishh aku sudah tidak tahan lagi heyy" teriak seorang pria yang suaranya seperti tidak asing di telingaku.
"Ehh....itu, suara itu?, Aahh iya itu pasti Devinka" ucapku menebak,
Karena aku sudah sangat yakin bahwa orang yang berteriak di luar sana adalah Devinka aku segera meminta bantuan kepadanya sebab saat ini hanya dia yang bisa memberikan bantuan kepadaku, dan aku juga tidak akan berani jika harus meminta bantuan kepada orang lain.
"Devinka... Devinka, ini aku Elisa si cewek ayam yang sering kau hina itu, Devinka tolong bantu aku... Aku terjebak" teriakku sangat keras,
__ADS_1
"Ternyata kau, cepat keluar atau aku akan mendobrak pintunya!" Bentak Devinka yang justru malah marah padaku.
"CK... Aku meminta bantuan kepadamu Devinka tidakkah kau mengerti maksudku?" Balasku dengan sedikit kesal.
Devinka benar benar sulit untuk diajak bekerja sama aku justru malah kesal saat berusaha meminta bantuan padanya, sungguh orang yang sangat menyebalkan.
Devinka mulai berpikir dan dia tiba-tiba saja membelalakkan matanya lalu balik bertanya kepada Elisa karena sebelumnya dia pikir Elisa hanya bercanda namun setelah mendengarnya untuk yang kedua kali akhirnya Devinka mengerti dan dia segera menanyakan masalahnya kepada Elisa.
"Apa masalahnya kenapa kau bisa terjebak di dalam, aku bisa membukakan pintu ini untukmu" balas Devinka dengan segera,
"Tidak... Tidak, masalahnya bukan itu tapi aku... Aku..." Ucapku tertahan karena aku terlalu malu untuk mengatakan masalahku padanya.
Mau bagaimanapun Devinka itu seorang pria aku tidak bisa membicarakan mengenai hal kewanitaan kepada dia dengan terang terangan seperti ini.
Maka dari itu aku sempat merasa sangat ragu untuk memberitahukan kepadanya masalahku, namun karena Devinka mendesakku akhirnya aku malah keceplosan memberitahunya dengan suara yang keras dan membentak, mungkin suaraku itu akan terdengar sangat jelas keluar sana.
"Aku datang bulan Devinka dan aku butuh pemb*lut apa kau mengerti hah!" Bentakku keceplosan,
"Astaga?, Apa yang baru saja aku lakukan, aishhh bodoh sekali kenapa aku malah membongkarnya dengan sangat jelas, bagaimana jika di luar sana ternyata ada beberapa orang lain yang tengah menyeduh kopi atau makanan?, Aaahh mereka juga akan mendengar betapa bodohnya aku" gerutuku setelah menyadari kesalahan sendiri.
Aku sangat malu dan bingung harus berbuat apa lagi sehingga aku berusaha untuk meminta maaf kepada Devinka namun ketika aku kembali berteriak memanggilnya justru malah tidak ada jawaban ladi dari dia, dan sepertinya Devinka benar benar sudah pergi tanpa mau membantuku.
"Devinka...apa kau masih disana?, Devinka aku minta maaf tadi aku keceplosan" ucapku yang tidak mendapatkan balasan.
Suasana terasa kembali sunyi dan aku mulai sadar bahwa Devinka mungkin saja telah pergi dari sana saat aku mengatakan semuanya dengan keras dan jelas, aku tahu itu kesalahanku dan aku juga tidak menyalahkan dia lagi.
__ADS_1
"Huh, bodoh sekali aku berharap pada orang sepertimu Devinka, sudah jelas kau tidak akan membantuku apalagi saat tau apa yang aku butuhkan, mana mungkin dia mau membelikan aku pemb*lut perempuan, itu pasti akan melukai harga dirinya, cihh apa aku terlalu munafik" gerutuku sendiri dengan lesu.
Aku kembali duduk terdiam di dalam kamar mandi dan tidak bisa melakukan apapun, sedang Devinka sebenarnya saat mendengar ucapan dari Elisa dia sudah langsung mengerti apa yang harus dia lakukan untuk membantunya.
Sehingga Devinka pergi mencari karyawan perempuan dan menyuruhnya untuk membeli barang tersebut, sampai ketika dia telah mendapatkannya, Devinka segera kembali ke dapur dan menemui Elisa lagi, dia melemparkan barang tersebut lewat lubang yang ada di bawah pintu kamar mandi di sana.
"Itu... cepat selesaikan urusanmu, dan berhenti mengurung diri di dalam kamar mandi" ucap Devinka setelah melemparkannya.
Aku sangat senang ketika melihat barang yang aku butuhkan sudah ada di depan mataku, aku pun langsung saja menggunakannya dan semua masalah telah terpecahkan, setidaknya sekarang aku tidak perlu takut lagi dengan bocor, tapi meski satu masalah terpecahkan masih ada satu masalah lainnya.
Sekretaris aku harus menghadapi Devinka yang berada di luar pintu menungguku, aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan terhadap diriku karena sudah berani beraninya menyuruh dia membawakan hal memalukan seperti ini.
"Sekarang bagaimana aku bisa menghadapi Devinka, dia pasti menahan marah padaku" gerutuku pelan dan ragu.
"Hey, apa kau akan terus berada di dalam?, Tidak kah kau mau mengucapkan sesuatu dahulu terhadapku yang sudah membantumu?" Teriak Devinka sangat keras.
Aku pun terpaksa harus memberanikan diriku sendiri dan mulai membuka pintu dengan perlahan lalu berjalan pelan dengan kepala yang terus aku tundukkan kebawah menghampiri Devinka.
"A...aku...itu... Terimakasih sudah mau membantuku" ucapku dengan terbata bata,
"Itu saja?" Tanya Devinka lagi,
"Aku juga minta maaf karena membentak mu sebelumnya" balasku lagi,
"Huh, baguslah jika kau sudah mengetahui di mana letak kesalahanmu sendiri, dan lain kali kau tidak boleh ceroboh seperti ini lagi, bagaimana jika pria lain yang ada disini tadi?, Apa kau tidak akan merasa malu meminta bantuan seperti itu kepada orang lain?, Untunglah aku yang datang" ungkap Devinka memberiku nasehat.
__ADS_1
Ini adalah pertama kalinya Devinka berbicara seperti itu dan seakan dia memperdulikan nasibku, entah ini hanya perasaanku saja atau memang Devinka sebenarnya memiliki sedikit rasa kepedulian terhadapku.