
"Wahh...benarkah, tentu saja kamu setuju iya kan Kris" jawab kak Anne dengan cepat.
Kak Kris menanggapinya dengan anggukan lalu kami mulai berpamitan satu sama lain dan meninggalkan tempat itu.
"Elisa kami pergi lebih dulu yah, byee...." Ucap kak Anne sambil pergi meninggalkan tempat itu,
"Aku juga sudah harus pergi, semoga sukses ya Elisa" ujar kak Kris lalu dia masuk ke dalam mobilnya yang cukup keren.
"Wahhh...apa itu mobil kak Kris, dia keren sekali" ucapku tak sadar bahwa di sampingku masih ada kak Eril yang berdiri bak patung.
Saat mobil kak Kris sudah melaju jauh aku baru sadar bahwa di sampingku ada kak Eril dan aku baru ingat mungkin dia mendengar gerutuanku yang terkagum dengan mobil kak Kris, itu sangat memalukan untukku dan aku tidak berani menatap wajahnya.
"Heh...kenapa kamu belum pergi?" Tanya kak Eril padaku,
"Ahh...aku harus menunggu dia rekanku mereka masih di dalam" jawabku sambil tersenyum canggung.
Dari ke tiga rekan kerjaku hanya kak Eril yang dingin dan wajahnya nampak datar, aku juga agak kesulitan berkomunikasi dengannya namun dia adalah ketua tim di departemen dua sehingga mau tidak mau aku harus berbicara dengannya.
"Ya sudah aku pergi lebih dulu jangan lupa untuk besok, persiapkan beberapa bekal karena mungkin kau akan bekerja lembur" ucap kak Eril padaku lalu dia pergi dengan cepat.
Aku langsung membungkuk memberi hormat dan meng iyakan ucapannya, saat aku bangkit ku lihat kak Eril pergi ke parkiran dan mengendarai mobil yang tak kalah keren dengan milik kak Kris, dan dia menurunkan kaca mobilnya saat melewati ku.
Aku sungguh tidak bisa menahan malu dan rasanya saat itu aku ingin menutup mata atau membalikkan badan.
Setelah beberapa saat aku berdiri di sana cukup lama aku kesal karena Reksa dan Devinka tak kunjung keluar juga padahal sebelumnya aku lihat rekan kerjanya yang di departemen satu sudah keluar lima menit yang lalu.
Aku ingin menghubungi Devinka atau Reksa untuk menanyakan keberadaan mereka namun sayangnya aku sama sekali tidak memiliki kontak mereka di ponselku, sehingga aku hanya bisa menggerutu dengan kesal tanpa bisa melakukan banyak hal.
__ADS_1
"Aishh...kemana mereka berdua apa mereka lupa dengan tugas kampus, arghhh kenapa juga harus dia yang menjadi ketua kelompok!" Gerutuku dengan kesal.
Aku sudah berdiri di sana sangat lama, sudah berjalan mondar mandir di depan gedung perusahaan bahkan berjongkok dan hampir ketiduran, sampai aku tak sadar beberapa saat aku sungguh ketiduran hingga seorang satpam membangunkanku.
"Hey...neng...neng bangun, kenapa masih di sini?, semua karyawan sudah pulang bahkan yang lembur juga sudah pulang, bapak akan mengunci gerbangnya" ucap satpam tersebut padaku.
Aku mengerjap kan mataku dan segera berdiri dan kulihat hari sudah berganti dengan malam yang gelap.
"Astaga...pak ini sudah pukul berapa?" Tanyaku dengan kaget,
"Ini hampir pukul sebelas malam neng" jawab satpam tersebut.
Aku terbelalak dan membuka mulutku lebar lalu langsung bergegas untuk pergi ke halte bus dan berusaha mengejar bus jurusan ke tempatku untuk yang terakhir.
"Aishh...semoga aku tidak ketinggalan bus lagi" gerutuku sambil terus berlari secepat yang aku bisa.
"Aishh sialan, bisa bisanya mereka membuatku menunggu hingga malam di luar gedung dan bahkan tidak menyelesaikan laporan hari pertama, arghhh mereka ini" gerutuku sangat kesal.
Aku berlari terburu buru dan hendak menyebrang tanpa melihat ke kiri dan ke kanan lebih dahulu sehingga saat menyebrang tiba tiba saja ada sebuah mobil melaju cukup cepat ke arahku dan aku sangat kaget sehingga hanya bisa berteriak sambil berjongkok.
"ARKHHHHH...." Teriakku kaget dan syok,
Badanku gemetar dan aku memegangi kepalaku aku sungguh tidak bisa bergerak meski aku sadar mobil itu berhasil berhenti dan tidak menabrak ku.
Seseorang berjalan ke arahku dan ternyata itu adalah Dika.
"Elisa..." Ucap Dika sambil langsung membantuku berdiri.
__ADS_1
"Di...Dika...a..aku...aku.." ucapku terbata bata karena masih sangat kaget setelah kejadian barusan.
"Sudah tenangkan dirimu dahulu, ayo masuk aku akan mengantarmu pulang" ucap Dika sambil memapahku sampai masuk ke dalam mobilnya.
Selama di perjalanan aku tidak bicara sedikitpun dan hanya menunduk merasa sangat malu, aku ingin meminta maaf kepada Dika tapi aku tidak tau bagaimana cara mengatakannya, sebelumnya aku sangat membenci Dika dan selalu berbicara sangat kasar ketika berhadapan dengannya.
Namun kini orang yang aku benci malah menolongku dan mengantarkanku pulang bagaimana aku tidak bingung dan merasa sangat malu.
"Elisa...apa kamu baik baik saja, kenapa kamu bisa tiba tiba berlari ke tengah jalan seperti tadi?, Apa ada yang kamu kejar?" Tanya Dika padaku,
"I..itu aku hanya terburu buru karena takut tertinggal bus" jawabku jujur dan justru malah mendapatkan respon tawaran dari Dika.
Aku sudah menduga dia akan menertawakan kekonyolanku yang menerobos lampu lalu lintas hanya ingin menyebrang lebih cepat untuk mengejar bus agar lebih irit dalam ongkos pulang.
"Hahaha...kau ini lucu sekali, bagaimana kau bisa berlari seperti itu bahkan tanpa melihat keadaan lalu lintas terlebih dahulu, apa kau se irit itu dengan uang" ucap Dika menanggapinya,
"Sudah diam menertawakan ku, kalau tidak lebih baik turunkan aku di sini saja, kau membuatku semakin terlihat konyol" jawabku sambil menunduk tidak berani melihat wajahnya,
"Haha..iya iya aku akan berhenti tertawa, tapi Elisa aku peringatkan padamu, apa yang kamu lakukan tadi sangatlah berbahaya, jika saja aku tidak menginjak rem tepat waktu mungkin kamu sudah tertabrak olehku dan aku mungkin tidak akan memaafkan diriku sendiri untuk perbuatan itu" balas Dika dengan nada suara yang begitu serius.
Mendengar untuk pertama kalinya ada seseorang yang memperhatikan keselamatanmu sampai memperingatiku secara langsung seperti itu aku kaget dan merasa sedikit aneh, aku langsung berani menatap wajah Dika dan aku melihatnya dengan lekat sampai membuat Dika menghentikan mobilnya.
"Eh...kenapa kau tiba tiba menatapku begitu apa ada yang salah di wajahku?" Tanya Dika sambil memegangi wajahnya,
"Tidak, tidak ada yang salah denganmu, aku hanya merasa aneh karena kamu orang pertama yang memedulikan keselamatanmu dan terimakasih untuk itu" jawabku jujur lalu langsung memalingkan pandanganku ke depan.
Suasana langsung berubah canggung Dika membelalakkan matanya mendengar pengakuan dariku dan dia langsung melajukan kembali mobilnya lalu segera melakukannya dengan cepat menuju alamat yang aku tunjukkan pada dia sebelumnya.
__ADS_1
Entah kenapa saat itu aku tersenyum tipis dan merasa sedikit senang ketika ada orang yang memperhatikan keselamatanku padahal hal itu rasanya wajar saja bagi semua orang.