Bos Ternyata Musuhku

Bos Ternyata Musuhku
Dika yang sakit


__ADS_3

Untungnya sebelum Keysa menjawab pertanyaan tante Michael, Dika langsung menarik Tante Michael dan dia langsung mengusir Keysa dengan cepat dari sana.


"Tidak ibu jangan dengarkan dia, dia adalah wanita jahat dan licik, aku akan menjelaskan semuanya kepadamu nanti" ucap Dika sambil memegangi tante Michael,


"Dan aku, pergi kau sana, pesta ini tidak mengundang wanita jahat dan licik sepertimu!" Bentak Dika sambil mendorong Keysa sedikit menjauh dari ibunya.


Kesya langsung menarik gaunnya dan dia pergi dengan cepat dari sana sedangkan aku hanya bisa diam termenung memikirkan ucapan dari Keysa yang baru saja aku dengar di telingaku sebelumnya.


"Kenapa dia mengatakan bahwa dia merelakan Devinka untukku? Bukankah dia selama ini selalu dengan Devinka? Dan bukankah dia selama ini menyukai Devinka?" Gumamku terus memikirkan.


Sampai akhirnya Dika datang menghampiriku dan dia mengajak aku untuk menyambut tamu undangan yang hadir di acara itu untuk mengucapkan selamat kepadaku dan dirinya.


Aku pun mengesampingkan pikiranku sebelumnya dan segera melanjutkan acara pertunanganku dengan Dika saat itu.


Meskipun sebenarnya setelah acara pertunangan selesai dan aku sudah berada di rumah Dika sementara Tante Michael juga sudah beristirahat di kamarnya, aku mulai kembali memikirkan dengan apa yang Keysa ucapkan kepadaku sebelumnya, aku sungguh tidak mengerti mengapa dia bisa bicara seperti itu kepadaku dia saat ada Tante Michael disana.


"Bagaimana dia bisa bicara seperti itu kepadaku yah? Apa maksudmu Keysa berbicara seperti itu, aku rasa dia selama ini tidak pernah mengalah denganku dan tidak pernah memberikan Devinka untukku, apa itu hanya perkataannya karena dia memberikan Devinka berdansa denganku saja?" Gumamku terus memikirkannya tanpa henti.


Meski aku sudah berusaha keras untuk melupakan hal itu pikiranku terus saja berkencambuk memikirkannya hingga ketika aku tertidur aku tiba-tiba saja merasa ada yang aneh karena aku merasa aku tiba-tiba bangun di tempat yang aku tidak asing.


Aku hadir di sebuah pesta pernikahan yang sangat megah namun aku melihat ada seseorang yang meninggal disana, dia seorang pria yang memakai baju pengantin dan pakaiannya di penuhi dengan darah yang mengalir dari kepalanya, aku kaget melihat itu dan tidak bisa berkata-kata hingga ketika aku mencoba untuk melihat siapa wajah pria itu tiba-tiba saja aku langsung terbangun dari tidurku dengan berteriak keras.


"Aaaarrkkhhh....hah....hah....hah...." Teriakku dengan nafas yang terengah-engah.


Aku langsung mengambil air di samping ranjang yang ada diatas meja dan meneguknya sekaligus.


Keringat dingin bercucuran di dahiku dan aku sungguh merasa takut hingga jantungku berdetak sangat kencang, sebelumnya aku tidak pernah bermimpi seburuk itu, tapi kali ini mimpinya terasa sangat nyata, aku bisa melihat dengan jelas bagaimana pria itu tertimpa sebuah lampu di pesta pernikahannya sendiri dan dia meninggal dunia di tempat saat itu juga.


"Apa yang baru saja aku lihat, kenapa aku merasa cemas seperti ini, ahhh....tidak itu tidak mungkin ini pasti hanya sebuah mimpi biasa dan mimpi hanya bunga tidur" ucapku berusaha menenangkan diriku dan menghilangkan semua prasangka buruk yang ada di dalam pikiranku.


Tapi meski aku sudah berusaha keras menarik nafas dengan dalam dan membuangnya perlahan selama beberapa kali, aku tetap saja tidak bisa meresa tenang dan aku langsung mengambil ponselku di atas meja lalu menghubungi Lili karena masih tidak bisa tidur juga.


Saat aku menelponnya dia sudah hendak tidur dan saat itu tengah memakai masker wajah yang membuat aku kaget melihat wajahnya hitam semua seperti hantu.


"Astaga....Audy sedang apa kau, aahhh aku pikir yang menganggap panggilan videoku seorang hantu" ucapku dengan kaget kepadanya,


"Ish...Elisa kau ini ada-ada saja, mana mungkin ada hantu yang cantik dan imut sepertiku" balas Lili padaku,


Aku hanya tersenyum menanggapinya karena dia memang sering memuji dirinya sendiri, hingga Lili mulai bertanya kepadaku karena aku menghubungi dia di tengah malam seperti ini.


"Ada apa kau menelponku tengah malam begini, aaahhh aku sangat lelah karena hadir dan membantumu diacara pertunanganmu itu" ucap Lili yang malah curhat kepadaku,


"Hmm..begini Li sebenarnya aku ingin bertanya kepadamu, ini tentang sebuah mimpi yang sangat singkat" ucapku mulai berbicara kepadanya,


"Mimpi? Mimpi apa?" Tanya dia langsung dan terlihat antusias disaat aku baru saja hendak mengatakannya,


"Aku baru saja bangun tidur dan aku terbangun karena mimpi itu, aku beimpi aku pergi ke sebuah acara pernikahan dan aku justru menyaksikan seorang pengantin pria yang menyelamatkan seorang wanita hingga dia jatuh tertimpa sebuah lampu yang putus diacara pernikahannya sendiri, rasanya berserakan banyak sekali di lantai dan semua orang berteriak sangat keras ada juga yang menangis histeris, namun sepertinya pria itu meninggal dunia di tempat sehingga saat aku hendak melihat wajahnya aku langsung terbangun dengan badan yang berkeringat dingin dan sedikit bergetar, aku bahkan merasa sangat takut karena pria itu seperti..." Ucapku tertahan karena aku tidak ingin mengatakannya.


Lili yang sudah sangat penasaran dia langsung mendesak aku untuk segera mengatakan kepadanya siapa pria yang aku duga itu.


"Elisa cepat katakan saja pria di dalam mimpimu itu seperti siapa?" Tanya dia mendesakku,


"Dia seperti.....Devinka" balasku kepadanya dengan pelan.


Seketika Lili langsung terbelalak lebar dan dia berteriak sangat keras hingga aku harus menutupi spiker ponselku agar tidak terdengar keluar.

__ADS_1


"APA? ...." Teriak Lili sangat keras,


"Aishh ...Lili bisakah kau bicara pelan sedikit bagaimana jika orang lain mendengar teriakkanku itu" ucapku kepadanya sambil mengerutkan kedua alisku.


"I...iya Elisa aku akan bicara lebih pelan, tapi apa kau sungguh mengira pria itu adalah Devinka?" Tanya Lili lagi dengan wajahnya yang terlihat sama ketakutannya denganku.


Aku langsung menjawabnya dengan menunduk karena memang pria itu dari belakang terlihat persis seperti Devinka hanya saja aku tidak bisa memastikannya dengan benar sebab aku langsung terbangun ketika hendak membalikan badan pria tersebut.


"Apa menurutmu mimpi seperti ini, sebuah pertanda atau bukan?" Aku sangat panik dan takut" ucapku bertanya kepada Lili.


Aku pikir dia mungkin saja akan mengetahui masalah hal ini, sehingga aku menanyakan hal tersebut kepadanya, dan ternyata meski dia tidak mengetahuinya dia memiliki buku primbon Jawa dimana di dalam buku primbon itu terdapat banyak sekali tafsir mimpi juga artinya.


"Aku tidak tahu sih, tapi tenang saja aku punya sebuah buku primbon yang bisa menafsirkan mimpi aku akan cari jenis mimpimu itu di dalam buku tersebut dan memberitahukan kamu apa artinya bagaimana" balas dia kepadaku,


"Ya sudah ayo lakukan apapun itu, aku sangat penasaran dan takut, bahkan aku sampai tidak bisa tertidur sekarang" balasku kepadanya.


Lili pun mengangguk dan dia segera pergi mencari buku itu lalu mencari menganai mimpiku tersebut dia membaca semuanya dengan teliti dari bab ke bab, sampai sudah beberapa saat dia tetap tidak menemukan jenis mimpi yang sama dengan apa yang baru saja aku mimpikan hingga akhirnya kami berdua pun menyerah sebab kami sudah sangat mengantuk.


"Hoaam...Elisa aku masih belum bisa menemukan jenis mimpi seperti itu, aaahh aku sudah sangat mengantuk sekarang" ucap dia sambil mengusap sangat besar,


"Aishh ...ya sudahlah sana kau tidur saja, aahhh aku sangat terganggu dengan cara menguapmu itu" balasku sambil segera mematikan panggilan telponnya dengan cepat.


Aku pun menarik nafas lagi perlahan dan membuangnya dengan cepat lalu segera tidur dan berusaha untuk melupakan hal menyeramkan seperti itu, untuk saat ini aku hanya berharap semoga Devinka baik-baik saja dimanapun dia berada.


"Aahhh.... sudahlah dimanapun dia berada aku harap dia selalu terlindungi" ucapku sampai akhirnya segera tertidur dengan lelap.


Aku hanya tidur dalam lima jam saja sehingga saat bangun pagi aku sedikit malas namun karena ingat bahwa Tante Michael akan kembali terbang ke negara A sekarang aku pun harus segera bersiap-siap dengan cepat dan mengantarkan dia ke bandara pagi ini.


Saat keluar dari kamar aku lihat Tante Michael sudah duduk di depan meja makan dan dia langsung mengajakku kesana untuk bergabung dengannya, aku pun langsung menghampiri dia dengan cepat.


Aku hanya mengangguk kepadanya dan duduk disana dengan tenang sambil menunggu Dika dan tante Michael kembali.


Tapi tiba-tiba saja Tante Michael berteriak dari atas kamar Dika dia berteriak sangat kencang hingga membuat aku sangat kaget ketika mendengarnya.


"Aaarrkkkhhh....." Teriakan Tante Michael yang sangat keras membuat aku sangat kaget.


"Ohh...astaga ada apa, Tente apa yang terjadi disana?" Teriakku sambil langsung berlari ke lantai atas dan mencari keberadaan Tante Michael di kamar Dika.


Saat aku masuk ke dalam ku lihat Dika sudah jatuh dari ranjangnya dan terkulai lemas dengan obat di tangannya, aku sangat kaget melihat itu karena sebelumnya aku tidak pernah melihat Dika seperti ini.


"Ya ampun. Dika!" Teriakku sangat keras dan segera menghampirinya dengan cepat.


Aku langsung membantu tante Michael untuk mengangkat Dika dan menidurkannya di ranjang, aku sangat panik melihat Dika dalam keadaan seperti ini.


"Dika ada apa denganmu? Kenapa kau bisa seperti ini, Dika aku mohon tolong bangunlah dan jawab aku" ucapku kepadanya.


Tante Michael segera menelpon dokter dan dia meminta agar aku menunggu Dika disana sementara dia segera pergi untuk mencari dokter lain karena menelponnya sangat lama.


"Elisa tolong jaga Dika disini, Tante akan pergi memanggil dokter" ucap Tante Michael dengan panik,


"Tenang saja Tante aku akan menjaganya" balasku kepadanya sambil mengangguk.


Aku terus memegangi tangan Dika dan mendekatkan diriku kepadanya, aku sungguh tidak bisa merasa tenang sebenarnya ketika melihat Dika dalam kondisi mengkhawatirkan seperti ini, aku sungguh ingin melihat dia sehat kembali seperti biasanya, aku juga tidak tahu kenapa dia bisa seperti itu.


"Dika...aku mohon bangunlah, kenapa kau seperti ini? Dika jangan tinggalkan aku, aku tidak bisa melakukan apapun jika kau tidak ada" ucapku menangis di sampingnya sambil memegangi kedua tangannya dengan erat.

__ADS_1


Aku bahkan menangis di sampingnya hingga akhirnya Dika tersadar juga namun dia masih terlihat sangat lemah, dan aku segera membantu dia untuk menaikkan kepalanya sedikit dan memberinya minum.


"Elisa ..." Ucap Dika memanggilku dengan suaranya yang sangat pelan.


"Dika....kau bangun? Ayo Dika bangkitlah aku bantu kau untuk minum, tenangkan dirimu" ucapku kepadanya sambil segera memberikan dia minum terlebih dahulu,


Dia hanya tersenyum kepadaku dan dia menyentuh pipiku, dia langsung mengusap sisa air mata di pipiku, disaat kondisinya seperti ini dia masih saja tetap mengkhawatirkanku padahal seharusnya dia mencemaskan kondisi dirinya sendiri bukan mengkhawatirkanku aku yang jelas baik-baik.


"Elisa kenapa kau menangis, aku baik-baik saja, kau jangan menangisi aku" ucapnya membuat aku semakin ingin menangis,


"Dika aku menangis karenamu, jika kau tidak ingin aku menangis kau harus sehat kenapa kau tiba-tiba seperti ini? Kau membuat aku mengkhawatirkan dirimu, aku tidak ingin kehilanganmu" ucapku kepadanya.


Aku langsung memeluknya dan dia menepuk pundakku pelan, aku justru ingin tersenyum melihat tingkahnya itu, malah dia yang menenangkan aku padahal dia sendiri yang sakit.


Sampai tidak lama Tante Michael datang bersama seorang dokter pria kesana dan mereka segera memeriksa Dika sedangkan aku berdiri di belakang melihat sang dokter mulai memeriksa keadaan Dika dengan begitu teliti dan berlahan sampai akhirnya dokter meminta agar kami tidak perlu mencemaskannya karena Dika dalam kondisi baik-baik saja.


"Dokter bagaimana keadaan dia?" Tanyaku dengan Tante Michael bersamaan sambil memegangi tangan dokter itu.


"Ahhh...maafkan aku Tante, aku hanya sangat mengkhawatirkan Dika" ucapku merasa tidak enak dengan Tante Michael,


"Tenang saja aku senang melihatmu mengkhawatirkan calon suamimu, bukankah itu sesuatu yang wajah?" Balas tante Michael padaku,


"Tidak perlu terlalu khawatir, tuan Dika baik-baik saja dia hanya kecapean dan terlalu banyak mengonsum obat tidur sebaiknya dia menghentikan konsumsi obat tidurnya atau jika tidak itu akan menjadi kecanduan dan sulit untuk di lepaskan" ucap sang dokter menjelaskan.


Aku dan Tante Michael sangat kaget mendengar hal tersebut, karena aku juga baru mengetahui bahwa ternyata selama ini Dika mengonsumsi obat penenang seperti itu dalam jangka waktu yang panjang sehingga membuat aku sangat syok mendengarnya, begitu juga dengan Tante Michael yang langsung menatap tajam pada Dika tepat ketika dokter sudah aku antar keluar.


"Dasar kau bocah nakal! Kenapa kau mengonsumsi obat tidur terlalu banyak dalam sekali teguk!" Bentak Tante Michael yang langsung membentak Dika dan memukuli ya dengan bantal yang ada disana.


"Aishh...kau membuat aku cemas setengah mati, dasar anak kurang ajar kau...hah...rasakan ini, eughh...euhh...euh....buk...buk..." Ucap Tante Michael sambil langsung melemparkan pukulan bantalnya kepada Dika berkali kali,


"Ahhh....aduh ..ibu hentikan aku sedang sakit kenapa kau melam menimpuki aku, aahhh ...ibu hentikan itu" teriak Dika membuat aku yang ada di luar kamar segera masuk ke dalam dengan cepat untuk melihatnya.


Saat melihat Dika ternyata sedang di timpuki bantal oleh tenta Michael aku pun langsung berlari ke dalam dan segera menghentikan Tante Michael dengan menahan tangannya dan melindungi Dika agar Tante Michael bisa berhenti menimpuki Dika.


"E...e...eh...Tante cukup, sudah jangan lakukan itu lagi, Dika mungkin salah tetap dia sedang sakit saat ini, tolong jangan lakukan itu kepadanya" ucapku sambil memeluk Dika dan menjadi tameng untuknya.


Akhirnya Tante Michael pun langsung berhenti menimpuki Dika dan dia langsung melemparkan bantal itu ke samping lalu dia langsung berpamitan untuk pergi dan memperingati Dika untuk tidak melakukan hal bodoh seperti itu lagi.


"Aishh....baiklah karena Elisa melindungimu aku memaafkanmu kali ini, tali awas saja jika kau mengonsumsi obat tidur itu lagi, ibu akan memecat mu sebagai anak dan akan membawa Elisa juga!" Bentak ibu Michael yang membuat Dika langsung bangkit berdiri dan protes dengan keras.


"Aishh ...Bu jika kau mau memecatku sebagai putramu aku sih tidak masalah tapi kenapa kau harus mengancam aku untuk menjauhkanki dengan Elisa aku tidak bisa hidup tanpanya dan kau tahu itu" ucap Dika dengan keras.


Aku bahkan kaget saat mendengar Dika melakukan itu dan mengatakan hal semacam itu di depan ibunya sendiri di tambah dia juga langsung memelukku dengan erat, membuat aku merasa aneh dan menatapnya dengan terperangah.


"Aishh...dasar kau anak kurang ajar, Elisa awas saja jika dia melakukan hal-hal bodoh lagi laporkan padaku dan aku akan mengambil semua miliknya termasuk dirimu!" Bentak Tante Michael sangat keras.


Aku hanya bisa menahan tawa melihat ibu dan anak ini yang selalu bertengkar dan berdebat seperti anak kecil namun di sisi lain aku tahu sebenarnya mereka saling menyayangi satu sama lain.


Aku pun segera menghentikan mereka dan menenangkan Dika untuk kembali tidur dan beristirahat sedangkan pada tante Michael aku langsung membawanya keluar dari kamar itu dan mengantarkan dia ke Banda karena dia sudah terlambat untuk penerbangannya hari ini.


"Aahhh..sudah.... Tante aku akan menurutimu, ayo kau sudah terlambat untuk ke Bandara aku akan mengantarmu kesana" ucapku kepada tante Michael,


"Tidak usah Elisa kau disini jaga saja anak nakal itu, Tante akan pergi dengan pak supir dan lagipula jarak bandara dari sini cukup dekat sehingga tidak membutuhkan banyak waktu, Tante titip Dika padamu yah, jika ada apapun segera hubungi Tante" balas tante Michael yang melarangku untuk mengantarkannya.


Meski aku sudah mendesak dia dan tetap berusaha untuk mengantarkannya tapi dia tetap tidak mau aku ikut dan malah menyuruhku untuk diam saja menjaga Dika disana sehingga aku pun menuruti ucapannya itu.

__ADS_1


__ADS_2