Bos Ternyata Musuhku

Bos Ternyata Musuhku
Wawancara


__ADS_3

Devinka masih belum menyadari dampak apa yang akan dirinya hadapi karena sudah mengucapkan kalimat itu dengan lantang dan membohongi dirinya terlalu banyak, bahkan disaat Dika terus berusaha meyakinkan dia, Devinka sama sekali tidak keberatan dengan apa yang diucapkan oleh Dika bahkan dia seakan terus mendukung Dika untuk mengejar Elisa.


"Ahaha....tenang saja Dika, aku memang tidak menyukainya, kau bisa mengejar dia dengan tenang, lawanmu bukan aku tapi Reksa karena si chicken itu sangat dekat dengannya, semoga kau berhasil" ucap Devinka sambil tersenyum dan menepuk pundak Dika pelan.


Reksa menahan dengan serius dan tidak suka kepada Devinka, karena sudah jelas Reksa mengetahui semuanya dia bisa melihat bahwa Devinka tidak sungguh-sungguh saat mengatakan kalimat tersebut.


Karena kesal melihat Devinka yang memakai topeng Reksa bahkan enggan mengeluarkan suara lagi dia sudah sangat kecewa pada apa yang dilakukan oleh Devinka dan dia semakin merasa kesal tatkala melihat Devinka bertingkah seperti pecundang.


"Aaahh...sudahlah aku akan pergi, kalian juga sudah berdamai kan" ucap Reksa sambil segera meninggalkan tempat tersebut.


Bukan hanya Reksa yang pergi tapi Ciko dan Dika juga segera pergi dari sana.


"Devinka ingat jika kau mau berangkat ke negara A, kau harus memberitahu kami dahulu jangan pergi seorang diri dan bersikap seakan tiba-tiba menghilang, aku akan membencimu jika itu terjadi!" Ucap Ciko dengan ancaman yang mendominasi,


"Aishh iya...iya, kalian ini kenapa sih sudah cepat sana pergi aku mau beristirahat" ucap Devinka sambil mendorong kedua temannya itu keluar dari rumahnya.


Dika membawa Ciko bersamanya dan mereka segera pergi dari kediaman Devinka, setelah semua temannya pergi barulah Devinka terlihat begitu murung dan sedih, dia langsung berjalan dengan tertunduk dan lesu, lalu duduk di sofa sambil menengadahkan wajahnya keatas.


"Huft...apa aku salah dengan ucapanku sendiri?, Tapi aku memang tidak bisa bersamanya selama ada ibuku yang akan menghalangi semuanya" gerutu Devinka memikirkan.


Sedangkan disisi lain aku sungguh merasa sedih dan terpukul rasanya aku belum pernah merasakan rasa sakit yang sehebat ini, hatiku terasa begitu ngilu dan nyeri aku tidak bisa mengendalikan perasaanku sendiri, menangis sepanjang jalan dan terus berjalan tanpa arah dengan wajah yang sembab karena menangis tanpa henti, meski aku terus mengusap air mataku berkali-kali sayangnya semua itu tidak berguna, aku tetap membuat pipiku di penuhi air mata lagi.

__ADS_1


Hingga akhirnya aku sampai di halte bus, aku duduk disana seorang diri dan menatap ke jalanan dengan sorot mata yang kabur, air mataku ini sungguh sangat menggangu penglihatan ku, sakit dan hancur itu yang aku rasakan saat ini.


"Kenapa....kenapa aku harus sehancur ini, dia bukan kekasihku dia hanya musuhku kenapa aku harus merasakan perasaan yang merepotkan ini?" Gerutuku dengan memegangi dadaku dengan kuat.


Aku berusaha menormalkan nafasku berkali-kali dan mengaturnya dengan baik, hingga bus tiba dan aku segera meninggalkan tempat tersebut, selama di perjalanan aku selalu berusaha untuk menguatkan diriku sendiri dan melupakan semua yang baru saja aku dengar tentang Devinka.


"Ayolah Elisa kau harus kuat, sejak kapan kau berubah menjadi lemah seperti ini, hah iya aku harus kuat dan memulai hidup baru, mati kita mulai kisah baru dan lupakan Devinka anggap dia sebagai musuhmu iya hanya musuh bebuyutan!" Ucapku bertekad.


Aku sudah tidak menangis lagi mulai saat itu, dan aku sudah membuat keputusan untuk melupakan cinta yang belum sempat tersampaikan ini, walau sakit tapi memang ini seharusnya tidak terjadi antara aku dan Devinka.


Hingga ke esokan paginya aku sudah berdandan sangat rapih dan segera pergi ke kantor dengan penuh semangat untuk melakukan wawancara kerja, ini adalah pertarungan terakhir aku untuk mendapatkan pekerti perusahaan impianku, jantungku terus saja berdetak kencang sulit untuk aku kendalikan.


"Deg ....deg....deg...deg..." Suara detak jantungku yang membuat aku nervous.


Selama menunggu pewawancara tiba aku terus saja berusaha menenangkan diriku hingga tidak lama kemudian munculah beberapa orang pewawancara dari pintu dan mereka masuk ke dalam ruangan itu, awalnya aku melihat seorang pria yang tidak aku kenal hingga kak Eril yang masuk ke dalam, ku pikir pewawancaranya hanya mereka berdua tapi tidak lama kak Kiki muncul seorang pimpinan departemen satu yang selalu bermusuhan dengan departemen dua.


Aku sudah merasa tidak nyaman dan memiliki perasaan buruk ketika melihatnya ikut masuk dan mewawancarai kami, selama proses wawancara berlangsung aku merasa kak Kiki terus melemparkan pertanyaan yang menyudutkan aku tapi untunglah kak Eril juga ada disana dan dia bisa membantuku untuk memperbaiki situasi, setidaknya aku memiliki seorang pendukung.


Hingga wawancara selesai aku berjalan keluar dengan lesu dan begitu pesimis, karena sepanjang wawancara tadi aku berkali-kali kesulitan menjawab pertanyaan dari kak Kiki, tapi saat aku berjalan tak jauh dari tempat wawancara aku seperti tidak sengaja melihat Devinka masuk ke dalam lift.


"Ehh....itu Devinka?, Heh...Devinka" teriakku hendak menyapanya tapi dia sudah lebih dulu masuk ke dalam lift sehingga aku tidak bisa mengejarnya.

__ADS_1


Saat aku berniat ikut masuk ke dalam lift kak Kris dan kak Anne tiba-tiba saja muncul mengagetkanku dari belakang.


"Elisa" teriak Mereka membuatku berpaling,


"Aahh ....kalian aku pikir siapa, ehh...tunggu aku sedang mengejar Dev..." Ucapku yang baru sadar tapi sudah tertinggal sangat jauh.


Kak Anne dan kak Kris menatap dengan heran kepadaku.


"Ada apa Elisa siapa yang sedang kamu kejar?" Tanya kak Anne sambil melihat ke arah tatapanku,


"Ahh...tidak ada aku tadi hanya merasa seperti melihat orang yang aku kenal, tapi sepertinya itu tidak mungkin karena dia bukan karyawan disini, sudahlah lupakan saja" tambahku menutupinya.


Mereka pun langsung mengajakku untuk pergi makan siang bersama karena kebetulan itu sudah masuk jam makan siang, dan mereka segera membawa aku ke kantin yang disediakan oleh kantor tersebut, sebelumnya aku tidak pernah datang ke kantin itu karena saat magang tidak tahu jika ada semacam kantin sebagus itu di dalam gedung tersebut.


Sehingga saat pertama kali masuk ke dalam aku sangat terpukau melihat banyak para karyawan lain duduk berjajar rapi menikmati semua hidangan yang ada dihadapan mereka, dan kelihatannya semua makanan itu terasa enak, aku pun menjadi sangat tidak sabar untuk segera mencicipi makanan disana, namun sayangnya untuk mendapatkan makanan itu memerlukan kartu pengenal sebagai karyawan disana tapi aku tidak memilikinya sekarang.


"Elisa apa lagi yang kau tunggu cepat ambil makanannya aku sudah menggesek kartuku untukmu,"


"Ohh....iya kak terimakasih," balasku segera mengambil makanan disana dengan cepat.


Kami duduk di salah satu meja yang cukup untuk empat orang disana dan aku terus saja mencari keberadaan kak Eril karena belum melihat keberadaannya lagi setelah proses wawancara sebelumnya.

__ADS_1


Kak Kris mungkin melihat aku yang terus clingukan kesana kemari sehingga dia langsung bertanya kepadaku.


"Hey, Elisa siapa yang sedang kamu cari sampai tidak bisa makan dengan tenang, terus saja menatap kesana kemari tidak jelas begitu" tanya kak Kris dengan tatapan yang heran.


__ADS_2