
"Hah, untuk apa menyelesaikan tahapan awal kita bisa membuatnya secara langsung sampai jadi dan memberikannya pada dosen nanti kau tidak perlu datang kemari dan melakukannya denganku, karena aku tidak akan pernah mengijinkanmu berada dekat denganku lagi!" Bentak Devinka begitu sinis,
"Siapa yang kau pikir ingin menemuimu, bahkan aku benci hanya dengan melihat bayangan ataupun suara langkah kakimu!" Jawabku tak kalah sinis darinya.
Lagi lagi aku dan Devinka beradu tatapan mata satu sama lain dengan cukup kuat dan membuat Reksa kembali harus menepuk keningnya dan memijitnya beberapa saat karena dia sudah sangat jengkel dengan Devinka juga Elisa yang tidak pernah akur satu sama lain.
Saat itu setelah perdebatan hebat antara Devinka dan aku kami pun memutuskan kan untuk kembali memalingkan wajah satu sama lain dan berhenti berbicara sehingga Reksa yang mulai sabar menghadapi kami berdua dia mulai membuka suara.
"Ahh akhirnya kalian berhenti juga, sekarang yang harus kita lakukan hanya membuat laporan saja kan aku akan mengambil laptop nya dahulu" ujar Reksa sambil segera mengambil laptop dan kembali lagi duduk di sampingku.
Aku sangat benci melihat Devinka tapi aku harus memilih untuk memimpin pembuatan laporan karena aku tidak mempercayai Devinka sedikitpun.
"Sini biar aku saja yang melakukannya aku bisa menyelesaikannya sendiri kalian hanya perlu menambahkan di akhir" ujarku sambil mengambil laptop dari tangan Reksa,
"Ehh...apa apaan kau ini di sini aku yang ketua kelompoknya harusnya aku yang memtuskan kenapa kau malah seenaknya!" Bentak Devinka yang tidak terima,
"Aishh....mereka mulai lagi" gerutu Reksa yang memilih untuk pergi dari sana,
"Sudahlah kalau kalian mau terus bertengkar aku akan pergi saja" ucap Reksa sambil bangkit melangkah pergi,
"Tunggu, kau mau ke mana bagaimana dengan laporannya?" Teriakku menahan Reksa,
"Bodo amat aku tidak peduli kalian urus saja sendiri" jawab Reksa dan terus membanting pintu cukup keras,
"Brukk.." suara pintu yang dibanting oleh Reksa.
Aku dan Devinka bahkan sampai tercengang melihat Reksa merajuk sampai membanting pintu seperti tadi padahal kami bahkan belum memulai apapun namun Reksa malah sudah pergi dan Devinka mulai menyalahkan aku karena hal ini.
"Heh, cewek ayam semua ini karena kau, Reksa jadi pergi itu ulahmu!" Bentak Devinka menyalahkan ku,
"Ini bukan sepenuhnya salahku juga siapa suruh kau terus berdebat denganku, dari awal seharusnya juga aku yang menjadi ketua tim bukan kau" jawabku tak mau kalah,
__ADS_1
"Apa kau masih belum terima karena kalah taruhan denganku haha menyedihkan" katanya meledekku,
"Berhenti meledekku aku sangat membencimu" ujarku sangat kesal.
Bukannya berhenti Devinka justru malah dengan sengaja semakin mempermainkan Elisa dan terus meledek Elisa seenaknya bahkan dia membuat Elisa tidak bisa lagi bersabar kepadanya hingga perkelahian diantara mereka tidak dapat dihindarkan lagi.
"Haha...kenapa apa sekarang kau baru sadar bahwa kau itu memang menyedihkan tadi saja kau makan dari belas kasihan ku kan" katanya lagi semakin membuatku jengkel,
"Aku tidak pernah meminta itu darimu kau yang memberikannya lebih dulu" jawabku dengan wajah yang serius,
"Tetap saja kau makan dengan uangku bahkan naik taxi juga dengan uangku dan kau juga yang membuatku seperti ini" balasnya semakin tak mau kalah,
"Devinka aku peringatkan padamu jangan menghinaku lagi atau aku akan..." Ucapku tertahan,
"Akan apa?, Aku tidak takut dengan wanita cemen sepertimu" katanya menyepelekan ku dengan kaki yang disilangkan.
Aku sudah berusaha menahan amarahku dengan mengepalkan kedua tangan sangat erat sedari tadi tapi melihat kelakuan Devinka yang sudah keterlaluan dalam menghinaku aku tidak bisa tetap duduk diam saja dan aku memutuskan untuk memberinya pelajaran dengan menendang perutnya cukup keras.
"Haha...mau apa kau pasti mau pergi kan dasar pecundang" katanya membuatku tak bisa menahan emosi lebih lama lagi,
"DEVINKA!, rasakan ini bukkk" ucapku membentak dan langsung meluncurkan tendangan tepat mengenai perutnya sampai dia terjungkal ke samping sofa dengan lemas dan memegangi perutnya.
"Hah...bagaimana apa itu rasanya sakit, begitulah yang aku rasakan ketika kau terus menghinaku" ucapku padanya dan pergi meninggalkan dia.
"ELISAAA, beraninya kau....." Teriak Devinka sangat keras saat aku sudah keluar dari ruangannya.
Niat pertama ingin menyelesaikan laporan kerja justru malah berujung perkelahian diantara aku dan Devinka, mulai saat itu aku sudah memutuskan tidak akan pernah menemui Devinka lagi dan aku akan membuat laporan magang sendiri tidak perduli dosen akan menilainya seperti apa yang penting aku sudah membuatnya dengan baik walau sendirian.
Dari pada aku harus terus berhubungan dengan Devinka yang sangat menyebalkan, lebih baik aku menyelesaikan semuanya sendiri.
"Eughh aku tidak akan menemuinya lagi, dasar Devinka sialan manusia sombong erghhh" gerutuku merasa kesal sambil berjalan kasar menuju ke dalam lift.
__ADS_1
Aku masuk ke dalam lift dengan perasaan sangat kesal setelah keluar dari ruangan Devinka saat itu di dalam lift hanya ada dua orang berdiri di belakangku dan aku tidak menyadari bahwa salah satu diantara mereka adalah kak Eril.
Tak lama pintu terbuka dan satu pria keluar dari dalam lift sambil membungkuk ke arahku, itu membuat ku merasa bingung karena aku pikir pria yang barusan keluar dari lift memberi hormat dariku.
"Ehh, kenapa dia membungkuk denganku, apa dia gila ya?" Gerutuku sambil menggaruk belakang telingaku kebingungan,
Saat pintu lift kembali tertutup dan mulai turun ke lantai bawah aku kembali merasa kesal karena mengingat kelakuan Devinka kepadaku saat di ruangannya tadi.
"Aishh Devinka sialan, arkhhh....aku sangat puas setelah menghajarnya sekuat tenaga hah" gerutuku lagi dengan wajah yang kesal dan sinis,
Saking kesalnya aku melampiaskan kekesalan ku dengan menendang dinding lift yang akhirnya justru malah membuatku kesakitan sendiri.
"Bukk..." Suaraku menendang dinding lift cukup kuat.
"Aduhh....aishh....sial" gerutuku kesakitan sambil memegangi kakiku yang sakit.
Saat pintu lift terbuka aku berjalan pincang hendak melangkah keluar namun tiba tiba saja seseorang memapahku dari belakang dan saat aku menoleh ternyata itu kak Eril, aku sangat kaget dan langsung mendorongnya yang membuatku terpental ke belakang dan jatuh tersungkur.
"Hah kak Eril" ucapku kaget dan refleks menjauh mendorong dirinya dariku,
"Brukkk...aduhhh" ucapku jatuh tersungkur di lantai.
Kak Eril tiba tiba mengulurkan tangannya ke arahku dan membantuku berdiri.
"Mari aku bantu kau berdiri" ucapku sambil mengulurkan tangan.
Aku kaget sekaligus bingung dan hanya menatapnya sambil menaikkan kedua alis karena masih merasa tidak percaya bahwa kak Eril mau membantuku seperti ini.
"Heh cepat raih tanganku aku sudah pegal terus seperti ini" ucapnya menyadarkanku dari lamunan.
"Eh i..iya kak" jawabku sambil meraihnya dan segera berdiri.
__ADS_1