
Aku tidak mendengarkan rutukan dari Reksa dan langsung saja menyuruhnya untuk segera masuk ke dalam mobil dan pergi secepatnya dari tempat itu sebelum kak Eril tiba dan aku takut dia melihat aku dengan pria lain seperti Reksa ini, aku malas menjelaskan sebuah kesalah pahaman.
"A..ahhhh....sudahlah ayo cepat masuk bukankah waktu kita terbatas, ayo...ayo kau mau bawa aku kemana, cepat Reksa!" Ucapku mendesaknya.
Meski dengan perasaan kesal dia langsung masuk ke dalam mobil dan membenarkan rambutnya karena sedikit berantakkan sebab sudah aku acak-acak sebelumnya.
Setelah berada di dalam mobil barulah aku bisa merasa tenang dan duduk dengan lega, aku duduk sambil menyandarkan diriku ke kursi belakang, sampai disaat Reksa memarkirkan mobil tidak sengaja aku melihat kak Eril baru keluar dari gedung sana dan aku sangat kaget refleks membuka mataku dengan lebar, aku bingung harus melakukan apa sehingga aku segera menunduk ke bawah untuk menghindari tatapan kak Eril.
"Aduhh....gawat jika sampai kak Eril melihatku berada di dalam mobil dengan seorang pria dia bisa saja salah paham, aaahh aku harus bersembunyi" ucapku sambil langsung menunduk ke bawah.
Reksa yang melihat aku tertunduk ke bawah dia merasa heran dan langsung saja menanyakannya kepadaku.
"Hey, Elisa apa yang sedang kamu lakukan, ayo duduk dengan benar dan pakai sabuk pengamannya kita sudah mau berangkat" ucapnya kepadaku,
"O..oh....iya iya" balasku segera.
Aku takut dan perlahan menaikkan tubuhku keatas sambil mengintip sedikit keluar melihat ternyata kak Eril sudah tidak ada hingga aku bisa merasa lebih tenang dan akhirnya kami segera pergi dari sana.
Aku sudah sangat penasaran kemana Reksa akan membawaku karena dia terus tidak menjawab pertanyaan dariku meski aku terus menanyakannya kepada Reksa.
"Reksa... sebenarnya kita mau kemana?" Tanyaku penasaran,
"Aku kan sudah pernah memberi alamatnya kepadamu, tidak mungkin kamu tidak tahu" balasnya,
"Iya tapi ini bukan jalan menuju ke taman hiburan ini jalan menuju ke rumah.....a...apa kau mau membawaku ke rumah Devinka ya?" Tanyaku baru menyadarinya.
__ADS_1
"Ya tentu saja, kita akan pergi ke taman hiburan setelah menjemput Devinka, Ciko dan Dika juga akan ikut, jadi kau santai saja oke" balasnya dengan mudah.
Entah kenapa aku merasa sesuatu yang buruk akan terjadi jika kami akan pergi dengan Devinka, aku masih sangat kesal dan membencinya karena ucapan yang pernah dia katakan kepada teman-temannya di belakangku, aku juga masih belum siap bertemu dengan Devinka setelah kejadian itu, tapi Reksa sialan ini malah membawaku kepadanya.
"Apa aku harus terus berpura-pura?" Gerutuku memikirkan.
Semuanya sudah terlambat jika aku memilih untuk kabur atau pergi dari sini sebab Reksa sudah membawaku sehingga saat ini hanya diam yang bisa aku lakukan dan tetap berusaha bersikap normal seakan tidak pernah mendengar ucapan Devinka itu.
"Aahh...untuk apa juga aku memikirkannya lagi pula aku dan dia memang tidak ada hubungan apapun, harusnya aku tidak semarah ini bukan?" Pikirku lagi.
Hingga sesampainya di kediaman Devinka, Reksa langsung mengajak aku untuk turun menemui Devinka tapi aku segera menolaknya dengan cepat dan lebih memilih untuk duduk menunggu mereka di dalam mobil saja.
"Elisa ayo, kau mau terus disini?" Tanya Reksa saat mengajakku,
"Iya aku mau menunggu kalian disini saja" balasku sambil tersenyum.
"Ayolah Elisa kau harus bisa mengendalikan diri dan perasaanmu sendiri, iya aku tidak boleh terbawa perasaan dengan orang sepertinya" ucapku meyakinkan diri sendiri.
Sampai mereka tiba dan masuk ke dalam mobil aku tidak mengeluarkan suara apapun dan sialnya Reksa justru malah menyuruh Devinka untuk menyetir sedangkan dia malah duduk di bangku belakang, padahal aku sangat tidak ingin duduk bersebelahan dengan Devinka saat ini, aku hanya ingin menjauh dan terus menjauh darinya.
Saat Devinka masuk aku langsung memalingkan pandanganku ke luar jendela dan berusaha untuk menghindari kontak mata dengannya.
Mobil mulai bergerak dan Devinka mengemudi dengan baik, tidak ada percakapan selama di perjalanan dan aku hanya terus menatap ke depan dengan lurus atau terkadang menengok ke samping jendela untuk melihat ke luar, beberapa kali menghembuskan nafas lesu dan aku sudah sangat bosan karena kami belum tiba juga di tempat tujuan.
Sampai tiba-tiba saja Reksa berteriak marah tidak jelas di belakang dan itu refleks membuatku berbalik menatap ke arahnya dan menanyakan apa yang terjadi dengannya.
__ADS_1
"Aishhh...sialan dasar dia br*ndal itu!" Bentak Reksa marah tidak jelas sambil memegangi ponselnya,
"Reksa ada apa denganmu, kenapa kau marah tidak jelas seperti itu?" Tanyaku dengan heran,
"Lihat, si Dika dan Ciko tiba-tiba saja membatalkan janji dengan kita dan mereka justru malah lebih mementingkan bisnis mereka masing-masing dibandingkan berlibur dan bersenang-senang bersama dengan sahabatnya sendiri, padahal ini hanya sebentar kenapa mereka selalu sibuk sih, menyebalkan" ucap Reksa meluapkan emosinya,
"Fyuhh....aku pikir ada apa, tapi apa aku juga boleh pergi?, Jika mereka saja bisa membatalkan janjinya kenapa aku tidak, iya kan. Turunkan aku di depan" ucapku memilih untuk tidak ikut dengan mereka,
Devinka terlihat santai saja sedangkan Reksa langsung membentakku dengan keras dan menahanku untuk tetap pergi bersenang-senang dengan mereka.
"Astaga .... apa-apaan kau ini, tidak bisa kau harus tetap ikut dengan kami dan kau Devinka jangan coba-coba kau menghentikan mobilnya atau aku akan sangat marah dengan kalian!" Bentak Reksa dengan sorot mata yang cukup menyebalkan.
Aku tidak memiliki pilihan lain dan hanya bisa menurutinya sebab Devinka sungguh menuruti ucapan Reksa, dimana dia tidak menghentikan mobilnya dan terus saja melaju semakin kencang seakan memberikan jawaban kepadaku bahwa dia tidak akan menurunkanku saat itu.
"Aishh....kau benar-benar" gerutuku sambil memegangi jidatku pelan.
Aku tidak mengerti lagi mengapa mereka berdua sangat ingin pergi ke taman hiburan dimana usia mereka saat ini sungguh tidak pantas untuk bermain ke taman hiburan karena itu adalah tempat untuk bermain bagi anak-anak dan remaja sedangkan kami yang sudah bekerja seperti ini sungguh terlihat memalukan untuk melakukan hal-hal seperti itu di taman hiburan.
Aku pun berusaha untuk menghentikannya mereka untuk turun dari mobil ketika tepat sudah berada di depan gerbang taman hiburan tersebut, karena ku lihat di taman hiburan itu banyak sekali orang yang ada disana dan aku sungguh merasa malu jika sampai kami bertiga benar-benar masuk ke dalam taman hiburan tersebut apalagi jika sampai kami memainkan permainan yang ada disana.
"Reksa apa kau pikir ini sesuatu yang benar?, Apa kita sungguh akan pergi ke taman hiburan dengan pakaian seperti ini?" Tanyaku kepadanya,
"Ya tentu saja, ayo cepat kita keluar" ucapnya dengan penuh semangat,
"E..eh...tunggu Reksa tunggu!" Ucapku berteriak berusaha menghentikannya.
__ADS_1
Mereka berdua sudah keluar dari mobil lebih dulu dan aku segera menyusul mereka untuk menahannya.