
Selama dosen menerangkan materi di depan, mata Devinka terus saja menatap lekat ke arah Elisa dengan senyum sinis dan memikirkan ide untuk membalas perlakuan Elisa sebelumnya sedangkan Elisa yang tidak sadar kalau dia di perhatikan oleh Devinka hanya sibuk mencatat dan mendengarkan penjelasan dari dosen dengan seksama.
Hingga selesai jam pembelajaran, Lili yang nampak terburu buru terpaksa pulang lebih dulu meninggalkan Elisa.
"El aku pulang lebih dulu yah, aku harus membereskan rumah sebelum ibuku pulang, bisa bisa uang jajanku akan dipotong kalau rumah berantakan" ucap Lili sambil bergegas pergi,
"Iya iya... Sana pergi hati hati di jalan" jawab Elisa.
Sebelum berangkat kerja Elisa memutuskan untuk pergi ke perpustakaan dahulu karena ada beberapa buku yang harus dia cari sebagai sumber referensi belajarnya, di sisi lain Devinka terus saja mengikuti Elisa bersama Reksa yang nampak sudah sangat pasrah dengan tingkah Devinka yang sulit untuk ditahan.
"Dev.. kita ngapain sih ke perpustakaan, bukannya loh paling benci baca buku yah?" Tanya Reksa dengan wajah kebingungan,
"Ishh.. sttt.. berisik banget sih lo, lihat tuh..gue ke sini buat buntutin anak itu" balas Devinka sambil menunjuk ke arah Elisa yang masih sibuk mencari buku referensinya,
"Ya ampun Dev, tau kaya gini buat apa gue ngikut sama lo, udahlah gue mau cabut aja" ucap Reksa dan hendak pergi dari sana.
Belum sempat kaki dilangkahkan ke depan tangan Reksa sudah di tahan dengan kuat oleh Devinka.
"Berani Lo pergi, gue cabut investasi di perusahaan Lo!" Ancam Devinka,
"Oke.. iya...iya gue nurut" ujar Reksa dengan pasrah.
Saat Elisa tengah mencari buku yang dia perlukan salah satu buku terletak di rak paling atas dan membuat Elisa sulit untuk menjangkaunya, dia terus berjinjit dan berusaha menggapai buku itu namun tetap saja sulit akhirnya Elisa mencari akal dengan menggeser bangku tempat membaca ke dekat rak tersebut lalu dia naiki sampai berhasil mengambil buku yang dia inginkan.
__ADS_1
Devinka yang melihat itu dia langsung saja melancarkan aksinya dengan berjalan ke samping Elisa dan dengan sengaja berpura pura menyenggol bangku yang Elisa naiki.
"Dukkk..." Suara Devinka yang menyenggol ujung bangku tersebut.
Elisa kehilangan keseimbangan dan bangku yang dia naiki bergoyang cukup keras sampai akhirnya Elisa jatuh ke belakang bersamaan dengan kursi yang dia naiki.
"Arhhhh..." Teriak Elisa yang kaget dan dia jatuh ke belakang.
Saat itu Elisa sudah pasrah kalau dia harus jatuh dan mendapatkan malu, namun untunglah Dika datang di waktu yang tepat, saat itu Dika hendak menghampiri Devinka yang berjalan di sana namun tak sengaja malah dia menyelamatkan Elisa dan Elisa jatuh di pangkuan Dika.
Beberapa mahasiswa yang ada di sana dan menyaksikan itu mereka menatap iri pada Elisa karena bisa jatuh dan di tangkap oleh Dika, Elisa kaget dan menatap lekat pada wajah Dika, lebih tepatnya mereka saling tatap satu sama lain beberapa saat hingga Devinka datang dengan kesal.
"Heh... Apa apaan kalian ini, di perpustakaan saja buat kekacauan!" Ucap Devinka dengan sorot mata tajam,
"Dika ngapain Lo bantuin cewek songong ini, udah bagus kalau dia jatuh" ucap Devinka merasa kesal karena rencananya gagal,
"Elo... Lo bener bener keterlaluan yah, jadi dugaan gue benar Lo itu sengaja nyenggol kursi gue kan!" Bentak Elisa.
"Udah...udah... Elisa kamu baik baik saja kan, dan Lo Dev udah lah jangan dipermasalahkan lagi, gue juga gak sengaja nolongin dia kok" ucap Dika berusaha menenangkan amarah Devinka dan Elisa.
Penjaga perpustakaan datang karena mendengar keributan dan mereka pun di usir dari perpustakaan karena sudah mengganggu kenyamanan mahasiswa lain yang tengah belajar dan membaca buku di sana dengan tenang.
"Kalian, jangan berisik di perpustakaan apa kalian tidak melihat tanda di dinding itu atau memang buta, keluar dari sini sekarang juga!" bentak penjaga perpus dengan marah.
__ADS_1
Elisa sangat kesal karena dia belum selesai mencari buku lain untuk dia pelajari, saat keluar dari perpustakaan Elisa langsung pergi meninggalkan Devinka, Dika juga Reksa yang masih sibuk berdebat, Elisa tidak mau berurusan dengan mereka sehingga memilih untuk pergi tanpa basa basi.
"Sialan... Kenapa aku harus sangat sial bertemu orang seperti mereka setiap hari" gerutu Elisa sambil berjalan pergi.
Elisa pergi ke kosan kecil tempat tinggalnya yang baru dia membersihkan rumah itu dan menaruh buku buku yang dia bawa setelah selesai Elisa langsung bersiap siap berangkat ke tempat kerjanya, pertama Elisa memanaskan sepeda motor yang akan dia gunakan dan dia memakai jaket juga helm yang sudah di berikan oleh bos restoran tempatnya bekerja saat ini.
Elisa berangkat dengan penuh semangat dan tak lupa dia selalu berdoa semoga pekerjaan nya selalu di berikan kelancaran, sampai di restoran ternyata pesan antar sudah menumpuk di meja dia langsung menata semua pesanan tersebut ke dalam bok yang ada di motornya dan dia langsung berangkat mengantarkan semua pesanan itu satu persatu.
Dari siang hingga sore pekerjaannya sangat lancar dan hari ini Elisa mendapatkan tip dari pelanggan yang cukup banyak, dia tidak menyangka walau gajihnya pas pasan ternyata ada tip yang bisa dijadikan uang tambahan untuknya, saat magrib tiba Elisa beristirahat dahulu, bersama para karyawan lain.
Tapi saat Elisa baru saja hendak menanyantap makanannya bos datang menghampiri Elisa dan menyuruhnya untuk memasukkan dahulu pesanan berikutnya, Elisa menarik nafas dalam dan dia segera melakukan perintah bos itu, Elisa bahkan harus makan dengan terburu buru karena waktu istirahat sudah hampir habis.
Selesai makan dia tak bisa sedikit bersantai dan langsung kembali mengantar semua pesanan yang begitu banyak, satu persatu Elisa antarkan pesanan itu dengan sepenuh hati dan menjaga agar makanan tetap utuh hingga sampai di tangan konsumen.
Selesai mengantar semuanya Elisa lihat jam ditangannya menunjukkan pukul delapan malam dan Elisa memutuskan untuk kembali ke restoran karena jam pulang dia antara pukul delapan atau sembilan malam, Elisa pikir dia hanya tinggal menghitung semua hasil antarannya hari ini dan menyetorkannya pada bos, namun ternyata saat Elisa selesai menyetorkan semua uangnya, bos lagi lagi meminta dia untuk mengantarkan satu pesanan lagi.
"Elisa boleh saya minta bantuan kamu, tadi ada pesanan yang tertinggal, dan pembelinya ini adalah orang kaya, kamu harus segera mengantarnya kalau tidak restoran kita bisa ditutup olehnya" ucap bos dengan wajah memelas,
Elisa yang merasa kasihan dan dia juga tidak mau kalau sampai restoran itu di tutup, nanti di mana lagi dia harus mencari pekerjaan untuk menyambung hidup, akhirnya terpaksa Elisa harus mengantar pesanan itu meskipun jam kerjanya sudah habis.
"Ya sudah biar aku antarkan saja sekalian aku pulang kan, uangnya aku setorkan besok yah boss" jawab Elisa sambil mengambil pesanan tersebut,
"Iya Elisa tidak papa, kamu memang karyawan kesayangan saya semangat ya Elisa" jawab bos dengan wajah berseri.
__ADS_1
Elisa hanya membalas ucapan bos dengan senyuman dia langsung berangkat ke alamat tujuan yang diberikan oleh bos sebelumnya, alamatnya cukup jauh dan berada di dalam kompleks perumahan mewah, Elisa menelusuri jalanan itu di mana semua rumah yang dia lewati sudah seperti gedung gedung tinggi yang mewah dan cantik di pandang mata.