
Aku sungguh sangat kesal tapi tidak bisa melakukan apapun aku mengepalkan tanganku dan tidak sudi meminta maaf pada Devinka karena jelas jelas aku tidak salah dalam hal ini, namun di saat aku diam mahasiswa lain justru berteriak dan mulai memaksaku untuk meminta maaf padanya, bahkan diantara mereka ada yang melemparkan gulungan kertas ke arahku hingga mengenai wajah dan badanku, dosen juga semakin mendesak ku karena kondisinya mulai tidak terkendali.
"Heh...gadis ayam cepat minta maaf!" Teriak salah satu mahasiswa di ikut yang lainnya,
"Iya, cepat minta maaf pada Devinka kami atau kau tidak akan di terima di kelas ini lagi dasar tidak tahu malu!" Sahut mahasiswa yang satunya lagi.
Aku terpaksa melakukannya dengan perasaan yang begitu dengki dan penuh kekesalan.
"Maafkan aku Devinka... Aku salah, permisi" ucapku meminta maaf dan langsung berlari pergi dari sana.
Lagi dan lagi aku hanya bisa berlari ke belakang sekolah mencari tempat yang sepi dan jauh dari keramaian, aku duduk berjongkok seorang diri di bangku belakang sekolah dan menangis menyembunyikan wajahku sambil menunduk.
"Hiks...hiks....kenapa?, Kenapa semua orang membelanya kenapa tidak ada satu pun orang yang mau membela orang kecil sepertiku....hiks..hiks.." ucapku merasa putus asa di sela tangisan.
Aku sungguh tidak habis pikir bahkan dosen killer seperti itu pun tidak berkutik di hadapan Devinka dan masih membela Devinka tanpa adanya alasan yang jelas bahkan kali ini aku juga dipermalukan lagi di hadapan banyak orang karena Devinka, sedangkan tidak ada yang bisa aku lakukan untuk membela diriku sendiri di saat aku sudah tau dengan jelas semua orang hanya mementingkan harta juga kedudukan, mereka semua selalu memandang rendah aku hanya karena aku bekerja keras sebagai kurir pengantar ayam prenchick di sebuah restoran.
"Tuhan memang salah jika aku bekerja sebagai pengantar ayam?, Memangnya di mana letak ke salahanku?, Aku tidak mencuri dan aku juga tidak melakukan kekerasan kenapa harus aku yang menerima semua tekanan ini, kenapa hidupku begitu sulit...hiks...hiks..." Ucapku berteriak keras mengeluarkan semua unek-unek ku.
Saat Elisa tengah menangis dan menggerutu dengan penuh keputus asaan seorang diri tanpa dia ketahui Dika tak sengaja lewat ke sana dan melihat juga mendengar dengan jelas semua yang Ratu ucapkan, Dika mengerutkan dahinya dengan jelas saat mendengar semua keluhan yang Ratu ucapkan.
"Ada apa dengan gadis itu?, Apa Devinka mengganggunya lagi, aishh...anak itu memang tidak ada habisnya membuat kekacauan untuk orang lain" ucap Dika sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Dika datang menghampiri Elisa secara diam diam dan dia meninggalkan sebuah tisyu tepat di samping Elisa kemudia pergi secepatnya dari sana untuk menemui Devinka dan berkumpul dengan ke dua temannya yang lain.
Setelah puas menangis dan melepaskan semua unek unek dalam hatinya Elisa bangkit mengangkat wajahnya saat dia hendak berdiri tangannya menekan kepada tisyu yang tadi di taruh oleh Dika sebelumnya.
"Aish....tisyu siapa ini?, Perasaan sebelumnya tidak ada tisyu di sini?, Apa ada orang yang menjatuhkannya yah?" Gerutu ku merasa kebingungan.
Walau aku tidak tau siapa yang menaruh tisyu di sampingku saat itu namun aku tetap mengambilnya karena sayang sekali jika aku meninggalkannya begitu saja lagi pula tisyu itu seperti masih baru jadi aku memakai dan membawa siswanya.
Aku pergi ke kamar mandi dan mencuci wajahku agar tidak ada orang yang mengetahui bahwa aku baru saja menangis hingga selesai dan saat aku keluar tak sengaja aku berpapasan dengan Lili, aku baru tau ternyata Lili sudah masuk kuliah namun sepertinya dia berpindah kelas karena ibunya.
Aku merasa gugup dan langsung berbalik menjauh di saat Lili melihatku, namun dia justru malah berlari mendekat ke arahku aku langsung berlari menjauhinya meski dia berteriak memanggil namaku dan memintaku untuk berhenti.
Aku mengabaikannya dan terus berlari menjauh menghindari Lili, aku tidak mau membuat Lili dikirim ke luar negeri gara gara dia masih tetap dekat dan berteman denganku.
"Maafkan aku Lili.... Ini demi kebaikan kita berdua juga" ucapku dengan perasaan menahan sakit.
Aku tau dengan menjauhnya aku dari Lili seperti tadi pasti akan menimbulkan banyak kesalah pahaman antara aku dan dia, namun aku tidak papa aku bisa mengerti dan memahami Lili jika suatu saat Lili berubah menjadi membenciku.
Aku rasa jika sampai itu terjadi itu akan jauh lebih baik bagi Lili dan hubungan dia dengan kedua orangtuanya, aku hanya orang lain baginya dan aku tau aku tidak banyak memberikan manfaat bagi Lili sedangkan kedua orangtuanya adalah orang yang sudah mengurusnya sudah sepantasnya Lili berbakti juga menyenangkan mereka.
Aku tidak bisa membuat seorang anak membangkan pada kedua orang tuanya hanya demi ke egoisanku yang mau terus bersahabat dengan Lili, aku juga tau sahabat yang baik adalah sahabat yang bisa membawa sahabatnya ke jalan yang benar.
__ADS_1
Saat aku berlari aku masih bisa mengetahui kalau Lili mengejarku, sehingga terpaksa aku harus bersembunyi, saat aku hendak bersembunyi saat aku berlari dan mencari tempat sembunyi yang aman aku melihat ada ruang perpustakaan di dekat sama sehingga aku langsung masuk ke dalam karena aku pikir tempat itu adalah yang paling aman untukku bersembunyi.
"Elisa...tunggu...kenapa kamu malah lari" teriak Lili yang masih belum menyerah mengejarku hingga ikut masuk ke dalam perpustakaan.
Aku mengintip di balik salah satu rak buku yang terletak di pojokan dan aku melihat Lili berjalan perlahan mencariku melewati beberapa rak buku di sana, sialnya saat aku tengah menginti dan memerhatikan Lili tiba tiba saja datang Devinka dari belakang dan dia mengagetkanku dengan berteriak hampir ingin memanggil Lili.
"Heyy.... Dia di...." Teriak Devinka terpotong karena aku langsung membekap mulutnya dengan cepat.
"Euhhhghhg....diam kenapa kau mengacau sih" ucapku sambil mendorong Devinka ke dinding sambil membekap mulutnya dengan kuat.
"Eumm...eumm..ummm..." Ucap Devinka yang berontak berusaha melepaskan bekapan tanganku.
Aku terus menekan tanganku untuk menutupi mulutnya yang tidak bisa dijaga itu, aku juga sengaja terus mendesak badannya agar dia tidak bisa melawan sampai akhirnya Lili pergi dari perpustakaan barulah aku melepaskan bekapannya.
"Ahhh....syukurlah tidak ketahuan" ucapku dengan lega,
"Heh...cewek ayam... Dasar kau sialan!, berani beraninya menyentuh bibir mahalku ini, kau harus tanggung jawab!" Bentak Devinka yang membuatku bingung serta kesal.
"Hah... Bertanggung jawab?, Kepadamu?, Jangan harap!" Ucapku dengan sinis dan pergi meninggalkannya begitu saja.
Aku pikir setelah itu aku akan bebas dan tidak terlibat dengan orang sepertinya lagi namun ternyata aku salah si Devinka sialan itu terus saja mengikutiku dan berteriak meminta pertanggung jawaban dariku bahkan ucapannya itu hampir saja membuat semua orang yang mendengar menjadi salah paham.
__ADS_1