
Senyuman Devinka yang sangat aku sukai sudah hilang di telan api, aku sudah harus melupakan dia sepenuhnya dan tidak bisa menyisakan kenangan apapun tentang dia sedikitpun.
"Maafkan aku Devinka, aku bukan membencimu tapi aku hanya tidak ingin terus berlarut-larut dalam kesedihan, kau juga tidak memikirkan aku bukan? Jadi untuk aku aku memikirkannya dan menyimpan semua kenangan yang manis ini" ucapku berbicara sendiri sambil terus memasukan foto itu satu persatu.
Memang sangat berat rasanya berusaha untuk melupakan seseorang yang menjadi cinta pertama bagi kita, melupakan semua kenangan manis dengannya dan melupakan semua hal yang menyenangkan dengannya, bahkan aku juga tidak bisa menahan air mata yang jatuh di pelupuk mataku terus menerus, aku hanya bisa menerima semua kenyataan pahit ini karena mau bagaimanapun aku harus tetap menjalani hidupku dan terus berjalan menatap ke depan.
Walau yang di belakang jauh lebih indah dan lebih aku sukai, aku mencintai dia dan semua massa lalu tentangnya juga kenangan dengannya yang terlalu sayang untuk di lupakan begitu saja, namun hanya itulah satu-satunya cara agar aku bisa terlepas dari rasa sakit yang mulai menggerogoti diriku sendiri.
Dan aku tidak ingin terus tenggelam dalam kesedihan yang seperti ini, aku tidak ingin diperbudak dengan perasaan cinta yang semu apalagi aku tahu dia sudah menjadi milik orang lain dan tidak mungkin menjadi milikku lagi bahkan aku sendiri tidak pernah merasa pernah memiliki dia seutuhnya.
*****
Disisi lain Dika dan Reksa yang datang ke perusahaan CTN group untuk menyambut kedatangan nyonya besar penguasa bisnis itu mereka terlihat sedikit canggung dan nyonya Merisa juga menatap tajam ke arah mereka berdua.
"Selamat datang kembali nyonya Merisa" ucap mereka berdua menyambut dengan serempak.
Nyonya Merisa hanya menganggukkan kepalanya pelan dan tidak lama dia mulai menanyakan tentang Ciko yang tidak hadir dalam menyambutnya saat itu.
"Dimana Ciko, apa dia membenciku?" Ucap nyonya Merisa menanyakan,
"Oh.... Tidak nyonya besar bukan begitu... Dia mungkin telat untuk mengetahui informasi kedatanganku jadi tidak sempat membuat kosong jadwal kerjanya" balas Reksa berusaha menjelaskan,
"Dia anak yang baik tapi kalian sendiri tahu siapa saya, harusnya dia mengosongkan jadwalnya bagaimana pun caranya atau saya sendiri yang akan turun tangan untuk mengosongkan jadwal bagi seluruh aset keluarganya" balas nyonya Merisa yang lebih mirip sebuah ancaman.
Dika sudah menahan emosi dan kekesalan sedari tadi dia sengaja tidak mengeluarkan suara karena dia tahu jika dia berbicara perkataannya selalu buruk kepada orang yang dia benci terlebih sejak dulu hingga saat ini danu gkin seterusnya keluarga dia dan keluarga Bramasyakan terus menjadi musuh dingin dengan nyonya Merisa sebab perusahaan mereka yang selalu bersaing ketat sejak dulu.
Dika mengepalkan kedua lengannya dengan kuat dan mengeratkan giginya, dia berusaha menahan emosi sampai akhirnya dia tidak dapat menahannya lagi sebab nyonya Merisa yang terus saja berkata-kata menyinggung perusahaan Ciko dan Reksa.
"Dan kau Reksa aku akan memberikan bonus besar bagi perusahaanmu, tapi tidak dengan Ciko yang sudah berani membangkang padaku, termasuk pria yang transparan itu" ucapnya sambil menatap sinis dengan ujung matanya kepada Dika.
Padahal Dika sudah meluangkan waktu berharganya untuk menyambut kedatangan nyonya Merisa dia bahkan menentang ibunya sendiri karena sebenarnya mereka adalah musuh sejak lama jug saingan dalam bisnis namun nyonya Merisa sama sekali tidak pernah menghargai semua usaha yang dia berikan.
Dika hanya ingin berteman dan bersahabat dengan Devinka sama seperti anak lainnya tanpa memandang status dan kedudukan namun nyonya Merisa selalu mementingkan semua itu dan mengekang semua orang yang berada dalam naungan dirinya.
Itulah mengapa Dika tidak bisa mengendalikan diri lagi dengan semua yang dia lakukan dan Dika langsung saja melawan dia saat itu juga.
Disaat nyonya Merisa melangkah hanya beberapa langkah ke depan saja Dika langsung berteriak dengan lantang dan membuat dia langsung berbalik menatap Dika dengan tatapan membunuh.
__ADS_1
"Nyonya Merisa!" Teriak Dika dengan keras hingga membuatnya menghentikan langkah,
"Kau tidak berhak mengancam siapapun, semua harta dan kedudukan yang kau miliki bersumber dari suamimu tuan Bramasta dan dia sama sekali tidak sepertimu, kau tidak pantas di sebuah seorang ibu bahkan seorang manusia kau lebih mirip mesin atau sebuah robot tanpa hati dan hanya mementikan kedudukan dan kekuasaan. Kau sudah gelap dengan harta sehingga menyiksa semua orang yang ada di sekitarmu termasuk menghancurkan anakmu sendiri!" Bentak Dika mengeluarkan semua emosi dan unek-unek di dalam dirinya.
Disana juga ada Devinka yang baru saja tiba bersama calon istrinya Keysa, mereka mendengar semua keributan itu dan Devinka sangat kaget mendengar Dika berani melawan ibunya untuk pertama kali bahkan di hadapan semua orang.
"Dika...sabar Dika kau tidak boleh seperti ini" bisik Reksa sambil menahan tangan Dika dan berusaha menenangkannya,
Dika sudah tidak bisa di tenangkan lagi dan baginya ini sudah keputusan yang baik sebab dia tidak bisa membiarkan orang seperti nyonya Merisa menguasai semuanya. Dika menghempaskan tangan Reksa yang memeganginya bahkan dia membentak Devinka dan menyuruhnya untuk tidak ikut campur disaat dia hendak bicara pada nyonya Merisa.
"Lepaskan tanganmu!" Ucap Dika sambil menghempaskan tangan Reksa dengan kuat,
"Dika apa yang kau lakukan, apa kau sudah bosan hidup?" Ucap Devinka yang juga berusaha menghentikan Dika,
"Diam kau Devinka, ini urusanku dengan monster itu, ini juga demi masa depanmu juga semua bisnis di dunia ini" ucap Dika yang sangat lantang dan berani.
"Aku bukan kau yang akan tunduk dengan ibumu, aku juga bukan Reksa yang penakut karena perusahaannya bergantung pada ibumu, dan aku bukan Ciko yang membencinya di belakang dan tidak bisa berbuat apapun karena di desak kebutuhan, aku adalah aku musuh terbesar perusahaan Bramasta!" Ucap Dika sangat keras.
Di situlah nyonya Merisa langsung membalikkan badan dan dia membalas tatapan Dika dengan lebih tajam tapi Dika sama sekali tidak takut dengan tatapan itu dia justru merasa senang karena bisa memancing nyonya Merisa untuk marah dan kesal kepadanya karena itu yang dia inginkan.
"Dika.. kau sudah melewati batasanmu!" Balas nyonya Merisa dengan sinis dan tajam,
Perkataan dari Reksa tadi berhasil membuat seorang nyonya Merisa yang berkuasa marah besar dan dia merasa takut dengan ancaman tersebut, dia juga tidak menyangka jika ternyata Dika mengetahui semuanya bahkan bisa melawan dia secara terang-terangan seperti itu dan mempermalukan dia di depan awak media juga semua karyawan yang menyambut kedatangannya.
"Dika... Aku tidak akan meloloskan mu dengan mudah!" Ucap nyonya Merisa memberikan peringatan lagi,
"Dika ada apa denganmu, tolong hentikan semua ini" ucap Devinka dengan kebingungan sendiri,
"Tidak Devinka, mulai saat ini aku sudah menyatakan perang dan persaingan nyata dengan perusahaan ibumu sekaligus pasar bisnis kami, aku tidak akan diam lagi, tapi kau tenang saja kita tetap masih sahabat meski aku akan membuat ibumu sedikit merasakan penderitaan yang dia sebabkan pada banyak orang" balas Dika menghentikan ucapan Devinka yang mencoba menenangkan dirinya,
"Semuanya dengarkan aku, para karyawan yang terhormat perusahaan CTN group ini, dengarkan ucapanku baik-baik kalian tahu perusahaan milikku sama hebatnya dengan perusahaan ini, memiliki rate yang sama dan gajih yang sama tetapi memiliki kesejahteraan karyawan yang jauh lebih baik, jika kalian berkenan aku akan membuat kalian menjadi bagian dari DM group, ku tunggu kehadiran kalian untuk mengisi gedung baru yang tengah aku bangun dan untuk semua teman-teman awak media disini kalian juga bisa menayangkan semuanya yang kalian rekan hari ini, aku memberikan kebebasan pada semua orang dan akan mengecam keras tidak kekerasan dan penekanan dalam mempekerjakan karyawan!" Ucap Dika membuat pengumuman yang menegangkan dan membuat semua orang kaget.
Dalam hitungan detik semua karyawan disana langsung bertepuk tangan dan mendukung Dika karena mereka sudah merasakannya sendiri betapa sulitnya hidup dan melakukan pekerjaan di perusahaan itu, dimana nyonya Merisa selalu mengekang mereka dan tidak memperlakukan mereka dengan layak.
Dika sangat puas setelah mengumumkan hal itu dan dia lebih puas lagi ketika melihat wajah nyonya Merisa yang terlihat geram dan kesal kepadanya, dia segera pergi begitu saja tanpa menyapa atau berpamitan sedikitpun kepada nyonya Merisa dan Reksa segera berlari kecil mengikuti Dika dari belakang.
"Eh... Dika tunggu aku!" Teriak Reksa berlari mengikutinya.
__ADS_1
Seketika semua awak media berkerumun untuk melakukan wawancara kepadanya namun Dika dan Reksa dengan cepat menghindari para wartawan itu dan langsung masuk ke dalam mobil dengan cepat, hingga Reksa langsung mengemudikan mobil dengan cepat menghindari kejaran dari para wartawan itu.
Di dalam perjalanan Reksa terus saja bertanya kepada Dika karena dia masih tidak menyangka jika Dika bisa melakukan hal seberani tadi.
"Dika apa kau kesurupan atau memang sudah gila hah? Apa kau yakin bisa menampung karyawan sebanyak itu, dan bagaimana dengan pembiayaan nya apa kau sungguh bisa menangani semua ini?" Tanya Reksa kepada Dika,
"Tenang saja aku sudah mempersiapkan untuk semua ini sejak lama dengan Ciko, kau saja yang tidak tahu" balas Dika dengan wajah yang santai.
Reksa sangat kaget dan tidak menyangka bahwa ada rahasia di balik persahabatan mereka yang sudah sangat dekat dan berlangsung bertahun tahun lamanya.
"CK ternyata ini alasan kenapa kau jarang berkumpul denganku dan Devinka kau membuat rahasia kepadaku dan Devinka, sangat menyebalkan!" Gerutu Reksa tidak terima,
"Aishhh.... Jangan marah dahulu Reksa, aku bukan merahasiakannya darimu dan Devinka tetapi aku tahu jika aku memberitahukan mu dan Devinka lebih dulu pasti semua itu akan tercium oleh manusia sialan itu, dan pasti dia akan mempersiapkan hal lain untuk melawanku, ku harap kau mengerti" balas Dika menjelaskan.
Akhirnya Reksa juga bisa memahami apa yang dimaksud dengan Dika, memang dia selalu di perhatikan oleh nyonya Merisa karena dia yang paling dekat dengan Devinka dan nyonya Merisa, tapi walau begitu dia tetap saja merasa cemas dan takut karena nyonya Merisa bukanlah orang yang bisa di lawan dengan kekerasan seperti ini juga.
"Dika tapi tetap saja aku hanya mengkhawatirkanmu dan Ciko, bagaimana jika nyonya Merisa benar-benar marah karena ucapanmu tadi, bagaimana jika dia memblokir perusahaanku aishhh... Matilah aku" ucap Reksa merasa cemas dengan nasib dirinya sendiri,
"Aishh.... Tenanglah ada aku dan Ciko kau tidak perlu bekerja sama dan bergantung pada perusahaan itu lagi, mereka sudah akan bangkrut apa kau masih mau bersangkutan dengan manusia sepertinya?" Ucap Dika kepadanya,
"Kau benar mau membantuku?" Ucap Reksa dengan menatap cerah,
"Tentu saja tidak, kau berusaha saja sendiri" balas Dika mengerjai Reksa,
"Aaarrghh.... Bagaimana ini aku pasti akan di usir oleh kedua orangtuaku, Dika semua ini karenamu kau harus bertanggung jawab!" Bentak Reksa sbil.menyenggol Dika.
"Ahaha... Iya iya tenang saja, aku pasti akan membantumu, kanapa kau terus khawatir seperti itu sih, aku kan sudah bilang tenang saja semua sudah aku persiapkan bahkan aku memiliki banyak rencana" balas Dika dengan tersenyum kecil.
Salah satu alasan Ciko tidak hadir hari ini sebenernya juga bagian dari rencana, mereka sudah sejak lama ingin terlepas dari kekangan nyonya Merisa yang selalu saja membuat mereka sulit bernafas dengan lega.
Dan selalu membuat mereka tertekan juga terus berada dalam kesulitan di setiap saat, sehingga Ciko dan Dika memang sudah mempersiapkan semuanya dengan sangat baik dan ketika sampai di rumah Dika, dia langsung menyuruh Reksa untuk pulang saja sebab dia sudah merencanakan semuanya dengan hati-hati.
"Sudah sana kau pergi, jangan mengkhawatirkanku masalah ini, kau bisa mempercayai semuanya padaku dan Ciko, tenang saja" balas Dika kepada Reksa,
"Tapi Dika awas saja jika kau tidak bisa menepati janjimu" balas Reksa sambil menatapnya dengan tajam,
"Iya... Iya sudah sana pergi" ucap Dika sambil mendorong tubuh Reksa untuk segera masuk ke dalam mobil dengan cepat.
__ADS_1
Setelah Reksa pergi Dika segera menghubungi Ciko dan menyuruhnya untuk datang ke kediamannya saat itu juga, dan Ciko segera menurutinya.