Bos Ternyata Musuhku

Bos Ternyata Musuhku
Devinka yang Menjengkelkan


__ADS_3

"Untuk apa aku berterima kasih padamu, aku hanya perlu mengganti uangmu kan, berapa jumlahnya sebutkan saja, apa satu juta cukup?" Balasnya sambil berdiri tegak di depanku dengan tatapan yang meremehkan.


Mendengar dia berkata dengan seenaknya dan begitu mudah ingin mengganti uang atas bantuan yang aku berikan padanya yang begitu besar dan tanpa pamrih, bahkan aku mendapatkan banyak sekali rasa malu akibat membantunya, tapi dia bahkan tidak membalas perbuatanku dengan kalimat yang baik.


Aku sungguh tidak bisa menahan emosiku lagi dan aku langsung saja membentak dia dengan keras dan merutuki nya habis habisan.


"Hah.... Kau pikir uangmu itu bisa membeli kebaikan semua orang?, Saat kau jatuh pingsan di pinggir jalan bahkan tidak ada satu orang pun di sana yang mau menolongmu, meski mereka tau kau memakai pakaian mahal dan sepatu branded itu, tetap saja aku yang miskin ini yang membantumu, kau tau aku banyak dipermalukan dan menghabiskan uang tabunganku untuk menebus obat dan membayar taxi bahkan memberi uang tambahan untuk supir sialan itu, aishh....kau ini benar benar...." Ucapku sambil menatapnya penuh kekesalan dan kebencian,


"Iya...iya aku tau kau menghabiskan semua itu makanya aku tanya berapa yang harus aku ganti?, Ayo sebutkan saja jangan malu kepadaku karena aku punya segalanya" jawab Devinka yang semakin tidak tau diri,


"Aishh....kau gila atau apa hah?, Maksudku adalah uangmu yang banyak itu tidak bisa membeli kebaikanku, aku membantumu karena rasa kemanusiaan dalam diriku dan aku tidak pernah meminta kau untuk menggantinya, aku tidak butuh uang dari orang sombong sepertimu, meski aku sangat butuh uang!" Bentakku menegaskan dengan suara yang tinggi dan langsung pergi keluar dari ruangan tersebut.


Aku bergegas keluar sambil membanting pintu cukup keras, aku bahkan tidak bisa berhenti menggerutu selama perjalanan, bahkan aku harus menunggu bus terakhir untuk kembali ke kosan.


"Dia sungguh keterlaluan kali ini, bisa bisanya dia hanya mementingkan uang, memang dia pikir uang bisa membeli segalanya?, Hah...meski pun di dunia ini semua butuh uang, tapi aku tidak akan pernah menerimanya dari orang seperti dia!" Gerutuku sambil berdiri dan melipatkan kedua lengan di dadaku.


Beberapa saat aku berdiri di sana dari kejauhan aku melihat Devinka berjalan dengan santai menghampiriku dan berdiri tepat di sampingku.


"Hah...untuk apa pria menjengkelkan ini berdiri di sini, apa dia mengikutiku?" Gumamku dalam hati sambil memperhatikannya dengan ujung mata,


Saat bus jurusanku tiba aku hendak masuk namun lenganku di tahan oleh Devinka dengan kuat sehingga aku kesal dan langsung menghempaskan lengannya.


"Hey....lepaskan tanganku, kenapa kau menahanku tiba tiba?" Bentakku kepadanya dengan keras,

__ADS_1


"Kau tidak bisa meninggalkan ku seorang diri di tempat yang aku tidak tau ini di mana" jawabnya membuatku kembali merasa jengkel,


Aku hanya bisa berdecak kesal dan tidak habis pikir bagaimana mungkin orang sepertinya tidak tahu saat ini dia tengah berada di mana, lagi pula jika dia sungguh tidak mengetahuinya dia juga akan dengan mudah menghubungi supir atau bahkan ketiga teman sialannya itu untuk menjemput dia ke tempat ini.


Karena berdebat dengannya aku tertinggal oleh bus terakhir yang bisa mengantarku pulang, aku semakin kesal karena sudah berusaha menghentikan bus tapi tetap tidak berhenti.


"Eh..eh..eh...pak... tunggu aku belum naik, heyy tunggu aku...ahhhh, itu adalah bus terakhir huhuu...aku harus bagaimana" Teriakku dan tertunduk lesu karena tertinggal begitu saja,


"Hey...kenapa kau malah berlari mengejar bus, dasar aneh!" Ucap Devinka berteriak kepadaku.


Aku membalikkan badan dan menatapnya dengan tajam, segera aku berjalan menghampirinya dan melampiaskan semua kekesalanku kepadanya karena semua ini juga disebabkan olehnya yang menahan lenganku.


"DEVINKA.... bisa tidak kau sekali saja jangan membuatku sial, setiap kali aku bertemu denganmu aku selalu mendapatkan kesialan, uangku sudah habis aku berkali kali menahan malu dan sekarang tertinggal bus terakhir karenamu!" Bentakku berteriak sangat keras tepat di samping telinganya.


Devinka nampak terperangah dan melangkah mundur sedikit menjauhiku sambil memegangi telinganya.


Aku tidak perduli lagi dengannya dan berjalan pergi meninggalkan dia namun sialnya dia malah terus mengikutiku dan terus berteriak memanggilku.


"Eh, hey mau kemana kau tunggu aku, hey cewek ayam mau kemana kau....berhenti!" Teriak Devinka sungguh sangat membuat kepalaku frustasi,


"Heh!, berhenti mengikutiku, kau bisa menelpon teman temanmu atau keluargamu untuk menjemputmu kan, dan mereka bisa dengan mudah menemukan lokasimu, kau punya ponsel kan kenapa tidak kau gunakan" bentakku membalasnya,


Dia tiba tiba merogoh saku celananya dan memperlihatkan ponselnya yang mati kepadaku karena kehabisan batrai.

__ADS_1


"Ini kau lihat, ponselku mati jika ponselku menyala aku sudah pergi sejak tadi dan tidak perlu susah payah mengikutimu yang tidak jelas begini" jawabnya masih dengan nada yang begitu sombong,


Lagi lagi aku hanya bisa membuang nafas kasar dan memalingkan pandangan darinya sambil memijat keningku yang semakin terasa pusing, aku sudah menolong orang yang salah kali ini dan aku sungguh menyesalinya.


Kali ini dia bukan hanya menyusahkanku namun dia juga sangat membuatku jengkel dan merobohkan semua pertahanan kesabaran yang sudah susah payah aku bangun.


Alhasil kali ini aku hanya bisa menjerit untuk melampiaskan emosiku dan berusaha memikirkan cara agar dia bisa berhenti mengikutiku dan tidak menyusahkan diriku lagi.


"ARKHHHH!, hah... Hah.... Hah...aishhh" teriakku sambil berdecak kesal dan menghentakkan kakiku ke jalan dengan keras beberapa kali.


Aku bahkan mengacak rambutku yang sudah ku sisir rapih sebelumnya, aku sungguh frustasi dan kehabisan tenaga juga kesabaran dalam menghadapi pria sial*n sepertinya, untuk sejenak setelah puas berteriak melampiaskan emosi aku hanya bisa tertunduk lesu dan berusaha menenangkan diriku lagi.


Berkali kali aku menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan lalu aku mulai mengangkat kepalaku dan menatapnya dengan datar.


"Ada apa dengan kau, sekejap mudah marah seperti orang gila dan sekejap jadi aneh seperti nenek sihir, hah sekarang kau berani menatapku dengan tatapan dingin seperti itu?, Kau pikir aku akan takut denganmu?, Hahaha... Aku sama sekali tidak takut!" Ucap Devinka sambil menatap balik aku dengan mengerutkan kedua alisnya dan menyipitkan matanya kepadaku.


"Hah....sudahlah aku benci berlama lama menatap wajahmu itu, sekarang apa yang kau inginkan dariku, aku tidak mau kau terus mengikutiku jadi cepat katakan!" Ucapku padanya dengan tegas,


"Antarkan aku pulang" jawabnya yang membuatku langsung terbelalak tak percaya,


"APA?" bentakku berteriak keras,


"Hey....dasar cewek g*la, bisa tidak kau bicara lebih pelan, aku hanya meminta kau mengantarkan ku pulang, apa harus sekaget itu hah?" Bentak Devinka sambil mengusap kedua telinganya.

__ADS_1


Aku sungguh kaget dan tidak percaya seorang Devinka musuh bubuyutan ku kini memintaku mengantarkannya pulang, aku mana bisa bersikap baik sampai harus mengantarnya pulang, jelas dia musuhku aku sangat membencinya, apalagi ini sudah larut malam dan aku sudah tertinggal oleh bus terakhir.


"Ya Tuhan apa aku pantas menerima semua kesialan ini huhu" gerutuku sambil merengek dengan kesal.


__ADS_2