
Beberapa menit kemudian akhirnya kami sampai di tempat tujuan, aku segera turun dari mobilnya dan tidak lupa berterimakasih kepada Dika karena telah mengantarkanku kembali.
"Dika terimakasih atas tumpangannya dan minuman itu juga hehe" ucapku di balik jendela mobilnya,
"Ya santai saja, sampai jumpa Elisa" ucap Dika lalu dia segera melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.
Aku juga segera kembali ke kosan milikku dan segera membersihkan diri, lalu beristirahat lagi karena masih merasa cukup lelah, sedangkan disisi lain Dika langsung berubah menjadi lesu dan murung dia tadinya memang sengaja mengatakan isi hatinya kepada Elisa dengan sungguh-sungguh namun ketika melihat reaksi dari Elisa yang begitu syok seperti tadi, Dika langsung menyembunyikan kebenaran yang dia rasakan.
Dia mengalihkan pembicaraannya dengan mengatakan bahwa itu hanyalah sebuah candaan, padahal itu adalah sebuah kebenaran yang memang keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam kepada seorang Elisa, kini ketika dia sudah mengantarkan Elisa Dika pergi menuju basecamp The Boys yang biasa dia datangi bersama Ciko, Reksa dan Devinka.
Hingga ketika sampai disana, teman-teman yang lain menatap dengan heran karena Dika datang dengan wajah yang begitu kusut dan dia terlihat cukup kacau, Reksa yang memang paling aktif dan paling perhatian dia gruf tersebut dia langsung menghampiri Dika dan duduk di sampingnya lalu mulai mengajak Dika mengatakan apa yang terjadi kepada dirinya hingga membuat dirinya terlihat begitu kusut hari ini.
"Eh, Dika ada apa denganmu kenapa kau terlihat begitu kusut, ayo cerita padaku" ucap Reksa sambil merangkul Dika.
Dika tidak mengeluarkan suara sedikitpun dia hanya menoleh sebentar ke arah Reksa dengan melemparkan tatapan sinis dan dia menghembuskan nafas lesu lalu segera menggeser menjauh dari tempat duduknya yang dekat dengan Reksa.
Tentu saja tingkahnya tersebut membuat Ciko, Devinka dan Reksa yang ada disana langsung menatap dengan heran dan mereka langsung berkumpul mendekati Dika karena merasa cemas dan juga penasaran tentang apa yang membuat Dika seperti ini, sedangkan Dika dia hanya bisa merotasikan matanya dan segera membentak menyuruh teman-temannya agar menjauh dari sisinya.
"Aishh....ada apa sih dengan kalian?, Sana pergi jangan hiraukan aku anggap saja aku ini bayangan yang tidak terlihat" ucap Dika dengan wajah yang menyedihkan,
"Eh...eh...eh, Dika kenapa kau begitu sensi apa kau baru saja ditolak wanita yah?" Ucap Ciko menebak.
__ADS_1
Dan memang tebakkan Ciko tidak pernah meleset, dia selalu benar dan selalu mengetahui semuanya, dengan feeling yang dia milik dia memang pria yang cukup hebat dan peka, tetapi walaupun Ciko berhasil menebaknya Dika masih tetap enggan mengatakan yang sebenarnya dia langsung menyanggah ucapan Ciko tersebut karena tidak ingin membuat teman-temannya yang lain mengetahui tentang hal yang dia lakukan barusan kepada Elisa.
"CK...memangnya wanita mana yang berani menolak ku, jangan sembarangan kau" balas Dika dengan berdecak menyepelekan,
"Jika begitu apa lagi yang membuatmu kesal, katakan pada kami ini tidak seperti kau yang biasanya jika kau menyembunyikan sesuatu dari kami" tambah Devinka dengan tak kalah penasaran,
"Aahh...sudahlah tidak semua harus aku ceritakan kepada kalian kan, lagi pula ini tidak ada hubungannya dengan kalian, aku hanya butuh istirahat sebentar aku akan tidur jadi tolong jangan berisik" ucap Dika sambil bangkit berdiri dan langsung masuk ke dalam kamar di basecamp tersebut.
Devinka, Ciko dan Reksa hanya bisa saling tatapan satu sama lain dan mereka merasa heran dengan tingkah Dika yang terlihat aneh akhir-akhir ini, mereka juga tidak bisa lagi mendesak Dika karena dia sudah mengatakan tidak akan memberitahunya, walaupun Dika mengatakannya secara tidak langsung namun sebagai seorang sahabat tentu saja mereka sudah memahami arti kalimat tersebut.
"Sudahlah sebaiknya kita jangan menggangunya lagi, mungkin ini urusan dengan keluarganya" ucap Ciko menetralkan suasana tegang barusan,
Devinka segera pergi dari basecamp karena dia harus mengurus beberapa hal di perusahaan bersama dengan orang kepercayaan ibunya dan dia segera melaksanakan tugas pertamanya belajar mengenai perusahaan yang kelak akan dia pimpin. Reksa yang memang tidak terlalu dekat dengan Ciko dia pun merasa canggung jika hanya berdua di basecamp dengan Ciko saja terlebih raut wajah Ciko yang selalu terlihat datar serta jarang sekali tersenyum membuat Reksa sedikit kesulitan untuk mengajaknya bercanda.
Dia pun berlari mengejar Devinka dan dia malah ikut bersama Devinka saat itu juga.
"AA....Ciko aku harus ikut dengan Devinka kau tahu kan aku ini bagaimana, aahah by Ciko. Devinka tunggu aku!" Teriak Reksa yang beralasan tidak jelas.
Ciko yang sudah memahami maksudnya dia hanya menatapnya dengan datar dan menghembuskan nafas kasar sambil menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah teman-temannya yang sangat menjengkelkan untuk dia lihat.
"Dasar mereka sejak kecil hingga dewasa tidak pernah berubah sedikitpun" gerutu Ciko dan dia pergi mengetuk pintu kamar Dika.
__ADS_1
Ciko tahu semua itu pasti bukan tentang persaingan perusahaan ataupun bisnis karena Ciko paling dekat dengan Dika dia jauh lebih memahami Dika dibandingkan dengan Reksa serta Devinka dan dia tahu bahwa Dika tidak beristirahat saat itu. Maka dari itu Ciko mengetuk pintunya dan mengajak Dika untuk mengobrol bersamanya.
"Tok...tok...tok...Dika keluarlah aku tahu kau tidak tidur, jangan coba-coba membodohi ku" ucap Ciko yang membuat Dika langsung menurutinya.
Tidak berselang lama sejak Ciko mengetuk pintunya Dika langsung keluar dari kamar dan wajahnya tidak kalah kusut dari sebelumnya dia langsung berjalan lesu dan duduk di sofa tanpa semangat sedikitpun di dalam dirinya sedangkan Ciko segera duduk juga di sampingnya dan tanpa di minta lagi Dika sendiri yang mulai bercerita mengatakan semuanya kepada Ciko.
"Ciko apa yang kurang dariku?, Kenapa dia tidak bisa menerima cintaku?" Ucap Dika tiba-tiba saja bertanya,
"Aishh....sudah kuduga kau di tolak wanita, dasar Dika" gerutu Ciko sambil menepuk jidatnya pelan.
Sebenarnya saat itu Ciko ingin sekali tertawa tapi dia tetap menahannya karena takut menyinggung Dika dan tidak ingin membuat Dika semakin kesal dalam keadaan seperti ini, dia pun berusaha menahan dan memahami Dika.
"Ayolah Ciko aku selalu kalah dari Devinka dalam segala aspek, bahkan keluargaku sendiri selalu mendukung Devinka, mereka tidak pernah menghargai usahaku dalam membesarkan perusahaan selama ini dan kini wanita yang sudah aku sukai sejak lama justru malah lebih dekat dengan Devinka juga, apa menurutmu itu adil?" Ucap Dika sambil diakhiri dengan nafasnya yang lesu.
Ciko menepuk pundak Dika beberapa kali dan dia mulai berbicara kepada Dika dengan baik.
"Dika kau itu hebat dan Devinka juga tak kalah hebat darimu, kita ber empat sama hebatnya itulah kenapa kita menjadi yang terhebat dan terkenal, kau tahu jika The Boys tidak ada kita tidak akan seperti saat ini, keluarga kita juga mendapatkan keuntungan yang tidak ternilai dan itu terjadi karena kita bersatu, aku harap kau mengerti dan jangan lagi membandingkan dirimu dengan Devinka maupun orang lainnya, kau harus percaya pada kemampuan dirimu sendiri" ucap Ciko memberikan nasehat kepada Dika,
"Tetap saja Ciko, aku mungkin bisa mengalah dan tidak masalah jika itu tentang pekerjaan dan bisnis keluarga, tapi jika ini mengenai dia aku tidak akan mengalah untuknya kau tahu kan dia juga pernah merusak robotku sejak kecil aku tidak ingin dia merebut milikku lagi" ucap Dika yang masih keras dengan kemauannya sendiri,
"Dika kau bisa melakukan apapun yang kau inginkan, tapi ingat jangan sampai semua itu menghancurkan persahabatan yang sudah kita bangun sejak kecil" balas Ciko sambil menepuk lagi pundak Dika.
__ADS_1