
Meski aku masih merasa heran dan kebingungan dengan ucapan Devinka namun aku tidak bisa membalas atau meladeninya sehingga aku hanya mengikuti apa yang dia katakan saja agar semuanya bisa berjalan lebih cepat dan aku bisa segera pergi dari tempat itu.
Meskipun aku sangat kesal dengannya tapi aku masih harus mengerjakan semua tugas yang dia berikan kepadaku untuk mencatat semua analisis dengan baik, aku menuliskan semua laporan itu seorang diri sedangkan Devinka yang menjelaskan unsur unsur penting juga kategori yang akan aku tuliskan.
Awalnya aku meremehkan Devinka karena aku pikir dia tidak akan tahu apa apa mengenai perusahaan pemberitaan seperti itu, karena setahuku dia hanyalah anak orang kaya yang manja dan tidak bisa melakukan apapun jika tanpa wewenang kedua orangtuanya, tapi rupanya aku salah karena selalu meremehkan kemampuannya selama ini.
Buktinya saat kita merangkum semua laporan apa yang diucapkan oleh Devinka sama dengan apa yang aku pikirkan dan semua itu sesuai dengan apa yang aku amati saat ini, aku juga masih sempat kaget saat menyadari kepandaian Devinka.
"Wahhh...ternyata kau tidak seb*doh yang aku pikirkan yah, baguslah artinya aku tidak perlu kesulitan mengerjakan semuanya sendiri lagi" ucapku keceplosan.
Aku sungguh tidak sengaja mengatakan semua itu di depan Devinka secara langsung dan aku baru sadar ketika aku sudah mengatakannya sehingga aku langsung menatap ke arah Devinka untuk memeriksa reaksi apa yang dia berikan saat mendengar ucapan itu dariku.
Dan saat aku menatapnya dengan perlahan nampak wajahnya cemberut menatap ke arahku dengan tajam dan dia tidak bergerak sedikitpun.
Jujur saja saat melihat ekspresi wajah Devinka aku merasa merinding ketakutan dan hanya bisa tersenyum garing kepadanya.
"Ehehe....De...Devinka....ma... maafkan aku, tadi itu anggap saja pujian oke" ucapku sambil sedikit panik,
"Huh....sudahlah kau memang selalu menganggap aku remeh, kemari biar aku saja yang catat, lagi pula ini sudah hampir selesai, kau menyebalkan sekali" bentak Devinka dengan kesal.
Aku berusaha menolaknya dan berniat agar aku saja yang menyelesaikan catatan laporan tersebut namun Devinka telah merampasnya dengan cepat dariku sehingga aku tidak bisa berbuat apapun lagi.
"Eh..eh ..Devinka sudah biar aku saja yang menyelesaikannya, kita kan sudah bagi tugas, sini biar aku selesaikan" ucapku berusaha mengambilnya kembali,
__ADS_1
"Diam kau, huh aku akan tunjukkan kalau aku memang pantas berada di kelas dan jurusan anak anak pandai sepertimu, bahkan aku lebih pandai darimu!" Balas Devinka dengan wajah yang sinis.
Aku tidak bisa berkutik lagi dan membiarkan Devinka menyelesaikannya sedangkan aku hanya memerhatikan dia yang tengah mencatat semuanya dengan baik, rasanya sangat lelah sekali dan aku tidak bisa melakukan apapun sehingga rasa bosan mulai melanda diriku.
Sudah beberapa kali aku menguap hingga tidak sadar aku malah ketiduran di meja tersebut, aku tidak perduli lagi dengan Devinka sebab dia juga menolak untuk menerima bantuanku sehingga aku tertidur saja di sana untuk sementara waktu.
Aku tidur dengan posisi wajah yang menghadap ke arah Devinka dan kepala yang menyentuh meja, di sisi lain Devinka yang baru saja menyelesaikan tugasnya dia baru sadar bahwa Elisa tertidur di sampingnya dengan posisi duduk seperti itu.
Karena di ruangan itu menggunakan AC dan Elisa tidak terbiasa dengan hal itu dia nampak sedikit kedinginan karena terlihat dari gerakkannya yang sesekali mengusap lengannya sendiri, Devinka pun segera melepaskan jaket yang dia kenakan lalu dia menggunakan jaket itu untuk menyelimuti tubuh Elisa.
"Dasar cewek ayam, dengan AC saja dia kedinginan, kampungan!" Ucap Devinka sambil menyelimuti Elisa.
Tanpa sadar senyum tipis terukir pada wajah Devinka dan diam diam Dika juga Reksa memperhatikan tingkah Devinka tersebut sampai mereka menepuk pundak Devinka secara tiba tiba sampai membuat Devinka terperangah.
"Astaga....aishhh awas....awas... kalian ini apa apaan sih mengagetkanku saja" ucap Devinka memarahi Dika juga Reksa dengan suara yang pelan karena dia takut mengganggu tidur Elisa.
Reksa menaikkan kedua alisnya karena merasa heran dengan Devinka yang tiba tiba saja berbicara dengan suara pelan bahkan hampir seperti berbisik, hingga dia sulit mendengarnya.
"HAH...APA?" tanya Reksa dengan suara yang keras.
Devinka membelalakkan matanya dan dia langsung membungkam mulut Reksa sambil menyeretnya menjauh dari tempat Elisa tertidur.
Setelah di rasa sudah agak jauh barulah Devinka melepaskan bekapannya dari mulut Reksa dan dia langsung memarahi Reksa karena perbuatannya tadi yang bicara dengan keras di depan Elisa yang tengah tertidur.
__ADS_1
"Hah...hah...Devinka apa apaan kau ini, kenapa membekap mulutku tiba tiba?" Tanya Reksa protes,
"Apa kau tidak lihat, dia sedang tidur bagaimana bisa kau malah berbicara sangat keras padahal aku sudah memberimu kode dengan bicara pelan padaku, dasar kau itu tidak paham!" Ucap Devinka dengan wajah yang kesal dan dongkol.
Lagi lagi Dika dan Reksa dibuat kebingungan dengan sikap Devinka yang sulit sekali di tebak, mereka saling tatap satu sama lain dengan dahi yang mengkerut karena heran dengan tingkah Devinka.
"Devinka sejak kapan kau perduli dengan Elisa?, Bukankah kalian selalu bertengkar setiap kali bertemu kenapa sekarang kau memperdulikan apa dia akan terganggu atau tidak?" Tanya Dika dengan heran.
Reksa juga menganggu seakan dia ingin menanyakan hal yang sama kepada Devinka dan mereka berdua menatap lekat pada Devinka tak sabar menunggu jawaban darinya. Devinka mulai tersadar dengan ucapan dari Dika dia sendiri juga tidak tahu kenapa dia bisa tiba tiba perduli dengan wanita yang selalu membuat dia jengkel dan membuatnya darah tinggi setiap saat.
"A..ah....aku ....aku juga tidak tahu kenapa aku memperdulikannya, aishh sudahlah biarkan saja ayo main game saja yang kalah harus traktir makan malam, bagaimana?" Ucap Devinka mengalihkan pembicaraan.
"Ayo, siapa takut" jawab Reksa begitu antusias.
Mereka pun segera kembali bertanding bermain game dengan taruhan yang sudah mereka setujui bersama, Devinka sangat bersemangat begitu juga dengan Reksa yang nampak tidak mau kalah dengan Devinka sedangkan Dika memilih untuk pulang sebab dia mendapatkan panggilan dari ayahnya sehingga harus berpamitan lebih dulu.
Reksa dan Devinka yang tengah asik bermain game dan sesekali bersorak kegirangan atau kadang berdecak kesal, saking fokusnya bermain game mereka sampai tidak sadar dan mengabaikan Dika yang berpamitan pulang pada mereka saat itu.
"Hey, kalian berdua aku pulang lebih dulu jangan lupa kunci pintunya jika nanti mau pergi" ucap Dika berpesan namun tidak mendapatkan jawaban apapun dari kedua sahabatnya itu.
"Aishh dasar mereka ini, sudahlah mereka juga tidak mungkin lupa" tambah Dika yang segera pergi dari sana karena dia terburu buru.
Devinka dan Reksa terus bermain dengan sangat fokus dan mereka terus berteriak tidak jelas selama permainan berlangsung, hingga teriakkan mereka membangunkan Elisa yang tadinya tertidur dengan lelap.
__ADS_1
"Aaarkh....tidak Devinka kau menghancurkan anggota pertahananku lagi, awas kau aku akan membalasnya!" Bentak Reksa yang sudah terhanyut dengan permainan yang dia mainkan.