
"Aishh .... Anak ini benar-benar sulit untuk di berikan nasehat" ucap ibu Michael sambil mencubit pipi putranya itu,
"Ibu aku ini sudah besar, ahh....kau membuat aku malu saja" balas Dika yang terlihat sangat lucu untukku.
Suasana di meja makan sungguh sangat harmonis dan aku belum pernah merasakan suasana seperti ini, rasa bahagia dan tidak ada kecanggungan satu sama lain, ibu Michael bersikap begitu ramah dan memperlakukan aku sangat baik sehingga aku merasa nyaman berada di sekitarnya, begitu juga dengan Dika dia selalu memperlakukan aku dengan baik dan saat ini kami sudah bersiap untuk pergi ke tempat kerja masing-masing.
Setelah berpamitan pada ibu Michael kami segera pergi menuju perusahaan tempatku bekerja namun saat di perjalanan aku tidak sengaja melihat ibunya lili yang terlihat tengah saling tarik menarik tas dengan seorang pria asing di pinggir jalan.
Melihat itu aku langsung menyuruh Dika untuk menghentikan mobilnya dan segera turun menghampiri nyonya Merina yang tidak lain adalah ibundanya Lili sahabat terbaikku yang saat ini berada di luar negeri.
"Eh....bukankah ibu Tante Merina?, Dika tolong menyamping sebentar" ucapku kepadanya,
"Kau mau turun disini?" Tanya Dika padaku dengan heran,
"Iya aku turun disini saja, kau bisa pergi ke perusahaan jika mendesak aku bisa menaiki taxi nanti, aku ada urusan dulu sebentar" ucapku kepadanya.
Dika pun menghentikan mobilnya ke pinggir lalu setelah aku keluar Dika langsung melaju meninggalkan jalanan itu sedangkan aku langsung berlari menghampiri Tante Merina dan langsung menendang pria asing yang menarik tas milik Tante Merina itu hingga dia jatuh tersungkur ke tanah.
"Hey, lepaskan tas nya! Aishh....rasakan ini hiyaaaa brukkk" tendanganku tepat mengenai perut pria asing itu dan berhasil melumpuhkannya.
Aku langsung menarik Tante Merina dan membawa dia berlari pergi dari tempat tersebut karena takut pria itu akan mengejar kami, dan dugaanku memang benar pria itu mengejar aku dan Tante Merina hingga kami tidak bisa kabur kemanapun lagi karena larinya pria itu sangatlah cepat sedangkan Tante Merina yang memakai sepatu hak tinggi tidak bisa berlari dengan kencang, jalanan disana juga cukup sepi.
Sehingga terpaksa aku harus melawan perampok sialan itu.
"Aduhh....Elisa bawa saja tas ini selamatkan berkas penting di dalamnya jangan khawatirkan Tante, cepat kau pergi" ucap Tante Merina sambil mendorongku menjauh darinya.
Aku menggelengkan kepala dan tidak bisa membiarkan dia menghadapi perampok itu sendirian, apalagi aku melihat dengan jelas perampok itu ternyata mengambil balok kayu yang tergeletak di jalanan dan dia hampir memukul pundak Tante Merina.
Aku langsung mendang balok kayu itu hingga terhempas cukup jauh ke belakang dan kami saling tatap satu sama lain, aku harus melawan perampok itu secara langsung di hadapan Tante Merina.
"Tante awas! Teriakku disaat lagi-lagi perampokan itu seperti hanya menargetkan Tante Merina.
Aku sengaja berdiri di depan Tante Merina dan menyuruh Tante Merina agar terus berada di belakang tubuhku karena aku sudah tahu apa yang diincar oleh orang asing yang memakai penutup kepala berwarna hitam itu.
"Tante cepat kabur dari sini, yang dia incar bukan tasmu, dia ingin mencelakaiku, cepat cari pertolongan selagi aku mengulur waktu dengan menghadapinya" ucapku pada Tante Merina,
"Ta...tapi Elisa bagaimana denganmu?" Ucap Tante Merina,
"Aku bisa melindungi diriku sendiri, cepat pergi Tante!" Teriak aku mendesak dia.
Tante Merina hendak pergi saat itu dan aku juga langsung menghadapi pria asing yang memakai penutup kepala tersebut, aku saling menghajar dengannya dan berhasil melumpuhkan pria itu dengan cepat.
Namun sialnya di saat aku sudah berhasil melumpuhkannya aku melihat Tante Merina justru sudah di sekap oleh pria lain dan dia di bawa ke tengah jalan seperti sengaja ingin di tabrak oleh sebuah mobil yang melaju dengan cepat dari salah satu arah.
"Oh ...tidak Tante bertahanlah!" Teriakku langsung berlari menghampirinya.
Karena kaki Tante Merina dan tangannya diikat dengan kuat aku tidak bisa membukanya saat itu juga sehingga aku berusaha menarik tubuhnya untuk menyingkir dari jalanan, namun sayangnya dia terlalu berat sehingga aku kesulitan untuk menariknya sedangkan mobil di depan melaju sudah sangat dekat ke arah kami.
__ADS_1
Dan aku terpaksa harus mendorong tubuhnya dengan kuat namun aku sendiri gagal untuk menghindari mobil itu dengan baik, karena jaraknya yang terlalu dekat.
"Maafkan aku Tante aku harus melakukan ini, eeeughhh" ucapku sambil mendorong tubuhnya ke samping jalan sedangkan aku terserempet oleh mobil itu dengan keras.
"Aaaartt.....brukk" suara teriakkan terakhirku hingga aku tergeletak pada aspal jalanan dengan lemas dan kehilangan kesadaran sedikit demi sedikit.
"ELISAA! tidak jangan.... Elisaaaa!" Teriak Tante Merina sangat keras.
Aku senang meski harus mengorbankan diriku sendiri untuk menyelamatkan tente Merina, ibu dari sahabat terbaikku selama ini, bahkan jika aku mati aku juga tidak memiliki siapapun lagi di dunia ini sehingga aku pikir tidak akan ada yang merindukanku dan menyayangi aku sangat besar, tidak akan ada yang mengharapkan kehadiranku karena aku tidak sepenting itu dalam hidup mereka.
Tante Merina berteriak sangat kencang meminta tolong hingga beberapa orang yang lewat datang menolongnya dan segera membawa Elisa ke rumah sakit terdekat.
Tante Merina terus saja merasa khawatir dan dia segera menghubungi Lili yang kebetulan hari ini baru saja tiba di bandara, Lili yang mendengar kabar tersebut juga langsung pergi ke rumah sakit untuk melihat Elisa.
Sementara Tante Merina juga sudah memberi kabar pada kantor tempat Elisa bekerja dengan menghubungi pihak kantor dari nomor yang tertera di dalam ponsel Elisa, Tante Meria juga menghubungi semua nomor yang ada di ponsel Elisa namun yang menerima panggilannya hanyalah Dika.
Karena saat itu mungkin yang lainnya tengah sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing sebab itu masuk dalam jam kerja.
Mereka yang mendapatkan kabar tentang Elisa segera datang terburu-buru ke rumah sakit dan mengkhawatikan keadaan Elisa, Tante Merina juga sudah menangis tanpa henti sejak awal bahkan hingga Lili dan Dika tiba di rumah sakit tersebut, mereka tiba bersama dan kaget satu sama lain.
"KAU?" Ucap keduanya bersamaan.
"Bukankah kau Di...Dika yang anak The Boys itu kan?" Ucap Lili bertanya lebih dulu,
"Iya...dan kau bukankah kau sahabatnya Elisa, kenapa kau ada disini katanya kau ke luar negeri?" Balik Dika bertanya.
Namun disaat mereka kebingungan satu sama lain ibu Merisa memanggil Lili dan berlari memeluknya dengan erat sambil menangis tersedu-sedu.
"Ibu sudah tenangkan dahulu dirimu dan dimana Elisa sekarang?" Ucap Lili sambil mengusap punggung ibunya dan ibu Merina menunjuk ke arah sebuah ruangan di ujung tepat itu.
Mereka semua segera pergi ke sana dan menunggu hingga dokter selesai menangani Elisa, sambil menunggu itu tente Merina terus saja menyalahkan dirinya sendiri karena telah menyebabkan Elisa seperti itu.
"Lili ini salah ibu, Elisa menolong ibu dan dia melakukan semuanya demi menyelamatkan ibu hiks...hiks...hiks.... Kenapa Lili kenapa dia mengorbankan dirinya demi orang seperti ibu yang tidak menyukainya kenapa dia sebaik itu Lili hiks...hiks...hiks" ucap ibu Merina histeris.
"Bu...sudah.... Semuanya juga sudah terjadi kita hanya bisa berharap semoga Elisa akan baik-baik saja, dia memang baik sejak dulu itulah kenapa aku bersahabat dengannya, sudah Bu, jangan salahkan dirimu lagi, Elisa akan sedih jika melihatmu seperti ini" ucap Lili berusahalah menenangkan ibunya.
Dika juga merasakan kecemasan yang sama dia sangat takut sesuatu terjadi pada Elisa dan dia merasa kecewa pada dirinya sendiri karena tidak mengantarkan Elisa sampai ke perusahaan.
"Andai saja aku mengantar dia hingga ke perusahaan, mungkin Elisa tidak akan bertemu ibu itu dan dia tidak akan seperti saat ini" gumam Dika sambil menatap dengan kesal pada ibu Merina.
Hingga tidak lama kemudian dokter keluar dari ruangan tersebut dan dia menjelaskan mengenai keadaan Elisa.
"Dok, bagaimana keadaannya apa dia baik-baik saja?" Tanya Lili juga Dika bersamaan dan mereka semua sangat cemas,
"Dia mengalami koma karena benturan yang sangat keras di kepalanya, mungkin dia akan sadar dalam beberapa hari setelah transfusi darah yang baru saja dia lakukan, mohon pihak keluarga bersabar dan mencoba memperbanyak doa yang baik agar pasien bisa melewati masa komanya secepat mungkin" ucap dokter menjelaskan.
Seketika kaki Lili merasa lemas, dia sudah lama sekali tidak bertemu dengan sahabatnya itu namun sekarang disaat dia bisa melihat Elisa justru malah dalam keadaan seperti ini.
__ADS_1
Ibu Merina juga semakin menyesali dirinya sendiri memukuli tubuh dia sendiri dengan kuat hingga Lili harus terus memeluk ibunya untuk memberikan ketenangan, sedangkan Dika langsung masuk ke dalam dan melihat keadaan Elisa secara langsung.
Dia melihat dengan jelas kepala Elisa yang dibalut perban dan tangannya yang terpasang selang infusan juga mulutnya yang memakai uap, dia sungguh tidak tega melihat kondisi Elisa seperti ini, sedangkan beberapa saat yang lalu dia masih mengobrol dan tertawa dengan Elisa di kediamannya sendiri.
Dika berjalan menghampiri Elisa dengan pelan dan dia menggenggam tangannya dengan erat sambil menangis tanpa suara.
"Elisa....aku mohon bangunlah, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika sesuatu terjadi kepadamu, aku mohon Elisa" ucap Dika dengan penuh harapan di dalam hatinya.
Hari demi hari telah berlalu, Elisa masih belum sadarkan diri bahkan bunga yang di berikan eh Reksa dan Dika setiap harinya sudah semakin layu dan Lili selalu mengganti air di ruang rawat itu, masih belum ada perkembangan lagi pada Elisa bahkan dia sudah hampir di keluarkan dari perusahaan tempatnya bekerja karena dia sudah tidak masuk bekerja lebih dari satu Minggu.
Dokter yang mengatakan Elisa hanya akan koma selama beberapa hari rupanya itu hanya sebuah kata untuk memberikan harapan pada kami, jika bukan karena Devinka yang menolak untuk mengeluarkan Elisa dari perusahaannya mungkin Elisa sudah menjadi pengangguran sejak lima hari terakhir.
Devinka juga masih tidak mendapatkan kabar dan alasan mengapa Elisa tidak masuk bekerja, tidak ada satupun yang memberitahu dia mengenai kabar itu sementara saat ini dia sudah bertunangan dengan wanita pilihan ibunya sendiri.
Hingga akhirnya karena dia mencemaskan Elisa, dia terbang kembali ke negara ini dengan alasan urusan bisnis dan untuk mengurusi permasalahan di perusahaan cabang tersebut, ibunya mengijinkan itu sehingga dia dapat pergi kembali ke nega asalnya dengan cepat.
Sesampainya di kediaman lama miliknya Devinka langsung pergi menemui teman-teman lamanya mereka kembali berkumpul di tempat yang sama selama beberapa tahun ini mereka tinggalkan, The Boys yang dulu kini sudah berubah dan mereka bukanlah idola kampus lagi melainkan para pengusaha hebat yang di kagumi seluruh kota.
Sayangnya saat mereka berkumpul hanya Devinka yang terlihat senang kembali bisa bertemu ketiga temannya sedangkan Reksa, Dika dan Ciko kini sudah berubah, mereka tidak seperti dulu lagi dan mereka kecewa pada Devinka sebab menutup semua akses komunikasi dengan mereka selama ini.
"Hey....kawan ada apa dengan kalian, kenapa kalian menjadi sangat pendiam sekarang, ayolah kita sudah lama tidak bertemu apa kalian tidak merindukan aku?" Ucap Devinka merasa aneh dengan keadaan yang canggung dan mencekam ini,
"Devinka kau masih sama seperti dulu, hah aku ragu dengan itu, kau sudah bertunangan dengan selebritis terkenal Keysa tanpa memberitahu kami bahkan kau mencampakkan Elisa begitu saja, apa kau pikir kami semua tidak penting lagi bagimu, apa kami hanya lelucon!" Ucap Reksa yang terlihat paling kecewa diantara yang lainnya.
Bagaimana tidak, Reksa adalah saksi mata langsung dimana Devinka mengikat janji dengan Elisa dan dia mengatakan bahwa dia akan bersama dengan Elisa tepat ketika dia kembali ke negara ini lagi, namun sekarang pada kenyataannya Devinka sudah melanggar semua janji itu tapi dia tetap tidak menyadarinya.
"Apa maksudmu Reksa tentu saja kalia semua masih berharga bagiku, aku juga tidak menjadikan kalian lelucon kalian adalah sahabat terbaik bagiku, dan masalah komunikasi kalian semua tahu bagaimana ibuku dia yang menutup semua aksesnya, serta pertunanganku dengan Keysa" ucap Devinka tertunduk lesu.
"Tapi kau seharusnya berusaha keras melakukan apapun untuk menghubungi Elisa, karena kau sudah membuat janji dengannya" tambah Ciko dengan wajah yang sangat serius,
"Ciko benar, kau sudah mengecewakan kami semua" ucap Dika menimpali.
"Oke...oke...aku tahu aku salah dan aku minta maaf pada kalian semua aku kembali juga karena aku mengkhawatirkanmu Elisa, dia tidak.hadir di perusahaan sejak satu Minggu belakangan ini, dan apa kalian tahu kemana dia pergi?" Tanya Devinka dengan menaikkan kedua alisnya penasaran.
Seketika tidak ada yang bicara mereka bertiga langsung tertunduk lesu, wajahnya mereka terlihat sedih, bahkan Ciko yang selalu tidak memperdulikan Elisa selama ini, kini justru dia yang menjadi paling sedih atas keadaan Elisa saat ini.
"Hey...ada apa lagi, kenapa kalian tidak menjawabku? Cepat katakan dimana dia sekarang aku harus menepati janjiku padanya" tambah Devinka mendesak.
Sikap Devinka yang tidak tahu malu seperti itu sungguh membuat Dika sangat muak dan dia tidak bisa menahan emosi di dalam dirinya lagi, Dika langsung menarik kerah kemeja Devinka ke atas dengan kuat.
"Kau....beraninya kau akan melanjutkan janjimu kepada Elisa disaat kau sendiri telah melanggarnya sejak kau menerima pertunangan dengan Keysa!" Bentak Dika dengan nafas yang menderu saking kesalnya.
Tangan Dika bergetar saat menarik keras kemeja Devinka dan Reksa juga Ciko segera memisahkan mereka dengan cepat karena takut sesuatu yang tidak di inginkan akan terjadi diantara mereka.
"Dika....cukup, ini bukan hal yang benar untuk dilakukan saat ini" ucap Ciko menenangkan Dika,
"Sebenarnya ada apa sih dengan kalian bertiga? Dan kau Reksa kenapa kau menjadi yang paling berubah diantar mereka, ada apa denganmu?" Ucap Devinka merasa heran dengan sikap teman-temannya.
__ADS_1
Ciko langsung menarik tangan Devinka dan membawanya masuk ke dalam mobil dia langsung membawa Devinka ke rumah sakit dimana Elisa dirawat, meski Devinka sepanjang jalan terus berontak Ciko tidak menjawabnya dia terus menyeret Devinka hingga membawa dia masuk ke dalam ruang rawat dan memperlihatkan kondisi Elisa pada Devinka secara nyata.
Sedangkan Dika dan Reksa segera menyusul di belakang dengan perasaan yang panik dan tidak karuan, pasalnya mereka takut Ciko berbuat sesuatu yang akan membahayakan hidup Elisa apalagi membawa Devinka ke depan Elisa begitu saja, mereka berdua takut itu akan mempengaruhi kondisi Elisa disana.