Bos Ternyata Musuhku

Bos Ternyata Musuhku
Bersama Devinka


__ADS_3

Devinka hanya tersenyum garing sambil menggaruk pelan belakang kepalanya, aku juga merasa sangat kaget karena ruangannya itu sungguh berantakan sekali.


Aku pun berniat untuk membantu dia membereskannya karena itu sudah menjadi sebuah kebiasaan bagiku setiap kali melihat tempat yang berantakan seakan diriku bereaksi dan refleks mau membersihkannya.


Aku langsung mengumpulkan pecahan-pecahan kaca dan beberapa barang lainnya yang aku sendiri tidak tahu itu apa namun aku yakin bahwa semua barang yang Devinka pecahkan adalah barang-barang mahal semua.


"Ehh, chicken apa yang sedang kau lakukan?, Cepat bangkit jangan memunguti sampah itu, jarimu akan terluka" ucap Devinka mengkhawatirkan Elisa.


Aku tidak mendengarkan perintahnya dan dan hanya terus memungutinya dengan teliti.


"Tenang saja aku sudah biasa dengan pekerjaan seperti ini, tanganku juga sudah terbiasa jika tergores oleh pecahan benda tajam seperti ini paling hanya berdarah lalu dibalut plester sembuh deh, apa yang perlu di khawatirkan" ucapku dengan santai dan melempar senyum kepadanya.


Devinka langsung tertegun mendapatkan senyum manis dari Elisa jantungnya tiba-tiba saja berdetak sangat kencang dan sulit untuk dia kendalikan sendiri dia pun beberapa kali menggelengkan kepalanya untuk menormalkan perasaannya dan kembali pada kesadaran dirinya lagi.


"Aaahh ....Devinka ada apa denganmu aishh sadarlah" gerutu Devinka menyadarkan dirinya sendiri,


Dia pun berteriak memanggil pelayan untuk membersihkan kekacauan di kamarnya lalu dia menarik tanganku dan membawaku keluar dari sana menuruni tangga dan duduk di depan meja makan.


"Duduk dan diamlah di situ, kau tidak aku izinkan untuk membersihkan kamarku" ucap Devinka dengan tegas,


"Ada apa denganmu aku hanya ingin membantu pelayanmu dan itu sudah hal biasa untukku kenapa kau berlebihan begitu, apa jangan-jangan kau memang perduli padaku yah?" Ucapku menduga duga.


Devinka yang masih gengsi dia langsung saja menyangkal dugaan dari Elisa dengan sedikit nada yang tinggi dan berusaha menutupi ke gugup an di dalam dirinya sendiri.


"A..apa?, Tentu saja tidak. Lagi pula untuk apa aku membayar pelayan jika mereka tidak melakukan pekerjaannya, kau itu kan orang luar tidak baik jika kau membersihkan kekacauan yang aku perbuat sedangkan pelayanku hanya diam" ucap Devinka menjelaskan.


Apa yang dikatakan oleh Devinka memang sangat benar dan aku juga untuk apa membereskannya lagian aku sudah membantunya mengobati luka dan membalutnya dia juga sudah baik baik saja dan kamarnya sedang dibereskan oleh para pelayannya sehingga untuk apa lagi aku berada di rumahnya malam-malam seperti ini.


Aku pun memutuskan untuk pergi karena tujuanku sudah terpenuhi untuk memastikan keadaan Devinka bahwa dia tidak marah padaku karena itulah tujuan awalku datang ke sana.

__ADS_1


Meski aku masih merasa heran dan sedikit penasaran kenapa dia bisa mengamuk sampai melukai tangannya sendiri seperti itu tapi setelah aku pikirkan lagi tidak ada alasan untukku menanyakan hal itu kepada dirinya, sebab aku juga bukan siapa-siapa baginya aku hanya musuh untuknya jadi untuk apa menanyakan hal pribadi seperti itu.


Lagian jika aku menanyakannya belum tentu juga dia akan memberitahuku mungkin yang ada dia justru akan memarahiku, membentakku dan ujung-ujungnya juga menghinaku lagi, makanya aku langsung berpamitan saja kepada Devinka untuk menghindari perdebatan lain yang akan terjadi.


"Aahhh...ya sudah kalau begitu aku mau pulang ini sudah malam, bye...." Ucapku sambil berjalan meninggalkan tempat itu.


Namun baru saja aku hendak memegang gagang pintu rumahnya dia menahan tanganku secara tiba-tiba dan membuatku sedikit kaget.


"Elisa tunggu!" Ucapnya menahanku dengan memanggil nama asliku.


Aku tertegun dengan membuka mataku lebar dan menatap dia dengan lekat, seakan aku masih belum bisa mempercayai dia baru saja memanggil namaku dengan benar dan fasih.


Aku kaget, bercampur heran dan ingin tertawa karena itu sangat langka, bahkan aku sampai menggaruk belakang kepalaku sendiri saking merasa bingungnya mendengar ucapan itu dari seorang Devinka, dan untuk memastikannya aku mencoba meminta dia untuk mengulangi kembali panggilannya kepadaku.


"Hah?, Apa...apa?, Kau baru saja memanggilku dengan namaku?" Ucapku bertanya kepadanya dengan melongo heran.


Devinka sendiri malah balik kaget dan menatapku dengan menaikkan kedua alisnya terlihat heran dengan pertanyaan dariku, terlihat jelas bahwa dia sendiri baru sadar bahwa barusan dia memanggil Elisa dengan nama aslinya bukan chicken ataupun cewek ayam yang biasa dia katakan untuk memanggil Elisa.


"Ckk .. sudahlah, aku pergi saja lepaskan tanganku!" Bentakku padanya.


Devinka langsung melepaskan tanganku namun dia masih memanggilku lagi sehingga membuatku sedikit geram dan aku langsung menghentakkan kakiku ke lantai beberapa kali lalu aku membalikan badanku lagi dan membentaknya.


"Chicken berhenti!" Teriak Devinka menghentikan aku untuk kedua kalinya.


Aku benar-benar sangat jengkel dibuatnya.


"Aishhh ..ada apa lagi Devinka?" Ucapku sangat jengkel dan kesal kepadanya,


"Heh, biasa saja kali kanapa kau harus semarah itu denganku, apa kau sangat membenciku sebesar itu yah?" Ucapnya kepadaku.

__ADS_1


Dan aku langsung menghembuskan nafas berat lalu berjalan ke arahnya sambil berusaha memasang senyuman paksa di wajahku sampai akhirnya aku kembali bertanya dan mengulangi kalimatku yang sebelumnya dengan nada bicara yang lembut dan jauh lebih baik dari sebelumnya yang kasar dan membentak.


"Iya, ada apa memanggilku lagi Devinka?" Ucapku bertanya sambil memasang senyum manis dalam sekejap lalu kembali memasang wajah datar dan sinis.


"Ckk ...kau lebih buruk dan jelek ketika kau tersenyum" balasnya malah menghinaku.


Dia memang tidak bisa diberi kebaikan sedikit saja, aku sudah susah payah menahan emosiku dan berusaha bicara serta bertanya secara baik-baik kepadanya namun balasan darinya justru sebuah penghinaan untukku sungguh aku merasa menyesal dan sangat sia-sia telah bersiap baik kepada dia sebelumnya.


"Ya sudah apa yang kau mau hah, kenapa kau menahanku terus ini sudah malam aku akan kehilangan bus jika kau terus menahanku begini" bentakku penuh kekesalan.


Devinka menelan salivanya dengan susah payah karena melihat Elisa yang terlihat cantik dan menggemaskan bahkan ketika dia tengah marah dan bersikap judes terhadapnya.


Dia pun menjadi sedikit gugup untuk mengatakan keinginannya kepada Elisa, namun meski begitu Devinka tetap berusaha menyampaikannya.


"Bi...bisakah...kau tetap tinggal disini" ucapnya membuatku sangat kaget.


Aku terbelalak dan membuka mulutku dengan sangat lebar, aku benar-benar kesal dan rasanya ingin menampar dia saat itu juga.


"Ahh?, Ahaha...apa kau gila memintaku untuk tinggal di rumahmu hah?, Aku ini seorang gadis dan kau seorang pria, apa yang akan orang katakan jika mereka tahu aku tinggal di rumahmu?" Bentakku dengan kesal,


"Tapi chicken aku hanya memintamu tinggal semalam saja, lagian kita sebelumnya kau juga sudah pernah tidur di rumahku" ucap Devinka membuatku malu saat mendengarnya.


Aku langsung menutup mulut Devinka dengan membekapnya menggunakan tanganku.


"Eumm...eummm..." Berontak Devika sambil menepuk nepuk lenganku yang membekap mulutnya,


"Aishhh Devinka kau tidak malu yang mengatakan itu dengan keras?" Ucapku kesal,


"Huaaaaa....aishh tanganmu habis memegang apa sih kenapa bibirku jadi pahit begini" ucap Devinka sambil mengusap bibirnya berkali kali.

__ADS_1


Aku lupa tanganku bekas memegang obat luka yang tadi mengobati luka di tangan Devinka dan belum sempat mencucinya.


__ADS_2