Bos Ternyata Musuhku

Bos Ternyata Musuhku
Pertemuan Reksa dan Eril


__ADS_3

Apalagi ketika merasakan tubuh yang sakit karena sempat berkelahi dengan dua orang pria yang menjengkelkan sebelumnya, sudahlah mengorbankan diri bertarung, dua perampok itu malah berhasil kabur dan niat untuk menjadikan kejadian itu pemberitaan utama juga gagal karena aku lupa menanyakan nama ibu yang menjadi korban perampokan tersebut.


Saking lelapnya tertidur selama perjalanan aku bahkan tidak sadar jika saat itu kami sudah sampai di depan perusahaan dan kak Kris membangunkanku sampai beberapa kali.


"Elisa...hey... Elisa bangun kita sudah sampai" ujar kak Kris membangunkanku dengan menepuk pelan pipiku.


Aku pun akhirnya terbangun dan langsung merapihkan diri sebelum keluar, sialnya saat aku keluar dan mengambil kedua tas besar itu, kak Kris sama sekali tidak mau membantuku.


"Kak Kris bisakah kau membantuku membawa salah satu tas besar ini?" Ucapku meminta bantuan padanya,


"Tidak mau, kau bawa saja sendiri aku lelah menyetir seharian aku duluan yah hati hati di jalan" ujarnya dengan santai.


Aku sungguh kesal dan hanya bisa berdecak sambil menghentakkan kakiku ke tanah untuk menyalurkan kekesalan dalam diriku.


"Eughhh...dasar kak Kris pria tidak peka, masa aku juga yang harus membawa tas kak Eril mana berat banget lagi" gerutuku sepanjang jalan.


Saking susahnya aku membawa kedua tas besar itu, aku bahkan kesulitan untuk menelan tombol saat menaiki lift untunglah aku bertemu Reksa di sana dan dia membantuku dengan suka rela.


"Elisa apa yang kau bawa sini biar aku bantu" ujar Reksa sambil mengambil salah satu tas besar dari lenganku.


"Ahhh akhirnya ada orang berhati malaikat yang mau membantu wanita lemah sepertiku" gerutuku merasa lega.


Reksa hanya tersenyum tersipu mendengar pujian dariku, aku sengaja memujinya demikian agar dia bisa terus membantuku membawa tas sialan itu sampai ke lantai atas.


"Sini biar aku bawa semuanya kau pasti lelah membawanya sedari tadi" tambah Reksa tiba tiba bersikap baik.


Dan hasilnya sesuai dengan dugaanku Reksa rela membantuku membawa kedua tas berat itu sampai menaruhnya di ruangannya dan sejujurnya aku juga merasa tidak enak karena sudah memanfaatkan kebaikannya.

__ADS_1


"Aahh... Akhirnya kita sampai juga, Elisa lain kali jangan bawa barang sebanyak ini apa kau mau kemping di kantor aishh" gerutu Reksa sambil menaruh kedua tas di lantai.


"Iya, lagian ini bukan tas milikku punya yang itu" jawabku sambil menunjuk ke arah tas ku dan segera mengambilnya.


"Eishh...jadi tas besar ini milik siapa kenapa kamu yang harus membawanya?" Tanya Reksa penasaran.


Tiba tiba saja kak Eril menghampiriku dan dia langsung mengambil tasnya sambil berkata kepada Reksa.


"Ini tas milikku, aku tidak sengaja meninggalkannya bersama Elisa" ujar kak Kris tiba tiba muncul.


Aku sempat kaget dan menatap dengan heran karena kak Eril yang tiba tiba muncul dihadapanku dan Reksa, sama denganku Reksa juga menatapnya dengan keheranan dan nampak sorot mata Reksa seperti tidak menyukai sosok kak Kris begitupun sebaliknya.


"Ohhh...jadi tas sialan ini milikmu?, ha. Pria mana yang tega membiarkan seorang perempuan membawa tas seberat ini seorang diri, merepotkan orang saja" ucap Reksa seperti sengaja membuat kesal kak Eril.


Aku pun langsung memotong ucapannya agar kak Eril tidak membalas ucapan Reksa lagi karena jika sampai itu terjadi aku rasa akan terjadi perdebatan hebat diantara kedua pria yang sama sama keras kepala itu.


Saat itu aku berharap Reksa akan segera pergi karena aku sudah memujinya cukup bagus dan syukurnya Reksa sungguh segera pergi setelah aku mengatakan kalimat manis kepadanya.


"Ha aku memang pria yang mengagumkan, beruntung kau memiliki teman sepertiku, ya sudah aku pergi hubungi aku jika pria ini merepotkanmu lagi" kata Reksa yang membuatku membelalakkan mata saking kagetnya dengan ucapan yang keluar dari mulutnya.


"Ahaha...iya iya, cepat sana kau pergi" bisikku pada Reksa sambil mendorongnya keluar dari ruangan itu.


Saat itu kak Eril memang tampak biasa saja wajahnya sangat datar dan tidak memperlihatkan emosi apapun namun sebelumnya aku jelas melihat wajahnya memerah karena emosi makanya aku segera mendorong Reksa untuk cepat pergi dari sana.


Setelah kepergian Reksa aku merasa bingung dan canggung untuk bersikap pada kak Eril. Aku berjalan menghadap dia yang tengah mengangkat tas besar miliknya dan memindahkan tas itu ke samping meja kerjanya.


Aku berjalan mengikutinya berniat untuk meminta maaf mewakili Reksa atas ucapannya yang mungkin menyakiti hati dan perasaan kak Eril.

__ADS_1


Meski kak Eril sendiri nampak begitu tenang tetap saja aku merasa tidak enak justru karena diamnya dia yang membuatku semakin merasa bersalah.


"Ada apa lagi kau berdiri di sini?" Tanya kak Eril padaku,


"Ahh ..itu aku hanya ingin meminta maaf atas perkataan temanku tadi, dia tidak bermaksud seperti itu kok mungkin itu karena dia mengkhawatirkanku saja" kataku menjelaskan,


"Aku tidak perduli dan aku tau seharusnya aku sendiri yang mengambil barang milikku bukan merepotkanmu seperti ini" jawab kak Eril membuatku heran,


"Ehh?, tidak papa kak aku juga membantumu dengan suka rela, jadi kau jangan berpikiran seperti itu, temanku sungguh hanya asal bicara jangan terlalu di pikirkan atau dimasukkan ke hati yah, aku jadi merasa tidak enak padamu" ucapku merasa bersalah,


"Kau tenang saja, aku bukan pria seperti itu, sekali lagi terimakasih sudah membawa tasku dan lain kali jangan membawanya sendiri seperti tadi, kau bisa memberitahuku untuk membawanya jangan menyusahkan dirimu sendiri" kata kak Eril membuatku sedikit tenang,


"I..iya kak, aku janji tidak akan membawa barangmu lagi, ehh ma..maksudku ya itu deh pokoknya aku tidak akan membuat masalah lagi" ungkap ku yang salah bicara.


Karena ucapanku yang terbata bata kak Eril justru malah tersenyum menanggapi ucapanku, setelah melihatnya sudah bisa kembali tersenyum aku semakin lega dan membalas senyumannya lalu segera kembali ke meja kerjaku untuk menyiapkan laporan berita perampokan sebelumnya.


Saat aku hendak baru memulai menyiapkan laporan tiba tiba saja kak Anne dan kak Kris datang menghampiri mejaku dan membuatku sedikit kaget.


"Astaga...kenapa kalian bisa ada di sini?" Tanyaku kaget,


"Heh, apa yang sudah kamu bicarakan dengan Eril sampai dia bisa tersenyum selebar itu?" Tanya kak Anne dengan wajah menyelidik.


Aku mulai merasakan keanehan dari tatapan mereka berdua kepadaku dan aku juga malas menjelaskan masalah tadi karena terlalu panjang untuk dijelaskan.


"Aishh....kenapa kalian kepo sekali sih dengan urusan orang, sudah sana kembali ke meja masing masing aku harus menyelesaikan pekerjaan ku" balasku mengabaikan pertanyaan mereka,


"Hmm, Elisa kau sekarang sudah berani mengabaikan kami. Menyedihkan" ucap kak Anne sedang wajah cemberut.

__ADS_1


__ADS_2