Bos Ternyata Musuhku

Bos Ternyata Musuhku
Mencari Ikat Rambut


__ADS_3

Elisa yang saat itu baru sampai di kosa nya dia segera membersihkan diri dan terburu buru kembali lagi ke kampus, karena waktunya sudah tidak banyak lagi Elisa terpaksa dia harus berlari sekuat tenaga, awalnya Elisa ingin memakai sepeda motor agar bisa lebih cepat namun mengingat Devinka yang sudah menjahilinya Elisa khawatir motornya akan dijahili juga oleh mahasiswa lain, sehingga tak ada pilihan aman lainnya selain berlari hingga sampai di gedung kampus.


Lili yang saat itu tengah cemas dengan Elisa karena semua panggilan telponnya tidak ada satu pun yang dibalas oleh Elisa, Lili berjalan mondar mandir di depan pintu kelas dia melihat dosen berjalan menghampiri nya dan hendak masuk ke dalam kelas namun hingga saat itu Elisa belum juga terlihat.


"Ya ampun Ell..kamu kemana sih, mana ini dosen killer lagi, bagaimana kalo absennya akan mempengaruhi nilai dia dan membuat beasiswanya terancam" gumam Lili merasa sangat cemas.


Sampai tiba tiba dari belakang dosen tersebut terlihat Elisa yang berlari terengah engah melihat itu Lili langsung berjalan menyapa sang dosen dan membuat dosen itu tidak menyadari kedatangan Elisa dari belakang dan masuk ke dalam kelas, untunglah semua tepat pada waktunya hingga kali ini Elisa bisa selamat berkat bantuan Lili meski harus terengah engah dan merasa sangat kepanasan.


"Hah...hah...hah... terimakasih Li, kamu sangat membantuku tadi" ucap Elisa berterimakasih,


"Sama sama El, aku juga sudah sangat cemas sekali tadi, aku pikir kamu tidak akan kembali... Ahh sekarang aku sangat lega" balas Lili sambil mengusap dadanya,


"Iya, tidak mungkin aku melewatkan dosen killer ini, itu akan berpengaruh pada beasiswaku, dan aku tidak mau itu terjadi" balas Elisa sambil terduduk lemas,


Pelajaran sudah di mulai dosen terus menjelaskan materi yang dia ajarkan kepada para mahasiswa di sana, dan Elisa terus berusaha fokus mendengarkan serta mencatat semua poin penting di dalam buku catatannya meski keringat bercucuran di dahi, rambut panjang yang terurai dengan lembut karena Elisa belum sempat mengikatnya akibat terlalu terburu buru, rambutnya itu sedikit mengganggu Elisa, karena terus menghalangi pandangannya dan membuat dia merasa sangat panas dan gerah.


Elisa mencari ikat rambut miliknya di dalam tas namun dia tidak menemukannya, Elisa juga mencari di saku pakaian namun tetap tidak ada, dia berusaha mengingat ngingat lagi dimana terakhir kali dia menaruh ikat rambutnya tersebut.


"Ahh... Iya, tadi pagi aku jelas memakainya di tanganku, tapi kenapa sekarang tidak ada, apa jangan jangan jatuh ya, tapi jatuh di mana?" Gumam Elisa sambil menggaruk rambut diatas kupingnya.


Hingga dosen selesai menjelaskan Elisa langsung meminta bantuan Lili untuk ikut mencari ikat rambut kesayangannya.


"Elisa....apa yang sedang kamu cari?" Tanya Lili merasa heran karena Elisa yang sibuk menunduk dan melihat kesana kemari,

__ADS_1


"Itu... ikat rambut kesukaanku, aku tidak bisa menemukannya, tolong bantu aku mencarinya" ucap Elisa meminta bantuan.


Mereka pun mencari ikat rambut tersebut di sekitar kelas bahkan sampai ke kamar mandi tempat dimana Elisa tadi membersihkan sisa kotoran kopi di wajah dan sekujur tubuhnya namun sudah berkali kali mereka mencari tetap saja ikat rambut tersebut tidak bisa ditemukan.


"Ell...aku sudah lelah, kita sudah tiga kali mencari ikat rambut itu di dalam kelas dan kamar mandi sampai pinggangku rasanya mau patah" ucap Lili mengeluh sambil memegangi pinggangnya,


"Hmm...kalau kamu mau ke kantin lebih dulu pergi saja, aku masih harus mencari ikat rambutku" jawab Elisa tak putus asa,


"Ell...sudahlah itu kan hanya ikat rambut, aku punya banyak di rumah nanti aku berikan padamu deh" ucap Lili yang tidak mengetahui apapun tentang ikat rambut tersebut,


"Masalahnya ikat rambut itu adalah kenang kenangan terakhir dari kedua orangtuaku sebelum mereka meninggal dunia dan menitipkan ku ke panti asuhan" jawab Elisa sambil tertunduk lesu dan menghentikan usaha pencariannya.


Mendengar itu Lili langsung menghampiri Elisa dan meminta maaf padanya dengan penuh rasa bersalah, Lili sama sekali tidak tahu kalau ikat rambut tersebut ternyata sebuah barang yang memiliki kisah juga kenangan sangat berharga bagi Elisa.


"Sudahlah Li, lebih baik kamu ke kantin saja lebih dulu, aku bisa mencarinya sendiri, maaf sudah merepotkanmu" jawab Elisa tak enak hati pada Lili,


"Apa kau tidak marah padaku jika aku ke kantin?" Tanya Lili dengan ragu,


"Haha...tentu saja tidak, untuk apa aku marah padamu, sudah cepat pergi jangan lupa aku titip roti nanas seperti biasa yah" jawab Elisa di iringi sedikit tawa.


Lili merasa tenang setelah mendapatkan jawaban dari Elisa dia pun segera bergegas ke kantin karena perutnya sudah sangat lapar, saat Lili pergi, Devinka dan Reksa masuk ke dalam kelas, mereka datang kembali ke kelas karena ponsel milik Reksa yang tertinggal.


"Rek cepat ambil ponselmu aku sudah lapar nih" teriak Devinka di depan pintu kelas,

__ADS_1


Devinka berdiri sambil memegangi tas punggungnya dan dia menunduk ke bawah lalu melihat tali sepatunya yang lepas refleksi dia segera membenarkannya sembari menunggu Reksa kembali, saat selesai mengikat tali sepatunya, tak sengaja Devinka melihat sebuah pantulan cahaya yang menyilaukan matanya, sampai ketika dia mengamati dan menarik sebuah kepala boneka panda yang terbuat dari bahan seperti kaca yang membuat cahaya memantul hingga mengenai wajahnya hingga membuat matanya silau.


"Benda apaan ini?, sepertinya gelang" ucap Devinka pelan.


Saat tengah berpikir Reksa datang menghampirinya dan menepuk pundak Devinka.


"Ayo Dev, aku sudah menemukannya" ucap Reksa mengagetkan Devinka.


"Aishh..kau mengagetkanku saja" balas Devinka sambil bangkit berdiri,


Reksa hanya tersenyum sekilas dan dia langsung menarik lengan Devinka, saat itu Devinka memasukkan benda yang dia pikir gelang tadi ke dalam saku jaketnya dan pergi ke kantin bersama Reksa, sementara Elisa yang masih sibuk fokus mencari ikat rambut miliknya dia sama sekali tidak menyadari kedatangan Reksa ke dalam kelas sebelumnya, entah mungkin karena Elisa yang bertubuh mungil dan dia berjongkok di bawah sambil mencari ikat rambut sehingga tidak terlihat akibat banyaknya kursi oleh Reksa, begitu pun dengan Elisa yang tidak sadar bahwa Reksa masuk ke dalam kelas.


Sudah sekitar setengah jam Elisa terus mencari ikat rambut miliknya tersebut namun sampai Lili kembali ke kelas, Elisa masih belum menemukannya, saat itu Lili datang ke kelas dengan membawa banyak cemilan di tangannya dia melihat Elisa yang duduk di bangku pojok dengan tangan yang menahan dagunya dan wajah yang putus asa, Lili sudah menduganya pasti Elisa tidak berhasil menemukan ikat rambut tersebut.


"Elisa ini roti nanas kesukaanmu, aku mentraktirmu kali ini, nih aku juga membelikan mu banyak cemilan dan minuman, kamu makan dan habiskan yah" ucap Lili sambil menaruh semua makanan yang dia bawa diatas meja Elisa,


"Ya ampun Li, ini banyak sekali mana bisa aku menghabiskannya sekaligus" jawab Elisa dengan mata yang membelalak,


"Kamu bisa membawanya pulang, sudah yah Elisa jangan sedih lagi" ucap Lili berusaha menghibur,


"Iya aku tidak sedih lagi, tapi tetap saja aku terpikirkan ikat rambut itu, soalnya aku selalu memakai ikat rambut itu kemana pun aku pergi, rasanya ikat rambut itu sudah seperti jimat keberuntungan untukku" jawab Elisa memberitahu alasannya,


"Kalo begitu kita cari saja yang persis seperti ikat rambut milikmu agar kamu tidak merasa kehilangan, anggap saja sebagai pertanggung jawabanmu karena tak sengaja menghilangkannya, bagaimana?" Ucap Lili memberikan solusi.

__ADS_1


__ADS_2