Bos Ternyata Musuhku

Bos Ternyata Musuhku
Menangis di pojokan


__ADS_3

Sepanjang perjalanan aku bahkan tidak berani untuk mengangkat kepalaku sebab malu dengan tatapan semua orang yang terus tertuju hanya kepadaku, sampai tiba-tiba saja Devinka dan Reksa menggandeng tanganku bersamaan dan mereka menatap kepadaku sambil tersenyum, aku semakin gugup di buatnya.


Dan berusaha untuk melepaskan genggaman dari mereka berdua.


"Syutt....Devinka lepaskan tanganmu apa yang kamu lakukan?, Reksa kamu juga apa-apaan sih, lepaskan hey" gerutu pelan sambil terus berusaha melepaskan tanganku dari kedua manusia menjengkelkan ini.


Bukannya melepaskan tanganku mereka justru malah menggenggamnya dengan semakin erat dan bertengkar satu sama lain, semakin tidak jelas.


"Reksa.....kau yang lepaskan tangannya, kau tidak dengar yah barusan si chicken bilang apa?" Ucap Devinka membentak Reksa lebih dulu,


"Heh, sudah jelas itu padamu kenapa malah menyalahkan aku" balas Reksa dengan wajah yang nampak sedikit geram,


Devinka yang melihat reaksi seperti itu dia pun menjadi kesal dan langsung menarikku ke arahnya cukup kuat tapi di sisi lain Reksa yang tidak mau kalah juga ikut menarikku lebih kuat hingga membuat aku menjadi bahan tarik menarik antara dua pria sialan itu.


"Tidak chicken kau harus denganku" ucap Devinka sambil menarikku dengan kuat ke arahnya,


"Jelas Elisa harus denganku, iya kan Elisa" tambah Reksa yang menarikku ke arahnya juga.


Aku sangat kesal mereka tidak berhenti menarikku dengan kuat sedangkan saat itu jelas sekali aku menggunakan sepatu hak yang lumayan tinggi membuatku sulit menjaga keseimbangan dalam diriku sendiri, aku sudah berusaha berontak dan meminta mereka melepaskanku tapi tenagaku tidak sanggup melawan tenaga dua orang yang kaut ini.


Sampai akhirnya Ciko dan Dika datang di waktu yang tepat dan mereka berhasil membuat Devinka dan Reksa berhenti menarikku ke arah berlawanan satu sama lain.


"Astaga.... DEVINKA, REKSA! Apa yang sedang kalian lakukan, lepaskan Elisa sekarang juga!" Bentak Dika dan langsung melepaskan pegangan Reksa dari tanganku,


Begitu juga dengan Ciko yang menahan Devinka agar melepaskan genggaman tangannya dari tanganku, aku langsung merasa lemas dan hampir saja terjatuh karena merasa pusing sebab mereka yang terus saling tarik menarik tanganku sebelumnya.

__ADS_1


Aku membungkuk sambil memegangi lututku dan nafas yang sedikit tidak normal juga memegangi kepalaku yang juga terasa sedikit pusing.


"Aduh... Duh....aishh...ini semua gara-gara kalian, eughhh....sudahlah aku mau pergi ke aula sendiri jangan ikuti aku!" Bentakku sangat kesal dan emosi.


Aku berjalan dengan sedikit sempoyongan namun terus berusaha menormalkan pandanganku dan menolak bantuan dari Dika maupun dari Devinka dan Reksa, aku sungguh ingin pergi seorang diri karena tidak ingin terlibat masalah lagi karena mereka.


Hingga sampai di aula aku duduk di meja paling depan dan menunggu semua mahasiswa yang akan di wisuda sampai di aula tersebut, hingga beberapa saat kemudian acara wisuda di mulai satu persatu mahasiswa di panggil ke atas panggung bersama kedua orangtua atau wali mereka, aku melihat Reksa dan Devinka yang sudah di panggil lebih dulu dan mereka di dampingi oleh Ciko dan Dika sebagai wali mereka berdua, sedangkan saat giliranku tiba, aku hanya pergi ke depan seorang diri.


Dan semua orang juga sudah tidak aneh ketika melihatku seperti itu, sebab sejak dulu aku memang selalu sendiri, tidak ada wali dan tidak ada orangtua. Aku terus menguatkan diriku meski orang-orang saling berbisik membicarakan tentangku, aku hanya bisa berpura-pura tidak mendengar ucapan mereka bahkan ketika ada orang yang membicarakan aku tepat di belakangku.


Aku sudah biasa menerima semuanya hanya karena aku sebatang kara, hingga ketika aku turun dan sudah mendapatkan penghargaan sebagai mahasiswa lulusan terbaik tahun ini, aku sama sekali tidak merasa senang dan aku langsung berlari ke luar dari aula juga menjauh dari kerumunan orang yang terlihat begitu bahagia ber swafoto bersama keluarganya yang hadir di acara wisuda tersebut.


Aku berlari dengan menahan air mata yang hampir jatuh sedari tadi, aku menangis seorang diri sambil berjongkok dan menyembunyikan wajahku ke bawah diantara sela sela kakiku, hingga tiba-tiba saja Devinka menghampiriku dan memberikan tisyu kepadaku.


"Ini hapus air matamu" ucap Devinka sambil memberika tisyu tersebut,


Aku mulai mengusap air mataku terus menerus dan berusaha untuk berhenti menangis tapi sayangnya aku tidak bisa menghentikan air mataku yang terus mengalir tiada henti, mungkin aku tidak mengeluarkan suara tetapi air mata tidak bisa dibohongi, air mata sialan itu terus saja keluar menerobos dinding pertahanan di mataku.


Aku tahu Devinka saat itu terus menatap dan memperhatikan aku maka dari itu aku terus berusaha menahan kesedihan di dalam diriku dan menghentikan air mata yang terus keluar dari pelupuk mataku, namun sayangnya aku gagal aku tidak bisa berhenti menangis dan justru di saat aku menahan tangisan itu air matanya malah keluar semakin banyak.


"Chicken jika kau ingin menangis jangan ditahan, keluarkan saja lagi pula tidak ada yang bisa melihatku menangis disini" ucap Devinka kepadaku.


Mendengar ucapan Devinka seperti itu dan dia yang mengusap pucuk kepalaku, aku semakin tidak bisa menahan air mata dan kesedihan di dalam diriku, sehingga tiba-tiba saja aku langsung mencurahkan isi hatiku sekaligus dan menangis sangat keras di hadapan Devinka.


"Huaa....hiks..hiks..hiks...heu...heu...heu....Devinka kenapa kau menyuruhku menangis huaaa..." Suara tangisanku yang sedikit kencang,

__ADS_1


"Eh...eh... chicken berhenti berhenti kenapa kau malah menangis sangat kencang begini, sudahlah pelankan suaramu" ucap Devinka sambil menatap kesana kemari dengan wajahnya yang nampak panik.


Aku pun segera menghentikan tangisanku dan aku segera mengusap kembali sisa air mata di wajahku.


"Devinka kau sialan tadi kau sendiri yang memintaku agar tidak menangis, tapi sekarang kau memintaku untuk berhenti, bagaimana sih" ucapku kesal sambil memukul Devinka pelan,


"Aduhh...aishh... chicken kau gila yah" balasnya meringis kesakitan.


Aku segera bangkit berdiri dan dia tiba-tiba saja menahan tanganku dan meminta untuk pergi bersama dengannya.


"Devinka lepaskan, apa lagi yang mau kau lakukan?" Tanyaku dengan heran dan segera menghempaskan tanganku darinya,


"Ayo ikut aku, kau tidak boleh pergi kemanapun sendirian" ucapnya yang malah mendorong tubuhku terus menerus.


Sampai akhirnya kami sampai di depan aula dan disana sudah ada Reksa yang memegang sebuah buket bunga juga ada Dika yang datang menghampiriku lalu menuntunku untuk melakukan pemotretan bersama teman-teman lainnya yang ada disana, Reksa memberikan buket bunga itu kepada Devinka dan dia memberikannya kepadaku, aku sangat senang dan tersanjung atas apa yang mereka berikan kepadaku.


Sungguh ini adalah hari yang paling menyenangkan dimana aku untuk pertama kalinya setelah keluar dari panti bisa kembali merasakan kehangatan bersama teman-teman, dan bisa berada di dalam foto perpisahan di tengah-tengah mahasiswa lainnya.


Aku tahu semua ini berkat Devinka bahkan disaat kami sudah bubar Reksa malah memintaku untuk berfoto berdua saja dengan Devinka dan mereka terus memaksaku hanya Dika yang berpihak padaku dan tidak memaksaku saat itu.


"Elisa cepat menggeser aku akan memotret mu dengan Devinka, dan kau Dika menyingkirkan kau memperburuk pemandangan saja" ucap Reksa yang membuat Dika kesal dan mengetuk kepalanya cukup keras.


"Peletak....dasar kau memangnya kau pikir aku ini apa hah?" Bentak Dika tidak terima,


"Ayolah Dika kau tidak paham dengan maksudku biarkan Devinka berfoto dengan Elisa sekali saja, kau jangan menjadi orang ketiga diantara mereka" ucap Reksa sambil berbisik pada Dika sehingga saat itu aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas.

__ADS_1


Foto Devinka dan Elisa di acara wisuda.



__ADS_2