
"Ehehe...tentu saja tidak, aku justru akan berterimakasih kepadamu karena mau menjagaku. Terimakasih Devinka atas semua kebaikanmu itu" ucapku sambil memasang wajah tersenyum yang dipaksakan.
Wajahku memang tersenyum dan berusaha keras menutupi semua kekesalan dalam hatiku tapi tanganku sudah mengepal sangat keras untuk menahannya dan menyalurkan emosiku rasanya aku sudah sangat tidak tahan lagi dan ingin berteriak sangat keras untuk membuang emosiku.
Aku sudah tidak bisa menahannya lebih lama lagi, apalagi ketika melihat wajah Devinka yang sangat menyebalkan rasanya aku ingin terus marah, marah dan marah padanya dalam setiap detik.
Aku menurunkan kaca jendela mobil dan mengeluarkan kepalaku lalu berteriak sekencang yang aku bisa.
"Arkhhhhhhhhhh....sialan kau...ARKHHHHH....kenapa aku tidak bisa marah denganmu...huh...huh...huh" teriakku menggerutu dengan puas dan kembali duduk dengan benar.
Setidaknya kini aku sudah merasa jauh lebih baik dan emosi yang terganjal di dalam tubuhku sudah keluar sehingga aku tidak perlu merasa kesal yang mendalam lagi, namun ada satu hal yang telah aku lupakan.
Saat aku menoleh ke kanan aku baru sadar bahwa aku masih berada di samping Devinka orang yang membuatku emosi dan tidak bisa menahannya sampai mengeluarkan semua beban yang mengganggu di tubuhku begitu saja barusa.
"Astaga..." Ucapku kaget sampai terperanjat ke samping,
"Apa?, Kau baru sadar bahwa orang yang kau rutuki barusan ada di sampingku iya?" Bentak Devinka dengan mata yang tajam,
"E..eh...siapa juga yang merutukimu aku hanya melepaskan emosiku, bukankah emosi yang dipendam itu tidak baik untuk kesehatan makanya aku segera melepaskannya agar aku tetap sehat" balasku beralasan sembarangan.
Aku tidak memiliki alasan lain yang bisa digunakan sehingga aku mengatakan apa saja yang ada di kepalaku saat itu juga, tidak perduli apalah Devinka akan mempercayaiku atau tidak karena aku sudah tahu bahwa kini kami sudah dekat menuju tempat tinggalku jadi aku tidak akan keberatan jika dia mengusirku atau menendang ku ke luar dari mobilnya.
Ku pikir dia akan balik menjawab ucapanku dengan amarah juga namun ternyata aku salah dia sama sekali tidak menjawab ucapanku lagi dan wajahnya nampak begitu kesal tapi hanya terus fokus menyetir menatap ke depan dengan lurus.
__ADS_1
Reaksi yang di berikan Devinka padaku kali ini bahkan menurutku itu lebih menakutkan dari pada dirinya tengah marah, membentak dan mengomeli aku, entah apa yang tengah mengganggu pikirannya dia selalu berbeda malam ini.
"Apa yang dia pikirkan, kelihatannya tidak dalam suasana hati yang bagus" gumamku dalam hati memikirkan.
Saat aku tengah diam diam memperhatikan Ratu wajahnya tiba tiba saja Devinka membalikkan wajahnya menatapku sebentar dan bertanya alamatku.
"Heh, di mana rumahmu itu belok atau lurus?" Tanya Devinka padaku.
Saat itu aku tahu aku tertangkap basa karena diam diam memperhatikan wajahnya dan aku langsung memalingkan pandangan dan menjawab pertanyaannya.
"Lurus saja sebentar lagi sampai kau turunkan aku di depan universitas saja" ucapku memberitahunya.
Devinka kembali melajukan mobilnya namun dia tidak menurunkan aku di depan universitas sama dengan apa yang aku minta padanya dia justru mau mengantarkanku sampai ke depan tempat tinggalku, meski aku sudah menolaknya dan bersikeras memintanya untuk menurunkanku di tepi jalan saja tapi dia tidak bisa di bantah saat ini dia tetap ingin mengantarku sampai ke depan rumah.
Sehingga tidak ada cara lain selain aku memberitahu dia di mana tempat aku tinggal meski aku tahu dia pasti akan menghinaku ketika melihat kosan kumuh yang aku sewa.
"Devinka apa kau yakin ingin melihat kosan tempat aku tinggal?, Di sana tidak ada AC, dan mobil tidak bisa masuk ke sana karena melewati gang kecil yang hanya masuk untuk sepeda motor, apa kau masih yakin ingin melihatnya?" Tanyaku memastikan lagi,
"Aku akan memastikan kau pulang dengan selamat bukan ingin melihat tempat tinggalku jadi apa urusannya denganku" balas Devinka yang membuatku pasrah.
Padahal di sisi lain Devinka memang ingin mengetahui di tempat seperti apa Elisa tinggal sebab dia sangat penasaran karena Elisa selalu bertingkah seperti orang yang sangat miskin dan mengatakan dirinya miskin dan miskin berkali kali, makanya Devinka sangat penasaran sekaligus dia harus memastikan Elisa pulang dengan selamat.
Devinka tidak bisa memperlihatkan rasa khawatirnya dengan Elisa makanya dia banyak beralasan dan terus memasang wajah yang dingin dan cuek juga terus bersikap keras kepada Elisa, dia memang bukan tipe pria yang mudah bergaul dengan wanita seperti teman temannya yang lain, meski Devinka terlihat paling aktif diantar mereka ber empat, pada kenyataannya Devinka adalah yang paling kikuk dengan perempuan.
__ADS_1
Meski begitu dia berani pada Elisa karena sudah mengenal Elisa cukup lama meskipun baru bertegur sama hanya saat di universitas saja, saat sudah memarkirkan mobil di tepi gang menuju kos kosan Elisa, sejak pertama kali keluar dari mobil mewahnya dan melihat jalanan yang berlubang dan rusak, Devinka sudah bergidik ngeri melihatnya.
Dan seakan kakinya itu enggan untuk menginjak jalanan kotor tersebut, aku tidak bisa menahan tawa saat melihat Devinka berjinjit seperti itu dan langsung memapahnya untuk segera berjalan menuju kosan sewaanku.
"Ahaha...Devinka kenapa kau berjinjit begitu, berjalanlah dengan benar, kau kan memakai sepatu itu tidak akan mengotori kakimu" ucapku padanya,
"Tetap saja sepatu mahalku ini akan ternodai, aaishhh kenapa juga kau mau tinggal di lingkungan jelek seperti ini menyulitkan orang saja" bentak Devinka yang malah menyalahkan lingkungannya,
"Sudah sudah ayo aku bantu saja kau ini" ucapku sambil membantunya berjalan.
Saat itu dia lebih mirip kakek tua yang sulit berjalan karena tidak ada energi, dibandingkan anak muda yang perkasa, aku sebenarnya sangat jengkel melihatnya yang berjalan dengan memilih milih tanah mana yang akan dia injak sehingga membuat aku kesal dan kelamaan saat berjalan.
"Aishh, Devinka kalau kau terus berjalan begitu kapan kita akan sampai?" Ucapku membentaknya,
"Salah siapa kau malah memilih jalan seperti ini" balas Devinka tak mau kalah,
"Hey, kenapa malah menyalahkan aku harusnya aku yang marah denganmu, siapa suruh kau keukeuh untuk mengantarkanku pulang sampai ke depan rumah" balasku membalikkan ucapannya karena dia sangat menjengkelkan.
Dia pun berhenti bicara dan meneruskan langkahnya lebih baik dari sebelumnya hingga akhirnya kita sampai di depan kos kosan susun yang begitu berantakan karena wajahr saja tidak semua orang yang tinggal di kosan tersebut mementingkan kebersihan dan sampah yang berserakan di depan gerbang itu sudah biasa menjadi pemandangan di sana.
Tapi Devinka langsung membelalakkan matanya dan dia menarik lenganku dengan keras saat aku hendak membuka gerbang kosan tersebut.
"Tunggu.... Cewek ayam kau yakin ini tempat tinggal mu?" Tanya Devinka dengan wajah yang sulit digambarkan,
__ADS_1
"Iya benar, kamar kos ku yang itu, ayo mau masuk atau tidak?" Tanyaku padanya dan mengajak dia untuk segera masuk.
Devinka langsung bergidik ngeri dan dia menggelengkan kepalanya dengan cepat sebab tidak sanggup untuk sekedar menginjakkan kaki di tempat kumuh dan kotor seperti itu.