
Aku sangat kesal dan terus mengabaikan teriakkan dari Devinka yang sangat mengganggu pendengaran ku saat itu.
"Heh...tunggu gadis ayam....aku bilang berhenti!" Bentak Devinka yang terus mengikutiku,
Aku geram dan berhenti lalu membalikkan badan menatapnya dengan tajam serta penuh kekesalan.
"Apa?, Aku perjelas sekali lagi padamu yah, aku tidak akan pernah bertanggung jawab atasmu, karena memang tidak ada apapun diantara kita, apa kau paham!" Bentakku tepat di depan wajahnya.
Aku langsung pergi meninggalkannya setelah membentak dia dengan puas, walau saat itu aku masih bisa mendengar teriakannya yang menggerutu kesal juga meneriaki ku tiada henti aku tetap tidak perduli dan terus berjalan lurus ke depan menjauhinya.
"Heh...dasar kau wanita tidak tau diri, heh awas kau aku tidak akan melepaskanmunawas kau gadis ayam!" Teriak Devinka sambil menunjuk ke arah Elisa yang berjalan semakin menjauh darinya.
Awalnya Devinka berniat untuk mengejar Elisa dan terus berusaha keras untuk mendapatkan pertanggung jawaban karena Elisa sudah berani membekap mulutnya saat di perpustakaan sebelumnya namun karena Reksa datang dan beberapa mahasiswa juga mendekatinya sehingga Devinka harus segera pergi menghindari kerumunan mahasiswi tersebut.
"Arghhh....Reksa ayo cepat kita pergi!" Ucap Devinka dan menarik Reksa dengan kuat.
Mereka berlari keluar dari gedung universitas untuk menjauhi kerumuman mahasiswi yang sibuk meneriaki nama Devinka dan terus memaksa meminta foto selfie padanya, mereka langsung masuk ke dalam mobil milik Devinka dan segera melakukannya dengan cepat keluar dari area universitas.
Saat menyetir mobil Devinka terus saja uring uringan dan dia memukul stir mobilnya beberapa kali untuk melampiaskan kekesalannya.
"Eughh....sialan gara gara kerumunan tidak jelas itu aku jadi tidak bisa mengejarnya, menyebalkan" ucap Devinka yang membuat Reksa bingung.
Reksa menatap dengan heran karena Devinka tidak berhenti menggerutu sepanjang jalan hingga akhirnya Reksa memberanikan diri membuka suara.
__ADS_1
"Dev... Lo itu kenapa sih?, Dari tadi gue liat terus saja uring uringan sendiri apa Lo sakit?" Ucap Reksa dengan heran,
"Ahhh.... Semua ini karena Lo juga ngapain sih Lo minta gue nunggu di perpus tadi gue dibekap sama si cewek ayam itu, kayanya gue harus cuci mulut gue dengan bersih" ucap Devinka yang masih menggebu gebu dengan amarahnya,
"Ya elah Dev cuman masalah gitu doang, ngapain sih di besar besarin udah lah lagian Lo juga gak di rugikan apapun kan sama cewek itu" jawab Reksa dengan santai,
Mendengar tanggapan yang begitu santai dari Reksa tentu saja Devinka kembali marah dan semakin memuncak dia tidak terima karena Reksa menyepelekan masalah orang yang memegang wajahnya dengan sembarangan apalagi membekap mulutnya hingga dia kesulitan bicara sebelumnya.
Amarah Devinka pecah begitu saja dan dia bahkan memukul tangan Reksa cukup kuat untuk memperingatinya agar tidak menyepelekan lagi masalahnya itu.
"Reksa...bukk...rasakan itu untuk peringatan bagimu karena menyepelekan masalah wajah berhargaku ini" ucap Devinka membuat Reksa meringis kesakitan dan memegangi lengannya.
"Aish...terserah Lo deh, sekarang kita kumpul di tempat biasa kan, katanya Ciko sama Dika udah ada di sana, gue udah gak sabar mau tanding game lagi sama mereka" ucap Reksa dengan penuh antusias.
Devinka nampak tidak terlalu perduli dengan apa yang diucapkan oleh Reksa dan dia terus saja mengerutkan kedua alisnya dengan wajah yang kecut dan murung, Reksa bahkan sudah pusing melihat sikap Devinka yang bisa berubah kapan saja.
Berbeda dengan Reksa yang selalu mendapatkan kebebasan dan dia diberikan kebebasan oleh keluarganya dalam memilih masa depan dan cita citanya sendiri.
*****
Tak berselang lama mereka sampai di sebuah cafe milik keluarga Ciko sekaligus tempat berkumpul mereka sejak mereka SMA karena sebelumnya rumah Ciko yang biasa digunakan sebagai tempat mereka berkumpul sudah tidak bisa digunakan sebab kedua orang tua Ciko menetap di sana sekarang.
Saat Devinka dan Reksa sampai di sana nampak sudah ada Dika dan Ciko yang tengah asik bermain game berdua, kebiasaan mereka ber empat memang bermain game dan tak aneh lagi jika mereka kerap bertengkar meski begitu kasih sayang dan kekeluargaan diantara mereka sudah terjadi sangat erat.
__ADS_1
Diantara mereka ber empat Ciko adalah yang paling tua dan dia nampak lebih dewasa dari yang lainnya dia selalu bersikap seperti petengah ketika Devinka atau yang lain melakukan kesalahan maupun bertengkar, sedangkan Devinka adalah yang paling muda, labil serta emosian diantara mereka.
Devinka mudah marah jika keinginannya tidak terwujud dia selalu ingin menjadi nomor satu karena jika tidak ayahnya akan memberika dia hukuman yang sangat keras sehingga menjadi yang sempurna seperti sebuah keharusan baginya.
Saat sampai di sana Reksa langsung berbaur dengan Ciko juga Dika, sedangkan Devinka malah duduk sendiri memperhatikan mereka bermain game dengan heboh.
"Hai..guys....wah wah kalian berdua main game gak ajak ajak gue sih, main mulai berdua aja" ucap Reksa sambil merangkul Ciko dan Dika,
"Ya udah kalo Lo mau gabung langsung aja udah nanggung nih" ujar Ciko menjawabnya.
"Oke...Dev, Lo mau ikutan gak seru nih kalau dua lawan dua" teriak Reksa mengajaknya,
"Gak.... Gue gak tertarik sama permainan bocah kaya gitu" jawab Devinka yang membuat mereka bertiga menatapnya dengan bingung secara bersamaan.
Terutama Ciko dan Dika mereka menatap dengan tatapan yang begitu tajam dan serius menanggapi ucapan Devinka sebelumnya, mereka merasa sangat heran karena biasanya Devinka adalah orang yang paling semangat dalam bermain game tersebut, namun kali ini justru malah Devinka yang mengejek game kesukaannya sendiri tentu saja itu membuat Dika dan Ciko sangat heran.
"Heh...ada apa lagi sama anak ini?" Tanya Ciko pada Reksa sambil menyenggol lengannya,
"Aduh.... kalian ini apa apaan sih kalo nanya ya nanya aja kali jangan pake nyenggol gitu, kenapa sih gue juga yang kena" ujar Reksa sambil mengusap tangannya,
"Udah jangan lebay, cepet kasih tau kita Devinka kenapa lagi kali ini?" Tambah Dika menanyakan lagi,
"Ya seperti biasa lah dia ada masalah sama cewek ayam itu, habisnya siapa lagi yang bisa buat Devinka sekesal itu kalau bukan si cewek ayam" jawab Reksa sambil fokus memulai permainan game pada komputernya.
__ADS_1
Di dalam cafe itu memang terdapat ruangan bawah tanah yang luas dan mewah di sana juga terdapat empat komputer khusus untuk mereka bermain game, serta ada meja biliar dan televisi di sana, bahkan lemari es dan beberapa pakaian milik mereka ber empat sudah tersedia dengan baik dan rapih.
Ruangan tersebut seperti di rancang dengan khusus untuk menjadi tempat berkumpul mereka sedangkan saat itu ketika Ciko dan Dika sudah mengetahui alasan Devinka datang ke sana dengan murung mereka mulai penasaran dengan seberapa bencinya Devinka pada Elisa yang saat itu mereka belum mengenal Elisa sama sekali mereka hanya tau Elisa dengan sebutan cewek ayam.