Bos Ternyata Musuhku

Bos Ternyata Musuhku
Panik


__ADS_3

Sebenarnya saat itu nyonya Merisa juga tidak bermaksud untuk bertengkar dengan Devinka hanya saja mengingat kini kondisi dari suaminya yang semakin memburuk mengharuskan dia untuk mendidik dan terus mendesak Devinka agar segera bertanggung jawab untuk mengurusi perusahaan dalam waktu yang lebih cepat.


Namun keinginan ibunya itu sungguh bertolak belakang dengan Devinka karena dia hanya menginginkan masa mudanya yang lebih lama layaknya teman teman sebaya dia pada umumnya dia hanya ingin bisa menikmati hidup tanpa banyak aturan dari ibunya tersebut.


Malam itu juga ibu Maria harus segera kembali legi ke luar negeri karena dia mendapatkan telpon mendesak dari rekan bisnisnya di sana sehingga dia mengambil penerbangan secara mendadak bahkan dia pergi dari rumah tanpa berpamitan terlebih dahulu kepada Devinka saking terburu burunya.


Dan nyonya Merisa hanya menitipkan salah untuk Devinka kepada bibi Bi Eli dan dia memberikan sebuah surat yang sudah dia tulis untuk Devinka.


"Bi tolong sampaikan salam saya untuk Devinka dan berikan surat ini untuknya, mungkin saya akan sulit untuk menjenguknya kemudian hari, karena bisnis kami tengah ketat, tolong jaga dia untuk saya bi" ucap nyonya Merisa berpesan,


"Baik nyonya, jaga diri anda juga. Saya akan merawat tuan muda sebaik mungkin" balas bi Eli meyakinkan nyonya Merisa.


Nyonya Merisapun menatap ke arah kamar Devinka untuk terakhir kalinya dan dia segera pergi bersama asisten pribadinya menuju bandara saat itu juga.


Di sisi lain Devinka yang mendengar suara mobil dia langsung bergegas berlari menuju balkon kamarnya dan dugaan dia benar itu adalah suara mobil ibunya, dia merasa kesal untuk yang kesekian kalinya karena ibunya sungguh lebih mementingkan bisnis di banding dirinya sendiri.


"CK....dia benar benar pergi dan mengabaikan aku seperti biasanya" ucap Devinka berdecak kesal lalu kembali masuk ke kamarnya.


Devinka merebahkan tubuhnya di ranjang sambil terlentang dan menatap penuh lamunan ke atas atap kamarnya, pikirannya melayang memikirkan segala hal.


"Seandainya ayah tidak sakit, keluargaku mungkin tidak akan seperti ini, kapan ayah akan kembali" gumam Devinka terus memikirkan.


Sejak dulu dia memang sangat dekat dengan ayahnya namun sayang sekali ayahnya dulu juga sangat sibuk dan hanya datang sebulan satu kali itupun jika tidak sedang sibuk namun kini sudah hampir dua tahun lamanya dia tidak pernah bertemu lagi dengan ayahnya, setiap kali Devinka bertanya pada nyonya Merisa mengenai sang ayah, nyonya Merisa hanya mengatakan bahwa ayahnya baik baik saja hanya kondisinya tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh menggunakan pesawat.

__ADS_1


Dan bodohnya Devinka selalu mempercayai perkataan ibunya dia juga tidak pernah berusaha mencari tau ataupun menyimpan rasa curiga kepada ibunya sedikitpun, dia pikir apa yang ibunya katakan adalah sebuah kebenaran tanpa Devinka ketahui sebenarnya penyajian ayahnya sudah sangat parah sehingga sang ayah bahkan tidak mampu sekedar untuk duduk saja.


Karena Devinka sangat ingin menemui sang ayah, dia mulai bertekad untuk belajar dengan lebih cepat agar bisa sampai ke luar negeri lebih cepat lagi dan bisa menemui sang ayah secepatnya.


"Iya...aku harus semangat dan lulus dengan cepat, dengan begitu aku akan segera bertemu dengan ayah dan dia harus mengatakan yang sebenarnya kepadaku kenapa ibu juga harus di sibukkan dengan bisnis" ucap Devinka penuh keyakinan.


*****


Di sisi lain aku yang tengah tertidur lelap di ranjang basecamp The Boys masih belum sadarkan diri dan tetap tertidur dengan nyaman dan aman, hingga beberapa saat kemudian Reksa dan Dika datang ke basecamp dan mereka dalam kondisi m*buk, sehingga mereka berjalan dengan gontai dan duduk di sofa sambil terus berbicara tak jelas.


Tanpa mereka sadari Reksa tidak sengaja menghubungi Devinka lewat telpon yang tak sengaja tertekan sembarangan oleh Dika.


"Hallo....Reksa ada apa?, Heyy....ada apa kau menghubungiku?" Bentak Devinka dari sebrang sana.


Devinka kebingungan saat mengangkat panggilan dari Reksa yang tidak menjawab teriakannya dan Devinka mulai mendengar suara suara aneh yang membuat dia langsung membelalakkan matanya kaget.


"Kau...benar...ohok...ohok.... keluargaku juga terus mendesakku membuat kepalaku ingin pecah.....kita tidak perlu pulang kita punya basecamp ini untuk tinggal iya kan..." Balas Dika bicara melantur.


Devinka mendengar kedua temannya yang berada di basecamp dalam keadaan m*buk seperti itu jelas dia sangat kaget dan langsung membentak mereka lewat telpon lalu dia bergegas dengan terburu buru pergi menuju basecamp tersebut karena ingat bahwa ada Elisa yang dia tidurkan di ranjang sebelumnya.


"Aishh, sial mereka malah ke basecamp dalam keadaan begitu" gerutu Devinka panik,


"Heh, kalian diam kau di situ jangan bergerak ke manapun, dasar kalian sialan!" Bentak Devinka memperingati kedua temannya itu.

__ADS_1


Devinka berlari menuruni tangga dan dia mengabaikan bi Eli yang hendak memberikan surat dari nyonya Merisa untuknya.


"Tuan muda ini..." Ucap bi Eli yang tak sampai,


"Nanti saja bi, saya sedang terburu buru" ucap Devinka sambil terus berlari masuk ke dalam mobilnya, Devinka terus membentak Reksa dan Dika lewat telpon dan dia melajukan mobil dengan kecepatan diatas rata rata karena dia sangat panik dan merasa khawatir dengan Elisa yang berada di sana.


"Heh, kalian berdua dengarkan aku jangan berani beraninya kau tidur di basecamp!" Bentak Devinka lagi.


"Ehh...ada suara si kepala batu di sini, tapi di mana orangnya ya?" Ucap Reksa yang masih tak sadarkan diri,


"Aishh.... Reksa awas saja kau!" Ancam Devinka sangat kesal.


"Ayo kita istirahat, aahhh di mana kamarnya...kenapa sulit sekali untuk bergerak" ucap Dika di sebrang sana yang terdengar samar sama oleh Devinka.


Dia langsung panik tak karuan dan menginjak pedal gas mobilnya lebih dalam lagi.


"Sial ..sial...sial...mereka benar benar dua bocah keterlaluan" gerutu Devinka tak menentu.


Sesampainya di basecamp Devinka langsung masuk dengan membuka pintu cukup keras dan dia langsung menerobos masuk ke dalam lalu menyalakan lampu dan melihat Reksa juga Dika yang terjatuh tepat di samping ranjang di mana Elisa masih tertidur di atasnya.


"Ahhh...syukurlah, sepertinya mereka belum sadar, sebaiknya aku membawa Elisa pergi sekarang juga" ucap Devinka dan dia langsung berjalan dengan pelan menuju ranjang dan membangunkan Elisa,


"Hey....Elisa...Elisa...cepat bangun...aishh kenapa kau tidak bangun juga" ucap Devinka yang sangat kesal karena aku belum bangun juga.

__ADS_1


Bukannya aku yang terbangun justru malah Reksa dan Dika yang bangkit berdiri dengan gontai lalu mereka berjalan saling berebut lebih dulu untuk tidur di kasur, sehingga Devinka panik karena dia takut Dika dan Reksa akan melihat Elisa yang tertidur dengan pakaian berantakan di atas ranjang tersebut, Devinka hanya takut terjadi hal yang tidak di inginkan jika dia tidak melakukan sesuatu saat itu juga.


Sehingga sebelum Reksa dan Dika berhasil mendaratkan tubuh mereka ke atas ranjang, Devinka sudah lebih dulu mengangkat tubuh Elisa dan dia berniat untuk segera pergi dari sana namun justru tanganku malah di tarik oleh Reksa dan Devinka langsung berusaha menariknya lagi hingga akhir aku terbangun dan sangat kaget ketika melihat keadaan di sana yang kacau.


__ADS_2