Bos Ternyata Musuhku

Bos Ternyata Musuhku
Jatuh


__ADS_3

Saat itu aku menggenggam ranjang dengan sangat kuat untuk menahan emosi agar tidak meledak di sana, sebab aku ingat bahwa aku masih harus menahan energiku agar bisa secepatnya keluar dari rumah sakit dan pergi menjauh dari manusia narsis itu.


"Aishh dia benar benar gila" gerutuku kecil.


Aku berusaha menutup mataku hingga tak terasa lama kelamaan aku bisa tertidur dan aku sudah bisa tidur dengan lelap entah mulai dari kapan.


Dering ponsel berbunyi begitu keras sehingga aku terbangun dari tidur lelap ku dan saat aku bangun ku lihat ternyata Devinka masih ada di ruangan itu dan dia duduk di sofa rumah sakit dengan kedua lengan yang disilangkan dan mata yang tertutup.


Saat bangun aku sudah jauh lebih baik dan memiliki energi lebih banyak dari sebelumnya, saat mendengar ponsel Devinka berdering terus di atas meja aku merasa sangat terganggu dengan itu sedangkan Devinka sama sekali tak memperdulikannya bahkan dia nampak tetap tidur dengan lelap dan tidak bergerak sedikitpun.


Aku pun terpaksa harus bangkit dari tempat tidur dan berjalan perlahan menghampiri ponsel itu untuk mematikannya, karena sangat berisik dan mengganggu.


"Aishh apa telinganya benar benar tuli bagaimana mungkin dering ponsel sekeras ini tak membuatnya terusik sedikitpun" gerutuku dengan kesal.


Saat ku lihat dalam layar ponselnya tertulis ibu jadi tentu saja aku mengira dia ibunya.


"Eh ternyata ibunya, apa aku harus mengangkatnya yah?" Gerutuku lagi memikirkan.


Aku sangat ragu karena itu panggilan dari ibunya tapi ponsel itu terus berdering sudah beberapa kali melakukan panggilan pada ponsel Devinka sehingga terpaksa aku harus mengangkatnya tak perduli apa yang akan dikatakan oleh ibunya nanti yang pasti aku akan bisa menjelaskannya begitu juga Devinka.


Aku hendak mengambil ponsel Devinka di atas meja namun tiba tiba saja lenganku di tarik dengan kuat oleh Devinka sehingga aku berteriak kaget dan tubuhku jatuh ke atas pangkuannya.


"Arkhhh ..." Teriakku kaget,


"Devinka apa yang kau lakukan pergi menjauh dariku" bentakku sambil segera turun dari pangkuannya,


"Cihh....siapa yang mengijinkanmu memegang ponselku?" Tanyanya dengan sinis,


"A....aku aku hanya ingin mematikannya karena kau terus membiarkan ponsel itu berbunyi" jawabku sedikit gugup karena kami duduk berdekatan di atas sofa berukuran kecil dimana sangat pas untuk dua orang.


Devinka menatapku semakin serius dan dia menyipitkan matanya seperti tengah menyelidiki aku, aku sangat gugup dan merasa tidak nyaman dengan tatapan curiganya kepadaku padahal jika dia mematikan ponselnya sendiri atau mengangkat panggilan dari ibunya itu, aku juga tidak akan menghampiri dia dan mencoba memegang ponselnya.

__ADS_1


"Apa?, Kenapa kau melihatku begitu apa kau mencurigaiku. Aku tidak melakukan apapun aishh" ucapku sambil menatapnya kesal,


"Bukannya kau masih lemas bagaimana bisa kau berjalan kemari seorang diri?" Tanya Devinka tiba tiba sambil menatapku dari atas hingga bawah,


"Aku terpaksa menguatkan diriku sendiri karena dering ponselmu sangat menggangu waktu istirahat ku apalagi ini sudah larut malam" jawabku dengan jujur,


"Hah bilang saja kau hanya berpura pura lemas dan tak berdaya agar aku terus menjagamu di sini iya kan" ucap Devinka membuatku semakin kesal terhadapnya,


"Devinka kau manusia paling narsis yang pernah aku temui di dunia ini, sudahlah jika kau ingin pergi ya pergi saja tidak ada yang memintamu untuk tinggal di sini" bentakku sambil bangkit berdiri dan berjalan perlahan menuju ranjangku.


Saat kami tengah berdebat tiba tiba datang Reksa juga Ciko yang masuk ke dalam ruanganku, mereka pun langsung menatap ke arah aku dan Devinka dengan sorot mata kebingungan.


"Ehh Elisa apa kau sudah merasa lebih baik, kenapa berjalan sendiri begini ayo aku bantu" ucap Reksa yang begitu perhatian dan dia menuntunku kembali ke ranjang rumah sakit,


"Terima Reksa kamu yang terbaik di banding pria sialan yang duduk di sofa itu" ujarku sengaja menyinggung Devinka,


"Ciihhh...sudahlah aku akan pergi lagipula dia sudah baik baik saja dan ada kalian di sini" ungkap Devinka yang langsung pergi dari sana.


"Ehh...Reksa di mana Dika bukankah tadi kau pergi bersamanya?" Tanya ku pada Reksa dengan heran,


"Oh dia ada rafat penting dengan ayahnya malah ini sehingga tidak bisa kembali kemari, tapi tenang saja Elisa aku akan menjagamu sampai kau benar benar pulih, ini adalah tanggung jawabku" ucap Reksa dengan serius,


"Reksa terimakasih tapi kamu tidak perlu seperti itu, aku bisa menjaga diriku sendiri dan dokter bilang aku sudah bisa pulang besok dan aku akan kembali bekerja juga, kau bisa pulang sekarang" kataku berterimakasih kepadanya.


Aku tidak enak jika Reksa harus menjagaku di rumah sakit semalaman meski aku tahu semua ini juga karenanya namun dia sudah terlalu baik untukku aku tidak bisa menerima lebih banyak lagi kebaikan darinya, aku takut tak bisa membalas kebaikannya kepadaku suatu saat nanti.


Tapi meski aku sudah menolaknya dan bersih keras membuatnya percaya bahwa aku baik baik saja dia tetap saja dengan keinginannya untuk menjagaku hingga besok.


"Ehh Elisa berhenti bicara aku akan tetap menjagamu di sini sampai besok dan aku akan memastikan kamu baik baik saja, tolong jangan memintaku untuk pergi lagi karena aku tidak akan merasa tenang jika meninggalkanmu sendirian di sini" ujar Reksa yang masih bersih keras,


"Baiklah jika itu tidak merepotkanmu" kata ku karena tidak bisa memaksanya lagi.

__ADS_1


"Dan ini Ciko akan meminta maaf dengan baik padamu" ujar Reksa sambil mendorong Ciko lebih dekat denganku,


"Reksa kau tidak perlu memaksa Ciko untuk ini sekarang aku sudah memaafkannya, Ciko jika kamu tidak ingin meminta maaf padaku maka jangan lakukan itu dan jika kamu masih merasa tidak bersalah denganku aku tidak masalah dengan pemikirannya itu biarkan saja semuanya berlalu lagi pula ini sudah terjadi" ungkap ku padanya.


Aku sudah memilih untuk mengalah karena aku sudah mengerti dengan karakter Ciko yang keras dan tak pernah ingin kalah bahkan aku akui bahwa Ciko jauh lebih sulit untuk diladeni di bandingkan Devinka, entah apa yang membuatnya memiliki sifat sekeras itu.


Reksa nampak terkejut mendengar ungkapan dariku dan dia membelalakkan matanya seakan tidak percaya dengan semua perkataan yang baru saja aku ucapkan pada Ciko.


"Elisa apa ini kau, apa kau berubah menjadi wanita yang baik hati sekarang?" Tanya Reksa yang memang tidak mempercayai ucapanku,


"Aishh kau ini, tentu saja sejak dulu aku memang baik hati tadi aku hanya sedikit emosi saja karena memang perbuatannya bisa membahayakan nyawa seseorang" jawabku pada Reksa.


Tiba tiba saja Ciko menimbrung dan dia meminta maaf dengan tulus kepadaku bahkan sambil mengusap lembut pucuk kepalaku yang membuat aku menelan saliva dengan susah payah dan membuka mata dengan lebar saking merasa kaget dan heran nya.


"Elisa terimakasih sudah memahamiku, maaf jika aku terlalu bersikap kejam padamu sebelumnya, sungguh aku merasa bersalah padamu tolong maafkan aku" ucapnya meminta maaf dengan tulus dan bersungguh sungguh,


"Baik aku sudah memaafkanmu kau tidak perlu mengkhawatirkan masalah ini lagi aku baik baik saja" jawabku dengan senyum ceria seperti biasanya,


"Terimakasih kamu sangat manis ternyata" ujarnya sambil mengusap lembut kepalaku,


Aku langsung mematung dan tak bisa berkata kata apapun lagi sampai Reksa menarik lengan Ciko dari kepalaku.


"Heh, Ciko kau benar benar kurang ajar sekarang, kenapa kau mengusap kepala Elisa jangan bilang menyukainya sekarang" bentak Reksa dengan tatapan tajam pada Ciko,


"Haha....kau bisa menyimpulkannya sendiri" jawab Ciko seperti mempermainkan Reksa,


"Ciko aku menentangmu untuk itu, lebih baik kau membenci Elisa seperti sebelumnya saja dan jangan coba coba bersikap manis padanya" ancam Reksa memberikan peringatan,


"Baiklah aku akan pergi sekarang jaga dia baik baik jangan sampai aku mengambil nya darimu" ucap Ciko yang kembali menggoda Reksa.


Reksa langsung mendorong Ciko keluar dari ruang rawat ku dan menutup pintu dengan kencang, aku masih bisa melihat wajah kesalnya itu dan aku masih diam mematung berusaha menyerap apa yang mereka bicarakan di hadapanku tadi.

__ADS_1


__ADS_2