
Sehingga aku memilih untuk makan dengan perlahan dan anggun dihadapannya, aku benar-benar menjadi seorang wanita feminim kali ini, dan kak Eril beberapa kali tersenyum padaku sampai tidak lama orang yang paling aku benci tiba-tiba saja datang ke sana dan menggebrak mejaku hingga membuatku terperanjat dan tersedak satu yang belum sempat aku kunyah.
"Brakkkk" suara Devinka menggebrak meja dengan keras sambil menatap ke arahku lalu beralih ke arah kak Eril dengan tatapan yang tajam,
"AA...aaa...aaa.." ucapku tersedak dan memegangi tenggorokanku yang terasa sakit,
Melihat Elisa kesakitan begitu Devinka panik dengan membelalakan matanya dan langsung saja membantu Elisa untuk mengeluarkan benda yang menyangkut di dalam tenggorokannya itu, Devinka sudah berusaha memukul pundakku beberapa kali tapi sialnya sate itu tidak keluar hingga dia memelukku dari belakang dan menekan dadaku dengan kuat beberapa kali sampai akhirnya sate itu berhasil keluar dari tenggorokanku.
Dan melayang ke udara hingga mengenai pakaian kak Eril, aku sangat kaget, malu dan tidak tahu harus melakukan apa saat itu.
Aku menutupi mulutku yang tercengang lalu segera menghempaskan lengan Devinka yang masih memelukku dan segera meminta maaf kepada kak Eril dengan perasaan malu tak terhingga.
"Aishh...Devinka lepaskan aku kenapa kau terus memelukku!" Bentakku padanya dan dia langsung melepaskan aku,
"Eu...euu...kak maafkan aku yah, ini biar aku bersihkan pakaianmu" ucapku sambil membersihkan noda di bajunya dengan tisyu yang tersedia disana.
Kak Eril langsung mengambil tisyu yang aku bawa dan membersihkan pakaiannya sendiri.
"Tidak papa sini biar aku bersihkan sendiri saja, dan lain kali kamu harus makan dengan benar jangan sampai kejadian tadi terulang lagi, itu berbahaya untukmu" ucap kak Eril dengan lembut dan mengusap pucuk kepalaku.
Aku sungguh tersipu oleh perkataannya, dia bahkan tidak marah setelah serangkaian kejadian memalukan terjadi, aku semakin terkesima dengannya, dia benar-benar seperti malaikat yang berhati bersih dan sangat tampan.
"I...iya kak aku akan berhati-hati lain kali" balasku sambil tertunduk dan tersenyum senang.
Aku pun kembali duduk namun tiba-tiba saja Devinka mengusap pucuk kepalaku juga tapi dia mengusapnya dengan kasar hingga membuat rambutku berantakan dibuatnya.
"Ahaha.... chicken sebaiknya kau tidak makan makanan seperti ini jika tidak bisa memakannya dengan baik, kau memalukan" ucap Devinka sambil mengacak rambutku,
"Eughhh...aduhhh Devinka kau ini apa apaan sih?" Bentakku sambil menepuk lengannya agar berhenti mengacak rambutku.
Dia sungguh membuat aku jengkel malam itu dan sialnya dia juga tidak pergi justru malah ikut duduk di sebelahku dan memakan sate milikku dengan santai, kelakuannya sungguh membuatku murka tapi aku tidak bisa berbuat apapun atau bicara kasar untuk merutukinya dengan kuat karena disana masih ada kak Eril bersamaku.
Aku takut dia menjadi ilfil denganku karena aku bersikap begitu aneh dihadapannya dan itu justru karena Devinka, sudah cukup tadi dia membuatku sangat malu hingga kini aku tidak berani lagi menatap ke arah kak Eril dengan sengaja.
"Aaahhh....dia sangat menjengkelkan kenapa dia tidak pergi dari sini, dan kapan dia ada disini seperti jelangkung saja!" Gumamku memikirkan.
Suasana menjadi sedikit canggung dan membosankan tidak ada yang bicara saat itu sampai kak Eril memberiku sate miliknya karena sate milikku habis dimakan oleh Devinka.
"Eummm ini enak sekali, boleh aku menghabiskannya?" Ucap Devinka yang sangat menguji kesabaranku,
"Devinka kau bisa memesannya sendiri tidak kan kau melihat penjualnya ada disana" ucapku sambil menunjuk ke arah gerobak sate yang tepat ada di sampingnya,
"Tidak aku ingin miliki" balas Devinka semakin membuatku naik pitam.
Aku berusaha mengatur nafasku untuk tidak terlihat emosi dan menyeramkan di depan orang yang aku sukai, aku harus menjaga image sebagai seorang wanita anggun dan berkelas aku pun memberikan seluruh sate itu kepada Devinka dan menggesernya kehadapan dia meski sebenarnya aku sangat sayang sekali dengan makanan itu dan aku belum puas menikmatinya.
"Hummm....ya sudah ini kau makan saja semuanya, ckk...kenapa juga kau tiba-tiba muncul disini dan membuat kekacauan!" Gerutuku pelan namun dia ternyata masih bisa mendengarnya,
"Aku baru saja menyelamatkanmu, tidakkah kau berterimakasih kepadaku?, Anggap saja sate ini ucapan terimakasih darimu padaku, kenapa kau tidak rela" balas Devinka dengan suara keras dan begitu santai.
Aku membelalakkan mataku dan langsung mencubit lengan Devinka untuk memperingatinya namun bukannya sadar dia malah lebih membuatku malu karena mengatakan apa yang aku lakukan kepadanya di depan kak Eril dengan lantang.
"Aww... chicken kau kau mencubitku, itu menyakitkan dan aku sedang makan jadi jangan menggangguku yah" ucap Devinka sambil tersenyum kepadaku.
__ADS_1
Aku pun tidak bisa marah pada dia dihadapan kak Eril sehingga dengan terpaksa harus memasang wajah tersenyum juga kepada Devinka,
"Ohoho.. maafkan aku itu tidak sengaja, sudah kau makan saja ya, makan yang banyak oke" ucapku sambil tersenyum menahan emosi,
Kak Eril hanya tersenyum menatapku lalu dia memberikan sate miliknya padaku dengan cuma cuma tanpa aku memintanya.
"Sudah jangan berebut lagi Elisa dia memang telah menyelamatkan kamu, jadi terimakasih ya kau telah menyelamatkan Elisa" ucap kak Eril kepada Devinka.
Sedangkan Devinka hanya terus asik makan dan mengabaikan kak Eril, untunglah kak Eril orang yang penyabar sehingga dia tidak tersulut emosi dengan kelakuan Devinka. Dan dia kembali beralih menatapku.
"Elisa ini kamu makan saja milikku" ucap kak Eril yang membuatku terharu sekaligus senang namun Devinka nampak begitu kesal hingga dia makan dengan sangat kasar.
"Ohh...tidak usah kak aku sudah kenyang, silahkan kakak habiskan saja" ucapku pada kak Eril karena merasa tidak enak,
"Jangan begitu Elisa sudahlah kita bagi dua saja, sini biar aku suapi...aaaaa....buka mulutmu" ucap kak Eril menyuapiku sate tersebut.
Aku sangat senang dan langsung membuka mulutku hendak menerima suapan dari kak Eril tapi Devinka sialan malah mendorongku ke samping dan malah dia yang memakan suapan pertama dari kak Eril untukku.
"Aammm...nyam..nyam...ini enak sekali, terimakasih hehe" ucap Devinka memakannya.
Aku sudah sangat jengkel dan langsung mendorong Devinka dengan kuat karena tidak bisa menahan emosi lagi, meski itu di depan kak Eril aku tidak perduli sekarang, aku tidak bisa membiarkan orang kurang ajar dan tidak tahu sopan santun sepertinya membuat kencan pertamaku hancur begitu saja, terlebih aku sudah mengeluarkan uang dan tenaga untuk bisa makan berdua bersama kak Eril.
Dan dia dengan tingkah konyolnya menghancurkan kencan pertamaku itu tanpa rasa bersalah sehingga aku tidak akan bisa memaafkan dia dengan mudah.
"Aishhh....Devinka minggir kau, bisakah kau tidak menggangguku sekali saja, untuk apa kau juga masih disini apa kau tidak ada kerjaan sampai mengganggu aku disini hah?" Bentakku kepadanya.
Devinka langsung terdiam dan dia menjatuhkan sate yang ada di tangannya dia menatapku dengan wajah datar dan termenung cukup lama lalu dia pergi dari sana.
Aku senang dia pergi dan aku senang aku berhasil melepaskan emosiku namun di hadapanku masih ada kak Eril dia meraih tanganku dan membuatku tidak emosi lagi, dia membuatku tenang dan aku bisa merasakan kehangatan darinya.
"Elisa sudahlah jangan membuat moodmu hancur seperti ini dia hanya orang iseng kan, jadi jangan dipikirkan yang terpenting dia sudah pergi, ayo lanjutkan makan mu" ucap kak Eril membuatku luluh.
Aku langsung merasa jauh lebih baik meski ada sedikit ke khawatir di dalam diriku saat melihat Devinka pergi dengan wajahnya yang seperti itu, namun aku tidak bisa marah lagi karena kak Eril telah membuatku jauh lebih tenang dan aku melanjutkan makanku, tapi saat tengah makan kak Eril tiba-tiba saja menanyakan masalah Devinka padaku.
"Eumm Elisa jika aku boleh tahu, pria tadi siapa ya?, Sepertinya dia sangat tidak suka denganku dan mungkin dia menyukaimu" ucap kak Eril membuatku ingin tertawa mendengar dugaan darinya,
"Ahaha...kak dia itu hanya rekan satu tim ku di kerja kelompok kampus, dan aku musuh bebuyutan dengannya jadi jelas dia akan menggangguku seperti itu dia juga akan terus membuatku kesal setiap kali kami bertemu, jadi tidak heran dia terlihat membencimu itu karena aku dekat denganmu kak" balasku dengan diiringi tawa,
"Elisa sepertinya kamu tidak benar-benar mengenal dia" ucap kak Eril yang membuatku heran dan seketika menghentikan makanku,
"Hah?, Maksudmu apa kak?" tanyaku tidak mengerti,
Di saat kak Eril hendak menjelaskan maksudnya padaku tiba-tiba ponselnya berdering dan dia segera mengangkat ponselnya dahulu lalu wajahnya langsung berubah serius dan dia berpamitan pergi meninggalkanku begitu saja.
"Aahhh...Elisa ada hal penting yang harus aku selesaikan, aku harus pergi terimakasih teraktirannya lain kali aku akan membalasmu, bye Elisa..." Ucap kak Eril sangat terburu-buru berlari cepat dan menaiki taxi.
Aku hanya termenung dengan keheranan dan bingung dengan apa yang terjadi, kedua pria itu sudah pergi meninggalkanku dan pada akhirnya aku hanya makan seorang diri, tapi aku merasa sedikit bersalah kepada Devinka setelah aku sudah sendirian disana.
"Apa aku terlalu keras ya padanya?, Dia pergi dengan wajah yang lesu seperti tadi apa dia benar-benar sakit hati dengan ucapanku?" Gerutuku memikirkan.
Aku pun memutuskan untuk pergi mencarinya, hingga aku sampai di depan rumahnya aku memaksa satpam untuk membukakan gerbang untukku dan karena mereka telah mengetahui aku jadi dengan mudah aku bisa masuk ke dalam lingkungan rumah tersebut, namun yang sulit adalah ketika aku harus menemui Devinka di depan pintu rumahnya.
Aku sudah menekan bel dan berdiri di depan pintu beberapa saat menunggu sampai Devinka membukakan pintunya untukku namun yang datang justru adalah pelayannya.
__ADS_1
"Eh bi, apa Devinka ada di rumah?" Tanyaku kepada pelayan tersebut,
"Maaf nona tapi tuan muda sedang tidak ingin ditemui oleh anda dan sebaiknya anda segera pergi dari sini dan jangan mengganggunya lagi" ucap pelayan tersebut membuatku tercengang.
"Ahh...apa?, Ahaha...ini pasti prank kan tidak mungkin dia berkata begitu, bin tolong panggilkan Devinka untukku aku harus bicara dengannya ini penting" ucapku mendesak dan memohon pada pelayan itu,
"Maaf nona tapi, saya tidak bisa membantu anda sepertinya tuan muda tengah dalam situasi yang buruk dia bahkan memecahkan barang-barang di kamarnya sejak dia kembali dari luar beberapa saat yang lalu" ucap pelayan itu mengatakan.
Lalu suara teriakkan Devinka terdengar sangat keras dari dalam hingga membuat aku dan pelayan yang tengah membicarakannya kaget.
"Aaarkhhh..." Suara teriakkan Devinka yang seperti kesakitan.
Aku panik saat mendengar itu dan langsung saja berlari menerobos ke dalam rumahnya lalu pergi menaiki tangga mencari Devinka hingga mendobrak pintu kamar Devinka tanpa sadar.
"Eh ..nona kembali, anda tidak bisa masuk ke dalam sembarangan" teriak pelayan tadi mengejarku.
Namun sayangnya aku sudah berdiri di depan kamar Devinka dengan pintunya yang terbuka dan aku melihat Devinka duduk di lantai dengan memegangi lengannya yang terluka mengeluarkan darah, mataku langsung terbuka lebar dan aku segera berlari menghampirinya.
"Devinka apa yang terjadi, tunggu sebentar" ucapku sambil mencari kain yang bisa dipakai untuk menutupi lukanya.
Aku mencari sesuatu disana hingga menemukan kota p3k di dalam laci kamarnya lalu aku membantu dia untuk berdiri dan berpindah duduk di kursi yang ada di kamarnya tersebut.
"Mau apa kau kemari?" Tanya nya dengan nada yang datar,
"Diam jangan banyak bicara aku sedang mengobati lukamu ini akan berbahaya jika terus dibiarkan terbuka" ucapku sambil terus fokus mengobati lukanya.
Hingga aku berhasil membalut luka yang cukup besar di tangannya tersebut, entah kenapa saat melihat Devinka dalam keadaan seperti itu aku sangat panik dan ketakutan, aku sungguh mencemaskan dia apalagi saat melihat tangannya terluka dan mengeluarkan darah yang cukup banyak.
Di belakang ada pelayan yang tadi mengejarku dan Devinka menggunakan tangannya untuk memerintah pelayan itu untuk kembali dan membiarkan aku bersamanya.
"Fyuhhh....ini sudah selesai" ucapku pada Devinka sambil menyeka keringat di wajahku.
Diam diam Devinka tersenyum dia merasa senang karena Elisa membalutkan lukanya dengan begitu telaten dan dia senang saat pertama kali melihat wajah panik Elisa yang mengkhawatirkan dirinya.
"Ekhm....kau kenapa kau kemari?" Tanya Devinka sambil memalingkan pandangannya ke arah lain,
"Bodoh!, Tentu saja aku mengkhawatirkanmu kau pergi dengan wajah seperti tadi bagaimana aku tidak mencemaskanmu" ungkap ku mengatakan yang sebenarnya.
Mendengar ucapan dari Elisa yang berbicara apa adanya tentu saja Devinka merasa seperti melayang layang di awan dia sangat bahagia hingga tidak bisa menyembunyikan senyum lebar yang terlukis di wajahnya saat itu juga.
Sedangkan aku merasa heran karena Devinka senyum senyum sendiri tanpa berkata-kata setelah aku mengatakan bahwa aku mengkhawatirkan dirinya.
"Hey, Devinka apa kau menjadi gila karena tergores di tanganmu?" Tanyaku dengan heran,
"A..ahaha...tidak aku hanya merasa lebih baik, hehe terimakasih sudah membalutkan luka ku" ucapku berterimakasih kepadaku sambil tersenyum aneh yang menyeramkan bagiku.
"Eishh...berhenti tersenyum seperti itu, kau semakin kesini kenapa malah semakin aneh dan menyeramkan sih?" Ucapku sambil mengerutkan kedua alisku dengan heran.
Melihat senyuman Devinka terus seperti itu benar-benar membuatku merinding dia sangat aneh sekali karena bisa merubah mood-nya dalam waktu beberapa saat saja.
Aku bangkit berdiri dan betapa kagetnya aku saat melihat kamar Devinka benar-benar sangat berantakan dan terlihat begitu buruk kali ini. Padahal sebelumnya saat pertama kali masuk aku merasa tidak se berantakan itu.
"Woow....astaga Devinka kenapa tadi aku tidak sadar kamarmu seperti kapal pecah begini?" Ucapku dengan mata yang terbelalak kaget melihat kamar yang berantakan dan penuh pecahan barang di lantai,
__ADS_1